Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 7 - Ujian



06:08 AM.


"Kamu bangun pagi sekali Clarissa," ucap Ruri yang baru bangun tidur.


"Ahh tidak, aku juga baru bangun tadi, ini saja aku baru selesai mandi," ucap Clarissa yang sibuk merapihkan rambutnya.


"Ohh begitu, baiklah," ucap Ruri yang matanya masih setengah terbuka sambil berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar itu.


Ruri pun membuka pintu kamar mandi dan segera masuk lalu menutup pintunya.


*Ckreeeek...


"Hei Ruri," ucap Clarissa sambil menoleh.


Karena tidak melihat Ruri, Clarissa pun terkejut lalu menoleh kearah kamar mandi.


"Jangan jangan ... " gumam Clarissa.


"RURIII...!!! DI DALAM MASIH ADA ... " ucap Clarissa agak keras sampai mengagetkan Dhafin yang masih tertidur.


Mendengar suara Clarissa, Ruri pun mengucak-ngucak matanya dan terlihat Naila yang sedang mandi.


"Heh? Naila kenapa kau ada di sini?" ucap Ruri yang masih belum mengetahui apa yang sedang terjadi.


Naila hanya mencoba diam, mukanya sudah berwarna merah padam karena ia menahan malu dan Naila pun menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangan.


Setelah Ruri sadar akan apa yang terjadi.


"Heh? Ma-maaf aku tidak tahu kalau kau berada di dalam," ucap Ruri sambil mencoba berusaha tenang.


"Jadi kumohon kau jangan ... " ucap Ruri terpotong karena Naila berteriak dan mendorong Ruri menggunakan sihir angin sampai mendobrak pintu hingga keluar dari kamar mandi.


Dengan cepat Naila langsung menutup kamar mandi.


"Aduduhhh ... " ucap Ruri kesakitan.


Baru sempat berdiri, Ruri pun berniat kembali ke ranjangnya. Akan tetapi ...


"KENAPA KAU TIDAK LANGSUNG KELUAR, DASAR BODOH, MESUM...?!!" ucap Clarissa sambil mendorong Ruri dengan sihir anginnya sampai keluar jendela.


*Bruuuukk...


Ruri terjatuh dari lantai 2


"Hei Ruri, sekarang bukan waktunya latihan untuk melompat dari atas gedung," ucap Pak Nathan yang melihat Ruri jatuh dari atas dan tepat berada di depannya.


"Sepertinya aku akan masuk UKS lagi," ucap Ruri yang tergeletak sambil tersenyum.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Pak Nathan melihat Ruri.


"Tidak apa-apa, aku akan tidur sebentar lagi Pak," ucap Ruri dan langsung tidak sadarkan diri.


...****************...


"Aduduhhh ... Pagi ini adalah pagi yang sangat buruk buatku," ucap Ruri saat menuju ke kelas sambil memegangi punggungnya.


"Hmmph ... Salah sendiri, kenapa kamu langsung masuk begitu saja," ucap Clarissa sambil berpaling.


"Karena aku tidak tahu kalau di dalam ada Naila," ucap Ruri pelan.


Ruri tersenyum dan menatap keluar jendela.


"Mungkin dunia ini lebih baik, dari pada kehidupanku yang sebelumnya," gumam Ruri.


"Ada apa Ruri?" tanya Dhafin.


"Ahh tidak, ayo kita ke kelas!"


Kelas ...


"Baiklah kita akan memulai pelajarannya, tapi, sebelum kita mulai, saya akan memberi tahu bahwa nanti setelah jam makan siang akan ada ujian praktek melalui duel kelompok," ucap Pak Nathan setelah masuk kelas.


"Pak, saya kan baru masuk, apa aku harus ikut praktek juga?" tanya Ruri.


"Itu salah kau, kenapa kemarin kemarin hanya tidur saja," ucap Pak Nathan.


"I-itu bukan salahku ya," ucap Ruri pelan sambil tersenyum jengkel.


"Ahh tidak apa Ruri, lagi juga kau belum menggerakan tubuhmu setelah kejadian itu, lagi juga prakteknya selesai jam makan siang, jadi ada waktu buat bersiap," ucap Naila yang berada di sebelahnya.


"Ahh iya, sepertinya kau benar," ucap Ruri kembali tersenyum.


"Baiklah ada pertanyaan?" tanya Pak Nathan.


"Saya," ucap Ruri mengangkat tangannya.


"Ada apa?"


"Yang dimaksud dengan duel berkelompok, itu bagaimana Pak? Setahu aku yang namanya duel itu hanya 1 vs 1" tanya Ruri tidak mengerti.


