
Siang hari yang terik dengan adanya sedikit awan membuat suasana pantai menjadi semakin sempurna untuk dinikmati, angin laut yang sesekali berhembus pelan seakan menambah kesempurnaan dari tempat itu.
Terlihat banyak orang-orang berada disana. Dari yang hanya sekedar berjalan, berenang, berjemur dan bermain-main di pasir putih kekuningan.
Sesampainya disana Ruri pun terkejut melihat pemandangan yang sangat familiar baginya itu.
Melihat itu Pak Nathan langsung menghampiri Ruri.
“Bagaimana?”
“Ternyata benar, kau memang hebat Pak Nathan. Tapi, apa-apaan itu?!” tanya Ruri sambil tersenyum menunjuk ke arah keenam orang jauh disana yang tengah bermain volly, hanya saja setiap pukulannya menghasilkan ledakkan karena campur tangan sihir, dan luas lapangannya pun dua kali lebih besar dari lapangan volly pada umumnya.
“Yaa anggap saja olahraga sekaligus latihan, hehe.”
Saat Pak Nathan menoleh kebelakang, tampak Clarissa datang mendekati mereka.
“Baiklah, aku duluan ya ... Aku tak ingin mengganggu kalian berdua,” ucap Pak Nathan kemudian langsung berlalu pergi.
Ruri hanya tersenyum menanggapinya.
“Ruri ada apa? Dhafin dan Naila sudah selesai memesan kamar di penginapan,” tanya Clarissa yang melihat Ruri masih diam terpaku di tempatnya ia berdiri sambil menatap pantai.
“Bukan apa-apa kok, aku hanya merindukan pemandangan seperti ini ... “
“Memangnya kamu pernah ke pantai sebelumnya?”
“Kalau disini sihh, ini pertama kalinya aku pergi ke pantai. Sudah, ayo kita ke tempat mereka!” kata Ruri sambil berlalu.
“Iya.”
“Disini? Merindukan pemandangan yang pertama kali dilihat?” gumam Clarissa sambil menatap ke pantai lepas.
Mereka pun pergi ke penginapan itu, dan langsung segera mengganti pakaian.
“Sudah lama sekali kita tak melakukan kegiatan bersama-sama seperti ini lagi ya, Ruri?” kata Dhafin saat melihat Ruri yang baru saja keluar dari penginapan untuk menunggu para wanita.
“Kau benar Dhafin, aku juga tak menyangka kita masih bersama sampai sekarang.”
“Ruri, apa kau setelah ini akan pergi lagi bersama Kakak?”
“Ya, begitulah ... “
“Kalau memang begitu, tolong jaga kakak baik-baik ya, walaupun dia bukan kakak kandungku, tapi aku benar-benar menyayangi Clarissa layaknya Kakakku sendiri.”
“Iya aku tahu itu, aku akan selalu menjaganya karena untuk itulah aku mengajaknya pergi.”
“Begitu kah ... Maaf ya jadi merepotkan.”
“Tidak apa-apa.”
"Apa ini apa ini? Menitip pesan sebelum perpisahan?" Ucap Pak Nathan yang sok ikut campur.
"Lebih baik bapak diam," ucap Dhafin sambil tersenyum.
“Hei-hei Ruri bagaimana?” ujar seorang wanita saat keluar dari penginapan bersama teman-temannya.
“Clarissa? Wahh ... Aku tak bisa berkomentar, itu sangat cocok untuk kalian ... “ kata Ruri sambil tersenyum.
“Hmmph ... Padahal aku menanyakan punyaku saja ... “ ucap Clarissa yang langsung berpaling.
“Tuhh kan, sudah mulai adegan serba salahnya,” gumam Ruri yang tersenyum aneh melihat tingkah wanita itu.
“Tenang saja Clarissa, punyamu hebat kok,” ujar Pak Nathan.
