Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 29 - Terungkapnya seorang Pembunuh & Rencana menjadi Petualang



“Apa maksudmu?” tanya Ruri yang nada bicaranya mulai berubah.


“Sudah jangan basa basi lagi, kalian sudah tahukan? Kalau kami ini pergi kesini untuk mencari pembunuh itu, makanya dari awal kalian memperhatikan Anariel, apa kau ada hubungannya dengan pembunuh itu? Atau jangan jangan kalian rekan pembunuh itu?” ucap Gary yang masih mengacungkan pedangnya.


Ruri hanya tersenyum.


“Sepertinya menarik,” kata Ruri sambil mengacungkan jari telunjuknya.


“Mau apa kau?”


“Jauhkan pedang karatmu atau aku lubangi kepalamu?”


“Ternyata benar kalian pembunuh itu.”


“Dari awal aku tidak mengerti bagaimana cara pikirmu sampai-sampai menuduh kami seperti itu,” ucap Ruri sambil menghela nafas.


“Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang ketenanganmu saat ini, padahal kau sudah tahu kalau saat ini kau sedang tinggal di kota yang berada dalam naungan seorang pembunuh?” ucap Gary menegaskan.


“Coba kau pikir, jika orang yang sudah pernah membunuh seorang iblis, apa perlu takut pada seorang pembunuh amatiran?” ucap Ruri dengan tatapan mata seriusnya.


Gary, Kaila, dan Anariel terkejut mendengar itu.


“H-hah? Iblis? Kau pernah membunuh iblis? Jangan bercanda! Lihat! Temanmu saja terkejut karena tidak percaya,” ucap Gary sedikit tertawa.


“Iya itu benar adanya, karena Kaila belum bertemu denganku saat itu,” ucap Ruri sambil melihat kearah Kaila.


“Jangan membual lagi, kau sudah cukup mencurigakan,” ucap Gary dengan senyumannya.


“Lalu bagaimana caranya aku membuktikan kalau semua ucapanku benar?” ucap Ruri yang kembali tersenyum.


“K-kau pasti hanya banyak bicara saja. Baiklah, kalau begitu, apa kau bisa menjatuhkanku dalam keadaan begini? Kalau kau memang sudah pernah mengalahkan iblis, seharusnya ini adalah sesuatu yang mudah bukan?” ucap Gary yang masih mengacungkan pedangnya.


“Apa cuma itu? Aku bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup.”


“Ja-jangan hanya menggertak, coba saja kalau bisa?!”


“Atau begini saja, aku akan menjatuhkanmu hanya dengan menggunakan satu jari, bagaimana?” ucap Ruri yang membuat Gary kesal karena merasa dirinya direndahkan.


“Sialan ...?!” seru Gary sambil mengayunkan pedangnya langsung ke arah Ruri.


“Awas ...!!!” ucap Kaila dan Anariel berbarengan.


Ruri hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Setelah pedang Gary melewatinya, Ruri kembali mengangkat kepalanya dan mengacungkan jari telunjuknya.


“Checkmate!” kata Ruri yang dilanjutkan munculnya gumpalan air kecil dari ujung jarinya dan menembakkannya tepat ke kepala Gary.


*Taaaaakk ...


*Brruuuuuk ...


Tembakan air yang bertekanan cukup tinggi tepat mengenai kepala Gary dan membuatnya terjatuh di lantai.


“Gary ... Kau baik-baik saja?” ucap Anariel yang melihat temannya tergeletak di lantai.


“A-aku tidak apa-apa, mungkin hanya memar sedikit,” ucap Gary sambil memegang dahinya yang terkena serangan dari Ruri.


“Ti-tidak mungkin ... Dalam waktu yang sesingkat itu Gary dikalahkan? Bahkan ia menjatuhkannya hanya dengan membuat memar sekecil ini dalam sekali serang saja?” gumam Anariel yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Tenang saja, kepalamu baik-baik saja hanya dengan tekanan air seperti itu, tapi kalau aku menambahkan tekanan itu sedikit saja, mungkin kepalamu sudah berlubang,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Dengan begitu aku jadi tambah yakin kalau kau adalah pelakunya!” ucap Gary.


“Dasar, keras kepala sekali kau ini,” ucap Ruri.


“Cihh,” ucap Gary sambil bangkit dan mengambil kembali pedangnya dan segera menyerang Ruri.


Namun tiba-tiba saja ...


*Taaannng ...


“A-ana? Apa yang kau lakukan?” tanya Gary kepada seseorang yang menahan pedangnya dengan menggunakan sebilah belati.


