Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 30 - Menjadi Petualang Sementara



21:25 PM.


“Kaila. Kau dan Ruri sebenarnya ingin pergi kemana?” tanya Anariel.


“Entahlah, kami hanya ingin pergi ke arah barat saja.”


“Barat? Apa tujuan kalian?”


“Mencari teman Ruri yang mungkin tak akan pernah kami temukan,” kata Kaila yang memelankan suaranya lalu menundukkan kepalanya.


“Kalian hanya mencari seseorang? Dan juga kenapa kau begitu yakin kalau kalian tidak akan pernah menemukannya?” tanya Anariel kebingungan.


“Hanya firasat saja,” ucap Kaila sambil mengalihkan pandangannya ke jendela.


" .... "


Anariel terdiam, tidak berani ingin berkata apa-apa lagi, karena ia takut menyinggung sesuatu yang tak diketahuinya.


“Takdir terkadang bisa sangat membahagiakan dan kadang juga bisa sangat mengejamkan,” ucap Kaila yang masih menatap langit hitam diluar sana.


“K-kau benar ... “ timpal Anariel.


...****************...


“Baiklah ayo kita pergi!” ucap Anariel.


Mereka berempat pun pergi menuju kota sebelah, letaknya tak jauh dari kota sebelumnya, jadi diperjalanan, mereka hanya butuh 15 menit untuk sampai di sana.


“Heh? Sudah sampai? Cepat sekali?!” ucap Ruri sedikit terkejut.


“Hmm? Memangnya aku belum bilang?” tanya Anariel.


“Tentu saja belum. Dan kupikir karena tadi malam kau menginap di penginapan, jadi aku mengiranya tempatnya cukup jauh,” ucap Ruri.


“Ahh tidak, itu karena aku hanya malas keluar malam di kota hutan seperti itu, sedikit sedikit pasti akan bertemu siluman yang berkeliaran, dan itu akan merepotkan,” jelas Anariel.


“Lalu kenapa kau menginap seharga 1 koin perak besar hanya dengan imbalan dari misi 1 koin perak besar dan 5 koin perak kecil? Bukankah hasilnya jadi kau dapat 5 koin perak kecil saja?” ucap Ruri tidak mengerti apa yang dipikirkan elf itu.


“Apa maksudmu seharga 1 koin perak besar? Di penginapan tadi aku hanya mengeluarkan 4 koin tembaga besar, itu untuk 2 kamar pula,” sambung Gary.


“H-hah? 2 kamar hanya 2 koin perak kecil?! Lalu kenapa aku satu kamar bisa seharga 5 koin perak kecil?!” kata Ruri terkejut.


“Ohh itu mungkin karena kau memesan di kamar yang bagus, karena malam hari jarang sekali ada kamar standar yang masih kosong, jadi pasrah saja,” jelas Anariel dengan senyumnya.


“Ahh payah sekali,” gerutu Ruri.


“Apa kau mau langsung mendaftar atau mau keliling dulu?” tanya Anariel.


“Langsung saja, biar sekalian tidak lama-lama, kalau sudah lapar lagi repot juga. Kaila, kalau kau mau, kau bisa menunggu sambil berkeliling-“ ucap Ruri yang belum menyelesaikan perkataannya karena Kaila menggelengkan kepalanya lalu berkata.


“Aku juga akan mendaftar untuk membantumu, tidak enak juga kalau hanya kau yang bekerja.”


“Hmm baiklah, Ana, apa pendaftarannya bayar?” tanya Ruri.


“Iya, tapi hanya 3 koin perak kecil per-orang.”


“Pas pasan banget duitnya ... ” gumam Ruri.


Mereka berempat masuk kedalam kota dan menuju ke sebuah bangunan yang cukup besar.


“Dimana tempatnya?” tanya Ruri.


“Tempat pendaftaran di lantai 2. Kalau kau mau, kau boleh langsung kesana saja, aku ingin mengambil jatahku dulu, hehe,” ucap Anariel sambil menunjukkan kertas permintaan yang kemarin ia kerjakan.


