Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 13 - Taurus Major (bagian 2)



"Ahhh ... Sial ... Aku tidak memperkirakan kalau hal ini mungkin saja terjadi," ucap Ruri kesal.


"Sudahlah Ruri, ini semua bukan salahmu," ucap Naila yang berada di dekat Ruri.


"Apa yang dikatakan Naila itu benar Ruri, ini semua bukan salahmu, lebih baik kita memanfaatkan 1 menit ini untuk berfikir bagaimana caranya membuat monster ini terjatuh dengan keadaan kaki terbuka," ucap Clarissa yang membuat Ruri tenang kembali.


"Ahh kau benar, seharusnya aku memikirkan caranya lagi," ucap Ruri yang membuat semuanya mulai berfikir.


"Bagaimana kalau membuat daratan ini menjadi es? Kalau licin mungkin saja siluman ini akan terpeleset dan jatuh," kata Dhafin.


"Ahh itu tidak bisa dilakukan karena saat kita mengguyur pepasiran ini dengan air, seketika itu pula airnya akan meresap kebawah tanah," sangkal Naila.


"Lalu bagaimana? aku sangat payah dalam berpikir," ucap Dhafin yang kehabisan akal.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mendorongnya," ucap Ruri yang membuat mereka semua terkejut.


"Maksudnya mendorong?" tanya Clarissa.


"Menggunakan sihir angin, kalau aku sendirian mungkin tidak bisa, tapi kalau dengan bantuan kalian pasti bisa," ucap Ruri yakin.


"Pasti ini akan sulit, karena mana kita juga sudah tersisa sedikit," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Tidak apa, kali ini kita tidak akan memakan banyak mana, anggap saja seperti berburu di hutan, karena aku sudah mengetahui tentang monster ini," ucap Ruri sambil tersenyum melihat kearah siluman itu yang mulai bangkit.


"Ayo, semuanya mulai serang kembali kakinya!" seru Ruri.


"Baiklah aku akan percayakan diriku padamu, Ruri," ucap Dhafin tersenyum sambil menembakkan panah api beruntun kearah kaki siluman itu.


"Iya aku juga akan mencoba mempercayaimu, jadi jangan seenaknya hanya memikirkan orang lain, pikiran lah dirimu juga," ucap Clarissa sambil tersenyum lalu berlari dan menyerang.


"Yaah aku sebagai teman sebangkumu juga akan selalu mempercayaimu," ucap Naila pelan sambil pergi.


"Walaupun aku baru bertemu denganmu seminggu yang lalu, aku juga akan mempercayai mu," ucap Vina sambil pergi.


"Kalian... jadi begini rasanya mempunyai teman yang saling mempercayai," gumam Ruri terharu dan bersyukur karena telah di hidupkan sebagai Ruri Narendra.


"Baiklah aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian semua," gumam Ruri sambil menggunakan sihir anginnya untuk terbang.


Ruri pun terbang menuju bagian kepala siluman itu lalu menembakinya dengan bola api.


"Hei, monster jelek, lihatlah kemari!" ucap Ruri.


Karena merasa ada yang menyerang dari bagian atas, siluman itu pun berpaling ke arah Ruri dan menembakinya dengan bola energi berwarna hijau secara beruntun.


Dengan cepat Ruri terbang kesana kemari untuk menghindarinya dan segera kembali menembakkan bola apinya.


"Entah apa yang kau lakukan diatas sana Ruri, tapi hal itu membantu sekali, karena hentakkan kakinya tidak karuan mengarah kemana pun, jadi kami menjadi lebih mudah membuatnya terluka tanpa menghindar," ucap Dhafin yang masih fokus melancarkan panah api nya.


Ruri tersenyum lalu berkata.


"Baiklah jika yang kulakukan ini berguna buat kalian, aku terus mengalihkan perhatiannya," ucap Ruri.


Semuanya fokus menyerang kaki siluman itu sampai-sampai tidak memberikan jeda waktu untuk berhenti agar tidak dapat beregenerasi.


Darah mulai meleleh dari luka di kaki siluman itu yang membasahi pepasiran dengan darah makhluk besar itu.


Sampai beberapa lama kemudian, siluman itu pun merasa sangat marah karena kakinya yang sudah sangat terluka parah tidak sempat melakukan regenerasi, dan tiba-tiba saja makhluk itu pun tidak memperdulikan Ruri yang terbang dekat kepalanya.


