
08:18 AM.
Pagi itu seorang pria tampak terburu-buru berjalan menuju guild.
Sesampainya di sana pria itu langsung masuk.
“Heh? Ruri? Selamat pagi,” kata Mary yang sudah ada disana bersama kedua rekannya.
“Selamat pagi,” kata Ruri menoleh sebentar lalu kembali berjalan keatas.
Karena melihat tingkah yang tak biasa dari pria itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk mengikuti Ruri.
*Dooorrr ...
Suara pintu itu terbuka dengan sangat cepat sampai menghasilkan suara yang keras.
“Ada apa ya ramai ramai begini?” kata seorang wanita yang terduduk di depan meja sambil tersenyum.
“Ti-tidak ... Kami hanya penasaran dengan ... “ kata Mary sambil melirik kearah Ruri.
“Kenapa kalian mengikutiku? Huhh ... Terserahlah.”
“Jadi ada urusan apa? Ohh iya dan ada dimana wanita itu?” tanya Lisa dengan senyum manisnya.
“Iya yaa ... Aku tak melihat ada Kaila,” kata Roy yang melihat kebelakang.
“Langsung ke intinya saja, sediakan aku kapal dan kru nya untuk mengantarkanku ke pulau yang dijuluki The Red Queen of Volcano itu. Kalian pasti punya bukan?”
“Kau akan membayar berapa?”
“Ada apa ini? Aku tak mengerti,” kata Mary kebingungan.
Ruri dan Lisa hanya menoleh kearah Mary tapi tak menjawab pertanyaannya kemudian berdiskusi kembali.
Freed yang berada di samping Mary langsung memegang pundaknya dan berkata.
“Sebaiknya kita tidak bertanya-tanya untuk saat ini, simpan saja untuk nanti.”
“Ta-tapi ... “
“Sudahlah, ayo lebih baik kita memilih permintaan saja,” ajak Roy.
“Roy benar, kita lebih baik tidak ikut campur untuk masalah ini,” kata Freed kepada
“Baiklah ... “
“Hei kalian bertiga tunggu dulu, kalian dapat permintaan khusus dariku, mau melakukannya?” kata wanita itu setelah selesai berdiskusi dengan Ruri.
“Hah?”
Wanita itu hanya tersenyum melihat respon terkejutnya ketiga petualang itu.
Pelabuhan.
“Jadi, bisa kau jelaskan tentang tujuan misi kami ini?” ucap Freed kepada Ruri.
“Memangnya dia tak menjelaskannya?”
Ketiga orang itu menggelengkan kepala bersamaan.
Ruri menghela nafas kemudian berkata.
“Intinya kalian hanya menemaniku sampai ke pulau itu,” kata Ruri sambil mengalihkan pandangannya.
“Hah? Jadi maksudmu permintaan ketua hanya naik kapal untuk mengantarmu kesana saja, begitu?” Tanya Roy kecewa.
Dengan cepat Ruri membalas perkataan Roy.
“Setiap jalan yang kalian pilih memiliki kesulitan tertentu, jangan anggap remeh hal sekecil apapun karena bisa saja hal kecil yang kalian anggap remeh itu dapat membuat kalian terbunuh. Aku berkata seperti ini bukan berdasarkan omong kosong belaka, melainkan pengalaman hidupku sendiri,” kata Ruri sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kapal.
Sedangkan ketiga orang itu terdiam mendengar perkataan Ruri, entah karena masih mencerna kata-kata itu atau sedang memikirkan bahwa yang dikatakannya memang benar.
“Ruri, kau tampak berbeda. Sebenarnya Kaila ada dimana? Apa itu merupakan alasanmu berubah seperti ini, sebelumnya kau tampak ceria. Akan tetapi, setelah Kaila tak ada ... Kau menjadi, dingin ... “ gumam Mary.
“Ruri benar, walaupun ini terdengar sepele, mungkin hal diluar dugaan kita sedang menunggu diluar sana ... “ kata Mary sambil tersenyum kepada kedua rekannya.
“Mungkin benar, maaf aku berkata seenaknya ... “ kata Roy.
“Tidak usah dipikiran, ayo naik ke kapal!”
15 menit kemudian ...
*byuuurr ...
Ombak berkali-kali membentur bagian bawah kapal seakan menolak kapal itu pergi berlabuh, akan tetapi hal itu sia-sia dikarenakan angin darat yang berhembus kencang membuat kapal seakan mempunyai energi untuk menerjang semua ombak di laut.