“Biar aku saja yang mengambilnya, kau temani mereka saja Ana,” ucap Gary.


“Heh tumben sekali ... Apa kepala kau terbentur sebelum kita kembali?” ucap Anariel kepada rekannya itu.


“Apa kau sudah bosan hidup?” ucap Gary sambil menarik sedikit pedangnya.


“Bercanda ... Bercanda ... “ kata Anariel sambil menepuk pundak Gary.


“Ayo pergi Rur ... “ ucap Anariel sambil menoleh.


“Heh? Kemana perginya mereka berdua?” kata Anariel yang tidak melihat Ruri dan Kaila.


“Mereka sudah ke atas,” ucap Gary sambil berlalu.


“Cepat sekali, lebih baik aku tunggu sini saja,” ucap Anariel sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian ...


“Heh? Sudah?” tanya Anariel.


Jawab Ruri dan Kaila hanya dengan anggukkan kepala, lalu pergi untuk memilih permintaan yang terpajang, Ruri sempat berbisik kepada Kaila sebelum memilih salah satu dari permintaan-permintaan itu.


“Hmm bagaimana kalau kau mencari misi yang mudah dulu, seperti ... H-HEH?!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” ucap Anariel yang terhenti kemudian terkejut karena Ruri dan Kaila mengambil permintaan satu per satu seperti memungut kerikil.


“Tentu saja mengambil permintaan,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Jangan menjawab dengan muka seperti seolah tidak ada apa-apa?!” ucap Anariel yang melihat kesana kemari karena orang orang di guild itu terpusat perhatiannya kepada Ruri dan Kaila.


“Ruri, sepertinya ... Sudah tidak ada lagi yang seperti kau katakan,” ucap Kaila yang melihat kesana sini di papan permintaan.


“Sepertinya kau benar, aku hanya dapat 4. Kau dapat berapa?”


“Aku dapat 3 saja,” kata Kaila sambil menunjukkan kertasnya.


“Hey, ini bukan permainan untuk bersaing banyak-banyakan!” ucap Anariel dengan muka datar.


“Aku tahu kok, ayo kita konfirmasi dan pergi,” ucap Ruri.


“Terserah kau saja itupun kalau disetujui oleh guild.”


Beberapa saat kemudian ...


“Apa maksudmu tidak boleh? Bukankah yang lebih penting aku sanggup menyelesaikannya?” tanya Ruri.


“Tentu saja tidak, maksimal permintaan harus diselesaikan satu per satu, tidak bisa sekaligus, dan juga karena kalian masih rookie,” katanya.


“Tapi bolak balik lebih merepotkan, jadi kumohon boleh ya?” kata Ruri lagi.


“Sudahlah, menyerah saja, walaupun aku akui kekuatanmu, tapi menyelesaikan permintaan sebanyak itu petualang peringkat atas juga mungkin kesulitan,” jelas Gary.


“Begini saja, apa kau punya alasan yang kuat untuk meyakinkan bahwa kau sanggup menyelesaikan itu semua sekaligus?” kata Anariel.


“Kaila tunjukkan,” ucap Ruri untuk mengisyaratkan Kaila agar menunjukkan kertas permintaan ditangannya.


“Lihatlah, kami tidak asal ambil seperti yang kalian pikirkan, kami hanya mengambil permintaan untuk membasmi siluman saja,” jelas Ruri.


“Jadi? Memangnya kalau membasmi siluman kenapa?” kata orang dari guild itu tidak mengerti.


“Kalau membasmi siluman saja akan mudah dan tidak perlu memutar otak untuk berpikir panjang,” kata Ruri cepat.


Anariel menghela nafasnya lalu berbisik kepada orang dari guild itu.


Setelah beberapa saat kemudian mereka berbisik, orang dari guild itu pun berkata.


“Tapi ... “ ucapnya sambil melirik ke arah Ruri karena masih ragu.


