
“Ohh jadi kalian pikir aku hanya menggertak? Baiklah aku akan ... “ kata Ruri sambil menyentikkan jarinya dan seketika belasan pedang es mengelilingi kedua pria itu.
Karena ketakutan lantas salah satu pria menarik wanita itu dan menodongkan pisau ke lehernya.
“Jika kau ingin wanita ini tetap hidup, pergilah dari sini!” ucapnya.
“Sudah kuduga bermain pahlawan-pahlawanan akan berakhir begini. Baiklah, hei paman, bagaimana kalau permainan ini kita ubah menjadi bunuh-bunuhan saja?” ucap Ruri sambil tersenyum.
“H-hah?! Apa maksudmu?!” katanya lagi yang mulai gemetaran tapi tangannya tidak lepas dari sebilah pisau yang mengikat leher seorang wanita
“Hmm? Apa aku harus menjelaskan detailnya? Tentu saja kau akan membunuh wanita itu, tapi saat itu juga kau akan tertembus ini semua, bagaimana? Lagi juga aku tidak peduli dengan orang asing termasuk wanita itu, jadi bagaimana? Apa kau setuju paman?”
“Jangan bercanda! Wanita ini akan terbunuh lohh ... bukankah kau ingin menyelamatkannya?” katanya sambil tersenyum.
Ruri hanya diam dan menghela nafas.
“Menyelamatkan? Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan orang asing,” ucap Ruri tenang.
“Lalu untuk apa kau datang kesini jika tidak peduli?!”
“Untuk apa ya? Hmm ... mungkin aku tertarik untuk membunuh kalian para penjahat, sudah lama sekali aku tidak melihat darah manusia, jadi, maukah kalian menyerahkan diri untuk aku bunuh?” ucap Ruri sambil tersenyum dan berjalan mendekat sambil menjilati pedang es di tangannya.
“JA-JANGAN MENDEKAT?!” katanya yang mulai ketakutan.
Ruri yang berjalan mendekati ketiga orang itu tiba-tiba saja mulai berlari kearah mereka.
“Mati kau!” ucap Ruri sambil melempar sebuah pedang di tangannya.
Akan tetapi pedang itu tidak mengenainya karena pria itu mendorong wanita di hadapannya lalu melompat untuk menghindar.
“Dasar monster!” ucap pria yang memegang sebilah pisau sambil berlari menjauh, sedangkan rekannya yang melihat itu juga ikut berlari karena panik.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Ruri sambil menghela nafas.
“Kau baik-baik saja?” kata Ruri sambil menjulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri.
“Bu-bukankah kau ingin membunuhku?” ucapnya pelan.
“Heh?” kata Ruri terkejut lalu tersenyum kecil karena wanita ini benar-benar menggapnya sebagai seorang pembunuh.
“Bukan, soal yang tadi aku hanya bercanda agar bisa membantumu mengatasi orang-orang seperti tadi.”
“Begitukah?”
“Hmm ... Hmmm ... “ Ruri menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, te-terima kasih,” ucapnya sambil meraih tangan Ruri lalu berdiri.
Setelah berdiri, wanita itu terdiam karena tangannya masih digenggam oleh Ruri dan seketika saja wajah wanita itu memerah karena Ruri masih menatap dirinya.
“Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?” ucap wanita itu sambil memalingkan pandangannya.
“Ahh ... iya maaf, saat melihatmu, aku jadi teringat akan seseorang,” kata Ruri tersenyum sambil melepaskan tangannya.
“Hmm tidak apa, ngomong-ngomong siapa namamu?” ucap wanita itu.
“Namaku? Namaku Ruri ... Ruri Narendra, kamu sendiri?”
“Namaku ... Ka ... “ ucap wanita itu tidak melanjutkan perkataannya lalu mengalihkan pandangannya.
“Ka?” ucap Ruri mengulangi perkataan wanita itu karena tidak mengerti.
“Ma-maksudku ... Kaila ... Kaila Felicia,” kata wanita itu yang mengatakan dirinya Kaila.
