Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 11 - Berburu & Siluman Mitologi



"Heh? Vina juga ikut?" tanya Dhafin.


"Memangnya kenapa kalau aku ikut?" Vina bertanya balik.


"Ahh tidak, hanya saja kau kan ... " ucap Dhafin dengan nada mengejek.


"Walaupun aku tidak bisa menggunakan sihir, tapi setidaknya aku masih bisa melakukan sesuatu, lihat saja," ucap Vina.


"Sudah-sudah ayo kita berangkat!" kata Naila.


"Hmmm."


Mereka berlima pun berangkat menuju hutan.


"Vina, memangnya kamu bisa menggunakan panah?" tanya Ruri saat di perjalanan yang melihat sebuah busur dan puluhan anak panah di dalam tas Vina.


"Iya aku bisa sedikit sedikit, karena disekolah ku, aku menekuni di bidang memanah," ucap Vina sambil tersenyum.


"Ahh begitu rupanya," ucap Ruri.


"Sekolahan di dunia ini, apa hanya mengajarkan cara bertarung kah?" gumam Ruri sambil tersenyum.


"Hewan buruan kalau disini bisa dijual kah?" tanya Ruri.


"Tentu saja, tapi kita harus membawanya dulu ke pasar dan itu pasti akan melelahkan," ucap Clarissa.


"Wahh sepertinya aku bisa berburu hewan untuk mendapatkan uang didunia ini," gumam Ruri sambil tersenyum.


"Ada apa Ruri?" tanya Naila heran melihat Ruri tersenyum sendiri.


"Ahh tidak," jawab Ruri yang masih tersenyum.


"Memangnya kita tidak punya alat untuk mengangkat hewan-hewan hasil buruan?" tanya Ruri kepada Clarissa.


"Kalau aku memang jelas tidak mempunyainya, kalau Naila ... " ucap Clarissa sambil melirik ke arah Naila.


"Ti-tidak, aku tidak mempunyainya," ucap Naila cepat.


"Kamu tidak mempunyainya karena belum membelinya, padahal ratusan gerobak pun kau mampu membelinya kan?" ucap Dhafin.


"Memangnya Naila itu orang kaya?" tanya Ruri.


"Ti-tidak," ucap Naila.


"Heh? Kamu tidak tahu Ruri?" tanya Dhafin.


"Tahu apa?" ucap Ruri kembali bertanya.


"Bu-bukan apa-apa, sudah lahh Dhafin tidak usah dijelaskan," pinta Naila kepada Dhafin.


"Hmm baiklah kalau begitu," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Ada apa sihh sebenarnya? Kalian membuatku penasaran ... " ucap Ruri dengan muka masam.


"Tidak ada apa-apa," ucap Dhafin dan Naila berbarengan.


"Huuh ... sudahlah, baiklah bagaimana kita membuatnya saja?" tanya Ruri setelah sampai depan hutan.


"Membuat apa?" tanya mereka semua.


"Tentu saja gerobak," kata Ruri polos.


"Apa kamu tahu caranya?" tanya Clarissa.


"Kita coba saja dulu, berhubung kita berada dekat hutan, buat saja dari kayu pohon pohon ini," kata Ruri.


"Coba Clarissa kau tebang pohon itu menggunakan Wind Slash dengan kekuatan penuhmu yang seperti kamu bilang waktu itu," pinta Ruri sambil tersenyum.


"Hmm jadi kamu belum percaya ya? Baiklah," ucap Clarissa sambil mengayunkan tangannya dan seketika pohon itu tumbang.


"Jadi mereka belajar menghayal membutuhkan waktu seminggu yah? Mengejutkan sekali," gumam Ruri sambil tersenyum.


"Kau lihat kan?" ucap Clarissa sambil mengacungkan 2 jarinya.


"I-iya kalian sudah berkembang pesat sejak saat itu," kata Ruri pelan.


"Baiklah, ayo kita buat gerobaknya," ucap Ruri sambil membuat sebuah pedang es nya.


"Tapi bukannya kita membutuhkan peralatannya? seperti paku," tanya Vina.


