Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 43 - Avion



“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku mencintaimu, apa ada sesuatu yang terjadi?” kata Ruri sambil menatap wanita di hadapannya itu.


Kaila menggelengkan kepalanya lalu langsung memeluk erat tubuh Ruri.


“Setelah mendengar jawabanmu, akhirnya aku bisa tenang ... “


Ruri hanya diam dan kemudian mulai menjawab pelukan wanita itu.


“ ... Untuk membunuhmu!”


“Setidaknya aku akan memainkan peran Kaila sampai habis terlebih dahulu,” gumam Kaila.


“Ayo kita kembali, Kaila!”


“I-iya ... “


“Apa yang kalian lakukan di dalam sana? Bukankah Kaila ingin buang air, kenapa kau bersamanya?” tanya Roy kepada Ruri.


“Hehe, banyak yang telah terjadi, ayo kita lanjutkan perjalanannya!”


Setelah beberapa saat kemudian mereka pun sampai di sebuah lembah yang penuh dengan warna hijau lumut, akan tetapi sedikit terkena sinar matahari.


“Ikuti saja jalan ini, nanti kau akan sampai di sarangnya,” kata Mary.


“Begitu ya, baiklah terima kasih ya, sudah repot repot mau mengantar kami,” ucap Ruri.


“Iya, itu bukan apa-apa, tapi, bagaimana dengan kalian sendiri? Apa kalian akan baik-baik saja melawan siluman itu? Kalau mau kita bisa kembali sebentar dan membuat party,” kata Mary Khawatir.


“Itu benar, walaupun aku tahu kalian kuat, tapi setidaknya ajak kami juga untuk membantu,” sambung Freed.


“Tidak usah, kami saja sudah cukup, percayalah pada kami,” kata Kaila sambil tersenyum.


“Itu benar, jadi kami tidak akan kalah!”


“Baiklah kami mengerti, berhati-hatilah!”


“Iya.”


Setelah ketiga orang itu kembali, Ruri dan Kaila pun mulai menyusuri lembah itu.


Tak lama kemudian mereka berdua terhenti karena merasa aneh melihat di dalam lembah itu terdapat sebuah telaga luas yang di tengahnya terdapat sebuah bangunan tua cukup tinggi tapi sudah hancur setengahnya.


Terlihat dari banyak lumut yang menempel bahwa tempat ini sudah tidak dimasuki makhluk hidup lagi.


Ruri dan Kaila tidak terpaku dengan tempat itu melainkan sibuk mencari dimana siluman burung itu berada.


“Hei Kaila mau mencoba lihat dari bangunan itu?”


Kaila menganggukkan kepalanya dan mereka pun mendekati telaga itu.


“Pijakan ini pasti sudah jelas dibuat oleh manusia, tapi untuk apa seseorang tinggal disini?” kata Ruri sambil berjalan menuju bangunan itu melalui pijakan yang terdapat di telaga itu.


“Itu tidak penting, yang lebih penting lagi, dimana siluman itu?” kata Kaila.


“Entahlah, tapi kau bisa merasakannya bukan?”


“Iya, tapi seluruh tempat ini dipenuhi dengan hawa itu.”


Mereka berdua pun memutuskan untuk fokus ke atas bangunan terlebih dahulu, sesampainya disana mereka melirik kesana kemari melihat setiap celah tebing di tempat itu.


“Ruri apa kau merasa sedang diawasi?”


“Aku juga berpikir begitu. Arahnya dari ... “


Dengan cepat Kaila dan Ruri pun berbalik badan dan terlihat bola api mengarah langsung ke arah mereka berdua.


“Sword ice.”


Ruri dengan cepat menembas bola api itu, Kaila langsung berlari dan menembakkan bola api ke arah burung yang berada di atas tebing itu.


*Duuuaaarrr ...


Ledakan api itu yang hanya mengenai tebing disana karena siluman itu mulai terbang di dalam lembah itu.


Ruri dengan cepat membuat ratusan jarum es dengan ukuran besar lalu menembakkannya ke arah siluman itu.


“Kaila, sepertinya ini akan sulit,” kata Ruri yang berkali-kali menembakkan jarum es, namun tak satupun ada yang kena karena siluman itu dapat menghindarinya.


“Ruri, aku akan mencoba sesuatu,” kata Kaila sambil mengeluarkan kedua sayapnya dan mulai mengikuti gerakan siluman itu.


Awalnya siluman itu terkejar, namun setelah burung itu sadar bahwa Kaila mengikutinya, siluman itu tiba-tiba saja bergerak menjadi lebih cepat.


“H-hah? Dia masih bisa lebih cepat?” ucap Kaila terkejut.