"Duel berkelompok itu mirip seperti duel biasa, hanya saja duel berkelompok dilakukan oleh 3-4 orang per timnya," jelas Pak Nathan.


"Tim? Ahh jangan jangan teman sekamarku, seperti yang dibilang Dhafin," gumam Ruri melirik kearah Dhafin dan Clarissa yang duduk di meja lain.


"Baiklah ada pertanyaan lagi? Kalau tidak, aku akan membuat susunannya," ucap Pak Nathan sambil menulis sesuatu di papan tulis sebagai berikut.



Tim VII VS Tim II


Tim III VS Tim V


Tim IV VS Tim VI


[1] VS Tim I


[2] VS [3]


[1.4] VS [2.3]



Keterangan angka :


- [1] VS Tim I \= [1.4]


- [2] VS [3] \= [2.3]


Keterangan poin :


Peringkat 1 \= 5000 poin


Peringkat 2 \= 4000 poin


Peringkat 3 \= 3000 poin


Peringkat 4 \= 2000 poin


Peringkat 5 \= 1000 poin


Peringkat 6 \= 750 poin


Peringkat 7 \= 500 poin


"WAAAAHHHHH.....!!!" ucap seisi kelas berbarengan.


"Ada yang tidak paham tentang sesuatu yang ada disini?" ucap Pak Nathan sambil memegang papan tulis.


"Saya Pak," ucap laki-laki yang duduk di depan.


"Ada apa?"


"Yang melawan tim I siapa Pak?" tanya laki-laki itu.


"Baiklah akan kujelaskan secara rinci, Tim VII vs Tim II pemenangnya akan menjadi angka 1 untuk melawan Tim I sedangkan Tim III vs Tim V pemenangnya akan menjadi angka 2 untuk melawan angka 3 dari pemenang antara Tim IV vs VI," jelas Pak Nathan.


"Jadi, intinya pemenangnya akan mendapatkan nomer untuk melawan tim selanjutnya? Begitu pak?" tanya laki-laki tadi.


"Iya benar," kata Pak Nathan singkat.


"Ini seperti champion saja," gumam Ruri tersenyum.


"Ada pertanyaan lagi?" tanya Pak Nathan sekali lagi.


" .... "


"Baiklah kalau tidak ada, kita akan mulai pelajarannya," ucap Pak Nathan sambil membuka buku.


...****************...


"Hei, kita tim berapa?" tanya Ruri sambil memakan makanannya.


"Kita Tim III," ucap Clarissa.


"Jadi lawan pertama kita adalah Tim V kah?" ucap Ruri.


"Heh, setahuku Tim V itu ... " ucap Dhafin sambil melirik ke sebuah meja di ujung sana, yang terdapat empat orang yang sibuk berdiskusi.


"Ada apa dengan Tim V? Apa mereka kuat?" tanya Ruri.


"Tidak, justru sebaliknya," ucap Clarissa.


"Mereka biasanya bertarung tanpa berpikir, jadi, asal langsung serang saja," ucap Dhafin sambil tersenyum.


"Tapi menurutku, sepertinya mereka akan serius," ucap Ruri.


"Tentu saja mereka akan serius melihat besarnya poin yang akan di dapatnya jika menang," ucap Clarissa.


"Memangnya 5000 poin itu sebanyak apa?" kata Ruri tidak mengerti.


"Hah...?! " ucap mereka bertiga terkejut sedangkan Ruri hanya tersenyum tidak tau apa-apa.


"5000 poin itu setara dengan menang duel melawan Middle Class," jelas Clarissa.


"Ahh begitu rupanya pantas saja semua terlihat bersemangat," kata Ruri sambil tersenyum.


"Baiklah, apa kita mau berlatih terlebih dahulu?" tanya Ruri.


"Apa sempat?" ucap Dhafin.


"Kalau tidak sempat, aku akan bertanya tentang kemampuan sihir kalian masing-masing," kata Ruri.


"Kemampuan sihir?" ucap mereka berbarengan.


"Iya," kata Ruri sambil tersenyum.


Arena ...


"Baiklah, kita akan mulai ujiannya, untuk duel pertama untuk Tim VII dan Tim II tetap berada di arena, sisanya, kalian menunggu di tempat penonton," kata Pak Nathan kepada murid-murid yang berkumpul di tengah arena.


"Ohh iya dan satu lagi, dalam duel kelompok ini, peraturannya sama seperti duel biasa, hanya saja, kalian harus membuat seluruh anggota kelompok menyerah atau tidak sadarkan diri, jika masih ada yang belum menyerah walaupun tersisa seorang diri, pertarungan masih terus dilanjutkan, baiklah untuk Tim VII dan Tim II silahkan menuju sisi masing-masing," ucap Pak Nathan sambil berjalan menuju tengah arena.