“Aku tak ingin dengar kalau itu dari bapak ... “
“H-heh? Kenapa kalian semua sekarang seperti menjauhiku ... “
“Karena sifat bapak sekarang jadi aneh, udah kayak orang mesum saja,” ucap Naila yang langsung disahut oleh Clarissa.
“Betul itu ... “
“Sudah ... Ayo kita pergi!” ujar Vina untuk menyudahi.
Mereka berenam pun pergi dan sesampainya disana, akan tetapi tiba-tiba saja hampir semua orang menoleh kearah mereka.
“A-ada apa ini?” tanya Ruri pelan kepada teman-temannya.
“Nanti juga kau dengar sendiri,” sahut Dhafin sambil tersenyum.
“Wooaahh ... Benarkah itu Nathan? Si Legenda Pantai?”
“Benarkah? Aku tidak percaya kalau itu benar-benar dia ... Tapi itu memang dia.”
Ucap orang-orang kemudian langsung berlari mengerubungi laki-laki itu.
“Naila ... “ kata Dhafin singkat yang membuat wanita itu langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya. Clarissa, Ruri ayo menjauh dari sini,” kata Naila sambil memegang tangan mereka berdua dan segera berlari menjauh.
“Huuhh ... Hampir saja,” ucap Vina sambil tersenyum.
“Apa-apaan itu?! Nathan si legenda pantai?!” tanya Ruri sambil tersenyum aneh.
“Begitulah, dahulu liburan ke pantai adalah ide Pak Nathan kepada ayahku dan menjelaskan tentang apa saja yang bisa dilakukan disini, karena ayahku menyukainya jadinya Pak Nathan pun mendapat julukan seperti itu,” jelas Naila.
“Lahh bisa begitu ya?!” gumam Ruri.
Tak lama kemudian terlihat Pak Nathan keluar dari kerumunan dan datang mendekati Ruri dan teman-temannya.
“Hei kalian, bagaimana sebagai pembukaan kita bermain ini?” ucapnya sambil memegang sebuah bola putih bergaris-garis.
“Heh ... Boleh juga, sudah lama sekali tidak bermain Magical Volley. Ayo! Mumpung sudah berenam bagaimana kalau langsung mulai saja?” kata Dhafin.
“Baiklah, siapa takut ... “ ujar Naila.
“Tu-tunggu aku tidak mengerti permainan apa itu ... “ ucap Ruri.
“Kamu tidak tahu?” tanya Clarissa yang berada di sampingnya.
“Iya, bahkan aku sendiri terkejut kalau kamu bisa tahu cara mainnya,” kata Ruri sambil tersenyum.
“Tenang saja Ruri, peraturan ini sama seperti bermain volly biasa, hanya saja ... “ kata Pak Nathan sambil membakar bola itu dengan api hitamnya kemudian memukul kuat bola itu ke arah Ruri.
*Taaaakk ...
Ruri menahan bola itu dengan tangan kanannya.
“Begitu? Baiklah ayo bermain!” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Lihat! Laki-laki itu bisa menahan pukulan mutlak Nathan.”
“Wahh iya sepertinya ini akan seru!”
Kata orang-orang yang kemudian mengikuti Ruri dan teman-temannya untuk melihat pertandingan mereka.
“Baiklah, bagaimana kalau Naila dan Dhafin bersamaku, sedangkan Vina dan Clarissa bersamamu, Ruri?”
“Baiklah, tidak apa-apa. Ohh iya aku hanya ingin memastikan, sihir apapun diperbolehkan bukan?” ucap Ruri sambil tersenyum.
“Iya, asal kau gunakan sihir itu untuk memperkuat bolanya saja, jadi kerahkan saja kemampuanmu, bola itu tidak akan rusak kok, dan satu hal lagi. Permainan ini hanya sampai salah satu tim mendapat 5 poin untuk menang,” kata Pak Nathan yang ikut tersenyum.
“Itu terlalu sedikit, tapi baiklah aku mengerti.”
“Bagaimana kalau yang kalah traktir makan siang?” usul Nathan.
“Heh baiklah lakukan saja.”