“Kecepatan ini diluar kemampuan sihir manusia, bahkan Kaila yang manusia setengah iblis saja tak bisa menyandingi kecepatan siluman ini, pantas saja belum ada yang berhasil mengalahkan burung ini,” pikir Ruri.


“Ruri awas!” ucapan Kaila yang membuyarkan pikiran Ruri. Karena siluman itu tiba-tiba saja terbang merendah dan berniat untuk memakan Ruri.


Ucapan Kaila menyelamatkan Ruri, karena Ruri langsung melompat dan berguling menghindarinya.


“Siluman itu tidak menyemburkan api? Tapi seharusnya dengan jarak segitu aku bisa terkena kalau dia menembakkan api.”


Kaila yang baru turun langsung berkata.


“Ruri, tadi, saat aku melihat siluman itu menyerangmu, aku melihat sesuatu yang bercahaya di kepalanya,” ucap Kaila yang turun menghampiri Ruri.


“Bercahaya?”


“Iya, tapi tidak terlalu jelas sihh ... “


“Ehh sebentar ... “ kata Ruri yang teringat sesuatu.


“De javu? Ahh tidak, ini ingatanku 5 tahun lalu, hmm ... Siluman? Cahaya dari kepala? Ukuran besar? Mitologi?” pikir Ruri.


“Ahh itu dia!”


“A-apa?” Kaila terkejut.


“Siluman Mitologi! Ini mirip seperti 5 tahun lalu.”


“5 tahun lalu?”


“Benar, saat itu kami berhasil mengalahkan siluman mitologi yang katanya di beri nama Quadratus atau Taurus Major, dan kelemahannya adalah tanda yang bercahaya di kepalanya itu, mungkin saja burung ini merupakan salah satu siluman mitologi juga,“ jelas Ruri.


“Jadi tanda di kepalanya itu adalah kelemahannya?” sambung Kaila yang dilanjutkan anggukan kepala Ruri.


“Tapi, meski begitu ... Bagaimana cara kita menyerang bagian itu? Sedangkan, mendekatinya saja hampir mustahil,” ucap Kaila sambil menebas bola api dari burung itu yang kembali menyerang.


“Iya ya, aku juga masih memikirkan tentang itu, tapi lebih baik aku mencobanya sendiri,” kata Ruri sambil terbang mengejar burung itu.


“Ce-cepat sekali?! Tapi, aku tidak akan kalah sampai aku bisa menyeimbangkan kecepatannya!” kata Ruri sambil mengaktifkan sihir percepatan.


“Speed up movement. Active.”


Siluman itu terus sibuk terbang mengelilingi lembah itu karena Ruri masih mengejarnya walaupun kecepetannya masih belum sepadan.


Sedangkan Kaila dari bawah menggunakan sihir angin wind slash nya untuk menyerang ke titik-titik tertentu yang mungkin akan dilalui burung itu. Akan tetapi siluman itu dapat menghindarinya dengan terbang kebawah, keatas, berputar 360° dan sebagainya.


Ruri yang masih belum cukup cepat untuk mencapai siluman itu, terus menembakkan macam-macam sihirnya, air, angin, api, listrik, es, namun tidak ada yang kena, sesekali serangan Ruri ada yang mengenainya, entah itu keberuntungan atau tidak, tapi hal itu percuma saja, karena burung itu dapat sembuh kembali dengan cepat.


Saat Ruri ketinggalan cukup jauh dari burung itu, tiba-tiba saja dengan menggunakan kelebihannya dalam kecepatan, siluman itu langsung putar balik dan terbang cepat menuju Ruri kemudian membuka mulut.


“Ruri awas?!” kata Kaila yang melihat Ruri ingin dilahap oleh burung besar itu.


Karena terkejut dan dengan refleknya, Ruri langsung menghindar dengan menembakkan sihir angin ke samping agar langsung berbelok.


Telat sedikit saja, mungkin Ruri sudah masuk kedalam mulut siluman itu dan dicerna.


Ruri yang masih terbang tak karuan karena masih belum bisa mengendalikan sihir anginnya, langsung dibantu oleh Kaila.


“Terima kasih Kaila.”


“Tidak apa-apa ... Jadi, apa kau sudah punya rencana?” tanya Kaila


“Tidak, yang kutahu sekarang adalah bahwa siluman ini benar-benar ingin membunuh dan memakan kita, heh?! Memakan kita?” kata Ruri kemudian terkejut entah karena apa.


“Ada apa?”


“Memakan kita?” ucap Ruri pelan sambil mengingat perkataan ketua guild itu.


“Sering kali siluman ini muncul kemudian memakan para warga.”


“Itu dia! Siluman itu ingin memakan kita karena dia lapar!”


