Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 37 - Mencegah berlangsungnya Eksekusi



“Selamat tinggal ... Kakak ... “ ucap Dhafin yang mulai menangis terisak.


“Iya, selamat tinggal ... Dhafin,” ucap Kaila sambil tersenyum.


Dengan tangan gemetar Dhafin pun mulai mengayunkan pedangnya menuju bagian leher Kaila.


*Taaaaanng ...


Suara pedang itu membentur sebuah dinding protector.


“Siapa yang mengganggu?!” tanya Dhafin sambil menoleh kesana sini.


“Disana!” kata salah seorang sambil menunjuk kearah atas arena.


Terlihat seseorang laki-laki berambut putih ke perak-perakan melayang di atas arena, kemudian turun mendekati Dhafin.


“Ruri kenapa kau menggangguku membunuh-“ ucap Dhafin terpotong.


“Kau tidak akan bisa membunuhnya dengan kekuatan setengah setengahmu itu, dan juga ayunan pedangmu tadi itu tidak akan cukup untuk memotong lehernya,” ucap Ruri yang membuat Dhafin menundukkan kepalanya.


“Kenapa dia bisa keluar dari sel?!” ucap Sigh terkejut lalu mulai bergerak menuju arena bersama teman-temannya.


“Ruri? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau datang?! Kau bisa dalam bahaya kau tahu?! Apa kau akan menyianyiakan pengorbananku lagi?!“ ucap Kaila kesal.


“Apa dengan mengorbankanmu itu membuatku senang?” ucap Ruri cepat.


Kaila terkejut dan terdiam sejenak.


“Cepat tangkap orang itu!” seru Sigh sambil menarik pedangnya.


“Speed up movement, aktif,” ucap Ruri sambil bergerak cepat menuju Sigh dan teman-temannya kemudian memukul mereka semua dalam hitungan detik.


Saat Sigh dan teman-temannya telah berhasil dikalahkan, Ruri pun mulai membuka mulut dan berbicara.


“Biar kalian tidak ceroboh dalam melakukan pergerakan, aku akan melakukan sesuatu,” kata Ruri sambil mengangkat tangan kanannya keatas. Dan tiba-tiba saja tekanan udara diseluruh tempat itu menjadi sangat berat, akan tetapi hal itu hanya sebentar saja, setelah selesai Ruri kembali menurunkan tangannya.


“Apa yang dilakukan orang itu barusan?”


“Iya benar, aku merasakan mana yang luar biasa besar, dia pasti menggunakan sihir tingkat tinggi tapi tidak terjadi apa apa?”


“Apa hanya gertakan belaka?”


“Entahlah.”


Para warga langsung berbicara satu sama lain saling menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa yang kau lakukan tadi, hah?!” tanya Sigh sambil kembali bangkit.


“Kalian semua akan mengetahuinya sendiri,” ucap Ruri.


Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba saja daerah sekitar serasa menggelap dan membuat semua orang melihat kearah langit.


“A-apa itu?”


“Akankah tekanan mana tadi itu merupakan efek dari sihir ini?”


“Apa itu benar sihir dari orang itu?”


“Tidak mungkin. Ini bukan lagi kekuatan manusia, tapi ini adalah ... kekuatan dewa,” ucap salah seorang warga melihat benda putih sangat besar kira-kira seukuran setengah bulan tengah bergerak turun.


“Baiklah dengan begini pasti kalian akan mendengarkanku, tenang saja itu hanya sebongkah es, tidak lebih dan tidak kurang,” ucap Ruri.


Semuanya terdiam tak ada yang berani berkata-kata, mereka semua hanya terpaku melihat besarnya benda tepat berada di atas kepala mereka, dan mereka semua hanya bisa diam sambil menelan ludah hanya untuk menghilangkan rasa takut dan mencoba mendengarkan perkataan laki-laki berambut putih ke perak-perakan itu.


“Apa yang kalian lakukan disini?” ucap Ruri memulai.


“Kami melakukan eksekusi kepada iblis, Apa ada masalah?” ucap Sigh.


“Kenapa harus mengeksekusinya?”


“Tentu saja untuk mengurangi iblis di dunia ini!”


“Bukan itu yang kumaksudkan, dasar bodoh, yang kutanyakan adalah kesalahan apa yang diperbuatnya sampai-sampai ia harus dieksekusi?” kata Ruri menatap tajam Sigh.


“ .... “ Sigh terdiam.


“Ada apa? Kau tidak bisa menjawabnya? Baiklah akan kuberi pilihan jawaban, apa dia membunuh seseorang? Berbuat kerusakan? Atau melawan saat kalian menembakkinya dengan sihir?”


“Ta-tapi ... Dia yang mengendalikan para siluman untuk menyerang kota pagi tadi,” ucap salah seorang warga.


“Iya itu benar.” Ucap beberapa warga lain membenarkan hal itu.


“Biar kukatan, dari siapa kalian mendengar hal itu?” tanya Ruri sambil menatap ke seluruh warga.


“Iya benar aku yang mengatakannya! Lalu kenapa?! Sudah jelas iblis ini yang melakukannya, kalau bukan siapa lagi?” Kata Sigh yang mulai bercucuran keringat dingin.


