Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 28 - Awal Perjalanan



“Baiklah Naila, saat aku kembali lagi pastikan agar kau sudah menjadi seorang ratu ya,” ucap Ruri kepada Naila.


“Te-tentu saja, aku akan berusaha,” ucap Naila.


“Dhafin semoga kau berhasil menjadi magicalist yang hebat ya,” ucap Ruri sambil menjabat tangan rekannya itu.


“Kau tidak sedang mengejekku kan?” kata Dhafin sambil tersenyum kecut.


“Baiklah aku serahkan Naila padamu, jaga dia baik-baik, kau menyukainya bukan,” ucap Ruri dengan suara berbisik lalu kembali tersenyum.


“A-apa yang kau bicarakan h-hah?” ucap Dhafin terkejut dan mulai salah tingkah.


“Sejak awal aku juga tahu kok,” ucap Ruri sambil berbalik badan.


“Baiklah Dhafin, Naila, jaga negri ini baik-baik ya, dan juga titipkan salam pada Vina,” ucap Ruri kepada kedua temannya itu.


“Tentu saja.”


“Serahkan padaku.”


Ruri menganggukkan kepalanya lalu berlalu pergi.


“Ayo Kaila kita pergi!” ucap Ruri kepada Kaila yang menunggu Ruri berpamitan dengan temannya.


“Baiklah,” ucap Kaila.


...****************...


“Hmm kenapa kita tidak sampai di sebuah kota atau desa yaa?” ucap Kaila yang mulai kelelahan dan berhenti di bawah pohon yang cukup rindang.


“Kau benar, apa mau istirahat saja di sini dan melanjutkan perjalanannya besok?” tanya Ruri.


“Yahh lebih baik begitu karena hari juga sudah mulai gelap,” ucap Kaila.


“Baiklah kau tunggu saja disini, kau lelah bukan? Aku akan pergi mencari sesuatu untuk makan malam,” ucap Ruri sambil berlalu pergi.


“Tapi aku mau membantu,“ Ucap Kaila.


“Kau bisa memasak?” tanya Ruri.


“Bisa sihh ... “


“Baiklah kau yang membuat makanannya, aku yang mencari bahannya, bagaimana?”


“Baiklah kalau begitu.”


Hari demi hari telah berlalu, sudah 5 hari mereka berdua terus berjalan mengarah ke Barat, namun belum juga ditemukan sebuah desa ataupun kota. Akan tetapi, pada saat itu, mereka sampai di sebuah hutan lalu memasukinya.


“Ruri ... “ ucap Kaila.


“Hmm?”


“Sampai kapan kita berada di dalam hutan ini?” tanya Kaila sambil menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian.


“Apa kau takut?”


“H-hah? Ti-tidak, bukan begitu, hanya saja hutan ini tidak terlihat aman,” ucap Kaila yang masih menoleh kesana kemari.


“Itu tandanya kamu takut,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Ihh bukan takut, hanya saja ... “ ucap Kaila terpotong karena tiba-tiba dari balik semak semak muncul beberapa orang.


“Hadehh ... Baru 15 menit berjalan menyusuri hutan, sudah ada saja yang ingin merampok,” gumam Ruri sambil menghela nafas.


“Cepat, serahkan semua barang-barang milik kalian!” ucap


“Tunggu sebentar, bukannya kalau ada perampok disini, itu berarti ... “ gumam Ruri lega.


“Ke-kenapa kau begitu tenang? Kita sedang di rampok lohh,” ucap Kaila yang sambil mundur perlahan ke belakang Ruri.


“Tenang saja,” ucap Ruri sambil tersenyum.


1 menit kemudian ...


“Ka-kami minta maaf, tolong ampunilah kami,” ucap salah seorang pria yang mungkin ketua dari perampok itu.


“Mungkin aku jadi mengerti, kenapa kau berani pergi menjelajah sendirian,” ucap Kaila pelan setelah melihat Ruri menghajar semua perampok itu sendirian.


“Yahh aku tidak peduli dengan kalian, jadi aku ingin bertanya sesuatu, apa boleh?” tanya Ruri dengan senyum polosnya.


