Andre'S Story In The Magical World

Andre'S Story In The Magical World
Chapter 59 - Perjanjian Perdamaian & ONE



Semuanya langsung terdiam dan masing-masing bergumam.


“A-anak ini ... “ Lucifer


“Laki-laki ini ... “ Azazel


“Manusia ini ... “ Behemoth


“Ruri, dia ... “ Olivia


“Dia tidak asal bicara!”


“ .... “


“Baiklah, bisa kau jelaskan tentang isi dari perdamaian itu, Ruri Narendra? Kami tak bisa setuju begitu saja jika belum mengetahui apa-apa,” tanya Azazel.


“Iya aku mengerti. Perdamaian yang kumaksudkan ini bukan hanya menghentikan segala macam peperangan antara manusia dan iblis. “


“Lalu apa lagi selain itu?”


“Pembagian wilayah ... Tidak akan ada lagi. Kita akan hidup bersama di dunia ini.”


“Apa rakyat akan setuju dengan hal ini? Mungkin yang keberatan tentang ini bukan hanya rakyat iblis, rakyat manusia mungkin saja juga akan menolak keras jika ada isi yang seperti itu," ucap Behemoth.


“Jadi, apa kau ada rencana tentang itu, Ruri?” tanya Olivia.


“Semua tergantung pada kalian para pemimpin, jika kalian saja para raja iblis menerimanya, rakyat kalian pasti akan mengikutinya.”


“Kalau begitu bukankah nanti rakyat akan menjadi terkesan memaksakan diri? Selain itu jika benar mau begitu yang ada hanya perasaan canggung antara kedua belah pihak.”


“Mungkin diawal akan terkesan seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu aku yakin mereka pasti akan saling berbaur satu sama lain.”


“Iya juga yaa ... “


“Lalu, isinya apa ada lagi?”


“Mungkin untuk sementara hanya itu saja ... Ohh iya satu hal lagi, kita akan buat peraturan sendiri, siapapun yang bertindak seenaknya seperti menyakiti satu sama lain, baik dari warga manusia ataupun iblis akan di hukum seperti memenjarakannya?”


“Sepertinya tidak buruk juga. Untuk tindak pencegahan," kata Azazel.


“Iya benar," sahut Lucifer.


“Mungkin itu saja isi dari perjanjiannya, jadi bagaimana dengan pendapat kalian? Apa kalian setuju dengan perjanjian ini?”


Lucifer tersenyum kemudian berkata.


“Baiklah, aku Lucifer dengan senang hati menerima perjanjian perdamaian itu.”


“Aku Behemoth Raja Iblis tingkat Four juga menerima keputusan itu.”


“Apa boleh buat, ini mungkin jalan yang terbaik, aku Azazel Raja Iblis tingkat Three juga menerimanya.”


“Aku Olivia Raja Iblis tingkat Two juga tidak keberatan akan perjanjian perdamaian itu.”


“Baiklah setelah perjanjian ini dibuat, apa kalian masih tetap ingin membunuh One?” tanya Ruri memastikan.


“Sepertinya tidak perlu selama dia mau menyetujui perjanjian ini.”


“Iya itu benar.”


“Dengan begini akhirnya sistem tujuan kami jadi berubah,” ucap Azazel sambil menghela nafas.


“Sistem tujuan? Apa itu?” tanya Ruri.


“Sulit menjelaskannya ... Tapi seperti ini, sebelum kami menyetujui perjanjian ini, kami para Iblis mempunyai sistem tujuan, yaitu mengambil wilayah manusia dengan bagaimanapun caranya, tapi setelah menyutujui perjanjian ini sistem tujuan kami berubah asal semua Iblis mau menyetujuinya.


“Tu-tunggu ... Apa yang terjadi jika Iblis tidak mengerjakan yang diperintahkan sistem tujuan itu?” tanya Ruri yang teringat akan Pak Nathan.


“Iblis itu akan terasuki oleh roh orang yang membuat sistem tujuan sebelumnya, dengan kata lain dia akan kerasukan roh One terdahulu.”


“Apa kalian bisa berbicara dengan One dari sini?”


“Bisa, memangnya kena-“ ucap Olivia tak melanjutkan perkataannya.


“Ada apa?”


“Aku baru ingat, sudah berapa tahun sejak One tak mengerjakan tugas terakhirnya?” tanya Olivia.


“Mungkin sekitar 6 tahun yang lalu.”


“Ini gawat!” Kata Olivia kemudian memejamkan matanya.


“One ... One ... Jawab aku!”


" .... "


“Aku punya firasat buruk tentang ini."


“Olivia ada apa?” tanya Ruri.


“Dia tak menjawab ... “


Mendengar itu Ruri langsung memegang dahinya.


“Dhafin ... Dhafin ... Kau dengar?”


“Iya, ada apa? Kau tak datang membantu?”


“Aku akan datang saat malam saja, kesampingkan hal itu dulu, apa disana baik-baik saja?”


“Apa yang kau maksudkan? Disini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja sejak tadi malam Pak Nathan hilang entah kemana dari rumahnya.”


“Apa ada hal lain?”


“Hal lain? Ohh iya tadi ada gempa bumi sebentar dan di sebelah Selatan sana aku melihat ada asap hitam, tapi sangat jauh sihh ... Kalau aku perkirakan, asap itu berasal dari gua tempat Taurus Major dahulu, Ada apa? Apa itu perbuatanmu?”