“Baiklah, Kaila, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini di tempatku saja, sekarang ini kau sedang tidak buru-buru kan?” ucap Ruri.
“Ti-tidak juga kok, aku juga sedang mencari penginapan sekitar sini.”
“Heh? Ternyata kau orang luar ya, kebetulan sekali, aku juga tinggal di penginapan, mau sekalian melihat-lihat?”
“Hmm baiklah.”
5 menit kemudian ...
“Hmmm ... Kupikir kau ada urusan apa, ternyata hanya bertemu dengan wanita,” ucap Naila sambil menatap tajam Ruri.
“Ternyata Ruri diam-diam ... “ ucap Vina pelan sambil menutup mulutnya.
“Bu-bukan begitu, aku tidak tahu apa yang dipikirkan kalian, tapi sepertinya itu bukan hal yang baik,” ucap Ruri sambil tersenyum kecut.
“Jadi siapa dia ini?” tanya Dhafin.
Ruri pun mulai menjelaskan.
“Hmm jadi begitu rupanya,” ucap mereka bertiga berbarengan.
“Akhirnya kalian bisa mengerti,” ucap Ruri sambil menghela nafas.
“Yaa mana bisa kami mengerti kalau belum dijelaskan,” kata Vina sambil menganggukkan kepalanya.
“Betul itu,” sambung Naila.
“Bagaimana bisa aku menjelaskannya, kalau aku baru datang saja langsung dituduh yang tidak tidak,” ucap Ruri tersenyum geram.
“Itu wajar karena kau belum menjelaskannya,” ucap Vina cepat.
“Betul itu,” sambung Naila sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalian ini!” ucap Ruri geram dengan senyum kecutnya.
“Sudahlah Ruri mohon bersabar, sebenar apapun kau, selagi kau berhadapan dengan wanita, kau tidak akan dianggap benar,” ucap Dhafin tersenyum sambil menyabarkan rekannya itu.
Kaila yang dari tadi hanya diam melihat perdebatan mereka tiba-tiba saja tertawa.
Mereka berempat terdiam melihat Kaila.
“Kaila ada apa?” tanya Ruri melihat Kaila tertawa namun air matanya ikut berlinangan.
“Ahh maaf maaf, aku kenapa ya?” ucap Kaila yang masih sedikit tertawa sambil menyerka air matanya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Naila.
“Aku tidak apa-apa kok, mungkin aku hanya teringat akan ... keluargaku,” katanya.
“Keluargamu?”
“Iya, itu seperti ... “ ucap Kaila kemudian berpikir sejenak.
“Seperti adik dan kakakku yang sering sekali bertengkar dan hal tadi membuatku teringat akan mereka,” jelasnya sambil tersenyum kembali.
“Memangnya keluargamu dimana?” tanya Ruri.
“Semua keluargaku sudah tidak ada, dan sekarang aku sudah tidak punya siapa siapa lagi,” jelasnya.
“Begitukah? Kalau begitu maaf karena sudah menanyakannya,” ucap Ruri pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Hmm tidak apa kok, aku senang bisa merasakan kejadian ini lagi,” ucapnya sambil tersenyum.
“Jadi, sekarang ini kau ingin kemana?” tanya Dhafin.
“Umm ... Kemana yah? Entahlah, hahah ... ” ucapnya sambil tertawa kecil.
“Jadi intinya kau pergi tanpa ada alasan dan tujuan yang jelas?” tanya Naila sambil tersenyum aneh.
“Yahh begitulah, aku tidak tahu kemana tujuanku,” jawab Kaila dengan tenang.
“Hmm, kalau dia bersama kita sepertinya tidak bisa, soalnya ... “ ucap Vina yang melirik ke arah Naila, Dhafin dan Ruri secara bergantian.
“Maksudmu besok? Siapa?” tanya Dhafin yang belum tahu apa-apa.
“Kau belum memberitahu Dhafin?” tanya Naila.