“Ba-baik, apapun itu, tanyakan saja,” ucap orang tadi dengan cepat karena ketakutan.


“Apa ada kota didekat sini?”


“Ada, tepat di ujung hutan ini.”


“Jadi, aku hanya perlu berjalan lurus ke sana?” tanya Ruri sambil menunjuk kearah depan.


“Be-benar, tapi lebih baik jangan ke sana dahulu untuk sementara, karena disana terdapat seorang pembunuh berantai yang sampai sekarang belum diketahui pelakunya.”


“Tidak apa-apa, itu jauh lebih aman dari pada tidur di hutan ini.”


“Baiklah, ayo Kaila, kita per-“ ucap Ruri terpotong karena tiba-tiba dari arah hutan muncul sekumpulan Horned Wolf.


Para perampok tadi hanya diam sambil bersiap-siap andai saja para siluman itu mulai menyerang.


“Bagaimana ini, ketua?” kata salah seorang.


“Tunggu setelah aba-aba ku, setelah itu kita serang bersamaan.”


“Mereka terlihat tegang sekali, apa jangan-jangan mereka tidak mempunyai pengalaman bertarung? Walaupun begitu, mereka tetap ingin merampok?” gumam Ruri yang sedikit terkesan.


Ruri menghela nafas lalu mengarahkan tangannya ke kumpulan siluman itu sambil berkata.


“Lightning Strike!” terlihat sambaran petir dari tangan Ruri tepat mengenai semua siluman itu yang mulai lemas tak berdaya.


“Kalau seperti ini, kalian pasti sudah bisa menanganinya kan?”


“I-iya, terima kasih banyak,” ucap orang tadi.


“Iya sama-sama, tapi dari pada berterima kasih, kupikir kalian harus cepat membunuhnya sebelum mereka sembuh kembali,” ucap Ruri yang sontak membuat para perampok itu langsung bergerak dan membunuh siluman itu.


“Baiklah, ayo Kaila kita pergi!” kata Ruri sambil berlalu.


“Baiklah.”


“Anuu ... Bagaimana dengan stealth crystal nya?” tanya orang tadi.


“Ambil saja, dan jangan merampok lagi jika kalian tidak mampu melakukannya,” kata Ruri tanpa berpaling.


“Ba-baiklah, terima kasih banyak,” ucap mereka semua serempak.


“Kau memberikan kepada mereka? Ternyata kau orang baik ya,” ucap Kaila sambil tersenyum.


Ruri yang melihat Kaila tersenyum kearahnya tiba-tiba saja langsung berpaling.


“Ada apa denganku? Padahal aku baru bertemu dengannya beberapa hari lalu, tapi, perasaan ini ... seperti tidak asing bagiku,” gumam Ruri yang pipinya mulai memerah.


“Ruri, apa kau baik-baik saja?”


“Berisik, aku ... aku tidak apa-apa,” ucap Ruri sambil berpaling.


...****************...


“Jadi ini kota yang dimaksudkan, ternyata cukup besar ya,” kata Kaila.


“Tadi katanya di penghujung hutan, tapi kenapa kota ini berada di tengah hutan?” ucap Ruri sambil tersenyum kecut.


“Yahh tapi tidak apa Ruri, bukankah sama saja, walaupun agak menakutkan sihh,” kata Kaila yang tak henti-hentinya melihat kesana kemari.


“Baiklah, sekarang kita cari makan dan tempat tinggal untuk sementara ini,” kata Ruri sambil melangkahkan kakinya.


Kaila pun mengikuti Ruri dari belakang, karena ia masih melirik kesana kemari, sampai mata Kaila pun tertuju kepada seorang gadis pirang yang membuatnya curiga.


“Hei Ruri, apa menurutmu orang itu terlihat mencurigakan bagimu?” kata Kaila sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang berdiri di atas pohon seperti sedang memantau sesuatu.


“Ternyata kau juga menyadarinya, kukira cuman perasaanku saja,” ucap Ruri pelan.


“Seperti kataku tadi.”


“Apa?”


Ruri menghela nafas lalu berkata.


“Tentu saja mencari makan dan penginapan.”


