
"Namanya adalah ... Nathan Julian," kata Pak Nathan.
"H-hah?!" kata Ruri terkejut.
"Berarti bapak juga datang dari dunia sebelumnya?"
"Iya."
"Tapi di duniaku itu ... teknologi yang seperti bapak buat disini belum ada, bahkan teknologi seperti itu masih dalam angan-angan," kata Ruri sambil berpikir.
"Kamu hidup di tahun berapa? Ahh tidak, biar aku ubah pertanyaanku, Ruri, kamu mati di tahun berapa?" tanya Pak Nathan.
"Hmm ... tahun ... Ahh iya 2024," kata Ruri sambil mengingat-ingat.
"Pantas saja, kalau aku sendiri mati pada tahun 2674," ucap Pak Nathan sambil tersenyum.
"H-hehh...?!!"
"Sebentar, bapak sudah lama hidup di dunia ini?" tanya Ruri.
"Begitulah, sekitar 9 sampai 10 tahunan mungkin," jawab Pak Nathan.
"Pak, bukankah ini aneh? Padahal bapak dari tahun 2600 an, kok bisa bapak duluan yang sampai disini? " ucap Ruri sambil memiringkan kepalanya karena berpikir.
"Kalau itu sihh bisa saja terjadi," kata Pak Nathan.
"Hmm iya yaa ... kenapa aku heran? Dasar dunia yang membingungkan," kata Ruri sambil melihat suasana kota dari atap sekolah.
"Baiklah Ruri, aku ada urusan, jadi jangan beritahu siapa-siapa yaa tentang hal ini, aku percaya padamu," kata Pak Nathan sambil berlalu pergi.
Namun langkahnya terhenti sesaat setelah Ruri berkata.
"Apa bapak ingin membunuh semua orang disini?" tanya Ruri pelan.
"Hei hei apa maksudmu? Aku ini guru di sekolah ini, tidak mungkin aku melakukan hal itu, memangnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" ucap Pak Nathan sambil tersenyum.
"Hanya firasatku saja," kata Ruri.
"Ahh kau selalu berprasangka buruk, Ruri," ucap Pak Nathan yang masih tersenyum.
"Firasatku juga berdasarkan fakta yang pernah kulihat, Pak," kata Ruri menegaskan.
"Apa maksudmu?" ucap Pak Nathan tidak mengerti.
"Saat aku baru pertama kali masuk ke kota ini, aku berkeliling bersama Clarissa dan Dhafin, aku melihat sebuah tempat yang agak luas hancur, saat aku menanyakannya, katanya disana itu terjadi sesaat setelah sebuah benda hitam tiba-tiba muncul dan membesar lalu benda itu menelan segala sesuatu disekitarnya tapi karena mereka tidak tahu benda apa itu, warga sekitar hanya menyebutnya sebagai bencana bola hitam raksasa," ucap Ruri panjang lebar.
"Jadi kamu pikir itu adalah perbuatanku?" tanya Pak Nathan.
"Tidak, aku bukannya menuduhmu sebagai pelakunya, tapi aku hanya curiga kalau kau penyebab terjadinya tragedi itu," kata Ruri pelan.
"Hei hei, Ruri, bukannya kamu terlalu berlebihan menuduhku?" kata Pak Nathan sambil tersenyum.
"Mungkin sepertinya memang terdengar seperti itu, jadi maafkan aku yah, Pak Nathan," kata Ruri dengan tersenyum pula.
Melihat itu Pak Nathan memalingkan pandangannya.
"Baiklah aku harus segera kembali untuk segera menyelesaikan urusanku," kata Pak Nathan sambil melangkahkan kakinya.
"Bahkan iblis sekalipun tidak akan ada yang bisa memikirkan cara sekeji, seburuk, dan sepintar itu," ucap Ruri yang membuat Pak Nathan terhenti dan terkejut.
Setelah beberapa saat kemudian Pak Nathan kembali berjalan pergi meninggalkan Ruri.
"Ingatlah bahwa jangan memberitahukan hal ini kepada siapa-siapa," ucap Pak Nathan sebelum pergi dari tempat itu.
