
"Maaf, ini semua salahku, aku selalu datang terlambat," kata Ruri pelan.
"Tidak, ini bukan salahmu Ruri, jika sejak awal aku menyadarinya, mungkin hal ini tidak akan terjadi, aku memang tidak bisa diandalkan," kata Dhafin pelan.
"Heh? Jadi nasib gadis itu sudah tamat?" kata Soni yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Tutup mulutmu!" kata Ruri pelan.
"Hmm? Itu bukan salahku ya," ucap Soni sambil tersenyum.
Ruri hanya diam, ia masih menundukkan kepalanya, lalu berkata kepada Dhafin.
"Dhafin pergilah, biar aku yang urus sisanya."
"Ta-tapi bagaimana denganmu sendiri?" kata Dhafin yang masih berlinangan air mata.
"Aku akan membalaskan kematian Clarissa," kata Ruri tanpa menoleh.
"Kau pikir aku akan diam dan menonton sampai orang itu pergi?" kata Soni sambil terbang cepat ke arah Dhafin dan hendak melancarkan pukulannya.
Akan tetapi seketika saja Soni terhempas jauh saat Ruri bergerak cepat menembakkan sihir angin miliknya.
"Cepatlah Dhafin, kumohon!" kata Ruri pelan.
Melihat itu, Dhafin langsung berlari menjauh.
"Sepertinya orang itu berhasil lolos" kata Soni yang datang kembali lalu menembakkan beberapa bola api ke arah Ruri.
Ruri hanya diam sehingga bola api itu mengenai tubuhnya sehingga tubuhnya jatuh tersungkur.
"Ada apa denganmu? Apa kau tidak ada semangat bertarung lagi? Kemana perginya kekuatanmu tadi?" kata Soni sambil menghampiri Ruri yang terbaring dan tidak bergerak sedikitpun.
Setelah berada di dekat Ruri, Soni langsung menarik kerah baju Ruri sampai tubuhnya terangkat.
"Hmm? Kau masih hidupkan?" kata Soni sambil berkali-kali menepuk wajah Ruri.
"Kembalikan Clarissa," ucap Ruri dengan nada lirih.
"Heh? Kau masih memikirkan gadis itu?" kata Soni sambil tersenyum.
"Kembalikan Clarissa!"
"Tidak bisa, dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, lalu kau mau apa?"
" .... "
"Hmm? Apa kau ingin menyusulnya? Baiklah, akan kubantu kau pergi menemuinya," kata Soni yang hendak memukul Ruri dengan tangan kanannya yang dilapisi dengan sihir api hitamnya.
Namun Ruri menahannya dengan tangan kosong.
"Aku tidak boleh pergi sebelum membalaskan kematiannya."
Soni terkejut lalu tersenyum.
"Kau bertarung hanya sekedar untuk membalaskan kematian makhluk rendahan?"
"Makhluk rendahan katamu?!" kata Ruri pelan sambil mengepalkan tangannya.
"Memangnya kenapa? Benarkan? Gadis itu sangat lemah sampai-sampai tidak bisa menahan hisapan lubang hitam raksasa tadi," kata Soni.
"Tarik ucapanmu!" kata Ruri pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau aku tidak mau apa yang akan kau lakukan?" ucap Soni sambil tersenyum.
"Kau akan menyesalinya sampai akhir hidupmu," kata Ruri singkat.
Mendengar itu Soni tertawa terbahak-bahak.
Disela-sela Soni tengah tertawa, Ruri melesat cepat lalu mengayunkan pukulannya ke arah Soni.
Soni yang menyadari itu langsung menahan dengan kedua tangannya.
Karena pukulannya tertahan, Ruri langsung berputar lalu menendang tubuh Soni hingga terhempas jauh.
Tidak sampai disitu, Ruri kembali bergerak cepat menuju Soni.