“Hehh? Lalu bagaimana dengan wanita itu?” kata Kaila dengan nada kecewa.


“Yaa ... Biarkan saja, dia juga punya kehidupan sendiri, begitupun aku yang kini tengah kelaparan,” ucap Ruri sambil berjalan pelan dan memegangi perutnya yang sudah bergemuruh.


“Ta-tapi ... “ kata Kaila yang masih melihat ke arah wanita itu.


“Baiklah kalau kau tidak mau, aku tinggal saja yaa ... “ ucap Ruri sambil melambaikan tangannya tanpa berpaling dan terus berjalan.


“H-hei Ruri, tunggu ... “


Beberapa menit kemudian ...


“Ahhh ... Akhirnya kenyang juga, mungkin setelah ini tidur adalah pilihan terbaik,” ucap Ruri yang terduduk lemas di bangku sebuah bar.


“Kau sudah seperti Dhafin saja,” ucap Kaila.


“Heh? Padahal kau baru sehari bersama mereka, tapi, kenapa kau bisa tau?” tanya Ruri keheranan.


“Ahh ... Soal itu ... Aku bisa tahu kebiasaan seseorang hanya dengan melihatnya saja, bukankah terlihat jelas dari wajah malasnya?” ucap Kaila sambil tersenyum.


“Ada yaa orang yang bisa menebak seperti itu, hmm ... Mungkin ada sihh walaupun tidak banyak,” gumam Ruri.


“Begitu rupanya,” ucap Ruri.


“Terlebih lagi, apa kau menyadarinya?” tanya Kaila.


“Apa?”


“Perempuan tadi,” ucap Kaila sambil melirik ke arah ujung bar yang terdapat seorang gadis berambut pirang dan seorang laki-laki yang mungkin temannya.


“Heh? Iya kau benar, aku baru sadar,” ucap Ruri sambil tertawa kecil.


“Kebanyakan makan sihh,” ucap Kaila dengan raut wajah datar.


“Yaa maaf, lagi pula memangnya kenapa? Kita juga tidak tahu apa-apa tentang orang itu, bisa saja dia orang baik bukan?” ucap Ruri.


“Jadi kau tidak peduli misalkan saja dia itu penjahat atau semacamnya?” tanya Kaila.


“Yaa tentu-“ ucap Ruri terpotong karena tiba-tiba ia mengingat kata kata Dhafin dan Naila.


“Iya, pasti berat baginya hidup sendiri dan tidak memiliki tujuan yang ingin dicapainya,” kata Naila.


“Karena itu Ruri, kau harus membuat perjalanan nanti agar terasa terkesan baginya dan tunjukkan padanya betapa indahnya mempunyai sebuah tujuan,” kata Dhafin.


“Jadi selama ini dia mencurigai apapun agar ia mempunyai tujuan?” gumam Ruri sambil menatap Kaila.


“Hmm?”


“Ahh tidak, baiklah baiklah akan aku cari tahu,” ucap Ruri.


“Caranya?”


“Bicara langsung padanya,” ucap Ruri sambil bangkit dan berjalan menghampiri wanita itu.


“H-hei Ruri, bukan begitu juga!” ucap Kaila khawatir.


“Hmm anuu ... permisi,” ucap Ruri.


Saat kedua orang itu menoleh kearah Ruri. Ruri pun terkejut melihat sesosok yang berada di depannya itu.


“I-ini ... Telinga itu ... Rambut pirang ... Perempuan ini ... Dia adalah elf. Hei hei ... Apa kau benar-benar elf?” tanya Ruri bersemangat kepada gadis itu.


“Y-ya begitulah ... ” ucapnya tersenyum karena kebingungan.


“A-apa yang kau katakan Ruri?” ucap Kaila yang tersenyum kecut karena mendengar tuturan kata Ruri lalu menghampirinya.


“Hei hei Kaila, aku baru tahu disini ada elf,” ucap Ruri kepada Kaila yang mendatanginya.


Kaila hanya tersenyum lalu ...


“Dasar bodoh! Bego! Idiot!” kata Kaila sambil memukul kepala Ruri.