Panas matahari pagi cukup nyaman untuk dirasa kala itu, orang orang di kapal banyak yang berkeluaran ingin merasakannya. Namun, hal itu tak sedikitpun menarik perhatian pria berambut perak yang tengah berdiri di bagian paling depan kapal sambil menatap jauh kedepan.
Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiri pria itu dari belakang, ia berniat untuk bertanya sesuatu yang mungkin cukup sulit untuk dijawab oleh pria itu.
Sebelum berkata-kata, pria itu sudah menyadari keberadaan wanita di belakangnya kemudian berkata.
“Maaf soal yang tadi ... “
Wanita itu merasa lega karena akhirnya ia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan pria itu, kemudian ia berjalan sampai berdiri di sampingnya.
“Tidak apa, pasti berat bagimu melakukan ini semua sendiri.”
Ucap wanita itu yang membuat pria itu sedikit terkejut.
“Yahh ... Kau benar, aku mungkin terlalu mengandalkan kekuatanku, jadi kupikir tidak ada yang bisa menghalangiku. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya, aku malah tak bisa berbuat apa-apa dihadapannya. Saat dia dalam bahaya aku malah diam tak berdaya, seakan-akan dia yang selalu melindungiku bukannya aku yang melindunginya!”
“Mungkin hanya kau yang berpikir begitu. Coba kau ingat ingat lagi, tidak mungkin orang itu menyelamatkanmu hanya karena dia temanmu semata, pasti ada yang membuat dirinya mendorong melakukan hal itu, seperti ... Kau pernah menyelamatkan orang itu atau membuat dirinya sangat terkesan.”
Ruri pun terdiam sebentar kemudian berkata lagi.
“Mungkin kau benar ... Terima kasih ya, Mary.“
“Sama-sama. Ruri aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tentang apa?”
“Kaila. Dimana dia?”
Ruri terdiam sebentar kemudian berkata.
“Anggap saja dia sekarang sudah menjadi iblis, dan ingin membunuh orang-orang.”
“Menjadi iblis?! Bukankah dia manusia setengah iblis? Lalu kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Mary berturut-turut.
“Entahlah aku juga tidak mengerti ... “ kata Ruri pelan sambil menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Mary langsung berkata dengan suara pelan
“Tidak! Perkataan dan senyuman Kaila saat itu bukanlah sebuah omong kosong! Aku bisa merasakan kejujuran yang benar-benar tulus dari hatinya, tapi kenapa sekarang ... “ kata Mary pelan sambil berpikir sejenak yang membuat Ruri menoleh kearahnya sebentar kemudian kembali menundukkan kepalanya.
“Itu dia! Kaila sedang dikendalikan! Tidak ada hal lain yang tepat dari pada itu,” kata Mary yakin.
Ruri yang termenung itu akhirnya tersenyum setelah mendengar perkataan wanita itu.
“Ada apa? Kenapa kau tersenyum begitu?”
“Tidak, sebenarnya aku sudah menyadari itu sejak awal. Kaila masih bisa diselamatkan jika kita melakukan sesuatu.”
“Lalu kenapa kau tadi masih termenung begitu?”
“Kau tidak akan mengerti walaupun aku menceritakan semuanya dari awal,” kata Ruri dengan senyumannya.
“Setidaknya beri alasan yang jelas begitu, kau membuat kami khawatir.”
“Intinya aku tadi memikirkan bagaimana menghadapi diri Kaila yang satunya, tapi setelah mendengar ucapanmu aku jadi menyadari sesuatu, bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan mudah jika kita sudah berkepala dingin, aku berterima kasih untuk itu. Mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi, dasar Kaila,” kata Ruri tertawa sendiri.
“Sama-sama, tapi ada apa denganmu yang tertawa sendiri itu, kau membuatku takut. Memang benar sihh ... kau sudah memberikan alasannya walaupun aku tak mengerti sedikit pun.”
“Kan sudah kubilang.”
“Jadi intinya kami mengantarkanmu untuk menyelamatkan Kaila?” kata Freed yang sedari tadi mendengar semuanya.
“Benar, itu tujuan utamaku, tapi, tujuan keduaku ... Ini mungkin tidak akan mudah,” kata Ruri sambil menatap jauh kedepan sana sambil mengepalkan tangannya.
...****************...
Awan mulai menggelap, angin sepoi sepoi yang lemah gemulai kini berubah menjadi sangat kencang sampai-sampai membuat kapal kesulitan bergerak normal, ombak besar berkali-kali menerpa bagian bawah kapal membuat kapal berguncang tak beraturan. Kilatan petir sering kali muncul sebagai pelengkap dari badai itu.
Karena badai itu, seorang pria berambut perak berjalan bolak balik berkali-kali, sesekali ia menyeritkan kening dan menghela nafas.
