
"Hmm menurut kalian gerobak ini mau diapakan?" tanya Ruri.
"Yaa ... bagaimana kalau kita bawa saja, lagi juga, kita sudah susah payah membuatnya," ucap Naila.
"Iya juga sihh, baiklah ayo kembali!" ucap Ruri.
"Yahh, kupikir lebih baik kita cepat cepat kembali dan tidur siang setelahnya," kata Dhafin.
"Tidur mulu yang kau pikirkan, tapi ... iya juga yaa, setelah ini kita tidak ada kegiatan lagi sejak sekolah diliburkan," ucap Clarissa.
"Iya, kau benar Clarissa, tapi, aku bingung kenapa mereka ingin membangun ulang sekolah itu," ucap Naila.
"Entahlah, bagaimana kalau kita melihatnya sendiri sebelum kembali?" usul Dhafin.
"Ahh tidak, kita harus ke tempat penukaran stealth crystal terlebih dahulu, karena aku sudah penasaran dengan ini," kata Vina sambil melirik ke arah tasnya.
"Baiklah ayo pergi sekarang! Aku juga sependapat dengan Vina!" sambung Clarissa.
"Huuh ... apa boleh buat," kata Dhafin sambil menghela nafas.
Mereka berlima pun kembali ke kota dan menuju tempat penukaran stealth crystal.
"Mengapa di daerah sini banyak perbaikan?" ucap Ruri saat perjalanan menuju tempat penukaran stealth crystal.
"Entahlah, coba tanya saja," ucap Dhafin.
Mendengar itu, Naila langsung menghampiri salah seorang di sana, lalu berbicara sebentar kemudian kembali lagi dan berkata.
"Sepertinya kemarin di daerah sini terkena bencana itu lagi," ucap Naila pelan.
"Maksudmu, bencana bola hitam raksasa?" ucap Dhafin terkejut.
Naila hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa distorsi ini belum berakhir? Bukankah sekolah diliburkan karena ingin menghancurkan teknologi itu? Tapi apa benar sekarang sudah dihancurkan? Kalau sudah apa ada hal lain yang menyebabkan tragedi ini masih berlanjut?" gumam Ruri yang mulai berpikir keras.
"Ada apa Ruri? Kau tampak memikirkan sesuatu, apa kau tahu sesuatu tentang bencana ini?" ucap Clarissa kepada Ruri yang diam termenung.
"Ahh tidak. Ohh iya aku baru ingat, kalian berempat duluan saja yang menukarkan stealth crystal itu, aku ada urusan sebentar," ucap Ruri.
"Ta-tapi Ruri ... " kata Clarissa yang tidak melanjutkan perkataannya karena Ruri sudah hilang dari pandangannya.
"Sudahlah, ayo kita pergi berempat saja, nanti juga dia menyusul," ucap Vina.
"Tapi tadi aku melihat Ruri seperti ... " kata Clarissa.
"Sudahlah Kak, Vina benar, kau tahu sendirikan, Ruri selalu punya urusan yang di luar sepengetahuan kita," kata Dhafin.
"Hmm ... baiklah."
Disisi lain Ruri tengah pergi menuju sekolah, karena ingin memastikan sesuatu, setelah sampai di sana Ruri terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Pantas saja distorsi terus terjadi, sekolah ini saja masih utuh," ucap Ruri sambil masuk kedalam.
"Heh? Ruri? Apa yang kau lakukan disini," ucap seseorang dari belakang.
"Ahh Pak Nathan, kebetulan sekali," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Hmm?"
"Iya benar, kemarin terjadi lagi di daerah sana," jawab Pak Nathan saat Ruri membicarakan tentang sesuatu yang dilihatnya tadi bersama teman-temannya.
"Kenapa sekolah ini masih utuh Pak? Bukannya ingin dibangun ulang?" tanya Ruri.
"Iya benar, awalnya kami ingin melakukannya kemarin, akan tetapi, saat itu tiba-tiba saja terjadi distorsi di tiga tempat sekaligus, makanya kami putuskan untuk menundanya dan sampai pada hari ini," kata Pak Nathan.
"Ahh begitu rupanya, apa aku boleh melihat? Ehh sebentar, memang penghancurannya akan dilakukan kapan?" tanya Ruri.