“Ma-maaf atas perkataan orang ini ... Jadi tolong maafkan dia,” ucap Kaila yang khawatir jika merasa wanita itu terganggu dengan perkataan Ruri.


“Ahh ... Tidak, aku tidak terganggu sama sekali, santai saja,” katanya yang membuat Kaila menghela nafas lalu mengajak Ruri kembali ke tempat duduk.


“Kalau dilihat-lihat dari wajah kalian dan perkataan pemuda itu, apa kalian pendatang?” tanya wanita itu.


“Yahh ... Begitulah, kami baru saja sampai,” ucap Kaila.


“Boleh kalian duduk sebentar, aku ingin berbicara sedikit,” pinta elf itu.


“Aduh ini gawat, bagaimana kalau benar benar mereka pelakunya? Apa kita akan dibunuhnya?” gumam Kaila yang tubuhnya diselimuti dengan keringat dingin.


“Tapi kalau ditolak mungkin kamilah yang akan terlihat mencurigakan,” pikir Kaila.


“Kaila, ada apa? Kita tinggal duduk saja dan berbicara dengan mereka, kenapa kau begitu ragu?” tanya Ruri yang sudah duduk.


“Dasar Ruri dia sama sekali tidak mengerti situasinya,” gumam Kaila yang memaksakan senyumnya.


“Ahh ... Iya,” ucap Kaila sambil menarik kursi.


“Apa yang kalian lakukan di kota ini?” tanya wanita itu mengawali.


“Hmm ... Anuu, bagaimana kalau kita awali ini dengan perkenalan? Jadi akan lebih mudah saat berbicara,” respon Ruri.


“Sepertinya kau benar, maaf kalau begitu. Perkenalkan namaku Anariel seperti yang dia bilang, aku seorang elf, kalau kesulitan memanggilku panggil saja Ana,” ucapnya sambil tersenyum.


“Namaku Ruri, dan ini Kaila,” ucap Ruri sambil melirik ke arah Kaila.


“Sa-salam kenal,” ucap Kaila pelan.


“Ruri kenapa kepribadianmu berubah drastis? Awalnya kau dingin dingin saja,” gumam Kaila.


“ .... “


Semua terdiam dan ketiga orang itu matanya tertuju kepada pria yang duduk di sebelah elf itu.


“Hei perkenalkan namamu juga,” ucap Anariel kepada pria itu.


Pria itu menghela nafas lalu berkata.


“Namaku Gary, salam kenal,” ucap pria itu.


“Baiklah, aku ingin bertanya kepada kalian, apa yang kalian lakukan di kota ini?” kata Anariel mengulangi pertanyaan tadi.


“Kami sedang mencari seseorang, jadi kami putuskan untuk sementara tinggal disini,” ucap Ruri.


“Ohh begitu rupanya, kalian sebaiknya cepat cepat pergi, karena di kota ini terdapat seorang pembunuh yang sampai sekarang belum ada kabar tentang siapa orang tersebut,” kata Anariel.


“Lalu? Apa ada kaitannya dengan kami?” tanya Ruri tenang.


Kedua orang itu terkejut, lalu pria yang bernama Gary itu berdiri dan menarik pedangnya kemudian mengacungkannya ke arah Ruri.


Semua mata di bar itu kini tertuju kepada Gary dan Ruri.


“Sebelumnya, tidak ada orang yang setenang itu saat mendengar kata pembunuh, tapi kenapa kalian bisa setenang itu?! Apa kalian ada kaitannya dengan pembunuh itu?” ucap Gary.


“Hei Gary sudah kubilang jangan menuduh orang asing yang tidak tidak,” kata Anariel.


“Apa maksudmu?” tanya Ruri yang nada bicaranya mulai berubah.


“Sudah jangan basa basi lagi, kalian sudah tahukan? Kalau kami ini pergi kesini untuk mencari pembunuh itu, makanya dari awal kalian memperhatikan Anariel, apa kau ada hubungannya dengan pembunuh itu? Atau jangan jangan kalian rekan pembunuh itu?” ucap Gary yang masih mengacungkan pedangnya.


Ruri hanya tersenyum.


“Sepertinya menarik,” kata Ruri sambil bangkit dari tempat duduknya.