Ruri heran saat siluman itu menundukkan kepala lalu melihat kearah teman-temannya dan membuka mulut, yang kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan sihir di mulutnya.


Setelah melihat bahwa siluman itu akan menyerang teman-temannya, Ruri langsung terbang cepat menuju teman-temannya sambil berseru.


"SEMUANYA ... AWAS...!!!" teriak Ruri dengan histeris.


*Buuumm...


*Duuaaaaarrrr...


Ledakan tepat di bawah siluman itu, debu mulai berhamburan jarak pandang pun kembali terbatas, namun di dalam tebalnya debu yang berterbangan, Ruri tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada dirinya, yang ia pikirkan hanya teman-temannya yang berada didalam kumpulan debu itu, dan harap-harap ia melihat protector berwarna merah yang melindungi mereka.


"Teman-teman, kalian tidak apa-apa kan?" ucap Ruri terbang kesana kemari yang tidak menemukan siapa-siapa, dikarenakan tebalnya debu yang berterbangan.


"Kalau kalian mendengarku, tolong jawablah ... " ucap Ruri yang suaranya semakin memelan.


Setelah beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang, Ruri pun berhenti berkata-kata karena terlihat jelas olehnya 3 orang perempuan dan 1 orang laki-laki yang tergeletak dipepasiran dan tidak bergerak sama sekali.


Dengan segera Ruri terbang kearah keempat orang itu, lalu turun dan menghampiri salah satunya.


"Naila, apa kamu mendengarku? Kalau kamu mendengar kumohon jawablah ... " ucap Ruri sambil mengangkat kepala Naila.


Karena tidak ada jawaban, Ruri pun beralih ke Dhafin, Vina, dan Clarissa dengan ucapan yang sama persis.


"Clarissa, jika kamu mendengarkanku. Kumohon, katakanlah sesuatu ... " ucap Ruri yang suaranya semakin mengecil.


"Hei Clarissa ... Bangunlah ... " ucap Ruri yang mulai menitikkan air mata.


Namun begitu pula dengan Clarissa, ia yang dengan keadaan tidak sadarkan diri, sedikitpun tidak merespon ucapan Ruri.


Selama Ruri berkata-kata dengan teman-temannya, siluman itu melangkahkan kakinya kebelakang untuk berjalan mundur sampai Ruri dan teman-temannya berada di jangkauan kedua kaki depannya.


Siluman itu mulai meraung dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.


Melihat itu, Ruri meletakkan kembali kepala Clarissa di atas pasir lalu berdiri dan menatap ke kepala siluman itu.


"Kau sudah membunuh teman-temanku, dan sekarang apa kamu ingin melenyapkan tubuh mereka juga?" ucap Ruri kepada siluman itu dengan nada yang berubah drastis dan mulai mengepalkan tangannya.


Ruri pun memejamkan mata, dan seketika air mata yang mengalir diwajahnya mulai membeku dan pecah dalam sekejap.


Aura besar berwarna biru mulai berkeluaran dan menyelimuti seluruh tubuh Ruri.


Saat siluman kembali meraung, seketika itu pula, siluman itu mulai menurunkan kakinya dengan sangat kuat.


Pada saat yang bersamaan Ruri membuka matanya dan segera melesat cepat menuju telapak kaki kiri siluman itu lalu memukulnya dengan satu tangan.


Dalam sekejap, kaki siluman itu tertahan oleh Ruri yang berusaha menahan niat siluman itu untuk menginjakkan kakinya ke tanah.


"Apa kau pikir, aku hanya akan duduk dan melihat kau menghempaskan teman-temanku? Selagi aku masih disini, tidak akan kubiarkan kaki berbulumu ini menyentuh teman-temanku! Nitrous ... Boost...!!!" ucap Ruri sambil mengeluarkan nitrogen yang wujudnya menyerupai api biru dari kedua kakinya untuk mendorong kaki kiri siluman itu.


Merasa tubuhnya terdorong kaki kirinya sendiri, siluman itu pun membuat bola energi hijau agak besar lalu menembaki kearah kaki kirinya.


Ruri terkejut dan memejamkan matanya.


*Duuuaaarrr...


