Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 42 - Hoursy Loungjer



Setelah mendapatkan informasi yang diperlukan, Ruri dan Kaila pun langsung pergi ke tempat siluman itu tinggal.


“Kenapa kau menerimanya? Padahal dengan kekuatanmu yang sekarang, kau bisa dengan mudah mengalahkan mereka semua dan kabur dari sana,” tanya Kaila.


“Maaf, karena alasan tertentu aku tak bisa menolaknya setelah mereka mengatakan itu.”


“Apa itu menyangkut pada diriku?” tanya Kaila pelan.


“I-iyaa ... “


“Lalu kenapa? Bukankah sudah kukatakan jika aku menghambat perjalananmu, tinggalkan saja aku.”


“Aku tak bisa melakukannya. Dan kalau aku melakukannya, itu bisa berpengaruh buruk padamu."


“Kau tak perlu memikirkanku, aku hanya manusia setengah iblis lohh ... Jadi hal buruk apapun yang menimpaku, itu sudah menjadi takdirku, kau tak perlu terlibat,” kata Kaila.


“Hal buruk yang menimpamu bukanlah takdir, jika itu memang takdir, aku akan membuktikan bahwa kau bisa keluar dari takdir itu. Itulah sebabnya aku melakukan ini,” ucap Ruri sambil tersenyum kemudian meraih tangan kanan Kaila dan menggenggamnya.


“Dasar egois, kau bukan dewa lohh ... “ kata Kaila yang kembali tersenyum.


“Aku tahu itu.”


“Hmm sepertinya manusia setengah iblis ini tidak seperti yang dibayangkan ketua, dia bertingkah seperti manusia pada umumnya,” gumam Mary menatap Kaila.


“Hei hei mau sampai kapan kalian berdua mau seperti itu? Walaupun kami ada disini, tapi kalian tetap saja tidak segan segan melakukannya di depan kami ... “ ucap Roy.


“Ahh ... Maaf, aku tidak sengaja,” kata Ruri sambil tersenyum kemudian mundur sedikit dari Kaila.


"Seperti biasa ya Roy, kau selalu saja merusak suasana orang lain,” ejek Freed.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”


“Bilang saja kau iri, hehe. Bagaimana setelah ini kau kencan dengan Mary,” bisik Freed sambil menyikut rekannya itu.


“H-hah? Apa yang kau bicarakan?!”


“Dasar kau tak mau jujur.”


“Hei Kaila, apa aku boleh menanyakan sesuatu tentang dirimu yang lain itu? Tapi aku takut menyinggungmu," kata Mary tiba-tiba.


“Ada apa? Katakan saja, aku tak keberatan kok.”


“Apa setengah iblis sepertimu tidak ada niatan membunuh seseorang begitu? Atau menghancurkan dunia dan semacamnya?”


“Kalau kau tanya aku, aku tidak ingin melakukan itu,” ucapnya sambil tersenyum.


“Kenapa?”


“Kenapa? Karena memang aku tak ingin melakukannya, aku hanya ingin hidup seperti manusia biasa, meski begitu tidak sedikit yang mencurigaiku sebagai iblis yang kejam dan semacamnya.”


“Begitu ya ... Maaf, sebenarnya aku juga berpikir begitu sebelumnya, tapi setelah kau melindungi kota dan mendengar jawabanmu, kecurigaanku sepertinya tak diperlukan lagi.”


“Hahah ... Maaf yaa kalau membuatmu sedikit terkejut akan kedatanganku.”


Mary menggelengkan kepalanya lalu berkata.


“Tidak. Justru setelah bertemu denganmu, aku jadi memiliki harapan."


"Harapan?"


"Iya. Semoga saja semua iblis sama sepertimu, dengan begitu, manusia dan iblis pasti bisa hidup berdampingan, layaknya kau dan Ruri.”


“Dasar, itu tidak akan mudah seperti kedengarannya tahu," ucap Kaila tersenyum karena mendengar kata kata itu.


“Aku tahu itu, tapi apa salahnya berharap?”


“Terserah kau saja. Jadi, apa lembah siluman itu masih jauh?”


“Tidak terlalu jauh sihh ... Kalau mau istirahat, kita bisa berhenti disana.”


“Aku sihh tidak masalah, bagaimana dengan kalian? Apa mau istirahat sebentar?” tanya Kaila kepada ketiga pria yang entah sedang membicarakan apa.


“Kalau tidak terlalu jauh mending dilanjutkan saja.”