"Tentu saja, kalau mengenai itu, tanpa di peringatkan juga aku tidak akan berbicara pada siapa-siapa," ucap Ruri.
"Sebenarnya apa tujuan orang-orang sepertiku ini di panggil ke dunia ini ya? " kata Ruri kepada dirinya sendiri.
"Memburu iblis kah? Entahlah..."
" .... "
Kantin ...
"Ahh Ruri kamu dari mana saja?" tanya Dhafin yang melihat Ruri datang dengan membawa makanannya.
"Bukan apa-apa, aku cuman ke toilet sebentar," kata Ruri sambil tersenyum.
"Ohh."
"Tidak kerasa yah, sekarang sudah hari Jum'at saja," kata Naila.
"Hmm kau benar, besok sudah waktunya pulang, kira-kira mau ngapain ya?" kata Clarissa.
"Tidur siang seharian sudah cukup untukku," ucap Dhafin asal.
"Kalau kamu sihh pikirannya memang selalu begitu setiap hari," ucap Clarissa.
"Bagaimana kalau kita berburu saja?" ucap Ruri.
"Berburu yah, sepertinya tidak buruk," kata Dhafin.
"Tapi aku agak heran, kenapa hutan bagian barat sana, saat aku dikejar Horned Wolf waktu itu, disana aku tidak melihat hewan kecil ataupun besar? Sekalinya ada juga, yang kutemukan hanyalah siluman," ucap Ruri heran.
"Hutan bagian sana memang jarang ada hewan karena disana itu kebanyakan yang menempati adalah siluman," jelas Clarissa.
"Pantas saja," ucap Ruri sambil tersenyum kecut.
"Kalau mau berburu, bagaimana kalau kita ke hutan bagian selatan saja?" usul Dhafin.
"Hmm aku juga ikut kalau begitu," kata Naila.
"Hmm baiklah, sudah diputuskan," kata Ruri bersemangat.
"Ohh iya Ruri, benarkah kamu tadi bilang dikejar Horned Wolf?" tanya Naila tiba-tiba.
"Iya benar memangnya kenapa?" ucap Ruri.
"Tidak, hanya saja aku merasa aneh," kata Naila.
"Apa kamu bisa lari secepat itu?" tanya Naila.
"Iya yaa... padahal waktu itukan Ruri belum tau cara menggunakan sihir," kata Clarissa yang juga kebingungan.
"Ahh itu, saat aku dikejar, tanpa sengaja aku menggunakan sihir percepatan, dan aku baru menyadarinya setelah Clarissa dan Dhafin menjelaskan tentang menggunakan sihir, hahah," kata Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.
"Kamu menggunakan sihir percepatan tanpa sengaja?" kata Naila tidak percaya.
"Ada apa memangnya? Apakah itu adalah hal yang aneh?" kata Ruri dengan polos.
"Apa kamu ingin mengejek kami?" ucap Clarissa tersenyum sambil mengepalkan tangannya.
"Ahh t-tentu saja tidak," ucap Ruri tersenyum ketakutan melihat Clarissa mengumpulkan sihir angin di tinjunya.
"Jadi, kamu memang awalnya tidak tahu cara menggunakan sihir, tapi saat mencobanya kamu langsung bisa menguasainya?" tanya Naila.
"Yahh seperti itu," jawab Ruri.
"Menakutkan," kata Naila.
"Tidak, aku tidak menakutkan seperti apa yang kamu fikirkan" kata Ruri sambil tersenyum.
"Ahh ayo cepat Ruri! tinggal kamu saja yang belum selesai makannya, sebentar lagi sudah mau masuk pelajaran ke-3" kata Dhafin.
"Iya kau benar," kata Ruri kembali fokus memakan makanannya.
Beberapa jam kemudian...
*krrriiing....
"Baiklah pembelajarannya cukup sampai disini, ohh iya ada yang saya ingin sampaikan, mulai bulan depan sekolah ini akan seperti sekolah sekolah biasa lainnya, artinya, jika setelah jam pelajaran berakhir, murid-murid diperkenankan pulang kerumah masing-masing, selain itu sekolah ini akan dirombak ulang seperti sekolah sihir biasa pada umumnya, kemudian, mulai minggu depan sekolah ini akan diliburkan selama sebulan jadi belajarlah di rumah masing-masing, dan satu hal lagi, besok waktu pulang kalian di percepat menjadi pagi hari, baiklah sampai jumpa," kata Pak Nathan sambil berlalu pergi.