“Gary sadarlah! Apa kau masih belum puas dengan pembuktiannya? Dalam keadaan yang tidak menguntungkan tadi saja Ruri masih bisa menahan diri melawanmu, kau bisa mati tadi jika yang kau hadapi bukan Ruri!” ucap Anariel dengan nada agak tinggi.


“A-ana?” ucap Gary dengan suara pelan hampir tak terdengar.


“Tolong, berilah dia kesempatan untuk menjelaskan!” ucap Anariel lagi.


“Ba-baiklah ... Maafkan aku ... “ ucap Gary sambil mengurungkan kembali pedangnya.


“Langsung ke intinya saja, seorang pembunuh biasanya ... ia berada di tempat yang ramai orang, kurang lebih mirip seperti bar ini,” kata Ruri yang membuat semua orang terkejut.


“H-hei bukankah terbalik?” tanya Gary tidak mengerti.


“Tidak, tentu saja dia akan berada di tempat yang ramai, agar ia tak dicurigai oleh orang lain, saat ada keributan seperti inilah sang pembunuh akan datang untuk melihat, dan jika masalah tersebut hampir selesai dia akan segera pergi. Ahh benar, tepat seperti orang berjubah itu,” ucap Ruri sambil melirik ke arah orang berjubah hitam yang hendak pergi dari bar itu.


Lantas orang berjubah itu terkejut dan segera mengambil sebuah bola hitam kecil dari balik sakunya dan melemparnya ke lantai.


Tiba-tiba saja bola hitam itu meledak dan mengeluarkan asap hitam yang tebal.


“Wind breeze ...!!!” ucap Ruri sambil mengayunkan tangan kanannya.


Dan seketika itu juga, asap tersebut disapu bersih oleh sihir angin milik Ruri, sementara orang yang memakai jubah hitam tadi masih terpaku di tempat ia berdiri.


“Apa yang kalian tunggu? Bukankah kalian ingin menangkap pembunuh itu?” ucap Ruri kepada Anariel dan Gary.


“Ahh ... I-iya.” Ucap Anariel dan Gary berbarengan dan langsung segera menangkap orang itu.


Setelah tertangkap orang itu diikat menggunakan seutas tali dan kemudian introgasi pun bermulai.


“Apa kau benar-benar pembunuh itu?” tanya Gary


“Bukan aku pelakunya, kalian salah orang,” katanya.


“Tapi orang itu yakin bahwa kau adalah pembunuh itu,” timpal Anariel.


“Tapi, apa buktinya kalau aku seorang pembunuh? Hah?!” sanggahnya sambil tersenyum.


“ .... ”


Semuanya terdiam.


Dengan segera Ruri maju sedikit lalu berkata.


“Buktinya adalah kau mencari-cari alasan, kalau kau memang bukan pelakunya, kau pasti akan mengatakan siapa dirimu secara detail, dan kau tidak akan berani menanyakan ‘bukti aku seorang pembunuh'. Kalau kau memang bukan pembunuh itu, tidak mungkin kau akan kepikiran kesana selain menjelaskan untuk memperbaiki kebenaran tentang dirimu,” ucap Ruri yang membuat orang itu terkejut.


“Iya yang dibilang anak itu benar.”


“Mengaku saja!”


“Cepatlah mengaku dasar iblis!”


Ucap orang-orang yang ada di bar itu.


“Cihh ... Sialan kau!” ucap orang itu yang mengambil sebilah pisau dari balik saku jubahnya menggunakan giginya dan berlari cepat ke arah Ruri.


Ruri hanya tersenyum sambil berkata.


“Kaila!”


Sontak, Kaila langsung bergerak dan langsung berkata.


“Wind thrust ... !!!” ucap Kaila yang dibarengi dengan tangan kanannya yang menyentuh tubuh orang itu dan seketika saja orang tersebut langsung terhempas jauh sampai keujung bar.


Dengan cepat Anariel dan Gary langsung membawa pembunuh itu keluar Bar.


“Bagaimana kau tahu dia adalah pelakunya Ruri?” tanya Kaila.


“Sebenarnya aku hanya memancingnya saja, untung saja dia keluar kalau tidak aku bisa mati karena malu, hehe,” ucap Ruri yang dilanjutkan tawa kecilnya.


“Jadi, kau hanya mengandalkan keberuntungan?” tanya Kaila dengan tersenyum aneh.


“Yaa begitu lahh ... “


“Lalu bagaimana kau juga tahu, kalau aku bisa menggunakan sihir?” ucap Kaila penasaran.