"Ahh tidak usah, untuk paku kita gunakan kayu juga," ucap Ruri.


"Hah? Apa itu biss-" ucap Vina terhenti karena pundaknya di pegang oleh Clarissa.


"Sudah kita percayakan saja pada Ruri, kita hanya akan membantunya saja," ucap Clarissa.


"Hmm baiklah, sepertinya hanya aku yang tidak tahu apa-apa tentangnya," ucap Vina.


"Iya, dia misterius dan juga baik hati," kata Clarissa sambil melihat ke arah Ruri yang sibuk berpikir.


"Heh? Jangan jangan kau ... " goda Vina.


"H-huh? Ti-tidak, kau salah paham," kata Clarissa yang pipinya memerah.


"Ahh jadi begitu wajahmu, saat Clarissa yang sedang menunjukkan sisi 'tsundere' nya," ucap Vina sambil tersenyum dan sedikit menjauh dari Clarissa.


[Di depan orang banyak biasanya para tsunderes sangat gengsi mengakui dan menunjukkan perasaan sebenarnya]


"Vinaa...!! Kau ini...!!!" ucap Clarissa geram.


"Hei Clarissa, Vina, bolehkah aku minta tolong pada kalian berdua?" ucap Ruri pada mereka berdua.


"Ahh i-iya," ucap mereka berdua.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" tanya Vina.


"Aku ingin, kalian membuat salah satu ujung kayu yang sudah ku potong kecil kecil ini menjadi tajam," ucap Ruri.


"Ohh jadi ini yang kamu bilang menggunakan paku dari kayu, tapi, bukankah percuma? nanti akhirnya, pas akan dipukul ujung kayu yang di tajamkan akan patah juga?" tanya Vina.


"Memang akan patah kalau kayu biasa, tapi, hmm ... bagaimana ya?" ucap Ruri sambil kembali berpikir.


Clarissa dan Vina hanya menatap heran Ruri yang sedang berpikir.


"Ahh susah dijelaskan, nanti saja, saat kalian sudah selesai mempertajam kayu kayu itu," ucap Ruri.


"Hmm baiklah," kata Vina sambil mengerjakan tugas dari Ruri bersama Clarissa.


Setelah beberapa saat kemudian.


"Ahh ... kalau menajamkan satu persatu bakal lama," ucap Clarissa kesal.


"Terus mau bagaimana?" tanya Vina.


"Terpaksa aku menggunakan ini, Wind rotation...!!!" ucap Clarissa sambil meletakkan tangannya ke tanah dan seketika ratusan kayu kecil kecil itu melayang karena sihir angin Clarissa.


"K-kau mau menggunakan sihir?" ucap Vina terkejut sambil menutupi matanya menggunakan lengannya.


"Hanya sedikit saja, Wind blade," ucap Clarissa yang memegang 2 buah pisau angin yang samar samar terlihat.


Dengan cepat, Clarissa pun melesat keatas dan memotong seluruh kayu kayu itu sekaligus dan mulai berjatuhan.


"Akhirnya selesai," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Kalian sudah selesai?" tanya Ruri.


"I-iya begitulah, walaupun aku hanya menajamkan 4 buah, tapi sisanya ..." ucap Vina tidak meneruskan perkataannya sambil melirik kearah Clarissa.


"Hahah begitu rupanya, iya iya aku mengerti, baiklah sekarang tinggal menyatukannya saja," ucap Ruri.


"Menyatukannya? Kamu sudah membuat semuanya?" tanya Clarissa dengan heran.


"Yahh begitulah, berkat bantuan Dhafin dan Naila," ucap Ruri sambil mengarahkan tangannya ke ratusan kayu kecil kecil itu dan seketika semua kayu itu bercahaya sebentar dan kembali seperti semula.


"Apa yang kamu lakukan Ruri?" tanya Vina.


"Aku hanya memberi kayu kayu itu sihir penguat agar tidak patah saat ditancapkan," jelas Ruri.


"Hmm jadi begitu," ucap Clarissa.