“Tenang saja, masalah kedepannya biar aku yang akan bertanggung jawab,” kata Anariel meyakinkan.


“Baiklah, semoga berhasil.”


“Ayo Kaila kita pergi!” ucap Ruri.


“Baiklah.”


“Hei kalian tunggu ... “ ucap Anariel melihat Ruri dan Kaila sudah berlari keluar.


“Hadehh ... Menyusahkan saja.”


“Heh? Ana apa kau ingin membantu?” tanya Ruri saat melihat Anariel dan Gary mengikutinya.


“Tentu saja! Apa aku akan membiarkan kalian setelah melakukan hal tadi?!”


“Tapi sepertinya aku akan pergi berdua saja, jadi bagaimana kalau kau mengambil permintaan untuk kau dan Gary saja? Aku janji akan kembali saat waktu makan siang untuk membuktikan kalau aku baik-baik saja,” ucap Ruri.


“Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?” kata Anariel dengan muka datar.


“Tentu saja, aku tidak ingin merepotkan kalian lebih lama lagi,” kata Ruri sambil tersenyum.


“Ta-tapi ... “


“Tenang saja jangan khawatir, aku bisa menanganinya, lalu Kaila,” ucap Ruri kepada Anariel lalu berkata kepada Kaila.


“Hmm?”


“Kalau kau bisa menggunakan sihir angin, berarti kau pasti juga bisa terbang kan?”


“Sepertinya memang percuma menyembunyikannya. Iya aku bisa, kau ingin menyelesaikan seluruh permintaan ini dengan cepat, niatmu pasti begitu bukan?” kata Kaila.


“Tepat, ayo pergi, Kaila. Anariel aku duluan ya,” kata Ruri langsung terbang menjauh.


“Di-dia beneran bisa terbang?” ucap Gary dan Anariel tidak percaya.


“Sampai bertemu saat makan siang nanti, Anariel,” ucap Kaila melambaikan tangannya sebentar lalu pergi mengejar Ruri.


“Apa kau yakin tidak apa-apa kalau kita membiarkan mereka?” ucap Gary.


“Mungkin saja, semoga tidak ada apa-apa, ayo kita pergi mengambil permintaan juga ... ” ucap Anariel pelan dengan nada pasrah.


“Ba-baiklah ... “


4 Jam kemudian ...


“Ruri dan Kaila belum juga kembali, padahal ini sudah waktunya makan siang,” ucap Anariel.


“Kau khawatir?” ucap Gary.


“Te-tentu saja tidak.”


“Huuhh ... Padahal awalnya kau yakin yakin saja. Tenang saja, mungkin saja mereka dalam perjalanan kembali setelah menyelesaikan salah satu permintaan. Mungkin memang benar, Ruri tidak dapat menyelesaikan salah satu permintaan dengan mudah, lebih lebih lagi karena dia anak baru,” kata Gary sambil meraih gelas yang sudah dipesannya lalu meneguknya.


“Aku harap mereka baik-baik saja,” ucap Anariel.


Tidak lama kemudian 2 orang masuk, seorang pria dan wanita.


“Padahal sedikit lagi, tapi ... “ kata pria itu.


“Hei, bersabarlah sedikit, apa kau lupa dengan janjimu untuk bertemu dengan mereka saat jam makan siang?” timpal wanita itu.


“Heh? Suara itu ... “ ucap Anariel lalu membalikkan badannya dan menghela nafas.


“Kaila, Ruri, disini!” seru Anariel.


Kedua orang itu pun duduk semeja dengan Anariel dan Gary.


“Ada apa kalian berdebat begitu? Apa kalian tidak bisa menyelesaikan permintaannya?” tanya Gary sambil tersenyum.


“Iya. Ternyata siluman yang harus dibasmi banyak sekali, sampai-sampai ... “ ucap Ruri terpotong karena tiba-tiba Kaila menutup mulut Ruri.


“Lebih baik kau diam saja, dari pada menimbulkan kesalahpahaman,” kata Kaila pelan.


