
“Baiklah aku sudah siap sekarang.”
“Apa kau punya rencana lain?” tanya Kaila.
Ruri menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku akan mengulangi cara yang sama, tapi kali ini aku tidak akan kalah!”
“Apa ada yang bisa kubantu?”
“Tidak usah, kau cukup memerhatikan saja.”
“Ta-tapi ... “
Ruri memegang pundak Kaila untuk meyakinkan wanita itu.
“Kaila, tak usah khawatir, kali ini aku akan menang dan membawa Clarissa kembali,” kata Ruri sambil tersenyum.
Kaila terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.
Siluman itu masih terbang mengelilingi lembah seperti sedang menunggu mangsanya keluar.
Ruri langsung keluar dari bangunan dan melompat kembali ke atas bangunan itu, yang berniat untuk mengulang menaiki siluman itu.
Akan tetapi yang diharapkan Ruri tak kunjung datang, burung itu tak langsung mendekat dan memangsa Ruri, sebaliknya siluman itu berniat membakar Ruri dengan apinya.
“Sepertinya siluman memang makhluk yang tak ingin dikalahkan dengan kesalahan yang sama,” kata Ruri sambil menahan semburan api siluman itu dengan protector.
“Berarti kita butuh rencana baru,” ucap Kaila yang berada di sampingnya.
“Tidak, karena dengan kecepetan penuh burung itu dan insting merasakan kehidupannya, mustahil untuk mengejar atau menjebaknya.”
“Lalu mau bagaimana?”
“Seperti yang kubilang tadi, aku akan memakai cara yang sama, akan tetapi dengan openning yang berbeda,” kata Ruri yang mulai terbang mengejar siluman itu dari belakang.
“Begitu rupanya ... Ruri berniat melakukan hal yang sama saat dirinya hampir dimakan ketika mengejar siluman itu,” ucap Kaila pelan.
Ruri terus mengejar burung itu dengan kecepetan penuh, merasakan ada yang mendekat, siluman itu langsung mempercepat kembali terbangnya untuk membuat jarak dari orang yang mengejarnya.
Sesaat setelahnya, burung itu langsung berputar arah dengan cepat kemudian membuka mulutnya.
Melihat itu, Ruri langsung menembakkan sihir angin ke atas dengan jumlah besar untuk membelokkan arah terbang dengan cepat, kemudian berpegangan erat pada kaki burung itu.
Dengan sigap Ruri langsung memanjat dan meraih bulu-bulu agar dapat berpegangan erat.
Siluman itu memberontak dengan menggerak-gerakkan kakinya, akan tetapi Ruri masih bertahan dan mulai bergerak menuju bagian punggung burung itu.
Saat sudah di atas, Ruri langsung berkata.
“Karena kau sudah mengulangi kesalahan yang sama, jangan harap kau masih bisa hidup dan memangsa orang orang.”
Setelah itu Ruri mengaktifkan sihir penguat ke seluruh tubuhnya, dengan begitu Ruri dapat bertahan dengan kecepetan penuh burung itu. Ruri terus bergerak menuju ke bagian kepala.
“Ahh itu dia!” kata Ruri yang sudah dekat dan melihat cahaya itu.
Tapi tiba-tiba saja burung itu memiring dan dari bawah terdengar suara Kaila berseru.
“Awas Ruri!” Seru Kaila yang mengingatkan Ruri, bahwa burung itu berniat membenturkan Ruri dengan besi bangunan seperti tadi.
“Aku tahu Kaila, aku sekarang bisa melihat walaupun sedikit sedikit,” kata Ruri tersenyum lalu membuat pedang es nya dan menancapkannya ke tubuh siluman itu, kemudian menariknya dan menancapkannya kembali.
Seketika burung itu langsung mengubah arah terbangnya ke atas dan mulai terbang tak karuan.
“Walaupun kau bisa beregenerasi, tapi kau pasti juga bisa merasakan sakit bukan?”
Saat burung itu kelelahan, siluman itu kembali terbang seperti biasa.
“Saatnya untuk menyelesaikannya!” kata Ruri sambil membuat pedang es nya yang baru.
Setelah itu, Ruri berdiri kemudian mulai berlari dengan cepat dan melompat.
*Crrruuuukk ...
*Waaaakkk ...
Pedang es menembus kepala burung itu.