“Kaila, apa kau memiliki mana?” tanya Ruri kepada Kaila.


“Ada, tapi hanya sedikit, karena tadi malam mana ku di serap habis oleh ... “ kata Kaila tidak melanjutkan perkataannya lalu melirik ke arah Sigh.


“A-aku hanya berjaga-jaga saja kau tahu, bisa saja dia melakukan itu tanpa mana!”


“Aku sudah mengatakannya, aku hanya setengah iblis, aku tak bisa mengendalikan siluman,” ucap Kaila pelan.


“Setengah iblis?”


“Apa maksudnya setengah iblis?”


“Apa wanita itu manusia juga?”


Orang-orang mulai bertanya satu sama lain.


“Tapi meski begitu dia iblis juga kan?” kata Sigh.


“Iya tapi apa salahnya?”


“Hidupnya sebagai setengah iblis adalah sebuah kesalahan!” kata Sigh yang mulai melantur.


“Iya benar itu, dia juga iblis, bisa kapan saja menyerang tanpa diketahui,” kata teman sigh membenarkan.


“Kalau begitu coba kalian bayangkan! Kalian hidup sebagai setengah iblis seperti dirinya, dan menginginkan kehidupan normal seperti manusia pada umumnya, kemudian tiba-tiba saja tanpa adanya peringatan dan kesalahan, diri kalian ditangkap dengan alasan 'kau hidup sebagai iblis', apa kalian akan menyerahkan diri begitu saja seperti yang dilakukan oleh wanita ini? Padahal ia tak bersalah dan ia tahu bahwa dirinya akan dieksekusi, tapi dia tetap tak melawan, setelah apa yang kalian tuduhkan padanya dan menyiksanya seperti tadi, APA KALIAN MASIH MENYEBUT DIRI KALIAN MANUSIA HAH?! JADI SIAPA YANG SEBENARNYA IBLIS DISINI?! APA KALIAN TIDAK MALU MENYEBUT DIRI KALIAN MANUSIA?! JAWAB AKU!!!” Kata Ruri dengan suara keras.


Semuanya terdiam dan menundukkan kepala setelah mendengar kata-kata Ruri itu. Semuanya tanpa sadar telah melupakan apa yang ada di atas kepala mereka.


“Ruri ... “ ucap Naila pelan yang matanya sudah berkaca-kaca.


Tiba-tiba saja dari arah penonton terdengar suara tepuk tangan. Dengan cepat Ruri menoleh.


“Itu sang Raja, gawat, aku baru menyadarinya!” kata para warga di kota itu yang mulai memberi hormat.


“Sang raja?” gumam Ruri.


“Aku sangat kagum akan ucapanmu tadi wahai anak muda,” ucapnya setelah menghentikkan tepukkan tangannya.


“Keberanianmu sungguh luar biasa, tapi bisakah kau melakukan sesuatu terhadap itu?” ucapnya sambil menunjuk ke atas.


“Waahh! Meteor es itu mulai mendekat!!!” ucap para warga mulai panik.


“Tenang saja kalian berdua akan aku lepaskan, jadi bisakah kau melakukannya? Kalau tidak kota ini ... Tidak, negri ini bisa lenyap lohh ... ” kata laki-laki paruhbaya itu sambil tersenyum kepada Ruri dan Kaila.


Ruri pun menghela nafasnya dan menggenggam tangannya dengan kuat.


Seketika saja bola es raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi halus seperti salju dan mulai berjatuhan di kota itu.


Semuanya terpukau melihat kejadian tak terduga itu.


“Kekuatan sebesar itu hancur dengan mudah? Apa dia dewa?” ucap salah seorang warga.


“Entahlahh ... Tapi mungkin saja.”


“Sigh dan teman-temannya, cepat kalian lepaskan rantai yang mengikat wanita itu!” perintahnya.


“Ba-baik!”


“Baiklah, wahai anak muda, siapa namamu?” tanya sang raja.


“Ruri Narendra,” ucap Ruri singkat sambil menatap orang itu.


“Dasar, berani beraninya kau bersikap tidak sopan kepada baginda raja!” ucap Sigh sambil menarik pedangnya.


“Hentikan Sigh, tidak apa.”


“Ba-baiklah,” kata Sigh sambil mengurungkan kembali pedangnya.


“Kalau begitu, Ruri, sebelum kalian pergi, maukah kau mampir sebentar ke istanaku? Aku ingin menyambut dan sekalian membicarakan sesuatu denganmu, tentu saja kau boleh mengajak wanita itu juga.” Tawarnya.


Ruri menatap Kaila sebentar, Kaila hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, aku terima tawarannya, terima kasih,” ucap Ruri sambil menundukkan kepalanya.


“Baiklah ayo pergi sekarang!” ucap laki-laki paruhbaya itu sambil berlalu pergi keluar dari arena.


“Ayo Kaila!” ucap Ruri sambil menyodorkan tangan kanannya.


“Hmm,” kata Kaila sambil tersenyum lalu meraih tangan kanan Ruri.