“Tentu saja, karena itu baru rencananya saja, tapi sepertinya aku akan benar-benar berangkat mulai besok,” jelas Ruri.
“Huhh ... sudah kuduga kau akan pergi secepatnya setelah kelulusan,” ucap Dhafin yang langsung mengerti.
“Kukira kau akan terkejut,” ucap Naila kepada Dhafin.
“Tentu saja tidak, karena ini adalah janjinya Ruri, jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkannya, maaf ya Ruri, aku tidak bisa ikut denganmu.”
“Tidak apa kok, dari awal juga aku berniat untuk pergi sendiri, jadi tidak usah khawatir, aku akan membawa Clarissa kembali,” ucap Ruri sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Kaila terkejut lalu berkata.
“Ma-maaf aku mau pergi ke toilet sebentar,” ucap Kaila sambil berlalu pergi.
“Ada apa dengannya?” ucap Dhafin.
“Mana aku tahu,” ucap Ruri pelan.
3 menit kemudian ...
“Kaila, apa kau tidak apa-apa?” tanya Vina kepada Kaila yang baru datang dan kembali duduk.
“Aku baik-baik aja kok, ngomong ngomong apa disini masih ada kamar kosong? Aku ingin bermalam untuk hari ini,” ucap Kaila.
“Bagaimana Vina, ada tidak? Aku membawanya kemari karena dia sedang mencari penginapan di sekitar sini,” kata Ruri kepada Vina.
“Sepertinya masih ada, sebentar ya, aku pergi mengecek dulu,” ucap Vina sambil berlalu pergi.
“Kau hanya akan bermalam sehari saja? Memangnya kau mau pergi kemana, Kaila?” tanya Dhafin.
“Hmm ... Entahlah, aku tidak tahu, hehehe.”
“Bagaimana kalau kau ikut salah satu dari kami?” tanya Naila.
“Ikut? Kemana?” Ucap Kaila bertanya balik.
“Kalau aku, pergi ke ... “ ucap Naila yang tidak melanjutkan perkataannya karena mengingat bahwa ia akan pergi ke Ibukota untuk melanjutkan pembelajaran disana.
“Hei Dhafin, apa kau bisa membawanya?” tanya Naila.
“Itu tidak mungkin lah, aku akan pergi untuk mencapai tujuanku,” ucap Dhafin.
“Sudah-sudah, aku pergi sendirian tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa.”
“Hei Kaila, kau bilang tidak punya tujuan kan?” tanya Ruri tiba-tiba.
“Iya.”
“Bagaimana kalau kau ikut denganku pergi menjelajah untuk mencari temanku, bagaimana? Apa kau mau ikut?”
“Mencari teman-“ ucap Kaila terpotong karena Naila tiba-tiba langsung berucap.
“Tunggu sebentar! Aku tidak menyetujuinya, karena kalian itu laki-laki dan perempuan,” ucap Naila sambil berdiri dengan suara yang semakin lama semakin pelan sambil memalingkan pandangannya.
“Hmm? Memangnya kenapa? Kau tadi menawarkannya pada Dhafin, kenapa aku tidak boleh mengajaknya?” ucap Ruri kebingungan.
“Pokoknya TIDAK BOLEH,” kata Naila yang wajahnya memerah.
“Sudahlah Naila, memangnya kau ingin mengajaknya ke Ibukota?” kata Dhafin.
“Ba-baiklah akan kubawa dia bersamaku,” ucap Naila terpatah-parah karena masih ragu.
“Apa kau yakin? Padahal kau belum tau Kaila ini siapa, kalau ada apa-apa, apa kau mau bertanggung jawab? Lebih baik hal ini diserahkan pada Ruri, dia yang paling pandai dalam semua hal, tidak semuanya juga sihh,” ucap Dhafin sambil tersenyum kecut.
“Baiklah baiklah aku mengerti, untuk kali ini aku akan membiarkan Ruri menemani Kaila,” ucap Naila yang kembali duduk di kursinya.
“Sebentar, apa maksudmu mencari temanmu? Apa temanmu tersesat?” tanya Kaila tidak mengerti.