“Yaa tentu saja kalau dipikirkan aneh sekali, kau bisa keliling dunia bebas tanpa terluka, kalau bukan sihir apalagi? Sedangkan kau tidak membawa senjata,” jelas Ruri.


“Ternyata kau cukup cerdas yaa,” ucap Kaila sambil menghela nafas.


“Kau hebat sekali bocah, bukan hanya menghilangkan tuduhan akan dirimu, tapi kau juga telah mengungkapkan pembunuh aslinya, baiklah untuk kali ini aku akan traktir kau, jadi jangan segan segan memesan yaa,” ucap pemilik bar itu sambil menepuk pundak Ruri.


“Ahh ... Iya, terima kasih,” ucap Ruri yang hanya bisa tersenyum.


...****************...


17:54 PM.


“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong untuk 2 kamar,” ucap Ruri sambil meraba-raba mencari uang di sakunya.


“Heh? Kok ada yang aneh ... “ ucap Ruri yang hanya merasakan ada dua koin saja.


Saat ia mengambilnya, alangkah terkejutnya Ruri yang melihat 1 keping perak kecil dan 1 keping perak besar.


“Hmm a-anuu ... Satu kamar harganya berapa ya?” tanya Ruri sambil tersenyum.


“Satu kamar 5 keping perak kecil, berarti dua kamar 10 keping perak kecil atau 1 koin perak besar,” katanya.


“Se-semahal itu?” ucap Ruri yang bercucuran keringat dingin.


“Kaila, apa kau punya uang?” tanya Ruri kepada Kaila yang berada di belakangnya.


“Hmm? Uang? sebentar ... Ahh maaf, sepertinya uang terakhirku untuk menginap di penginapan Vina, hehe,” ucapnya yang dilanjutkan dengan tawa kecil.


“He He He palamu! Uangku cuman tinggal 1 perak besar dan 1 perak kecil.”


“Memangnya harga kamarnya berapa?”


“2 kamar seharga 10 keping perak kecil!”


“Lalu kenapa? Masih lebih 1 perak kecil bukan?” tanya Kaila.


“Kau bodoh atau bagaimana? Memangnya kau tidak ingin sarapan besok pagi?”


"Kan kita bisa berburu hewan seperti biasa."


"Hei kau tahu, kita sedang berada di kota yang letaknya di hutan, jadi bakal sulit mencarinya, sekalinya ada mungkin sudah dihabisi, palingan hanya siluman saja yang tersisa, seperti tadi."


Kaila pun terkejut karena baru menyadarinya.


“Bagaimana ini ...?” ucap Ruri pelan sambil berpikir.


Ruri berpikir terus berpikir, sementara Kaila diam mematung sambil menundukkan kepalanya.


“A-anuu tuan, apa kau jadi memesan?”


“Baiklah, urusan sarapan besok biar aku pikirkan nanti saja,” ucap Ruri pasrah sambil berbalik badan untuk segera mengambil kuncinya dan memberikan uangnya.


Akan tetapi tiba-tiba saja Kaila memanggilnya.


“Ada apa?”


“Kalau pesan 1 kamar saja bukankah jadi cukup? A-aku tidak keberatan kok,” ucapnya pelan tanpa menatap Ruri.


“Ta-tapi ... “ ucap Ruri yang pipinya memerah.


“Ka-kalau kau merasa tidak nyaman tidak apa, aku bisa tidur di luar,” kata Kaila.


“Jangan!” ucap Ruri sambil menghela nafasnya agar menenangkan pikirannya untuk sementara dan berkata.


“Ba-baiklah apa kau yakin tidak apa-apa? Maksudku ... “ ucap Ruri belum sempat menyelesaikan perkataannya karena Kaila langsung menjawab.


“I-iya tidak apa-apa,” jawab Kaila yang wajahnya sudah memerah sejak awal.


Ruri berbalik kembali dan memesan sebuah kamar.


Sampai di kamar ...


“Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di kursi panjang itu saja,” ucap Ruri sambil berjalan.


Namun tiba-tiba saja Kaila yang berada di belakang Ruri langsung meraih baju Ruri sambil berkata.


“Jika kau menyuruhku tidur di kasur itu sendiri, aku jadi tidak enak terhadapmu, ini kan uangmu,” ucap Kaila pelan.


“Ta-tapi, pahamilah sedikit situasi sekarang ini,” ucap Ruri.


“A-aku paham kok, lagi pula, kasur itu terlalu besar untuk ditiduri satu orang, apapun yang terjadi nanti ... A-aku sudah siap kok,” ucapnya pelan.