“Iya benar.”


Tidak lama kemudian, dari balik pepohonan, Kaila melihat sesosok yang membuat dirinya terkejut.


“A-apa yang dilakukannya disini? Apa dia mengawasiku?” gumam Kaila yang mulai bercucuran keringat dingin.


“Maaf ... Bisakah kita istirahat sebentar? Karena aku ingin buang air,” ucap Kaila yang dilanjutkan tawa kecilnya.


“Padahal kau tadi yang menanyakan itu pada kami,” ucap Roy.


“Hehe ... “


“Yahh ... tidak ada salahnya juga sihh kita beristirahat sebentar,” kata Freed menengahi.


Kaila pun langsung berlari pergi menuju hutan.


“Ada apa dengan Kaila? Apa dia kebanyakan minum? Tapi sepertinya tidak, hmm biarlah ... “ pikir Ruri kemudian duduk disebuah batu.


Setelah Kaila sampai di hutan, ia pun menoleh kesana kemari mencari sesosok yang dilihatnya tadi.


Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang.


“Hmm? Sepertinya aku ketahuan ya?”


“Si-siapa kau?” ucap Kaila yang masih melirik kemanapun mencari sumber suara itu.


“Kenapa kau bertanya? Bukankah kau bisa merasakan hawa iblis dari dalam tubuhmu, kalau kau bertanya padaku, aku adalah salah satu raja iblis, itu saja,” kata suara itu yang berbarengan dengan munculnya sesosok pria bermata merah dari balik pohon.


“Ra-raja iblis?!” ucap Kaila berpura-pura terkejut.


“Memangnya kau tak bisa mengenaliku dengan darah iblis yang mengalir di nadimu itu?” tanya pria itu sambil tersenyum.


“ .... “


Keringat dingin mulai menyelimuti tubuh Kaila.


“Yahh ... aku maklumi saja, karena darah iblis di tubuhmu itu tidak murni, jadi kau hanya setengah iblis rupanya. Ada apa? Apa aku perlu mengungkapkan identitasmu satu persatu, Kaila Felicia?” tanya pria itu yang masih tersenyum.


“Apa yang ingin kau lakukan kepada Kaila?” tanya Ruri kepada pria di depannya.


“A-aku datang kesini, hanya ingin memperkenalkan diri ... “ kata pria itu pelan sambil memegangi tangan kanan Ruri yang memegang sebilah pedang es itu.


Namun pria yang sekarat itu seketika berubah menjadi gumpalan darah dan mengikat tangan kanan Ruri.


“Tu-tubuh pengganti?!” ucap Ruri terkejut.


Sudah kubilang aku hanya ingin memperkenalkan diri saja, kenapa kau langsung naik darah dan membunuh seseorang seperti itu?” ucap seorang pria yang muncul dari belakang gumpalan darah itu.


“Cihh ... “ kata Ruri yang masih berusaha melepaskan tangannya dari gumpalan darah itu.


“Aku bertanya lohh, huuhh ... sudahlah. Seperti yang kukatakan tadi, aku datang hanya ingin memperkenalkan diri, perkenalkan namaku Hoursy Loungjer, salah satu Raja Iblis. Salam kenal Ruri Narendra dan Kaila Felicia,” katanya sambil tersenyum.


Pria itu mendekati Ruri lalu berbisik.


“Hei, apa kau merindukan Friska Clarissa?”


“KEPARAT?! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAPNYA? HAH?!” ucap Ruri setengah berteriak.


“Tenanglah! Aku tak melakukan apapun, hanya sedikit memodifikasinya saja.”


“Lepaskan dia?!”


“Tidak bisa, jika kau menginginkannya, pergilah ke pulau yang dijuluki The Red Queen of Volcano, aku akan menunggumu disana,” katanya sambil berjalan menghampiri Kaila.


“Hei tunggu! Apa yang kau ingin lakukan kepada Kaila?!”


“Aku hanya ingin berbicara saja, sepertimu tadi,” kata pria itu lalu berpaling kembali ke Kaila.


Melihat pria itu mendekat, Kaila perlahan memundurkan langkahnya, terus mundur sampai terpojok disebuah pohon.


“MENJAUH DARINYA?!” teriak Ruri.


“Kenapa kau menghindariku, Kaila Felicia?” ucapnya dengan senyuman.


Pria itu menaruh tangan kanannya di pohon tepat di sebelah kepala Kaila, sedangkan Kaila yang gemetar ketakutan hanya bisa terdiam tidak bergerak.