“Kalau dibilang temanku rasanya kurang tepat. Dia adalah teman kami, teman yang paling berharga, awalnya kami kira dia sudah tiada, tapi sejak saat itu ... Aku yakin kalau dia masih hidup,“ ucap Ruri.
Flashback on ...
“Baiklah sekarang waktu bebas, kembalilah sebelum jam 17:00,” ucap Pak Nathan kepada murid-murid.
“Heh, tidak disangka ada acara seperti ini ya,” ucap Dhafin.
“Iya, dengar dengar dulu tidak ada acara keluar kota seperti ini,” sambung Naila.
“Dasar Pak Nathan seenaknya membuat acara karyawisata di dunia ini,” gumam Ruri sambil tersenyum.
“Jadi kita mau melakukan apa? Kalau tidak ada mungkin tidur sampai jam 5 bukanlah hal yang buruk,” tanya Dhafin.
“Tidak! Mumpung kita lagi di luar kota, bagaimana kita menjelajahi sebentar, bagaimana kalau kita ke daerah pegunungan yang di sana itu?” ucap Naila sambil menunjuk ke arah pegunungan di sampingnya.
Karena ada warga setempat yang tidak sengaja mendengar perkataan Naila, ia pun menghampiri Ruri dan teman-temannya.
“Hei, jika kalian hendak pergi kesana tanpa adanya tujuan yang jelas, lebih baik urungkan saja niat itu,” kata laki-laki paruh baya yakni seseorang yang mungkin tinggal di daerah situ.
“Memangnya kenapa Pak? Kalau hanya binatang buas atau siluman, kami bisa menanganinya,” kata Dhafin.
“Di sana itu terdapat seorang petapa yang biasa dijuluki petapa kehidupan,” katanya.
“Terus apa salahnya kami kesana kalau hanya bertemu dengan seorang petapa?” tanya Naila.
“Itu karena dia tidak ingin di ganggu sedikit pun, sekalinya ada, dia langsung membunuh orang itu.”
“Dari pada disebut petapa kehidupan mungkin orang itu lebih pantas disebut dengan petapa Kematian,” ejek Dhafin sambil tersenyum.
“Hei Dhafin, jaga sikapmu!” ucap Naila pelan.
“iya iya maaf.”
“Pak, kalau boleh saya tau, kenapa orang itu disebut petapa kehidupan?” ucap Ruri yang mulai berbicara karena hal itu menarik perhatiannya.
“Aku tidak terlalu tahu banyak, tapi yang kudengar salah satu kemampuannya, dia itu bisa merasakan energi kehidupan seseorang hanya dengan membayangkan wajahnya saja, walaupun orang itu berada jauh di ujung dunia,” jelas laki-laki paruhbaya itu.
Ruri terkejut lalu berkata.
“Baiklah, terima kasih Pak atas peringatannya, kami pergi dulu ya,” ucap Ruri sambil berlalu pergi.
“Hei Ruri tunggu aku,” ucap Dhafin sambil berlalu pergi.
“Terima kasih Pak, saya pergi dulu,” ucap Naila sambil pergi.
“ .... “
“Ada apa Ruri? Apa kau tidak mau pergi setelah mendengar ucapan orang tadi?” tanya Dhafin.
“Tidak, justru sebaliknya, apa kalian berdua mau ikut denganku ke pegunungan mencari petapa itu?” tanya Ruri kepada Naila dan Dhafin.
“Tentu saja aku sangat tertarik dengan petapa kematian itu,” ucap Dhafin bersemangat.
Ruri menganggukkan kepalanya lalu menatap ke arah Naila.
“Tidak perlu di pertanyakan lagi, aku yang merencanakan pergi ke sana, masa aku tidak ikut?” kata Naila dengan yakin.
“Baiklah, ayo pergi!”
Ruri dan kedua temannya itu pergi menjelajahi wilayah pegunungan untuk mencari petapa kehidupan yang dibicarakan orang tadi.