Tiba-tiba saja cahaya di kepala burung itu mulai bersinar terang dan hal ini bersamaan dengan kesadaran siluman itu yang mulai menghilang kemudian mulai terjatuh tepat di telaga itu.
Ruri yang masih di atas kepala burung yang kini mengapung di air itu, langsung berkata.
“Selanjutnya, aku akan membunuh iblis itu,” kata Ruri sambil menatap langit oranye yang sedikit berawan.
Guild.
“Ka-kalian berhasil?” kata Roy tidak percaya.
“Yaa begitulah, hehe, dan ini stealth crystal nya,” kata Ruri sambil menunjukkan sebuah bola crystal yang cukup besar.
“I-ini ... “
“Ukurannya beda sekali dengan siluman lain.”
“Selamat ya kalian berdua, aku tak menyangka kalian berdua berhasil mengalahkan Avion hanya dalam waktu beberapa jam,” kata seorang wanita yang turun dari tangga.
Ruri langsung menatap tajam ke arah sumber suara itu.
“Apa dengan ini kita sudah bebas?” tanya Ruri.
Wanita itu tersenyum sambil menepuk punggung Ruri.
“Ayolah ... Aku hanya bercanda, tenang saja dia lulus kok.”
“Dia lulus?” ucap Ruri tak mengerti.
Wanita itu melirik kearah Kaila sebagai isyarat. Ruri mengerti dengan apa yang diisyaratkan wanita itu, tapi ia tak mengerti ujian apa yang sudah dilakukan dirinya.
“Sebentar apa maksudmu ujian? Apa melawan siluman itu adalah ujiannya?”
“Tidak, ujiannya adalah pertanyaan dari Mary.”
“H-hah? Jadi yang kau tanyakan itu untuk menguji saja?” tanya Kaila sambil tersenyum ke arah Mary.
“Be-benar, maaf ... Hehe.”
“Lalu silumannya?” tanya Ruri dengan raut datar.
“Sebenarnya itu diluar ujian, tapi dengan berhasilnya siluman itu dikalahkan kami sangat terbantu, terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan kota ini dua kali,” kata Mary.
“Yang dibilang Mary benar, sebagai ketentuan guild karena kalian telah berhasil mengalahkan siluman itu, kalian berhak mendapatkan 6 keping emas besar,” kata wanita itu yang dilanjutkan dengan seru seluruh orang di guild.
*Wooaahhh?!
“Baiklah untuk merayakan hal ini, bagaimana kalau malam ini kita minum? Tentu saja aku yang traktir.”
*Yooooo...!!!
“Kalau hanya malam ini mungkin bisa saja sihh ... Karena hari juga sudah mulai gelap,” ucap Ruri.
“Tidak apa-apa kan, Kaila?”
Kaila menganggukkan kepalanya.
“Terserah katamu. Aku hanya ikut saja.”
20:08 PM.
Seluruh petualang pergi kesebuah bar untuk merayakan keberhasilan seseorang yang telah mengalahkan salah satu siluman mitologi, Avion.
“Ayo tambah lagi!”
“Jarang jarang hal ini terjadi.”
“Kau benar.”
Disaat itu Ruri sempat berpikir tentang pulau yang dikatakan Iblis itu.
“Hey pelayan, tambah segelas lagi!” kata seorang wanita yang merupakan ketua guild itu.
“Bukankah kau sudah terlalu banyak minum nona Lisa?” ucap Mary.
“Ahh ... ini belum apa-apa,” kata wanita itu yang kembali meneguk bir yang ada di gelasnya.
Mary hanya tersenyum sebagai responnya, kemudian wanita itu menoleh dan terheran-heran melihat pria berambut perak dihadapannya tengah termenung.
“Ada apa Ruri? Kau tampak murung ... Apa telah terjadi sesuatu?”
“Hmm? Ahh ... tidak, aku hanya sedikit memikirkan sesuatu. Ohh iya, apa kalian pernah dengar tentang pulau yang dijuluki The Red Queen of Volcano?”
“Iya, memangnya ada apa dengan pulau itu?”
“Kau tahu?” kata Ruri balik bertanya.
Mary menganggukkan kepalanya.
“Tolong beritahu aku dimana pulau itu!”
“Pulau itu berada di arah Baratdaya dari pelabuhan. Untuk apa kalian menanyakan itu, disana hanya pulau tak berpenghuni dan cuman daratan hitam yang disiapkan untuk gunung merapi saja,” kata wanita di samping Mary yang baru menghabisi bir di gelasnya.