"Tidak ku sangka ... Apa kekuatannya meningkat? Sepertinya tidak, tapi apa yang digun-" kata Soni yang tidak sempat melanjutkan perkataannya karena ia terkejut, menyadari bahwa Ruri sudah berada di belakangnya.
Ruri tanpa menunggu Soni berhenti dari hempasan sebelumnya, ia kembali memukul dan menendang Soni berkali-kali tanpa memberi Soni peluang bertahan.
Sampai pada akhirnya Ruri memukul Soni ke atas langit lalu kembali menghempasnya ke tanah kemudian menembakinya berkali-kali dengan bola api dari atas dan di akhiri dengan ...
"Lightning strike !!!" ucap Ruri yang dilanjutkan dengan sambaran petir dari tangan kanannya.
"Ternyata benar, kau bukan orang biasa," kata Soni sambil tersenyum yang masih terbaring menatap Ruri.
"Hei, dengar ini baik-baik," kata Ruri dengan nada serius sambil membuat dua pedang es nya lalu melempar ke arah kedua sayap Soni sehingga ia tidak mudah untuk bergerak.
"Apa?"
"Apa kau bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati?" tanya Ruri.
"Heh? Apa kau ingin menghidupkan makhluk rendahan itu la- Arggghh ... !!!" kata Soni yang tidak melanjutkan perkataannya dan dilanjutkan dengan jerihannya menahan rasa sakit, karena Ruri membuat sebuah pedang es lalu melemparnya tepat menembus kaki kirinya.
"Aku hanya menyuruhmu untuk menjawab pertanyaanku. Hmm ... baiklah, mungkin kau tadi tidak dengar, jadi akan kuulangi pertanyaanku. Apa kau bisa menghidupkan seseorang yang sudah mati?" ucap Ruri dengan nada serius.
"Cihh ... menyebalkan," gumam Soni sambil tersenyum.
"Aku tidak bisa, tapi mungkin raja iblis bisa melakukannya," kata Soni.
"Kau yang sekarang tidak akan bisa mengalahkannya," kata Soni sambil tersenyum.
"Sudah kubilang, kau hanya kuizinkan menjawab pertanyaanku!" kata Ruri sambil melempar kembali pedang es nya ke arah Soni.
"Argghhhh ... "
"Hmm ... jadi kau benar-benar ingin mati? Baiklah, tapi aku tidak tahu lokasi pastinya, namun, jika kau terus berjalan ke arah barat mungkin kau akan menemukannya," jelas Soni.
"Jadi begitu, baiklah terima kasih atas informasinya, tapi, aku akan tetap membalaskan dendam Clarissa," kata Ruri sambil mengangkat tangan kanannya lalu keluarlah sebuah bola api kecil berwarna biru lalu melemparnya ke arah Soni.
Soni sempat terkejut melihat sesuatu yang dikeluarkan Ruri, ia bergerak memberontak namun tidak bisa bergerak karena terdapat 4 buah pedang es yang menembus sekaligus memakunya di tanah.
Soni berusaha menghancurkan satu persatu pedang es tersebut, namun saat menghancurkan pedang es terakhir, bola api kecil itu sudah menyentuh tubuh Soni.
Dan seketika saja ledakan besar pun terjadi yang dilanjutkan hembusan angin kencang.
Soni yang terkena ledakan itu langsung hangus terbakar dan menjadi buturan debu yang diterpa angin.
"Jadi, intinya ... aku harus terus bertambah kuat," kata Ruri pelan yang mulai tidak sadarkan diri lalu jatuh terkapar di tanah.
"Ruri!" ucap beberapa orang yang datang menghampirinya.
Ruri hanya diam karena pandangannya mulai kabur dan tubuhnya pun sudah melemas.
...****************...
"Wooaahh ... !!!" ucap Ruri terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Ruri menatap sekitar, hanya terlihat sebuah ruangan yang dibuat hanya untuk 3 orang. Sepintas Ruri melihat sesosok gadis tengah berdiri menatap keluar jendela.