"Baiklah, ayo Clarissa, aku butuh bantuanmu untuk memakukan roda, dan yang lainnya menggunakan sihir anginmu," ucap Ruri.


"Lalu aku ngapain?" tanya Vina.


"Ahh Vina, kamu beristirahat saja," ucap Ruri.


"Sudah kuduga aku tidak bisa membantu apa-apa," gumam Vina kesal lalu kembali duduk.


"Apa aku pergi mencari hewan duluan saja yaa?" pikir Vina sambil berlalu pergi masuk kedalam hutan.


Beberapa menit kemudian...


"Akhirnya jadi juga," ucap Dhafin.


"Iya, tapi, rasanya melihat gerobak kosong saja aku belum puas," ucap Ruri.


"Kau benar Ruri, kita kan kesini untuk berburu, bukan membuat gerobak," ucap Naila sambil tersenyum.


"Iya, ayo kita cari hewannya!" ucap Dhafin.


"Tapi, ngomong-ngomong dimana Vina?" ucap Clarissa yang tidak melihat Vina dimana-mana.


"Iya yaa tadi dia duduk disana," ucap Ruri.


"Ahh ... jangan-jangan ..." ucap Clarissa sambil menepuk jidat.


"Ada apa?" ucap mereka bertiga berbarengan.


"Dia pergi duluan ke hutan," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Iya, mungkin saja, karena dia itu Vina," ucap Dhafin.


"Memangnya kenapa?" tanya Ruri.


"Dia itu tidak sabaran orangnya kalau disuruh menunggu," jelas Dhafin.


"Hmm begitu ya, pantas saja," ucap Ruri.


Tiba-tiba saja ...


*kreesek..!! kreseekk...!!!


Suara sesuatu mendekat dari hutan.


Dengan sigap mereka berempat menjauh sedikit dari hutan dan menyiapkan sihir masing-masing.


"Ahh kalian baru selesai rupanya," ucap seseorang dari arah hutan.


"H-hehh ... jangan serang aku, aku ini Vina," ucap Vina terkejut melihat temannya yang bersiap ingin menyerangnya kapan pun.


"Ahh ternyata kau, kukira harimau," ucap Ruri lega.


"Kamu membuat mereka terkejut Vina, hampir saja Ruri ingin menebasmu menggunakan pedang es nya," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Heh? Kau menuduhku Clarissa, aku hanya bersiap saja, belum menyerang, sedangkan kau sudah hampir mengayunkan tanganmu untuk menebas Vina menggunakan Wind Slash," ucap Ruri sambil tertawa kecil.


Melihat Dhafin tertawa setelah mendengar ejekan Ruri, Clarissa pun berucap.


"Diam kamu Dhafin, kamu juga sudah hampir membakar Vina menggunakan api mu itu."


Seketika saja perasaan tegang itu telah menjadi suara tawa antara kelima orang itu.


"Ahh sudah ayo kita tangkap sebanyak-banyaknya, lagi juga aku sudah mendapatkan satu," ucap Vina sambil meletakkan seekor kambing hutan yang tertancap 2 buah anak panah di tubuhnya.


"Kau curang Vina, memulai duluan dan tidak menunggu kami," ucap Dhafin.


"Habisnya aku bosan kalau hanya duduk menunggu kalian membuat grobak dan aku tidak bisa membantu apa-apa, jadi aku putuskan pergi ke hutan saja," ucap Vina.


"Sudah-sudah, ayo kita juga pergi mencari hewan-hewan di hutan!" ucap Naila.


"Hmm," ucap mereka berempat serempak.


Mereka pun berpencar kedalam hutan untuk berburu, baru 12 menit berlalu, terlihat Dhafin keluar hutan membawa seekor rusa.


"Heh? Sepertinya aku yang pertama kali sampai," ucap Dhafin.


"Heh, kalian cepat sekali?" kata Vina dari balik semak-semak.


"Vina, kamu juga mendapat rusa?" tanya Dhafin melihat Vina menggeret seekor rusa.


"Iya, ahh ternyata kamu juga mendapat rusa?" ucap Vina.