"Setelah waktu makan siang mungkin, kalau kau ingin melihatnya, datang saja," kata Pak Nathan.
"Sepertinya bapak sudah berubah," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Ini semua karena kau, jadi sebagai gantinya kau harus menyelamatkan dunia ini mulai sekarang," kata Pak Nathan sambil menepuk pundak Ruri.
"Yah ... itu karena bapak awalnya memang manusia, dan juga keberadaanku disini mungkin untuk melakukan hal ini," kata Ruri.
"Hmm mungkin saja."
"Baiklah Pak, aku akan kembali kesini lagi setelah jam makan siang," ucap Ruri sambil pergi.
"Iya."
...****************...
"Hei Ruri ... disini, cepatlah!" kata Vina dari kejauhan.
"Heh? Kalian masih di sini?" tanya Ruri setelah sampai.
"Ini karena seseorang bersikeras mencoba untuk menunggumu ... " kata Vina sambil melirik kearah Clarissa.
"I-itu karena kita semua yang bekerja sama mendapatkan bola itu, lagi juga kau tahu sendiri, yang paling berjasa melawan makhluk itu adalah Ruri," ucap Clarissa sambil tersenyum masam.
"Baiklah baiklah aku mengerti," balas Vina.
"Ahh tidak, kita bersama yang mendapatkannya, jadi itu milik kita bersama, kalau begitu ayo jalan!" ucap Ruri sambil tersenyum.
"Kemana?" tanya Vina polos.
"Tentu saja ke tempat penukaran stealth crystal."
"Kita sudah sampai, ini tempatnya," ucap Vina sambil menunjuk kearah sebuah bangunan di sampingnya.
"Kau tidak bilang."
"Ayo kita masuk!" ucap Dhafin.
"Sebentar," ucap Ruri sambil menarik tangan Naila membawanya menjauh sedikit dari teman-teman yang lain.
"A-ada apa Ruri?" kata Naila yang mukanya mulai memerah.
"Aku hanya ingin memastikan, kira-kira berapa harga stealth crystal itu jika dari yang terendah menurut pendapatmu?" bisik Ruri.
"Ahh itu, seperti yang kubilang sebelumnya, kalau tidak salah paling sedikit kita bisa menjualnya seharga 1 sampai 5 koin perak besar bahkan bisa mencapai 1 koin emas kecil," kata Naila.
"Begitu rupanya, baiklah aku mengerti," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Hei hei, kalian berdua ini sedang membicarakan apa?" ucap Dhafin.
"Membicarakan uang," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Ayo kita masuk sekarang!" ajak Ruri yang masih tersenyum.
"Ahh i-iya."
Mereka berlima pun masuk kedalam, akan tetapi, saat baru sampai di dalam ...
"Heh? Bocah? Apa yang kalian lakukan disini? Pergi bermain saja sana!" ucap salah seorang bertubuh besar yang juga tengah menukar stealth crystal miliknya.
"Bo-bocah?!" ucap Clarissa sambil tersenyum jengkel sambil mengepalkan tangannya.
Namun, dalam hal ini, Ruri berhasil meredam amarah Clarissa dengan menatapnya saja sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa ada lagi yang ingin kau katakan? Kalau tidak, cepat enyahlah dari sini sesegera mungkin!" ucap Ruri sambil tersenyum ke arah orang tadi.
Orang itu pun terkejut dan sedikit merasa kesal.
"Untuk seukuran bocah, mulut kau boleh juga ya," ucap orang itu sambil melepas pedang dari sarungnya lalu mengacungkan pedang itu kearah Ruri.
"Hei kalian kalau mau berkelahi di luar saja!" ucap pemilik tempat itu.
"Iya, kau selalu saja membuat masalah," ucap seseorang yang mungkin rekan dari orang berbadan besar tadi.
"Maaf aku hanya terbawa suasana, tidak mungkinkan aku akan melawan 5 bocah ini," ucap orang tadi sambil memasuki kembali pedangnya kedalam sarung.
"Tentu saja, karena aku khawatir kau tidak bisa bertahan melawan kami selama 1 menit," ucap Ruri asal yang membuat orang tadi kembali memanas.
