
Sesampainya disana, Ruri pun menatap gua yang mengeluarkan asap hitam di langit-langitnya.
“Pak Nathan ... “ kata Ruri pelan sambil menatap gua besar itu kemudian mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
“Creator ... “
Saat berada di dalam, ternyata semua asap itu dihasilkan dari banyaknya dinding gua yang terbakar. Ruri terus masuk menyusuri gua itu lebih dalam lagi, hingga pada akhirnya ia pun sampai di ujung gua dan terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya itu, seorang pria tengah terikat kuat oleh seutas tali hitam yang entah terbuat dari apa.
“Pak Nathan ... Kau menahan dirimu sendiri ... “ Ucap Ruri pelan tak percaya apa yang dilihatnya itu.
“Ru-Ruri ... Cepat bunuh aku!” kata pria itu seperti menahan sesuatu.
“Pak, apa tentang ini benar-benar tidak ada jalan lain?” tanya Ruri.
“Aku tidak tahu, tapi lebih baik tidak usah mencaritahunya ... Karena ... Aku sudah tak kuat menahan diriku lagi ... “
Mendengar itu Ruri mengangguk pelan lalu langsung membulatkan tekadnya, kemudian dengan cepat Ruri membuat pedang es nya dan langsung menusuk tubuh pria itu.
*Crrruuuukk ...
Darah mulai berkeluaran dari balik pedang bersuhu rendah itu, akan tetapi hal itu membuat pria itu terkejut.
“K-kau ... Tidak mengincar jantungku?”
“Mau bagaimana lagi, aku tak bisa melakukannya ... Apalagi ini masih dirimu yang sebelumnya.”
Nathan tersenyum sedikit kemudian berkata.
“Kau benar-benar mirip denganku ... “
“Hah?”
“Tapi, meski begitu, dewa pasti sudah melakukan kesalahan besar karena telah membawamu kesini, aku yakin kau bisa menghentikan alur yang berulang ini.”
“Apa yang bapak bicarakan?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, jadi kuserahkan semuanya padamu ... “
Seketika saja ledakkan terjadi dari pria itu yang membuat Ruri terhempas sedikit.
“Di-Dia ...?!“ ucap Ruri terbelalak saat laki-laki itu langsung bergerak cepat ke arahnya dan menendang tubuhnya hingga keluar dari gua itu.
Ruri langsung mengeluarkan sihir anginnya melawan arah hempasan dan berdiri menatap tajam pria itu yang mulai berjalan keluar dari gua.
“Dia sudah bukan lagi Pak Nathan ... “ ucap Ruri menatap mata merah pria itu jauh di depan sana.
“Hebat juga kau bisa menahannya.”
“Apa kau One?”
“Dari mana kau tahu? Apa tubuh orang ini yang memberitahunya?”
“ .... “
“Dasar, iblis jaman sekarang sudah bisa mengecoh sistem dunia," katanya sambil tersenyum.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Ruri.
“Aku hanya ingin melanjutkan tujuanku yang sebelumnya belum tercapai.”
“Kalau kubilang aku akan menyatukan iblis dan manusia apa kau akan percaya dan kembali ke alammu?”
“Hah?”
Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak. Namun ditengah-tengah tawaannya itu Ruri bergerak cepat memukul kuat dagu pria itu yang membuatnya terlempar keatas.
Ruri yang berpindah tempat menggunakan sihir dimensi dengan cepat memukul kembali kepala pria itu hingga terhempas ke tanah.
“Creator ... Sword.”
“Aku tidak main-main ... “ kata Ruri sambil menancapkan sebilah pedang tepat di samping kepala pria itu.
“Kau sepertinya menarik ... Baiklah aku akan percaya setelah kau bisa mengalahkanku,” ucapnya kemudian menghilang dalam sekejap.
Ruri langsung melirik ke belakang dan menunduk karena melihat pria itu mengayunkan pedang ke lehernya.
Seketika tebasan pedang yang dihasilkan oleh One itu membuat hutan sejauh mata memandang tumbang dan terbakar.
“Kalau seperti ini terus dunia bisa hancur ... “ Gumam Ruri kemudian mulai terbang ke langit.
“Hanya ada satu tempat yang bisa digunakan, jadi akan kulakukan sebisaku!” Ruri pun mengeluarkan sihir berskala besar-besaran yang sampai membuat semua orang dalam radius tertentu dapat merasakannya terutama kota Zeastic.
“Ruri ... Berjuanglah ... “ ucap Clarissa sambil menatap ke arah aura sihir itu.