"Baiklah, siap mulai," ucap Pak Nathan sambil berpindah tempat ke sisi penonton.


Dari kedua tim mulai membaca mantra dan ada yang berlari memutar untuk menyerang dari arah lain.


Pertarungan berlanjut selama 18 menit dan akhirnya orang terakhir Tim II dibuat menyerah oleh seseorang dari Tim VII.


Seketika penonton pun bersorak.


"Hei Dhafin apa kau bisa melakukannya seperti itu?" ucap Clarissa sambil tersenyum kepada Dhafin yang duduk disebelahnya.


"Hei tadi itu mudah sekali, Tim II seperti bertarung sendiri-sendiri," ucap Dhafin kepada Clarissa.


"Iya benar apa kata Dhafin, serangan dari Tim II tidak karuan dan mereka juga tidak bekerja sama, lain dengan Tim VII yang kerjasamanya sangat kompak," kata Ruri.


"Baiklah, ingat ini, jangan maju sendirian, kita disini bersama-sama," ucap Clarissa.


"Iya tentu saja," ucap Dhafin.


"Baiklah, ayo semua sekarang giliran kita!" ucap Naila.


"Hmm," ucap mereka bertiga sambil melompat turun ke arena.


"Baiklah sekarang waktunya untuk duel yang kedua, Tim III dan Tim V silahkan menempati sisi kalian masing-masing, siap mulai," ucap Pak Nathan sambil berpindah tempat ke sisi penonton.


"Dhafin," ucap Clarissa.


"Iya aku tahu, Fire Ball...!!! " ucap Dhafin menembakkan bola api besar mengarah langsung ke Tim V.


"Semuanya menghindar," ucap laki-laki dari Tim V,


Seketika Ruri terkejut melihat Dhafin mengeluarkan bola api sebesar itu.


"Dhafin, sejak kapan?" ucap Ruri terkejut.


"Akhirnya kami sedikit mengerti tentang penjelasanmu waktu itu, tapi kami hanya bisa memperkuatnya saja," ucap Clarissa sambil tersenyum.


"Iya itu benar, kami juga tidak akan kalah darimu Ruri," ucap Dhafin sambil menembakan bola api secara terus menerus.


"Wahh hebat, baiklah aku juga akan menyerang," ucap Ruri sambil membuat tongkat es nya dalam sekejap.


"Clarissa, Dhafin, tolong urus 2 perempuan itu, aku dan Naila akan mengurus laki-laki nya," ucap Ruri.


"Baiklah," ucap mereka berbarengan.


"Naila bantu aku," ucap Ruri sambil berlari.


"Iya,"


Karena terkejut melihat Ruri yang langsung berlari kearah mereka, lantas salah seorang dari laki-laki itu menembakkan bola api kearah Ruri.


Dengan mudah Ruri menebasnya lalu mengatakan.


"Naila, sekarang!" kata Ruri sambil melompat tinggi melewati kedua laki-laki itu lalu melempar tongkat es nya langsung mengarah ke mereka berdua, namun tongkat itu tidak mengenainya melainkan tertancap di lantai karena mereka berdua hanya menghindarinya.


Dengan segera kedua laki-laki itu langsung saling berpaling satu sama lain, untuk menjaga Ruri dan Naila.


"Water source shot...!!!" ucap Naila yang menembakan air dalam jumlah besar yang langsung mengarah ke mereka berdua.


Laki-laki yang menghadap Naila pun langsung segera bertindak.


"Fire Blaze...!!! " ucapnya sambil menembakkan api dengan jumlah besar pula.


Dengan cepat api dan air itu saling beradu dan menghasilkan asap putih seperti kabut yang melayang keatas.


Sementara Naila dan Laki-laki itu saling menekankan air dan apinya agar tidak terlepas dari masing-masing tekanan mereka.


Melihat itu, Ruri tidak tinggal diam dan langsung berlari kesamping lalu menembakkan beberapa bola air mengarah ke kaki mereka, karena laki-laki itu tidak mengerti, ia pun menghiraukannya dan segera menyerang Ruri.


"Lightning Arrow...!!!" katanya sambil menembakkan 3 buah panah listrik langsung mengarah ke Ruri.


Dengan cepat Ruri mengatakan.


"Wind Slash...!!!" ucap Ruri yang melontarkan sebuah tebasan angin.


Seketika panah listrik dan angin itu saling bertabrakan yang menghasilkan ledakan yang cukup kuat.