“Ahh iya, itu perbuatanku jadi jangan khawatirkan itu.”


“Sepertinya aku tahu dimana One, tapi sepertinya ... Sekarang ini dia sedang tidak baik-baik saja," kata Ruri setelah selesai.


Para Raja Iblis saling berpandangan satu sama lain, kemudian menganggukan kepalanya.


“Ruri Narendra, hentikanlah One! Jika kau tidak mampu, bunuh saja! Dia mungkin tak bisa diselamatkan lagi saat ini.”


“Apa kau yakin? Apa tidak ada cara lain?” tanya Ruri.


Olivia hanya menggelengkan kepalanya kemudian kembali berkata.


“Dia bisa saja menggila dan menghancurkan dunia ini kalau tak segera dihentikan.”


"Begitu kah ... "


“Ti-tidak mungkin ... “ Ucap Clarissa tidak percaya.


“ .... “


“Baiklah, aku Ruri Narendra akan pergi untuk menghabisinya jika itu diperlukan,” ucap Ruri sambil membuka lubang dimensi.


“Ternyata benar-benar sihir milik Five," ucap Behemoth.


“Ruri tunggu, apa kau yakin dengan dirimu yang sekarang bisa melawannya?” tanya Clarissa memastikan.


“Soal itu tenang saja, kami akan melakukan sesuatu, jangan bergerak ya,” ucap Olivia sambil menempelkan tangannya di dahi Ruri.


“A-apa lagi yang ingin kau lakukan?!”


“Tenang saja.”


“Ini ... “ ucap Ruri saat merasakan ada sesuatu yang baru dibenaknya.


“Iya, itu kekuatanku, harusnya ini akan kuwariskan pada penerusku, tapi kalau Ruri yang pertama aku tidak keberatan kok.”


“Terima kasih Olivia.”


“Bukan hanya aku kan yang melakukannya?” ucap Olivia sambil melirik ke arah Raja Iblis lainnya.


“Aku tahu, karena dari awal juga kita akan melakukan itu untuk bisa membunuh One,” ucap Lucifer sambil tersenyum.


Satu persatu Raja Iblis secara bergantian mulai menanamkan kekuatannya pada tubuh Ruri kemudian menjelaskan masing-masing tentang kekuatan mereka itu, karena memang makhluk yang akan dilawan Ruri mempunyai kekuatan dari seluruh Raja Iblis.


"Heh kekuatan sehebat ini bisa berada diurutan terakhir?" Pikir Ruri.


“Baiklah dengan begini kau sudah siap melawannya, jika keadaannya terdesak kami akan segera datang untuk membantu.”


“Tapi bukannya kalian tidak boleh melawannya?”


“Iya itu benar, oleh karena itu ... Jika kami semua mati, kami akan menyerahkan para Iblis di tanganmu, walaupun kau manusia, tapi kami yakin kau bisa membawa mereka semua menjadi lebih baik ke jalan perdamaian yang kau inginkan itu.”


“Kalau begitu aku jadi tidak enak, berarti ... Mau tidak mau aku harus menang ya agar hal itu tak terjadi,” ucap Ruri sambil tersenyum.


“Yahh begitulah ... “


“Baiklah, kami pergi ya, terima kasih atas semuanya.”


“Iya, hati-hati ... “


...****************...


“Ruri, kenapa kita kesini?” tanya Clarissa saat menyadari kalau mereka sekarang berada di gerbang masuk Kota Zeastic.


“Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa ... “


“K-kau tidak ingin aku ikut?”


“Begitulah ... “ ucap Ruri sambil berbalik.


"Ruri, kumohon jangan pergi ... "


"Tenang saja, aku hanya perlu membunuh pak tua itu," kata Ruri sambil tersenyum.


"Kenapa harus kau? Kenapa tidak orang lain saja? Aku tidak ingin kau kenapa kenapa lagi. Mungkin kau yang sekarang sudah menjadi lebih kuat karena mendapat kekuatan dari 4 Raja Iblis, akan tetapi ... "


"Aku tau kau khawatir, tapi ini adalah tugasku untuk melindungi dunia, dan senyumanmu."


"Mana bisa aku tersenyum jika tidak ada kau."


"Jangan begitu, baiklah, setelah semuanya selesai aku akan langsung kembali menemuimu, ya?"


"Berjanjilah ... Kalau kau akan kembali hidup hidup!"


" .... "


"Ruri!"


"Maaf, untuk kali ini aku tidak bisa berjanji, karena aku tak tahu apa yang akan terjadi nantinya, yahh ... Anggap saja ini sebagai salam perpisahan dariku jika aku tak kembali,” ucap Ruri langsung meraih bibir manis wanita di hadapannya itu.


“Baiklah, aku pergi ya ... “


Clarissa mengangguk pelan.


“Jangan murung begitu dong, jika kau murung begitu aku jadi tak bisa berhenti memikirkanmu.”


Clarissa pun mencoba mengembangkan senyumannya, walaupun deraian air mata tak dapat dibendung lagi.


“Nahh begitu dong, kalau seperti ini kan kau kembali jadi seperti Clarissa yang aku kenal. Baiklah aku pergi ya ... “


“Iya ... Hati-hati ya.”


“Iya, doakan aku.”


“Pasti.”