Setelah membuka matanya Ruri pun sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Pro-protector merah? Jangan-jangan ... Naila!" ucap Ruri sambil melihat kearah bawah.


Terlihat Naila tengah berdiri yang tangan kirinya memegang dadanya dan tangan kanannya mengarah ke tubuh Ruri.


"Sudah jangan perdulikan aku, Ruri, fokus saja pada siluman itu, kami akan terus membantumu," ucap Naila.


"Kami?" ucap Ruri terkejut


"Berarti mereka semua ... " ucap Ruri dengan perasaan lega.


"Tentu saja aku masih hidup, ledakan kecil seperti itu tidak akan membunuhku," ucap Dhafin yang mulai berdiri sambil memegangi dadanya.


"Walaupun aku tidak bisa menggunakan sihir, jangan pikir kalau aku tidak bisa tahan dengan ledakkan seperti itu," ucap Vina yang berusaha mencoba bangkit.


"Ruri, ingat yang pernah kau katakan, jangan paksakan dirimu sendiri, mintalah bantuan pada semuanya, jangan membebani dirimu untuk menyelesaikan semuanya sendiri, memangnya kau lupa? Kita adalah rekan," ucap Clarissa sambil berdiri dan tersenyum.


"Clarissa ... Kau ... " ucap Ruri sambil memejamkan mata sebentar lalu tersenyum.


"Baiklah, teman-teman mohon bantuannya," ucap Ruri yang kembali memfokuskan untuk mendorong kaki kiri siluman itu.


"Hmmm," ucap semuanya serempak.


Siluman itu pun meraung dan kembali menembakkan bola hijau ke arah kaki kirinya.


"Tidak akan kubiarkan kau melukai Ruri!" ucap Naila yang membuat dinding protector di sekeliling Ruri.


"Dia akan terus melawan selagi mata siluman itu masih terbuka," ucap Vina sambil mengarahkan busurnya ke kepala siluman itu lalu melepaskan anak panahnya.


*crrruuuukk...


*Aarrrggghhh...


Sebuah anak panah tepat mengenai mata kiri siluman itu.


"Yeah tepat sasaran, sekarang yang satunya lagi," ucap Vina kembali meluncurkan anak panahnya, akan tetapi...


*Taaaaanng...


Suara anak panah yang membentur armor di wajah siluman itu.


"Cihh ... tidak kena," ucap Vina yang berniat mengambil anak panahnya lagi namun, hanya tersisa satu buah.


"Hah? Panahku hanya sisa 1?" ucap Vina yang melihat anak panahnya tersisa 1 di tas gendongannya.


"Sudah cukup, gunakan panah terakhirmu untuk melukai telapak kaki makhluk itu nanti, kalau soal mencegah makhluk ini menyerang Ruri, serahkan saja padaku," ucap Dhafin sambil menembakkan bola api besar berkali-kali ke leher siluman itu, sampai sampai makhluk itu tidak sempat melihat kebawah karena dorongan sebuah bola api besar milik Dhafin.


Melihat itu, Ruri pun terharu akan kepercayaan mereka akan dirinya.


"Aku ... tidak akan, mengecewakan, teman-temanku!!! Hiyaaaah...!!!" seru Ruri sambil menguatkan tekanan nitrogennya sampai sampai kaki kiri siluman itu mulai menekuk.


Karena tidak kuat menahannya, siluman itu melangkahkan kaki belakangnya untuk mundur agar tetap bisa berdiri.


"Cihh ... ternyata makhluk ini memang sedikit pintar tapi ..." gumam Ruri sambil tersenyum.


"Clarissa ... mohon bantuannya...!!!" seru Ruri.


"Iya, dengan senang hati. Semuanya ayo kesana! aku dan Ruri akan menjatuhkan siluman ini, kalian bersiaplah untuk menyerang kakinya!" ucap Clarissa sambil terbang cepat menuju bagian belakang siluman itu.


"Baiklah," ucap Dhafin, Vina, dan Naila berbarengan sambil berlari mengikuti siluman itu.


Setelah Clarissa sampai di belakang siluman itu, dengan cepat Clarissa mengumpulkan sihir anginnya berniat untuk menyerang salah satu kaki siluman itu.


"Large horizontal wind pressure... Active...!!!" ucap Clarissa yang mengumpulkan tekanan sihir angin dalam jumlah besar di kepalan tangan kanannya.