"Iya, karena tadi yang kutemukan hanya ..." ucap Dhafin terpotong karena ada seseorang yang datang.


"Heh? kalian cepat sekali dapatnya," ucap Naila yang membawa dua ekor babi.


"Wahh kau mendapat babi?" tanya Vina.


"Hahah iya, aku tidak sengaja menemukannya, ngomong-ngomong dimana Ruri? Apa dia belum kembali?" ucap Naila.


"Iya ya, seharusnya dia lebih cepat dari kita," kata Dhafin.


Karena merasa heran daerah sekitar serasa agak menggelap, Clarissa pun melihat keatas.


"Apa itu, berwarna hitam di atas?" ucap Clarissa sambil menunjuk kearah atas.


Mereka semua pun ikut melihat keatas.


"Kau benar Clarissa, apa itu burung?" ucap Dhafin.


"Tidak mungkin burung, tapi kok, benda itu semakin mendekat!" ucap Vina yang mulai panik.


"Hei kalian yang dibawah ... Awas...!!!" ucap seseorang dari atas langit.


"Semuanya, pergi menjauh...!!!" ucap Dhafin sambil berlari dan melompat menjauh dari tempatnya ia berdiri.


Mereka semua pun menjauh dan seketika...


*Buuumm....


Suara beruang jatuh dari langit.


"BERUANG...?!!" ucap mereka semua terkejut.


Terlihat seseorang berdiri diatas beruang itu dan berkata.


"Ma-maaf yaa semuanya, karena telah mengejutkan kalian," ucap Ruri kepada teman-temannya yang masih terkejut melihat beruang itu.


"Apa kamu ingin membunuh kami Ruri?" tanya Clarissa dengan tersenyum sambil mendekati Ruri yang baru turun dari perut beruang itu.


"Ahh ti-tidak, hanya saja tadi itu aku bingung membawa beruang ini bagaimana, jadi kuputuskan untuk menggunakan sihir angin dan melemparnya keatas langsung menuju kesini," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Tadi itu berbahaya tahu," ucap Clarissa sambil memukul kepala Ruri.


"Tapikan aku sudah minta maaf dan tidak ada yang terluka," kata Ruri.


"Yaa tetap saja ... "


"Hebat, dia bisa menaklukan beruang dan melemparnya dari hutan sampai kesini," ucap Vina pelan.


"Tentu saja, karena dia itu Ruri, anak laki-laki misterius yang menempati peringkat pertama di ujian sekolah pertamanya," ucap Naila sambil mendekati Vina.


"Hah? Di ujian sekolahnya dia ranking 1? Pantas saja," ucap Vina terkejut lalu tersenyum.


"Sepertinya kita cukup sampai disini saja dulu kali ya? Soalnya aku juga tidak yakin kalau kita bisa membawa semua hewan ini," kata Dhafin.


"Hmm sepertinya Dhafin benar, bagaimana kita mendorongnya sampai ke pasar? Ditambah lagi hewan besar ini," ucap Clarissa sambil melirik kearah beruang itu.


"Hehe, bagaimana kalau kita melemparnya saja seperti yang tadi aku lakukan?" ucap Ruri sambil tersenyum.


"Kamu ingin menghancurkan pasar menggunakan beruang ini?" tanya Clarissa sambil tersenyum.


"Yaa habis aku tidak tau lagi bagaimana caran-" ucap Ruri tidak melanjutkan perkataannya setelah melihat kearah hutan.


"Kelinci...!!!" ucap Ruri cepat sambil berlari mengejar sekumpulan kelinci putih yang mulai pergi menjauh kedalam hutan karena menyadari bahwa mereka sedang dikejar oleh seseorang.


"Hah? Kelinci?!" ucap Dhafin yang ikut berlari mengikuti Ruri.


"Aku juga mau...!!!" ucap Vina yang ikut masuk kedalam hutan.


"Clarissa, kamu juga mau mengejar-" ucap Naila terpotong karena...


*Fuuusshh...


Suara lari Clarissa dengan sangat cepat seperti angin.


"Tentu saja!" teriak Clarissa.