Ruri pun terkejut.
"Clarissa ... !!!" kata Ruri yang hendak berdiri namun ia mengurungkan niatnya karena saat sesosok gadis itu menoleh dan tersenyum, kemudian gadis itu pun menghilang.
"Ternyata semua itu bukanlah mimpi," gumam Ruri sambil menundukkan kepalanya.
*ckreekk ...
Suara pintu terbuka.
"Ruri, kau baik-baik saja?" kata seorang laki-laki yang membuka pintu itu.
"Ahh ... Dhafin, aku baik-baik saja, maaf mengejutkanmu," kata Ruri pelan.
"Tidak apa, selagi kau baik-baik saja."
"Dhafin, bagaimana keadaan yang lain?" ucap Ruri.
"Ahh mereka semua baik-baik saja, itu semua berkat kau, hmm apa mau aku panggilkan? Mungkin sekarang mereka sudah selesai makan siang," ucap Dhafin.
"Ahh begitu rupanya, baiklah, tolong ya, Dhafin," kata Ruri sambil melihat Dhafin yang menganggukkan kepala dan berlalu pergi.
"Aku harus siap dan meminta maaf kepada mereka semua, karena aku akan pergi dari kota ini menuju bagian Barat sana, sebab aku ingin menebus semua kesalahanku dengan membangkitkan kembali Clarissa," gumam Ruri sambil menundukkan kepalanya.
"Tapi apa aku sanggup?" gumam Ruri.
"Ruri, aku masuk ya," kata Dhafin dari balik pintu.
"Iya, masuk saja, kenapa kau berkata begitu? Inikan kamarmu juga," kata Ruri sambil tersenyum.
"Yaa walaupun begitu, ini tetap akan kulakukan jika keadaanmu masih seperti ini," kata Dhafin sambil masuk dan dilanjutkan dengan masuknya kedua orang gadis yang bersama Dhafin.
"Ruri, bagaimana keadaanmu?" ucap Naila dengan nada pelan.
"Ahh ... seperti yang kamu lihat, aku sudah baik-baik saja," jawab Ruri sambil tersenyum.
"Walaupun kau itu kuat, kau harus tetap istirahat untuk sementara ini," kata Vina sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Ruri.
"Ba-baiklah ... "
"Teman-teman, begini, ada yang ingin aku sampaikan tenta-" kata Ruri yang tidak melanjutkan perkataannya karena ada seseorang yang masuk sambil berkata.
"Maaf aku terlambat, setelah makan siang tadi aku jadi sakit perut, hehe," katanya.
Ruri terkejut bukan main, ia menatap orang yang baru saja masuk dengan tubuh gemetar.
"Ruri? Kau kenapa? Apa kau masih sakit?" ucap Clarissa polos.
"Ke-kenapa?" kata Ruri yang masih kebingungan.
"Ruri ada apa? Mukamu pucat lagi, apa kau sakit sesuatu?" kata Vina.
"Hei, apa kalian semua melihat Clarissa?" kata Ruri pelan sambil menunjuk ke arah Clarissa.
"Bicara apa kau ini? Tentu saja mereka melihatku, memangnya kau pikir aku ini hantu apa?" ucap Clarissa sambil tersenyum.
Mendengar itu, Ruri sudah tidak mengerti lagi apa yang sedang terjadi, ia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa maksunya ini? Bukankah kata Dhafin Clarissa sudah ... ? Apa itu hanya mimpi? Kalaupun itu hanya mimpi, kenapa aku bisa terluka di bagian tubuh yang sama saat melawan Soni?" gumam Ruri yang bertanya-tanya kepada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat apa yang terjadi.
Dengan pelan Ruri menurunkan tangannya lalu menatap ke arah Clarissa.
"Clarissa, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," kata Ruri sambil menatap Clarissa.
"Hmm?" kata Clarissa yang kebingungan.