"Rasakan ini...!!!" ucap Clarissa sambil terbang dengan sangat cepat lalu mengayunkan tinjunya ke arah kaki kanan siluman itu.


Seketika saja siluman itu terguling dan terjatuh.


*Aarrrggghhh...


"Cepat semuanya serang kakinya!" ucap Ruri.


"Bagaimana cara kita mengenainya? Kakinya bergerak terus, lagi pula aku hanya mempunyai satu buah anak panah saja," ucap Vina panik.


"Iya, mana ku juga tersisa sedikit," ucap Naila.


"Tenanglah semuanya, aku akan mengatasinya!" ucap Ruri sambil turun dan meletakkan kedua tangannya di tanah.


"Thorny ice roots. Tie it up...!!!" ucap Ruri yang tiba-tiba saja keluar dari bawah tanah belasan akar es tebal dan berduri melilit seluruh kaki serta kepala siluman itu sampai tidak bisa bergerak.


"Wah kamu memang mengejutkan seperti biasanya, Ruri. Baiklah, aku juga akan menunjukkan sihir baruku," ucap Dhafin sambil membaca mantra sebentar yang diakhir oleh ...


"Pheonix fire spear...!!!" kata Dhafin sambil mengeluarkan sebuah tombak api besar melayang di ujung telapak tangannya.


"Iya pamernya lain kali saja, kumohon cepatlah! aku rasa akar akar ini tidak bisa menahannya lebih lama lagi," kata Ruri yang melihat akar es berdurinya mulai retak.


"Baiklah dalam hitungan ketiga serang kakinya secara bersamaan!" ucap Clarissa.


"Kalau begitu, aku akan pergi kesisi sana untuk menyerang bagian kepala jika sudah terlihat sesuatu dikepalanya," ucap Ruri sambil terbang menuju sebrang sana.


"Ayo, kita mulai satu ... dua ... tiig-" ucap Clarissa terpotong.


"Tunggu sebentar?!" ucap Vina tiba-tiba.


"Ada apa Vina?" tanya Clarissa.


"Anak panahku, ujungnya ... " ucap Vina terkejut melihat bagian kepala anak panahnya patah.


"Ahh ini gawat, dengan mana ku yang sekarang, aku tidak bisa terbang cepat menuju kesana untuk menyerang dua kaki bersamaan," kata Clarissa.


"Ada apa dengan anak panahmu? Patah?" tanya Dhafin sambil menghampiri Vina.


"Iya, bagaimana ini?!" ucap Vina mulai panik.


"Tenang saja, selagi ada aku disini, semuanya bisa terselesaikan, bagaimana kalau ku sambungkan dengan sihir apiku?" ucap Dhafin.


"Sambungkan?" tanya Vina tidak mengerti.


"Seperti ini, pinjam sebentar panah yang patah itu," ucap Dhafin sambil memegang bagian panah yang patah itu dan seketika terciptalah ujung anak panah tajam yang terbuat dari api.


"Wahh hebat kamu Dhafin, dan juga ini sangat tajam," ucap Vina sambil menguji ketajaman ujung panah api itu.


"Siapa dulu, Dhafin gitu lohh," ucap Dhafin sambil membusungkan dadanya.


"Iya, saking hebatnya, bagian bawah panahku juga ikut terbakar," ucap Vina dengan senyum jengkelnya sambil menunjuk kearah anak panah miliknya yang terbakar di atas pasir.


"Heh?" ucap Dhafin melongo melihat seluruh panah itu juga ikut terbakar.


"Awalnya aku terkesan, tapi, kupikir sihirmu cukup ceroboh," ucap Vina.


"Ahh itu hanya kesalahan kecil, bagaimana kalau kau memakai ini saja," ucap Dhafin sambil membuat Fire Arrow (panah api).


"Kau bodoh ya? Kalau aku memegang kayu yang terbakar saja tidak bisa, lantas bagaimana aku memegang panah yang terbuat dari api?" ucap Vina sambil tersenyum.


*Duuuuugg...


Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Dhafin.


"Aduuuuhh ... KEPALAKU...?!" ucap Dhafin kesakitan.


"Sudah cukup, idemu hanya memperburuk keadaan," ucap Clarissa.