“Kenapa suasana ini sangat canggung begini?! Padahal sebelumnya aku biasa biasa saja terhadap Kaila, tapi kenapa kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda?" gumam Ruri.


“H-hei, aku tidak mungkin melakukan itu terhadapmu,” ucap Ruri sambil mengalihkan pandangannya.


Ruri pun menghela nafas dan berkata.


“Baiklah baiklah, aku akan mengganti pakaianku dulu, apa kau menggunakan pakaian itu saat tidur?”


“Tentu saja tidak, aku juga ingin mengganti pakaianku ... T-tapi ... “ ucapnya pelan sambil menundukkan kepalanya.


“Tapi apa?” tanya Ruri tidak mengerti.


“Ada kau disini, kalau kau tidak keberatan bisakah kau diluar sebentar? Kalau kau keberatan ... tidak apa,” ucapnya pelan.


Ruri terkejut dan wajahnya kembali memerah.


“T-tentu saja, memangnya kau pikir aku orang yang seperti apa? Baiklah kalau sudah selesai panggil saja,” ucap Ruri yang dilanjutkan anggukan kepala Kaila.


Ruri keluar dan menutup pintunya.


“Heh? Ruri?” ucap seseorang.


“Anariel? Kau juga disini rupanya?” kata Ruri kepada orang yang menyapanya.


“Ana saja,” ucapnya sambil tersenyum.


“A-Ana ... “ ucap Ruri dengan senyum paksaannya.


“Iya begitu. Hmm ... Apa ini kamarmu?” kata Anariel.


“Yaa begitulah ... Ngomong-ngomong apa kau tinggal menetap disini?”


“Tidak, bukankah kau sudah mendengarnya? Kalau kami datang kesini hanya untuk melakukan misi, yaitu menangkap pembunuh itu.”


“Misi?”


“Aku seorang petualang,” ucapnya sambil mengacungkan dua jarinya.


“Pe-petualang?!” ucap Ruri terkejut.


“Jadi di dunia ini ada petualang juga? Sepertinya aku belum tau apa-apa tentang dunia ini,” gumam Ruri bersemangat.


“A-apa kau tahu petualang?” tanya Anariel saat mendapat respon Ruri yang terkejut.


“Aku tahu sedikit, semacam menyelesaikan permintaan lalu mendapatkan imbalan?” ucap Ruri.


“Yaahh ... Garis besarnya seperti itu,” kata Anariel sambil tersenyum.


“Lalu kau akan mendapatkan apa dari pembunuh itu?” tanya Ruri.


“1 koin perak besar dan 5 koin perak kecil, tenang saja karena kau membantu, aku akan membaginya nanti,” ucap Anariel sambil menepuk pundak Ruri.


“1 koin perak besar dan 5 koin perak kecil? Lumayan juga hanya sekedar menangkap seorang pembunuh,” pikir Ruri.


“Ada apa?” tanya Anariel yang melihat Ruri diam saja.


“Ahh tidak.”


“Ohh iya, dimana kamar Kaila?”


“Di-dia ... “ ucap Ruri sambil tersenyum kecut dan keringat dingin mulai menyelimutinya.


“Ruri, aku sudah selesai,” ucap Kaila sambil membuka pintu.


“Ahh gawat! ” gumam Ruri yang masih tersenyum.


“Bukankah? Kau bilang itu kamarmu ... ?” ucap Anariel sambil berpikir lalu berkata lagi.


“Ohh ... Maaf mengganggu,” ucap Anariel sambil berlalu pergi.


“TIDAK...!!! Bukan begitu?!” ucap Ruri lalu menjelaskan situasinya.


“Begitu rupanya.”


“Ana, bolehkah besok kami ikut denganmu untuk mendaftarkanku sebagai petualang? Aku sekarang ini sangat butuh sekali uangnya,” kata Ruri.


“Boleh saja kok, baiklah kau bisa bangun pagi kan?” tanya Anariel.


“Tentu saja, kau pikir aku anak kecil?” ucap Ruri sambil menghela nafas.


“Aku hanya memastikan saja, hehe,” ucap Anariel dengan tawa kecilnya.


“Untuk Kaila, bagaimana kalau dia tidur di kamarku saja?” tanya Anariel.


"Heh? Kau tak keberatan?"


"Tentu saja."


“Bagaimana Kaila? Kau mau?” tanya Ruri.


“Baiklah,” ucap Kaila sambil menganggukkan kepalanya.