“Anggap saja itu tujuan terakhirku untuk saat ini,” jawab Ruri pelan.
“Tujuan? Ohh iya kau pernah bilang sedang dalam mencari seseorang, apa kau akan mencari seseorang disana? Kau tahu, tidak ada yang pernah tinggal disana lohh ... “ kata Mary mengingatkan.
“Walaupun begitu, aku harus kesana secepatnya,” kata Ruri sambil menundukkan kepalanya.
“ .... “
Tidak ada yang berkata-kata lagi karena suasana di meja itu terasa berbeda dari sebelumnya.
Wanita yang dipanggil Lisa itu langsung bangkit kemudian berjalan mendekati Ruri dan memegang pundaknya.
“Sudah-sudah ... tidak baik merenung begitu, bagaimana kalau kau minum dulu agar pikiranmu tenang?”
Ruri tersenyum lalu berkata.
“Dasar, sendirinya saja sudah mabuk seperti itu, sempat sempatnya mengajak orang lain.”
“Hehe ... tapi aku belum mabuk lohh ... “
Ruri menghela nafas dan menerima tawaran wanita itu.
“Baiklah ... sedikit saja mungkin tak apa ... “
1 jam kemudian ...
“Tambwah ... lagi ... “ kata Ruri sambil menaruh gelas kosong di meja.
“Tidak boleh ... Kau sudah minum terlalu banyak kau tahu!” ucap Kaila merebut gelasnya.
“Ta-tapii ... “
“Tidak boleh! Ayo kita kembali ke penginapan sebelum kau pingsan disini,” kata Kaila sambil mendukung Ruri untuk berdiri.
“Terima kasih atas semuanya, kami duluan ya ... “ ucap Kaila kepada Lisa yang masih minum.
“Hati-hati di jalan yaa ... “ kata wanita itu sambil melambaikan tangannya.
“Manusia setengah iblis kah? Walaupun wanita itu bertingkah baik seperti manusia pada umumnya. Akan tetapi, suatu saat pasti wanita itu akan kehilangan kesadaran dan menunjukkan sisi iblisnya saat terjadi sesuatu.”
Penginapan.
“Kaila ... aku mwencintaimu,” kata Ruri berkali-kali saat di perjalanan sampai di penginapan.
“Aku tahu itu, jadi beristirahatlah ... “ kata Kaila sambil merebahkan tubuh pria itu di ranjang.
*Terima kasih Kaila ... A-ku men-cin-tai-mu ...
Kaila tersenyum melihat Ruri yang masih berkata-kata dengan mata yang sudah terpejam itu.
“Mungkin cukup sampai disini saja dukungan dariku, Ruri.”
*A-ku men-cin-tai-mu ...
“Selamat tinggal, Ruri,” kata Kaila sambil tersenyum sebentar, kemudian beranjak pergi.
06:38 AM.
Ruri perlahan mulai membuka matanya dan mulai meraba-raba seperti mencari seseorang.
Karena tak mendapati apa yang dicarinya, Ruri pun bangkit dan baru tersadar bahwa Kaila sudah tidak ada di kamar.
“Kaila ... Kau dimana? Apa kau sedang ganti baju?”
“ .... “
Tak ada seorang pun yang merespon ucapan Ruri.
Saat melirik ke meja dekat jendela, Ruri mendapati secarik kertas yang terdapat tulisan di dalamnya.
Untuk Ruri.
Sudah lama ya kita tak berjumpa. Bagaimana kabar Dhafin, Naila, Vina dan teman-teman? Kuharap mereka baik-baik saja. Jika kau berpikir aku masih hidup, itu benar, sampai sekarang aku masih hidup. Akan tetapi, aku tak bisa kembali karena aku sudah menjadi iblis. Maaf sebelumnya, pasti kau membaca surat ini karena kau tidak menemukan seseorang yang sedang kau cari.
Jika kau mencari wanita itu, dia berada disini, untuk lebih mudahnya dia berada ditanganku saat ini.
Siapa wanita itu? Kekasihmu? Cepat sekali kau mempunyainya, jika tebakkanku benar, maka kau pasti akan merebut wanita ini kembali. Dengan begitu kita akan berjumpa kembali sebagai musuh, jadi sampai saat itu tiba, aku akan menunggumu.
^^^Dari Clarissa.^^^
“Begitu rupanya, jadi ini yang kau maksudkan Hoursy Loungjer?!” ucap Ruri geram.