"Hei Clarissa, benda putih yang tertancap dibelakangmu itu apa? Anak panah?" tanya Vina.


Clarissa menoleh dan berkata.


"Ohh ini, tadi sebelum Ruri pergi kesana, dia sempat melempar panah es nya ke arahmu, ahh mungkin saja panah ini untukmu, apa kau bisa memakai ini?" ucap Clarissa sambil mengambil panah es itu dan memberikannya ke Vina.


"Mungkin saja bisa, walaupun agak dingin, tapi aku bisa menahannya, baiklah akan kugunakan panah es ini," ucap Vina.


"Baiklah ayo kembali ketempat masing-masing! Aku akan hitung ulang, satu ... dua ... tiga...!!! Tembak semuanya! Wind Slash...!!!" kata Clarissa sambil mengayunkan tangannya.


"Pheonix fire spear," ucap Dhafin sambil melempar tombak apinya.


"Water sources. Shoot...!!!" ucap Naila yang menembakkan air dalam jumlah besar dan tekanan yang tinggi.


"Ayolah panah es jangan mengecewakanku," ucap Vina sambil melepas anak panah dari tali busurnya.


Seluruh serangan dari keempat orang itupun bergerak cepat menuju telapak kaki siluman itu dan mengenainya.


Seketika saja lingkaran sihir di telapak kaki siluman itu menghilang.


*Aarrrggghhh...


Raungan siluman itu kesakitan.


"Hei Clarissa sepertinya ada yang aneh, padahal tadi saat kita menyerang kedua telapak kakinya saja dapat membuatnya pingsan 1 menit, tapi kenapa saat kita menyerang keempat telapak kakinya hanya lingkaran sihirnya saja yang menghilang, tapi kesadarannya masih ada?" tanya Naila sambil menghampiri Clarissa.


"Aku juga heran, semoga saja Ruri benar-benar paham yang dimaksudkan kalimat yang terakhir itu," ucap Clarissa pelan yang mulai lemas dan tumbang.


"Hei Clarissa ... Ada apa?" tanya Vina yang melihat Clarissa jatuh.


"Tenang saja dia hanya kehabisan mana," ucap Naila.


(10 detik setelah munculnya cahaya lingkaran sihir di kepala siluman itu)


*Taaaaanng...!!!


*Duuuumm...


*Duuuaaarrr...!!!


"Apa maksudnya ini?! Kenapa tidak berhasil?!" ucap Ruri geram karena semua sihir yang ia coba tidak dapat melukai kepala siluman itu yang bersinar.


"Apa jangan-jangan, untuk yang terakhir ini, membutuhkan daya serang yang tinggi? Tapi mana ku mungkin tersisa sedikit karena ... dadaku mulai terasa sesak," gumam Ruri sambil memegangi dadanya.


(15 detik setelah munculnya cahaya lingkaran sihir di kepala siluman itu)


"Baiklah, tidak ada pilihan lain selain memakai sihir itu lagi," ucap Ruri sambil mengangkat tangannya keatas dan menembakkan bola api ke langit berkali-kali.


"Itu, Fire Ball?" ucap Dhafin yang melihat bola api lalu pergi menuju Ruri.


"A-apa? Makhluk itu berdiri kembali?" ucap Vina yang melihat makhluk itu mulai melepaskan diri dari akar es berduri itu dan kembali berdiri.


"Ruri, apa rencanamu selanjutnya?" gumam Naila.


Terlihat siluman itu melirik ke arah Naila dan yang lainnya, lalu membuat sihir bola hijaunya dan menembakinya berkali-kali.


"Protector...!!!" ucap Naila yang membuat protector agak besar untuk melindungi Clarissa dan Vina.


"Ruri, kumohon, cepatlah ... " gumam Naila sambil berusaha mempertahankan protectornya yang sudah mulai retak.


(22 detik setelah munculnya cahaya lingkaran sihir di kepala siluman itu)


Dan tiba-tiba saja, dari arah kanan, terlihat ratusan jarum es tepat menusuk leher siluman itu, hal ini membuat siluman itu berpaling ke arah seseorang yang menembakinya dengan es tersebut.


"Ruri, apa yang kamu rencanakan? Ini sudah detik yang ke 30," ucap Naila yang mulai khawatir.