“Kenapa kau bisa berpikir begitu?” tanya Kaila tidak mengerti.


“Kau ingat perkataan orang guild itu, bahwa siluman ini sering kali muncul dan memakan para warga? Itu karena burung ini lapar!” jelas Ruri sambil tersenyum.


“Kau bodoh ya?” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Siapapun pasti tahu kalau makhluk hidup memakan sesuatu pasti karena lapar, lalu keanehannya ada dimana?”


“Bukan itu, maksudku kita akan memanfaatkan kelaparannya untuk membunuhnya,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“H-hah? Caranya?”


Ruri pun berdiri di tempat tinggi, yaitu di bangunan yang hancur itu kemudian menatap burung yang mulai berputar mengelilingi diatasnya.


“Apa yang kau rencanakan?”


“Aku hanya ingin memasang umpan dan menaikinya,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Hah?”


Burung itu pun mulai terbang merendah kemudian dengan cepat mengepakkan sayapnya ke arah Ruri dan membuka mulut berniat untuk memangsanya.


Namun, sesaat sebelum burung itu sampai, Ruri langsung melompat ke sayap kiri burung itu dan berpegangan erat pada bulu yang cukup tebal.


“Umpanku berhasil! Tinggal merangkak menuju kepalanya saja” ucap Ruri yang langsung berpindah ke bagian punggung burung itu.


“Di-dia berhasil menyentuhnya?! Dasar Ruri, ada ada saja idenya,” kata Kaila yang tersenyum.


Sementara itu Ruri masih berpegang erat di punggung burung itu.


“Woi?! Terbangnya pelan pelan?!” ucap Ruri yang mulai menggenggam erat bulu burung itu karena siluman itu mulai terbang dengan kecepetan penuh.


Ruri berkali-kali terbanting kesana sini dan hampir terjatuh karena burung itu mulai terbang tak karuan, keatas kebawah sesekali berputar dengan cepat berharap agar sesuatu yang menempel di punggungnya terlepas darinya.


“Sudah kubilang, pelan-pelan!” kata Ruri sambil membuat pedang es nya dan menusuk tubuh siluman itu.


Seketika saja burung itu kembali terbang tak karuan dan berputar-putar.


Saat melepaskan pedangnya tidak lama luka itu pulih kembali.


“Merepotkan! Kenapa kau harus siluman sihh!”


“Lebih baik aku langsung menuju bagian kepalanya saja,” gumam Ruri sambil menunggu kesempatan burung itu kelelahan, dengan begitu siluman itu akan terbang melambat kembali, hal ini bisa menjadi kesempatan Ruri untuk mulai bergerak menuju ke bagian kepala.


Seperti yang diharapkan Ruri, entah karena apa burung itu terbang melambat kembali.


“Apa dia sudah kehabisan tenaga? Baiklah aku tak akan menyianyiakan kesempatan ini,” pikir Ruri yang mulai bergerak tanpa melihat kedepan.


Tiba-tiba saja burung itu kembali terbang dengan cepat kemudian memiringkan badannya 90° dan mulai berbelok perlahan ke kanan.


Hal itu berbarengan dengan suara Kaila yang mulai menyadari apa yang ingin dilakukan siluman itu.


“RURI LEPASKAN BURUNG ITU!” Seru Kaila yang langsung melompat dari bangunan itu dan mulai terbang di atas air.


Mendengar itu Ruri langsung terkejut dan melihat kedepan, terlihat sebatang besi yang menjulang dari bangunan itu.


*Taaaaanng ...


Suara benturan kepala Ruri dan mulai terjatuh dari burung itu.


Kaila yang sudah berada di bawah langsung menangkap tubuh Pria yang tak sadarkan diri itu.


“Ruri kau baik-baik saja? Apa kau mendengar suaraku?” kata Kaila sambil merebahkan tubuh Pria itu di dalam bangunan.


Tidak lama kemudian Pria itu kembali membuka matanya.


“Ahh ... terima kasih Kaila, maaf aku sedikit ceroboh hehe, aku sudah tidak apa-apa kok,” kata Ruri sambil mencoba bangun.


“Baik-baik bagaimana? Kepalamu mengeluarkan darah lohh ... “ kata Kaila khawatir.


“Ini bukan apa-apa,” kata Ruri sambil menyentuh menggunakan tangan kanannya ke bagian kepala yang mengeluarkan darah.


Seketika lukanya tertutup karena membeku, kemudian Ruri menyapu sisa sisa darah yang terlihat di dahinya.


“Baiklah aku sudah siap sekarang.”


“Apa kau punya rencana lain?” tanya Kaila.


Ruri menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Aku akan mengulangi cara yang sama, dan kali ini aku tidak akan kalah!”