"Kakak? Apa yang dilakukan Ruri? Semua orang khawatir tau ... " ucap Dhafin.
"Tidak usah khawatir, begitulah katanya, jadi kembalilah aku dan Ruri akan segera datang menemuimu kalian di kota," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Be-begitukah? Baiklah ... "
...****************...
“Apa yang kau lakukan?” ucap One saat mengejar Ruri yang masih sibuk pergi keatas sana.
“Kau akan tahu sendiri ... “
Bulan tiba-tiba saja muncul dari timur dan bergerak cepat keatas. Hal ini membuat satu dunia gempar dengan kejadian itu, sampai gerhana matahari pun tercipta namun hanya beberapa detik saja karena bulan terus bergerak keatas.
“Kau menggerakannya? Hebat sekali! Aku akui kemampuanmu itu manusia!” kata One sambil menembakkan beberapa bola hitam ke arah laki-laki berambut perak itu.
"Aku tak akan berani menggerakkan bulan, aku hanya mempercepat waktu bulan saja," jawab Ruri dari dalam hati.
Ruri terus menghindar lalu fokus untuk terus terbang keatas. Dan saat bulan sudah sampai tepat di atasnya, Ruri pun melepaskan sihir percepatan waktunya.
“Creator ... Right to change the system ... “ gumam Ruri sambil memegang dahinya.
Saat kedua orang itu menembus atmosfer bumi, mereka pun terus bergerak hingga sampai pada akhirnya mereka berhenti di bulan.
“Hei manusia, aku banyak pertanyaan untukmu, salah satunya adalah sejak kapan angkasa luar bisa ada udara?" ucapnya sambil tersenyum.
“Berhentilah berbicara dan cepat kita selesaikan ini,” kata Ruri sambil membuat pedang yang dilapisi dengan api biru.
“Baiklah, majulah!” ujar One sambil mengisyaratkan untuk memulai dengan tangannya.
Ruri langsung bergerak cepat bersamaan dengan One yang mampu menyamai kecepetannya.
Ledakan besar terjadi dimana-mana akibat kedua orang itu.
*Taaaaanng ...
*Taaaaanng ...
*Duuuaaarrr ...
Ruri menangkis bola hitam kemudian berkata.
“Speed up movement. Self time, accelerated. Fast dimension switching, aktif!”
Seketika saja Ruri lenyap dan langsung berada di belakang One, akan tetapi One yang tahu pun langsung berpindah tempat menghindari serangan Ruri, namun Ruri terus mengulangi hal itu untuk mencari kesempatan mengenainya.
“Kekuatan manusia ini ... Hampir sama seperti kekuatanku.” Gumam One sambil melompat menjauh.
“Kau lengah!” Ruri langsung menusukkan pedangnya ke tubuh pria itu.
“Meleset!” ucap One tersenyum yang langsung memegang tangan Ruri dan membuat pedang yang terbuat dari lubang hitam kemudian mengayunkannya ke kepala.
“Gawat!”
Ruri pun langsung menusukkan beberapa jarum es ke tangan kiri One yang menggenggam lengannya, setelah terlepas Ruri dalam sekejap menghilang untuk menghindari pedang hitam itu.
“Sepertinya kau masih belum bisa mengalahkanku.” Kata One sambil melepas pedang yang menancap di tubuhnya lalu menoleh ke arah Ruri yang terbang di langit-langit.
“ .... “
Ruri hanya diam dan menatap tajam pedang yang di pegang oleh One itu, karena memang ia bisa saja tamat dengan satu serangan dari pedang itu.
Kali ini One pun memulai serangan, dengan sekejapan mata, ia sudah berada di belakang Ruri.
Karena memang saat itu Ruri sedang lengah karena terfokus pada pedang hitam itu.
*Duuuuugghh ...
*Duuuumm ...
Satu tendangan kuat mengenai tubuh Ruri dan membuat laki-laki itu jatuh terhempas ke bulan.
“Kegelapan pengikat ... “ kata One yang membuat Ruri terbaring dan tak dapat bergerak.
Tak mau mengulur waktu, One langsung mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi dan membuat pedang hitam itu menjadi sangat panjang sampai tak terlihat ujungnya.
“Sayang sekali ya, manusia ... “ katanya pelan.
Dengan cepat One mengayunkan pedangnya kebawah untuk melenyapkan manusia itu yang masih terbaring terikat di bulan.
Melihat itu Ruri pun langsung memberontak sekuat-kuatnya hingga terlepas dari bayangan yang mengikatnya. Dan langsung berpindah tempat.
*srrreeet ...