"Aku tahu, kepalanya sangat keras, jadi aku punya rencana terakhir, jika gagal, aku ingin kamu, Vina serta Dhafin membawa Clarissa kembali ke kota dan mintalah bantuan!" ucap Ruri sambil tersenyum.


"Apa rencan-" ucap Naila terpotong karena terkejut melihat langit yang tiba-tiba gelap dan mengeluarkan suara guntur.


(25 detik tersisa sebelum menghilangnya cahaya di kepala siluman itu)


Siluman itu pun mulai mengumpulkan bola energi hijaunya kembali sampai sebesar-besarnya.


"Aku Ruri Narendra, meminta langit membumihanguskan apapun yang menghalangi, hancurkan seluruh makhluk didunia ini yang dapat menyebabkan malapetaka ... "


"Baru kali ini aku mendengar Ruri menyebutkan mantra sihir, tapi, waktu yang tersisa tinggal 20 detik lagi, dan juga kenapa makhluk ini membuat bola itu besar sekali!" gumam Naila yang semakin lama semakin khawatir karena melihat bola energi hijau itu semakin membesar.


Terlihat Dhafin berlari dari bawah siluman itu mendekati Naila lalu berkata.


"Ayo cepat kita menjauh dari sini, ini perintah Ruri!" kata Dhafin.


"Tapi bagaimana dengan Ruri sendiri?" kata Naila menolak.


"Dia bilang tidak apa-apa," ucap Dhafin.


"Apa kamu tidak lihat bola besar itu? Apa kamu masih bilang tidak apa-apa jika Ruri terkena bola besar itu?" ucap Naila yang mulai panik.


"Naila tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang sementara-" ucap Naila terpotong.


"Naila, cukup!" ucap Dhafin agak keras sambil menundukkan kepalanya, yang membuat Naila terdiam.


"Aku tahu kamu menghawatirkannya, begitu pula denganku, apa kamu tahu, aku juga awalnya menolak keras dengan rencana yang dibuatnya, tapi setelah ia memberi penjelasannya, dengan berat hati aku menyetujui rencananya dan kembali mempercayainya," ucap Dhafin yang mulai menitikkan air matanya.


Naila hanya terdiam mendengarkan ucapan Dhafin.


"Jadi kumohon Naila, kita percayakan saja semua pada Ruri, yah?" ucap Dhafin sambil tersenyum.


Naila menundukkan kepalanya lalu berucap.


"Iya, baiklah, lagi juga, aku sudah berjanji untuk mempercayainya," ucap Naila pelan sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah ayo pergi!" ucap Dhafin sambil menggendong Clarissa dan pergi bersama Naila serta Vina.


"Jadi Dhafin berhasil membujuk Naila kah, terima kasih Dhafin. Baiklah aku juga tidak akan mengecewakan mereka yang telah mempercayaiku," gumam Ruri sambil menatap tajam siluman itu.


(3 detik)


Lalu tiba-tiba saja siluman itu, melontarkan bola energi hijaunya mengarah langsung ke Ruri.


Melihat itu Ruri langsung mengangkat kedua tangannya keatas dan berkata ...


(1 detik)


"Thunderstorm. God's wrath," kata Ruri yang dibarengi oleh sambaran petir besar tepat mengenai kepala siluman itu, disisi lain bola hijau itu telah mendekati Ruri lalu seketika saja, petir dan bola energi hijau itu meledak bersamaan.


*Duuuummm...


*Duuuaaarrr...!!!


*Fuuussshh...


Akibat ledakan besar yang terjadi dan dilanjutkan angin kencang dari dua titik yang bersebrangan itu, Dhafin, Naila dan Vina berhenti kemudian menoleh kearah ledakan tersebut.


Akibat ledakan itu Ruri terhempas jauh sampai ke pinggir hutan.


"RURI...!!!" teriak Naila, Vina, dan Dhafin berbarengan setelah melihat Ruri yang terkena ledakkan itu.


Terlihat siluman itu meraung sebentar, lalu sesaat kemudian siluman itu mulai tumbang karena bagian atas kepalanya telah hancur.


"Ruri kau memang berhasil, tapi, bagaimana dengan keadaanmu sendiri dasar bodoh, jika kau sampai mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu," gumam Naila sambil berlari menghampiri Ruri bersama Vina dan Dhafin.