Karena ledakan itu, laki-laki yang menahan serangan Naila menjadi terganggu dan tak kuat menahan tekanan air dari Naila.


Dengan cepat sihir air Naila mengenai mereka berdua dan membuatnya menjadi basah kuyup.


"Heh? kukira aku akan langsung mati rasa ketika terkena air ini, ternyata hanya air biasa," ucap salah satu lelaki itu sambil tersenyum.


"Memang itu hanya air biasa, tapi..." ucap Ruri menjulurkan tangannya dan mengatakan.


"Freeze...!!!" ucap Ruri sambil mengepalkan tangannya.


Seketika kedua laki-laki itu menjadi beku hanya dalam beberapa saat


Karena terkejut salah seorang dari laki-laki itupun berkata.


"Ruri bagaimana bisa? Padahal yang kau bekukan itu sihir air milik Naila dan juga kau tidak menyentuh airnya," ucapnya kebingungan karena dapat membekukan air yang ada di tubuhnya.


Ruri hanya tersenyum sambil menunjuk ke arah tongkat es nya yang masih tegak berdiri menyentuh air yang diinjak oleh mereka berdua.


"Ahh begitu rupanya, baiklah aku menyerah," katanya sambil tersenyum pasrah.


"Iya aku juga menyerah, rasanya menang dari seseorang yang sudah mengalahkan Arya memang mustahil," ucap laki-laki di sebelahnya yang juga diam membeku.


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika mau mencoba" kata Ruri sambil tersenyum.


Mereka hanya tersenyum dan beberapa detik kemudian, jam mereka berdua memunculkan sebuah kata "Eliminated" dan dipindahkan ke sisi penonton.


"Ruri kau berhasil," ucap Naila menghampiri Ruri.


"Itu juga berkat kau Naila," ucap Ruri yang membuat Naila tersipu.


"Ahh t-tidak, aku hanya..." ucap Naila terpotong.


"Maaf jika aku mengganggu kalian, bisakah kalian membantu kami?" ucap Dhafin yang melompat kesana kemari menghindari Fire Arrow.


"Hah? Mereka sudah selesai?" tanya Clarissa terkejut.


"Ahh iya aku lupa kalau masih ada kalian, Naila beristirahatlah, aku akan mengurus sisanya" ucap Ruri sambil mengambil kembali tongkat es nya.


"Tapi aku belum lelah, bahkan aku hanya baru menggunakan satu sihir," ucap Naila.


"Gunakan kemampuanmu untuk pertarungan berikutnya," ucap Ruri sambil pergi berlari membantu Clarissa dan Dhafin.


"Baiklah pertandingan kedua selesai," ucap Pak Nathan setelah kedua perempuan dari tim V menyerah.


"Kita berhasil...!!! " ucap Dhafin kegirangan.


"Hei bukankah terlalu cepat untuk merayakannya?" ucap Clarissa.


"Iya, ini masih duel pertama kita," ucap Ruri sambil tersenyum.


"Ahh sudah sudah, ayo kita kembali ke tempat duduk kita!" ucap Naila.


Mereka berempat pun kembali ke sisi penonton, sedangkan ujian terus berlanjut.


Sampai ke pertarungan ketiga dan keempat pun selesai yang dimenangkan oleh Tim IV dan Tim I.


"Orang itu hebat sekali," ucap Ruri menunjuk kearah seorang laki-laki dari Tim I yang baru saja memenangkan duel keempat.


"Ohh Garfiel, tentu saja, dia itu ranking 1 di kelas kita," kata Dhafin.


"Hmm pantas saja," ucap Ruri.


"Ruri kau harus berhati-hati dengannya bisa saja dia lebih kuat dari Arya," kata Clarissa.


"Kenapa kamu bisa berkata begitu." tanya Ruri.


"Entahlah aku cuman punya firasat seperti itu, aku juga belum pernah menang melawannya," ucap Clarissa.


"Itu karena kau payah Kak," ejek Dhafin.


"Hei, kau saja belum pernah menang melawanku," ucap Clarissa.


"Itu karena aku hanya mengalah saja," balas Dhafin.


"Heleh alasan kau saja."


Ruri hanya diam menatap laki-laki itu yang bernama Garfiel.


"Sepertinya yang dibilang Clarissa benar, dia sepertinya lebih kuat dari Arya, " pikir Ruri.


Terlihat Garfiel yang masih di tengah arena melihat kearah Ruri dan berkata.


"Semoga kita bertemu di akhir duel ini, Ruri," ucap Garfiel sambil tersenyum.


Ruri terkejut dan kembali tersenyum.


"Iya semoga saja," kata Ruri.