“Aku mulai ya ... “ kata Ruri dari kejauhan kemudian melempar bolanya tinggi tinggi ke atas hingga menembus awan.
“Heh ... Belum apa-apa sudah jump serve. Tapi bukankah itu terlalu tinggi?!” ucap Pak Nathan sambil tersenyum kecut.
[Secara garis besar, teknik jump serve adalah teknik servis yang mengombinasikan gerakan servis atas dan teknik spike sehingga terciptalah pukulan keras layaknya smash, akan tetapi teknik ini membutuhkan kekuatan dan akurasi yang tepat]
“Yang penting aku memukul dari sini, jadi tidak melanggar aturan kan?”
“Iya sihh ... “
“Ruri bolanya datang!” kata Vina terkejut saat melihat bola itu bergerak cepat kebawah.
“Aku tahu," ucap Ruri kemudian langsung berlari dan melompat.
“Arah itu ... “ kata Naila sambil pergi ke ujung kanan.
*Duuuusshh ...
Seketika terjadi begitu saja. Bola putih langsung melesat cepat ke ujung lapangan dan menghasilkan ledakkan, debu pasir mulai berhamburan menutupi area tim Nathan.
*Uhukk ...
*Uhuuukk ...
Saat debu mulai menghilang, terlihat lubang tak terlalu dalam yang dihasilkan oleh bola itu berada di dalam lapangan.
...Tim Ruri 1 – Tim Nathan 0...
“Hebat sekali! Pukulan yang sangat cepat dari Tim Ruri.”
“Ruri kau berhasil!” ucap Clarissa.
“Iya ... “
Naila yang kebingungan pun berkata dengan pelan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ini sangat menarik! Kau tidak salah Naila, aku juga tadi sempat berpikir kalau bolanya akan mengarah ke ujung kanan tapi ... “ ucap Pak Nathan.
“Tapi kenapa Pak? Apa Ruri membelokkan bolanya menggunakan sihir angin?” tanya Dhafin.
“Tidak, dia sama sekali tidak menggunakan sihir apapun pada bolanya. Dia hanya memperkuat tangannya dan sisanya adalah kemampuan alami Ruri Narendra," jelas Pak Nathan sambil tersenyum.
“Maksud bapak? Bukannya Ruri itu baru tau permainan ini?”
“Tidak, dia mungkin sudah lama tahu sebelum kalian semua, hanya saja permainan ini berbeda sedikit dari yang pernah Ruri mainkan sebelumnya.”
“Aku masih tidak mengerti, tapi ya sudahlah ... “
“Naila, bertukar tempat denganku, biar aku yang akan menjaga belakang," ucap Pak Nathan.
“Baiklah.”
“Iya,” kata Ruri kemudian langsung berlari kebelakang.
“Pak Nathan kah? Sepertinya dia sudah tahu sesuatu,” kata Ruri sambil tersenyum kemudian langsung melempar bolanya tak terlalu tinggi seperti tadi kemudian langsung melompat.
“Pak Nathan!” ucap Dhafin.
“Iya aku tahu,” kata Nathan kemudian bergerak kesamping dan melambungkan bolanya ke atas.
“Naila, kanan!” kata Dhafin sambil berlari ke kanan dan bersiap melompat saat bolanya datang.
“Baik, terima ini!”
“Pas sekali Naila!” kata Dhafin kemudian memukul dengan kuat.
Melihat itu Vina langsung melompat kedepan dan hendak melambungkannya keatas akan tetapi ia baru menyadarinya saat bola itu menyentuh tangannya.
“Celaka!”
Saat bola itu mengenai lengannya, tiba-tiba saja bola itu langsung memantul keluar lapangan.
...Tim Ruri 1 – Tim Nathan 1...
“Maaf, aku tidak lihat kalau Dhafin menggunakan sihir anginnya untuk membuat bola itu berputar.”
“Tidak apa Vina, selanjutnya pasti dapat!” ucap Clarissa sambil melempar bola kearah Pak Nathan.