"Hei Clarissa? T-tunggu!" ucap Naila yang juga ikut masuk kedalam hutan.


Mereka semua pun masuk kedalam hutan untuk menangkap kumpulan kelinci itu.


"Wahh kelinci di sini ternyata lincah lincah," ucap Ruri sambil berlari yang menembakkan sihir angin berkali-kali, namun, tidak mengenai salah satu dari kumpulan kelinci itu yang mencoba melarikan diri.


"Tentu saja, karena itu, harganya sangat mahal kalau dijual," ucap Dhafin yang masih berlari tepat di belakang Ruri.


"Apa? Mahal?" kata Ruri tidak percaya.


"I-iya," jawab Dhafin.


"Baiklah aku punya ide, Dhafin aku akan melemparmu menggunakan sihir angin, lalu kamu gunakan sihir angin pula setidaknya untuk menjatuhkan salah satu dari kelinci-kelinci itu," kata Ruri.


"Baiklah aku setuju," kata Dhafin tanpa berpikir panjang sambil berlari didepan Ruri lalu melompat.


"Wind Thrust...!!!" ucap Ruri sambil mengarahkan kedua tangannya kearah Dhafin dan seketika Dhafin melesat cepat kearah kelinci itu.


"Yosh, akhirnya kena kalian! Wind Sho... heh?" ucap Dhafin berhenti menggunakan sihir angin karena terkejut melihat kumpulan kelinci itu berpencar menjadi dua bagian.


Setelah Dhafin melihat kedepan tiba-tiba saja.


"Wooaahh...!!!" kata Dhafin.


*Duuuugg...!!


*Gubraaak...


Suara kepala Dhafin yang menabrak sebuah pohon lalu terjatuh ke tanah.


"Maaf Dhafin, aku tidak bisa membantumu sekarang," ucap Ruri saat melewati Dhafin yang jatuh karena menabrak pohon.


"Teganya ... " ucap Dhafin yang masih berbaring.


"Heh Dhafin? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Vina berhenti sebentar.


"Bukan apa-apa, hanya sedikit menabrak pohon ini. Vina, tolong aku!" kata Dhafin yang masih terkapar di tanah.


"Maaf ya, nanti saja setelah mendapatkan kelinci-kelinci itu," ucap Vina kembali berlari.


"T-tunggu!" ucap Dhafin pelan.


"Aduduhh ... ternyata sakit juga ya menabrak sebuah pohon," kata Dhafin mencoba bangun, namun...


*Fuuusshh...!!!


*Bruuuukk...


Sesuatu yang sangat cepat melewati dan menabrak Dhafin yang masih mencoba bangun akan tetapi kembali terjatuh.


"Apa yang kutabrak tadi? Dhafin? Ahh masa bodo lahh," ucap Clarissa yang terus berlari.


"Sudah tidak ditolong, malah menabrakku lagi, kejam sekali kamu Kak," gumam Dhafin yang menatap langit-langit hutan.


"Heh? Dhafin? Kamu tidak apa-apa?" tanya Naila yang melihat Dhafin lalu menghampirinya.


"Y-ya semoga saja aku tidak apa-apa," ucap Dhafin pelan.


"Kepalamu terbentur sesuatu? Sini kulihat sebentar," ucap Naila sambil menggunakan sihir penyembuhan.


"Naila ... kamu tidak mengejar kelinci-kelinci itu?" tanya Dhafin yang heran melihat Naila sibuk menyembuhkan lukanya.


"Nanti saja setelah menyembuhkan lukamu, lagi pula Ruri dan yang lain juga sedang mengejar kelinci-kelinci itu," ucap Naila.


"Naila... " ucap Dhafin.


"Hmm?"


"Kamu memang teman terbaikku," ucap Dhafin sambil memeluk Naila.


Karena terkejut, Naila langsung berkata.


"Ahh lepaskan aku, dasar mesum...!!!" ucap Naila sambil memukul kepala Dhafin dengan kuat.


"WAAHHH...!!! KEPALAKU...?!!"


Disisi lain, Ruri masih mengejar dan berkali-kali menembakkan sihir angin ke kelinci-kelinci itu, namun tetap saja tidak ada yang mengenainya karena mereka dapat menghindarinya.