“Sudah, tak perlu menyembunyikannya, aku sudah tahu semuanya,” bisiknya.


Kaila menganggukkan kepalanya sedikit.


“Jawab saja pertanyaanku, aku hanya ingin menjelaskan keadaanmu saja. Apa kalian saling menyukai dengan orang itu?”


Kaila menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, apa kau tahu siapa dirimu?”


Kalia menganggukkan kepalanya kemudian berkata.


“Friska Clarissa ... “ ucap Kaila pelan.


“Dia mencintai Kaila Felicia?”


Kaila menganggukkan kepalanya.


“Lalu wujud siapa yang kau gunakan ini?”


“Kaila Felicia, wanita yang tak pernah ada ... “ ucap Kaila dengan suara lirih.


“Benar, maka dari itu, segera kembalilah, aku sudah mempunyai tugas baru untukmu, walaupun hanya untuk berjaga-jaga saja sihh ... “


Seketika Kaila terkejut mendengar tuturan kata pria itu.


“Ternyata cukup sampai disini saja yaa ... Ruri, sebenarnya alasanku menjadi Kaila bukan bermaksud seperti ini. Aku hanya ingin sekedar mengawasimu karena tugas dari raja iblis ini, dan juga karena sejak dulu aku sudah menyukaimu, jadi tak ada salahnya jika aku ingin mengawasimu dari dekat. Aku hanya ingin kembali melihat senyumanmu, tawamu. Tapi, tidak kusangka akan sampai sejauh ini. Kaila, wanita yang tak pernah ada itu selalu berduaan denganmu, menggenggam tanganmu, memelukmu, dan menciummu ... Aneh ya, padahal aku sendiri yang merasakan kebersamaan itu denganmu, tapi, setelah aku menyadari bahwa yang ada di hatimu hanya ada Kaila seorang, entah kenapa ... Dada ini terasa sesak,“ gumam Kaila yang mulai berlinangan air mata.


“Heh ... ? Apa yang kurasakan ini adalah cemburu pada diriku sendiri? Dasar orang bodoh ... Benar-benar bodoh ... ” pikir Kaila sambil tersenyum.


Pria itu tersenyum lalu bergumam.


"Sepertinya, pikiran wanita ini sudah searah dengan apa yang kurencanakan."


“Kau sudah mengerti? Oleh karena itu, kembalilah, akan kubuat kau bersamanya di tempat itu, “ katanya sambil menjauh sedikit dari Kaila.


Ruri yang melihat Kaila berderaian air mata langsung naik darah.


Dengan cepat membuat pedang es di tangan kirinya untuk memotong gumpalan darah yang mengikat tangan kanannya.


Tanpa berpikir lagi, Ruri langsung melesat cepat menuju pria itu dan mengayunkan pedangnya.


Sayangnya iblis itu melompat menjauh menghindari Ruri.


“Tenanglah Ruri, aku tak melakukan apapun, dan juga sekarang ini aku tidak ada niatan untuk membunuhmu. Karena yang akan membunuhmu adalah Friska Clarissa sendiri,” katanya sambil tersenyum.


Ruri terkejut mendengar perkataan iblis itu, lalu berkata lagi.


“Apa yang kau lakukan pada Clarissa?!”


“Kau akan mengetahuinya sendiri, ketika sudah bertemu denganku disana,” ucapnya sambil memasuki lubang hitam yang ia buat dalam sekejap.


Dengan cepat, Ruri langsung melompat berniat memasuki lubang hitam itu juga, namun saat hampir menggapainya, lubang hitam itu sudah lenyap sepenuhnya.


“SIALAN?!”


Ruri pun mencoba menenangkan diri, kemudian kembali menemui Kaila yang sudah terduduk lemas di tanah.


“Kaila kau tidak apa-apa? Apa yang dilakukannya kepadamu? Apa dia memukulmu atau-“ ucap Ruri terpotong.


“Ruri, apa kau mencintaiku, Kaila Felicia?”


“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku mencintaimu, apa ada sesuatu yang terjadi?” kata Ruri sambil menatap wanita di hadapannya itu.


Kaila menggelengkan kepalanya lalu langsung memeluk erat tubuh Ruri.


“Setelah mendengar jawabanmu, akhirnya aku bisa tenang ... “ ucap Kaila sambil tersenyum.


Ruri yang tidak mengerti hanya diam dan kemudian mulai menjawab pelukan wanita itu.


“ ... untuk membunuhmu!”