“Hei kalian berdua kesini sebentar ... “ pinta Ruri kemudian menjelaskan sesuatu.
“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanya Dhafin.
“Entahlah.”
“Heh? Memangnya bisa begitu ya? Aku baru tahu ... Baiklah akan kucoba!” kata Clarissa bersemangat.
“Ternyata mereka semua belum tahu teknik-tekniknya, aku tak menyangka akan hal ini,” gumam Ruri sambil tersenyum aneh.
“Sudah selesai berdiskusinya?” tanya Nathan sambil membakar bola itu dengan api hitamnya.
“Iya.”
“Baiklah aku mulai,” kata Nathan sambil melompat sedikit dan memukul bola itu.
“Cepat sekali!” kata Ruri kemudian langsung melompat kedepan dan mencoba melambungkan bolanya. Akan tetapi, entah karena salah perhitungan atau apa, Ruri melambungkan bolanya terlalu jauh kedepan sampai bergerak kembali ke area lawan.
“Maaf ... “
“Tidak apa, sekalian aku ingin mencoba itu” sahut Clarissa sambil tersenyum.
“Yahh aku sengaja sihh, untuk menunjukkan cara ini ... “ gumam Ruri.
“Ayo! Ini kesempatan ... “ kata Nathan sambil melambungkan bolanya ke arah Naila seperti tadi dan berakhir ke Dhafin.
“Ambil ini!” kata Dhafin sambil melompat dan mengayunkan tangannya.
“Clarissa blok sekarang!” ucap Ruri cepat.
Mendengar itu, dengan cepat Clarissa melompat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Seketika saja ...
*Duuuug ...
*Taaaakk ... !!!
Bola yang dipukul Dhafin langsung mengenai tangan Clarissa dan langsung memantul.
“Berhasil!”
...Tim Ruri 2 – Tim Nathan 1...
“Apa tadi itu?” B-blok?” ucap Dhafin tak mengerti.
“Akan kuberitahu saat selesai pertandingan,” jawab Clarissa singkat.
“Sudah kuduga Ruri bukan pemain biasa dalam permainan ini,” gumam Pak Nathan sambil tersenyum.
“Tapi soal sihir aku tak mau kalah!”
Mereka terus saling berbalas poin hingga sampai pada akhirnya Tim Ruri mengalami sedikit masalah.
“Akhirnya masuk lagi,” kata Naila sambil menghela nafas.
...Tim Ruri 3 – Tim Nathan 4...
“Ruri, bagaimana ini?” tanya Clarissa.
“Kita akan gunakan rencana kedua itu, untuk setelahnya serahkan saja padaku ... “ kata Ruri pelan sambil tersenyum.
“Baiklah.”
Terlihat Dhafin melempar bolanya dan langsung memukul kuat bolanya kearah Ruri.
“Sudah kuduga kau akan memukul kesini, Clarissa aku serahkan sisanya padamu!” kata Ruri sambil melambungkan bolanya ke arah Clarissa, kemudian langsung berlari ke depan menuju depan net.
“Tunggu, siapa yang akan memukul bolanya?” tanya Naila kebingungan karena Vina dan Ruri berada di depan net dan melompat bersama.
“Pasti Ruri!” kata Dhafin sambil melompat di hadapan laki-laki itu berniat melakukan blok seperti yang dilakukan Clarissa sebelumnya.
“Hanya bercanda, wlee ... “ kata Ruri sambil menjulurkan lidahnya.
“Tidak! Tapi itu Vina!” ucap Pak Nathan yang telat berkata saat melihat Clarissa melempar bola itu ke arah Vina.
Naila yang berada di tengah langsung bersiap menerima bolanya.
“Aku dapat!”
Akan tetapi tak disangka bahwa Vina hanya memukul bola itu sangat pelan dan terjatuh tepat di depan net.
“Heh?” Naila memasang wajah bingungnya.
“Masuk!” kata Vina sambil tersenyum.
“Wooooaaahh ... !!!” Seru orang-orang.