"Ruri sudah hentikan," kata Naila.
"Hei bocah, setelah ini kau akan menerima akibatnya!" ucap orang berbadan besar itu sambil menatap Ruri.
"Aku berharap itu bukan gertakan belaka," ucap Ruri yang masih tersenyum.
"Bo-bocah ini?!" ucap orang tadi yang hendak memukul Ruri namun dihadang oleh rekannya.
"Sudahlah, apa kau tidak bisa tahan dengan pancingan seperti itu? Apalagi yang berkata itu hanya anak-anak."
"Cihh ... "
"Ruri sudahlah, jangan memperburuk suasana," kata Naila lagi.
"Baiklah."
Setelah kedua orang itu selesai dengan penukaran stealth crystal, kedua pria itu pun keluar.
"Jadi, kalian ada keperluan apa?" tanya pemilik tempat itu.
"Kami ingin menjual stealth crystal ini," ucap Vina sambil mengeluarkan sebuah bola dari tasnya.
"H-hah? Ini kalian dapat dari mana?" tanya pemilik tempat itu.
"Dari makhluk Taur--" ucap Ruri terpotong karena mulutnya ditutupi oleh tangan Vina.
"Dari dalam gua, didalamnya banyak siluman yang menjaga bola ini," ucap Vina.
"Jadi begitu."
"Jadi, kita bisa dapat berapa kalau menjual bola ini?" tanya Clarissa cepat.
Pemilik tempat itu melihat kearah Ruri dan teman-temannya sebentar, lalu tersenyum sambil berkata.
"Kalau stealth crystal nya sebesar ini, mungkin akan kuhargai 2 keping koin perak besar."
"H-hah? kenapa bisa semurah itu?" ucap Dhafin.
"Sudah kuduga," gumam Ruri.
"Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah harganya bisa mencapai 1 koin emas kecil keatas?" ucap Naila tidak percaya.
"Yahh ... mau bagaimana lagi nona, aku hanya bisa ... " ucap pemilik tempat itu yang belum melanjutkan perkataannya karena Ruri mengambil bolanya dan hendak pergi sambil berkata.
"Ayo teman-teman, kita cari tempat yang lain saja!"
"Hei, t-tunggu ... baiklah akan kunaikan harganya. Bagaimana kalau kubeli 2 keping koin emas kecil," kata pemilik tempat itu.
Ruri tersenyum, lalu kembali mendekati pemilik tempat itu sambil berkata.
"Hah? Kau pikir kami di sini untuk menjual hewan peliharaan? Kalau kau mau, aku ingin menjualnya seharga 50 keping koin emas besar," kata Ruri sambil tersenyum.
Semua yang mendengar itu terkejut.
"Apa yang kau katakan? Itu terlalu mahal untuk ini," ucap pemilik tempat itu.
"Ruri, apa yang kau katakan? Bukankah kita mendapat 1 keping koin emas kecil saja sudah cukup? Tapi dia menawarkan 2 keping, bukankah itu sudah cukup?" bisik Clarissa.
"Tenang saja. Ini adalah keahlianku, bisa kau mengajak yang lain keluar?" ucap Ruri kepada Clarissa.
Clarissa yang tidak mengerti hanya bisa menuruti permintaan Ruri untuk mengajak teman-temannya keluar dari tempat itu.
"Yah kalau kau tidak mau, tidak apa, mungkin di tempat lain mau menerimanya," ucap Ruri sambil mengambil bola itu yang hendak segera pergi.
"B-baiklah ... bagaimana kalau 1 keping koin emas besar."
"L - I - M - A puluh ... " kata Ruri singkat.
"Itu terlalu mahal, nak, baiklah aku akan langsung memberikan 4 keping emas besar?"
"Kutolak, baiklah kalau kau keberatan akan kuringankan, bagaimana kalau 45 keping koin emas besar?"
"Tidak bisa, kalau 7 keping emas besar bagaimana?" kata pemilik tempat itu yang sudah banyak mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhnya.
Sedangkan Ruri hanya tersenyum, dan berkata dengan santainya seakan ia tahu betul isi pikirkan orang itu.