"Hehhh?!!" ucap semua murid-murid terkejut.
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi?"
"Sekolah? Di buat ulang?"
Pertanyaan pun mulai bermunculan memenuhi kepala seluruh murid.
...****************...
20:54 PM.
"Kira-kira ada apa yaa? sampai sampai sekolah ini ingin dibangun ulang, bahkan, tidak akan menyediakan asrama lagi," kata Dhafin yang sibuk mengemas barang-baranya.
"Entahlah," ucap Clarissa singkat.
"Apa ini perbuatan Pak Nathan? Kalau iya pun, kenapa dia berusaha membuat ulang sekolah ini? Bukankah seharusnya ia melanjutkan pembuatan alat alat seperti itu," pikir Ruri.
"Ada apa Ruri? Kamu tampak kebingungan," ucap Naila yang membuyarkan lamunan Ruri.
"Hah? tidak, aku hanya berpikir apa yang terjadi di sekolah ini," ucap Ruri asal.
"Huuhh ... Dari pada pusing berpikir tentang itu, lebih baik aku berhenti memikirkannya saja dan mulai untuk tidur," ucap Dhafin sambil merebahkan dirinya ke kasur setelah selesai berkemas.
"Ahh bagaimana yaa ... sepertinya kali ini aku setuju dengan usulanmu, Dhafin," ucap Clarissa yang ikut merebahkan diri di kasurnya.
"Ohh iya Naila, ayo ikut aku sebentar!" pinta Ruri sambil menghampiri Naila.
"Kamu mau kemana Ruri, bersama Naila malam-malam begini?" tanya Dhafin yang mendengar ajakan Ruri kepada Naila.
"Aku hanya ingin meminta sesuatu dari Naila," jawab Ruri.
"Naila, ayo kita pergi sekarang! sudah tidak ada waktu lagi," kata Ruri sambil menarik tangan Naila keluar dari kamar.
"H-huuh? t-tunggu, kita mau kemana?" tanya Naila yang suaranya makin menjauh dan tidak terdengar lagi.
"Heh?" ucap kedua laki-laki dan perempuan di kamar itu.
Keesokan harinya seluruh murid-murid kembali ke rumahnya masing-masing, sedangkan Ruri, Dhafin, Clarissa dan Naila tetap bersama dikarenakan tempat tinggal mereka di penginapan yang sama.
"Heh? Kalian sudah pulang?" tanya Vina setelah melihat Ruri dan rekannya masuk.
"Ahh iya, kami pulang lebih awal dari biasanya, nggak tau karena apa," ucap Clarissa.
"Hmm jadi begitu," ucap Vina.
"Baiklah aku keatas duluan ya, rasanya melelahkan berdiri sambil membawa tas seperti ini," ucap Dhafin sambil pergi menaiki anak tangga.
"Ahh aku juga," kata Ruri sambil mengikuti Dhafin.
"Iya Clarissa, aku juga duluan, mau merapihkan sedikit barang-barangku," kata Naila sambil berlalu pergi.
"Ahh iya."
"Baiklah, Vina aku juga mau keatas soalnya kami ingin bersiap pergi ke hutan nanti siang," kata Clarissa kepada Vina.
"Ke hutan? Untuk apa?" tanya Vina.
"Niatnya kami ingin pergi berburu," jawab Clarissa.
"Hmm, berburu kah? Boleh aku ikut?" pinta Vina.
"Apa kamu bisa?" ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Hah? Apa maksudmu? Jangan pikir aku yang tidak bisa menggunakan sihir ini tidak bisa membunuh hewan hutan" ucap Vina kesal.
"Heh? Benarkah?" kata Clarissa.
"Iya isshh ... " ucap Vina kesal.
"Baiklah, setelah makan siang nanti kita akan langsung berangkat," kata Clarissa sambil berlalu pergi.
"Baiklah."