Karena pedang hitamnya sangat panjang, hal ini membuat bulan terbelah menjadi dua.
“Ahh ... Kukira akan kena,” kata One sambil tersenyum menatap Ruri yang berada jauh di hadapannya.
“Kau memang tidak bisa menahan diri ya,” kata Ruri menoleh kearah bulan yang terbelah itu perlahan mulai menyatu kembali karena gravitasi.
“Kau sendiri juga, walaupun kekuatanmu hampir menyamaiku tapi sepertinya kau belum terbiasa menggunakannya.”
“Itu benar, aku memang tidak tahu semuanya, akan tetapi aku sudah menguasai satu hal.”
“Apa satu hal itu bisa membuatmu menang?”
“Iya, bahkan aku bisa menjaminnya 100%”
“Hahahah, memangnya kau tak mengerti? Sejak awal aku lebih unggul dibandingkan dirimu.”
“Jangan banyak bicara, justru kau lah yang tidak mengerti dari awal.”
“Aku? Tidak mengerti? Tentang apa?”
“Apa kau tahu urutan kekuatan dari kelima iblis yang sebenarnya?”
“Tentu saja, waktu, kegelapan, monster, dimensi, creator.”
“Kalau itu jawabanmu, berarti kau sudah kalah. Karena kekuatan yang terkuat sebenarnya adalah Creator," ucap Ruri berhenti sebentar kemudian melanjutkan perkataannya.
“Aku saja sampai bingung kenapa Lucifer bisa berada diurutan terakhir, padahal kekuatan dia itu memungkin dia untuk bisa menguasai seluruh dunia,” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Bicara apa kau ini? Kalau memang benar begitu coba tunjukkan padaku!” ucap One sambil tersenyum.
“Baiklah ... Creator ... “
Seketika saja ratusan hingga ribuan pedang dibuat dalam sekejap dan mulai mengarah ke One.
“Jika hanya itu, tak akan bisa menguasai seluruh dunia,” kata One tersenyum kemudian membuat satu lagi pedang dari lubang hitam yang dibuat dengan sihir perputaran dimensi ruang dan waktu. Lalu langsung terbang cepat ke arah Ruri.
Melihat One mulai bergerak, Ruri pun langsung melancarkan ribuan pedang ke arah Iblis itu.
“Mudah saja bagiku,” kata One menghindar dan menghancurkan potongan besi yang datang dengan kedua pedang hitamnya.
“Berakhir sudah ... ” kata One sambil mengayunkan kedua pedang hitamnya ke arah Ruri.
“Kau benar, ini sudah berakhir ... “
*Taaaaanng ...
*Taaaaanng ...
Dua bilah pedang terakhir menahan pedang hitam milik One.
“Ke-kenapa pedang ini bisa menahannya? Apa yang kau lakukan?”
“Entahlah ... “ ucap Ruri sambil tersenyum.
“Kau memang hebat, manusia.”
*Crrruuuukk ...
*Crrruuuukk ...
*Krraaaak ...
Banyak pedang menusuk One dari belakang yang membuat darah mulai berceceran di angkasa.
Terlihat mata One mulai menghitam kembali.
“Kau hebat, Ruri ... “
Sebuah ucapan singkat dan pelan itu membuat Ruri terkejut dan reflek langsung berkata.
“Timer ... “
Seketika itu pula waktu terhenti hanya saja mereka berdua tetap dapat bergerak normal.
Meski tubuh Nathan dapat bergerak akan tetapi pendarahannya terhenti dan hal ini membuat orang itu membuka mata dan tersenyum.
“Pak Nathan ... Kau kah itu?” ucap Ruri sambil menghampiri tubuh pria itu.
“Be-begitulah ... “ ucap Pak Nathan pelan yang masih bisa merasakan sakit.
“Aku akan langsung membawa bapak kembali ke ... “
Pak Nathan menggelengkan kepala.
“Ta-tapi ... “
“Mendekatlah!”
Ruri langsung menuruti permintaan pria itu dan Pak Nathan langsung menyentuh dahi Ruri dengan jari telunjuknya, lalu seketika saja pemandangan sekitar menerang hingga menyilaukan mata.
Setelah beberapa saat kemudian Ruri membuka matanya dan terkejut karena tiba-tiba saja mereka berdua berada di sebuah rumah.
“Dimana ini?”
“Anggap saja ini adalah alam bawah sadarku, mungkin bisa dibilang aku yang mengundangmu datang, kalau tidak begini aku akan sulit berbicara, karena pasti kau banyak yang ingin dibicarakan bukan?”
Ruri hanya diam dan menganggukkan kepala.