“Apa kita bisa sampai sebelum malam tiba?” kata Pria itu.
“Mustahil kalau kita berada di dalam badai seperti ini,” kata orang yang masih sibuk mengemudi.
“Tapi kalau badai ini tidak ada, apa bisa?” tanya pria itu.
“Mu-mungkin saja ... Memangnya kenapa?”
Pria itu tidak menjawab pertanyaan orang itu, melainkan berjalan menuju bagian depan kapal dan melihat keatas berniat untuk terbang ke langit. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba saja kapal itu berguncang sangat keras.
“Apa ombaknya sebesar ini?” tanya Roy yang keluar bersama rekannya karena guncangan itu.
“Bu-bukan ... i-ini ... “ kata salah seorang awak kapal yang melihat ke laut tepatnya kapal bagian samping.
“Ada apa?” tanya Roy kemudian mendekati orang itu dan melihat kebawah.
“I-inii ... Monster?! Kraken!” kata Roy sambil memundurkan langkahnya.
“Kraken?” gumam Ruri kemudian mendekati sisi pinggir kapal untuk melihat monster yang menahan Kapal.
“Cihh ... Ada saja gangguannya!” ucap Ruri kesal sambil mengarahkan tangannya ke laut.
“A-apa yang ingin kau lakukan?” tanya Roy.
Ruri tak menjawab pertanyaan Roy, kemudian menggerakkan tangannya seperti mencekik sesuatu dan mengangkat lengannya keatas. Seketika air laut itu menjulang ke atas mengikuti gerakan lengan pria itu. Terlihat air itu mengikat bagian kepala monster laut yang kini sudah tercekik di udara.
“H-hah?!”
Semuanya terkejut melihat hal yang diluar kemampuan manusia itu.
Tanpa berpikir Ruri langsung meremas tangannya.
“Jangan menghalangiku!” seketika saja kepala monster itu hancur, cairan merah mulai bermuncratan.
Melihat itu Mary langsung bertindak menggunakan sihir pelindung untuk mencegah darah monster itu mengenai seisi kapal.
Semuanya masih terdiam belum ada satu patah kata pun yang keluar.
Ruri menoleh melihat semua orang itu terkejut kemudian menghela nafas dan mulai terbang ke langit.
“A-apa dia yang melakukannya sendiri?” tanya Roy yang masih tidak bergerak sedikitpun dari tempat ia berdiri.
“Kurasa begitu ... “ jawab Mary.
Diantara awan-awan hitam itu, Ruri langsung mengarahkan kedua tangannya ke samping dan menggunakan sihir angin secara besar-besaran.
Langit yang tertutup awan gelap itu tiba-tiba saja menjauh dengan cepat seakan lenyap tertiup topan.
Ruri menghela nafas sedikit dan kembali turun ke kapal.
“Ayo jalan kembali, sekarang sudah tidak ada hambatan bukan? Berarti kita bisa sampai disana sebelum gelap kan?” ucap Ruri kepada orang tadi.
“I-iya mungkin saja ... “
“H-hei Ruri ... “ kata Freed.
“Hmm?”
“Apa kau manusia?”
“Tentu saja ... “ kata Ruri sambil tersenyum.
“Tapi kekuatanmu itu diluar kemampuan manusia tahu!” ucap Roy sambil menunjuk ke langit.
“A-apa iya? Kupikir itu kekuatan yang normal,” kata Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.
“Hmmm ... “ kata mereka semua sambil menatap tajam pria yang masih tertawa itu.
9 jam pun berlalu, mereka pun sampai di dekat sebuah pulau besar yang hanya terdapat daratan hitam yang diatasnya berdiri sebuah gunung api.
"Kau bilang kita akan sampai sebelum malam tiba," ucap Ruri sambil tersenyum ke arah orang sebelumnya.
"Hehe, aku lupa kalau jaraknya sejauh itu."
Ruri menghela nafas dan menatap tajam pulau itu.
“Mulai dari sini aku yang akan pergi sendiri, permintaan yang kalian kerjakan itu hanya sekedar mengantarkanku ke pulau ini,” kata Ruri yang tak menoleh sedikitpun dari pulau itu.
“Ta-tapi ... “ kata Mary yang tak melanjutkan perkataannya karena Ruri sudah melompat dari kapal dan terbang menuju pulau itu.
“Sudahlah Mary, kuyakin dia akan baik-baik saja,” kata Roy sambil memegang pundak wanita itu.
“Berhati-hatilah Ruri ... " gumam Mary.
“Kaila ... tunggu aku!” kata Ruri sambil terbang dengan cepat menuju pulau itu.