"Huuhh ... Paman ini keras kepala sekali, baiklah aku akan menawarkan harga terakhir," kata Ruri yang menyebabkan detak jantung pemilik itu tidak karuan dan terlihat banyak keringat bercucuran di seluruh bagian kening orang itu.
"Aku terima dengan harga 25 keping koin emas besar! Bagaimana? Kalau paman tidak mau, aku akan benar-benar pergi dan mencari tempat lain yang bisa menerima ini dengan harga 50 keping," kata Ruri sambil tersenyum.
"Ti-tidak bisa, bagaimana kalau ... " ucap pemilik tempat itu yang tidak melanjutkan perkataannya karena melihat Ruri telah beranjak pergi keluar dari tempat itu.
"Hei Ruri bagaimana? Kau bisa menjual berapa?" tanya Vina.
"Iya, aku juga penasaran, tapi kenapa bola ini masih kau pegang, berarti kau belum menjual ... " kata Dhafin.
"Tidak, aku berhasil menjualnya, dan kalian akan mendengar sendiri harga dari bola ini," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Maksudnya?" ucap Clarissa tidak mengerti.
"Kalian akan mendengarnya sendiri harga dari bola ini dalam waktu 3, 2, 1, muncul!" ucap Ruri yang dilanjutkan datangnya seseorang dari belakang mereka.
"Baiklah akan aku beli seharga 25 keping koin emas besar!" ucap orang itu setelah sampai di tempat Ruri dan kawanannya berdiri.
"H-hah?! Du-dua puluh lima keping?!" ucap mereka berempat terkejut.
"Akhirnya kau mengerti juga, baiklah kita sepakat?" ucap Ruri sambil menjulurkan tangannya.
"I-iya."
"Baiklah, paman, ayo kembali ke dalam untuk membahas lebih lanjut!" ajak Ruri kepada laki-laki itu.
"Tidak ku sangka, Ruri bisa membuat orang itu membelinya sampai 25 koin emas besar, walaupun tadi dia sebelumnya bilang 50," ucap Vina yang masih tidak percaya.
"Aku juga bingung, bagaimana Ruri bisa membuat orang itu menaikkan harganya sampai setinggi itu yang awalnya dari 2 keping perak besar," kata Clarissa.
"Yaahh ... begitulah Ruri Narendra," sambung Dhafin.
"Maaf ya untuk sekarang kita di kasih 5 keping dulu, katanya besok mungkin baru bisa diberikan semuanya, karena saat ini ia tidak mempunyai uang lagi di tempatnya, hehe," ucap Ruri sambil menunjukkan 5 keping koin emas besar ditangannya.
"Padahal 2 keping emas kecil juga sudah cukup Ruri," ucap Naila sambil tersenyum.
"Tapi bukankah lebih baik kita mendapatkan harga yang sesuai dengan perjuangan kita?" ucap Ruri kepada Naila.
"Yaa itu terserah kamu, lagi juga kau sudah dapat uangnya," kata Naila.
"Kalau sisanya besok, apa kita bisa mempercayainya? Karena ada kemungkinan kalau orang itu kabur," ucap Dhafin.
"Ohh soal itu tidak usah khawatir, karena aku sudah melakukan sesuatu kepadanya agar dia tidak bisa mengingkarinya," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Biar kutebak, kau mengancamnya?" tebak Clarissa dengan raut wajah datar.
"Hehe."
"Huuhh ... dasar Ruri," kata Naila sambil tersenyum.
"Ayo kita kembali!" ucap Ruri sambil berjalan yang diikuti teman-temannya dari belakang.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, akan tetapi langkah mereka terhenti karena mendengar ucapan seseorang.
"Hei bocah, akhirnya kalian keluar juga, lama sekali kalian ini," kata orang itu.
"Hah? Kukira siapa, ternyata orang aneh itu lagi," ucap Ruri sambil menghela nafas.
"O-orang aneh?! Siapa yang kau bilang aneh, hah?!" ucap orang itu agak keras.
"Sudahlah kau ini selalu mudah marah, padahal sudah kubilang untuk tidak memperdulikannya," ucap rekan orang itu.
"Tidak, mereka harus diberi pelajaran!" ucap orang tadi.
"Ruri. Bolehkan aku memukulnya, sekali saja," ucap Clarissa sambil tersenyum.