...Tim Ruri 4 – Tim Nathan 4...
“Ini benar-benar hebat, ini adalah pertandingan terbaik yang pernah kulihat.”
“Kau benar, untung saja aku datang kesini hari ini.”
“Apa-apaan lagi itu? Cara baru lagi?” ucap Naila sambil tersenyum aneh.
“Begitulah, hehe ... “ jawab Ruri dengan senyumannya.
“Tidak apa, poin terakhir kita akan dapatkan karena kita sudah tau semua cara mereka,” kata Dhafin.
“Iya kau benar,” saut Naila.
Mendengar itu Ruri hanya bisa tersenyum. Kemudian mengambil bolanya dan mundur beberapa langkah belakang.
“Ohh iya Ruri apa yang kau maksud dengan rencana serahkan padaku itu?” tanya Vina.
“Seperti kata-katanya, aku yang akan langsung mendapatkan poin terakhir dengan satu pukulan,” kata Ruri sambil tersenyum.
“Apa bisa? Bukankah mereka sudah tau cara memukulmu?”
“Iya, itu yang tadi, tapi yang ini belum pernah aku perlihatkan. Jadi kalian boleh langsung istirahat duluan di pinggir lapangan sana, karena kita sudah menang,” Kata Ruri dengan kepedeannya.
“Kau yakin? Tapi bagaimana kalau gagal?” ucap Vina agak ragu.
“Kalau gagal ya mau bagaimana lagi, hehe.”
“Sudah percayakan saja pada Ruri.”
“Baiklah.” Kata Vina kemudian berlalu pergi ke tepi lapangan bersama Clarissa.
“Hei apa yang kalian lakukan? Ini belum selesai!” tanya Dhafin.
“Kami disuruh istirahat sama Ruri, katanya kami sudah pasti akan menang dengan pukulan terakhirnya ini.”
“H-hah?” ucap ketiga orang itu terkejut karena tidak mengerti.
“Yahh biarkan saja, kalau gagal juga kita yang akan menang dan itu lebih baik.”
“Kau benar.”
“Apa kau akan melakukan jump serve lagi Ruri?” tanya Nathan.
“Tidak, tapi aku akan melakukan jump float.”
“Apa itu jump float?” tanya Dhafin dan Naila hampir berbarengan.
Nathan berpikir sejenak.
“Aku lupa, apapun itu coba saja, aku akan menahannya!” kata Nathan sambil tersenyum.
“Baiklah aku mulai ya,” kata Ruri sambil berlari pelan dan melempar sedikit bolanya lalu memukulnya menggunakan pangkal tangan.
“Gawat!!!” ucap Ruri terkejut sambil tersenyum kecut.
“Ada apa Ruri?” kata Clarissa dan Vina yang langsung berdiri, kemudian melihat bolanya.
Bola yang tak terlalu cepat itu bergerak melewati net.
“Kalau pelan begitu, sudah pasti mudah bukan?” ucap Dhafin sambil tersenyum.
“Sepertinya tidak ... “ kata Nathan yang sulit memprediksi jatuhnya bola dan langsung menetapkannya dengan menyiapkan kedua tangan kedepan untuk melambungkan bolanya. Akan tetapi tiba-tiba saja sebelum bola itu menyentuh tangan Nathan bola itu seakan bergerak tak karuan dan sedikit meleset dari tempat yang sudah diprediksi oleh Pak Nathan.
Seketika bola itu pun langsung terlempar keluar lapangan.
Semuanya terdiam melihat itu, mereka hanya terus memandangi bola yang menggelinding ke arah penonton.
“Sudah kuduga dari awal juga ada yang aneh, pukulan itu sangat tidak normal, aku kalah,” kata Pak Nathan sambil tersenyum.
*priiitt ...
“Wooooaaahh ... !!!”
[Jump Float adalah teknik servis dengan mengapungkan bola, sehingga tidak ada perputaran pada bola yg mengakibatkan arah bola tidak dapat ditebak]