"Wind Slash...!!!" ucap seseorang dari belakang Ruri yang mencoba menebas kelinci-kelinci itu menggunakan sihir angin, namun tidak mengenainya.


"Heh? Clarissa? Bagaimana keadaan Dhafin?" tanya Ruri yang masih berlari.


"Ohh yang tadi itu ternyata benar Dhafin, kalau keadaannya aku tidak tahu, tapi aku sempat menabraknya, hehe," ucap Clarissa sambil tertawa kecil.


"Wahh kacau sekali," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Hei Clarissa, kenapa kelinci-kelinci ini dapat melompat begitu cepatnya dan juga kenapa mereka dapat menghindari sihir-sihir kita?" tanya Ruri sambil melompati semak-semak.


"Ahh kau tidak tahu rupanya, karena kelinci-kelinci itu juga mempunyai mana, dan dapat menggunakan mana itu untuk melarikan diri dan merasakan sihir yang mendekati mereka," jelas Clarissa.


"Hadehh ... pantas saja Dhafin bilang harga mereka sangat mahal," kata Ruri.


"Heh? Hutannya habis?" ucap Ruri yang melihat ujung hutan itu.


"Sepertinya kita sudah berlari sangat jauh," kata Clarissa.


"Wahh tempat ini hebat sekali," ucap Ruri yang masih berlari tetapi pandangannya kemana-mana.


"Ahh tidak, kelinci-kelinci itu akan masuk kedalam gua!" ucap Clarissa sambil menembakkan sihir angin.


"Ahh tidak...!!!" ucap Ruri sambil menembakkan sihir angin pula mengarah ke gua tepat mengarah ke kelinci-kelinci itu masuk.


*Taaaakk...!!! Taaaakk...!!!


Suara kedua sihir angin mengenai sesuatu.


"Apa kita mengenainya?" tanya Ruri yang berhenti bersama Clarissa tepat di depan gua yang sangat besar.


"Sepertinya bukan kelinci yang kita kenai," ucap Clarissa.


Seketika kumpulan kelinci-kelinci itu kembali keluar dari gua itu melewati kaki Ruri dan Clarissa.


"Heh? Kenapa kelinci-kelinci itu keluar dari gua ini?" tanya Ruri heran melihat kelinci-kelinci itu kabur dari gua.


"Ru-Ruri, aku takut kita mengenai sesuatu yang berbahaya," ucap Clarissa sambil mundur sedikit yang masih melihat kedalam gua besar itu.


"Ada apa?" tanya Ruri.


"Ruri, coba lihat itu...!!!" ucap Clarissa sambil menunjuk kearah gua itu.


Terlihat sesuatu yang besar dari dalam gua itu bergerak-gerak lalu keluar secara perlahan dan menampakkan diri.


Ruri pun sangat terkejut melihat sesuatu yang sangat besar tepat berada di depannya.


"Clarissa ayo kita menjauh sebentar!" ucap Ruri sambil menarik tangan Clarissa dan berlari menjauh lalu berhenti untuk melihat makhluk besar itu yang mulai keluar, tanah mulai sedikit bergetar akibat langkah makhluk itu.


"Kukira makhluk itu hanya hewan mitologi belaka," ucap Clarissa gemetaran.


"Memangnya makhluk apa itu?" tanya Ruri yang masih menatap makhluk mirip kerbau namun terdapat perisai batu di bagian wajahnya, kira kira tingginya kurang lebih 15 meter. Makhluk besar itu mulai berjalan keluar secara perlahan dari gua besar itu.



"Makhluk itu dinamai Quadratus atau Taurus Major," ucap Clarissa.


"Begitu rupanya, Clarissa pergilah ke kota! aku yang akan menahannya disini, carilah bantuan setelah kamu sampai disana!" ucap Ruri pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kamu berniat untuk melawan makhluk itu sendirian?" ucap Clarissa pelan yang juga ikut menundukkan kepalanya.


"I-iya, begitulah ... " ucap Ruri pelan.