“Sampai-sampai? Kalian kesulitan? Sudah kuduga, permintaan ini tidak mudah untuk diselesaikan begitu saja,” kata Gary.


“Jangan begitu Gary, bagaimana? Apa kalian ingin kami bantu menyelesaikannya?” ucap Anariel.


“Ahh ... Tidak usah Ana. Sudah kuduga yang kau ucapkan membuat kesalahpahaman,” ucap Kaila sambil melirik ke arah Ruri.


“Hah? Maksudmu?”


“Sebenarnya ... “ ucap Kaila sambil menunjukkan 6 buah kertas permintaan.


“I-ini ...?!” ucap Anariel dan Gary terkejut.


“KALIAN SUDAH MENYELESAIKAN 6 PERMINTAAN INI HANYA DENGAN WAKTU 4 JAM?!” ucap Anariel dengan suara tinggi.


“Be-begitulah ... “ ucap Kaila pelan sambil tersenyum karena terkejut mendapat respon seperti itu.


“LALU KENAPA KAU TERLIHAT MURUNG, HAH?!” ucap Gary kepada Ruri.


“Begini ... Sebenarnya ... “ ucap Kaila tersenyum kecut lalu mulai menceritakannya.


Flashback on ...


“Terima kasih pak,” ucap Kaila setelah bapak itu mentandatangani kertas permintaan.


“Ahh ... Tidak, harusnya kami yang berterima kasih, karena kalian berdua sudah menyelamatkan desa ini, bukan hanya itu kalian juga sudah membasmi siluman yang bersarang di dekat hutan itu.”


“Itu sudah menjadi tugas kami, jadi bagaimana dengan stealth crystal para siluman itu pak?” tanya Kaila.


“Kalian ambil saja sebagai bonus,” ucap bapak itu.


“Wahh ... Terima kasih banyak Pak, baiklah kami pergi dulu.”


“Ayo Kaila kita tinggal ke satu tempat lagi!” ucap Ruri bersemangat.


“Hei tunggu sebentar, apa kau lupa?” kata Kaila.


“Lupa apa?”


Kaila hanya menghela nafas lalu berkata.


“Ini sudah hampir waktu makan siang, kau kan sudah janji ingin bertemu mereka saat jam makan siang.”


“Tapi, tanggung, tinggal 1 lagi, ya? Kumohon!”


“Tidak! Aku tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkan kita karena datang terlambat,” ucap Kaila sambil menarik baju Ruri.


Flashback off ...


“Jadi alasan kau murung begitu karena ... ?!” ucap Gary geram.


“Karena aku tidak bisa menyelesaikan semuanya sebelum waktu makan siang,” ucap Ruri menundukkan kepalanya.


“Biarkan aku membunuh orang ini?!” ucap Gary sambil menarik pedangnya.


“Tahan Gary, jangan terbawa suasana!” ucap Anariel sambil menahan Gary dengan memegangi kedua lengannya.


“Dia bicara seperti itu, aku merasa dia seperti sedang mengejek kita?!”


“Aku tahu tapi tenanglah sedikit ... “ kata Anariel.


Beberapa saat kemudian ...


“Jadi, seberapa banyak stealth crystal yang kau dapat dari yang dianggap sebagai bonus itu?” tanya Anariel.


“Ada di dalam tas ku,” ucap Ruri sambil mengambil tasnya, kemudian menumpahkan semua stealth crystal yang ada di dalam tasnya ke atas meja.


Seketika mereka terkejut, tidak, semua orang yang berada di guild itu terkejut melihat tumpukkan stealth crystal di atas meja.


“Kalian mendapatkan segini banyaknya?!” ucap Gary tidak percaya.


“Yahh ... Ini masih seperlima dari semua stealth crystal yang kami dapatkan dari seluruh permintaan yang sudah kami selesaikan,” kata Ruri.


“Se-seperlima?!” ucap Gary dan Anariel berbarengan.