"Ahh jangan, aku khawatir pada mereka masih bisa hidup atau tidak setelah dipukul olehmu," ucap Ruri yang ikut tersenyum.
"Hei bocah, karena kau sudah menghinaku tadi, bagaimana kalau aku menantang kalian?" ucap orang itu sambil menghunuskan pedangnya.
"ORANG INI?!" ucap Clarissa dengan geram tapi berhasil ditahan oleh Ruri.
"Baiklah aku terima tantanganmu sendiri, tidak perlu kami semua untuk melawan orang aneh sepertimu," ucap Ruri.
"Tapi Ruri ... " ucap Clarissa.
"Tenang saja, kalian kembali ke penginapan duluan saja ya, biar aku yang urus orang aneh ini," ucap Ruri kepada teman-temannya.
"Baiklah, hati-hati lah," ucap mereka semua sambil berlalu pergi.
"Hah? Kau mau melawanku sendiri? Apa kau bercanda?"
"Baiklah kalau kau setakut itu, aku akan melawanmu tanpa bergerak seinci pun dari tempat ku berdiri," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Cihh ... anak ini?!" ucap orang itu hendak mengayunkan pedangnya namun dihentikan oleh rekannya.
"Lebih baik kita menyelesaikannya di luar," katanya.
"Baiklah, hei bocah, ayo cepatlah! Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkanmu," ucapnya sambil berjalan.
"Iya iya."
Hutan ...
"Jadi apa kau sudah mempersiapkan diri atau ingin menyerah?" katanya.
"Kau ini banyak bicara ya, padahal hanya melawan anak kecil," ucap rekannya yang duduk di bawah pohon.
"Kau benar Kak, temanmu ini hanya banyak bicara, dan terlihat begitu payah dalam mental," kata Ruri sambil tersenyum.
"Apa kau bilang?! Hah sudahlah, bagaimana kalau pertarungan ini kita tambahkan sesuatu?"
"Sesuatu?" ucap Ruri tidak mengerti.
"Iya, bukankah kau tadi kesana menjual stealth crystal?"
"Iya benar, memangnya kenapa?"
"Bagaimana yang menang akan mendapatkan seluruh uang yang kita dapatkan dari menjual stealth crystal tadi, yahh walaupun punyamu pasti tidak seberapa, tapi tetap akan aku terima, jadi tenang saja."
"Memangnya hasil jual stealth crystal yang kau dapat berapa?" tanya Ruri.
"5 keping koin perak besar."
"Pffftt ... " ucap Ruri yang menahan tawa.
"H-hah? Apa yang lucu?!"
"Itu sangat tidak adil, karena punyaku, 5 keping koin emas besar," ucap Ruri sambil menunjukkan uangnya dan tertawa.
"Li-lima koin emas?!" ucap orang itu dan rekannya yang terkejut.
"Tapi tidak apa, aku akan menerima tantanganmu itu," ucap Ruri.
"Heh? Kalau begitu, nasibmu buruk sekali hari ini," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya terserah kau. Ini uangku," ucap Ruri sambil melempar 5 koin emas ke pinggir.
"Heh? Baiklah, ini uangku," ucap orang itu sambil melempar uang 5 koin perak ke pinggir pula.
"Hei Kakak yang di sana, apa kau tidak berniat membantu kawanmu ini?" ucap Ruri kepada orang yang duduk di bawah pohon.
"Ahh tidak, itu masalah antara kau dan dia, aku tidak ingin terlibat," katanya.
"Yahh gawat kalau begitu," ucap Ruri sambil tersenyum.
"Baiklah pertarungan ini hanya sampai membuat salah seorang menyerah atau salah seorang tidak dapat melanjutkan pertarungan. Siap ... mulai!" ucap rekan orang itu yang hanya menonton dari kejauhan.
Terlihat orang yang berada di hadapan Ruri tengah mengumpulkan sihirnya dan memfokuskan pada pedangnya.
"Ada apa bocah? Apa kau takut melawanku setelah melihat ini, sampai-sampai kau tidak bisa bergerak?" ucap orang itu sambil tersenyum.
"Heh? Apa kau sudah lupa? Aku akan melawanmu tanpa melangkah sedikitpun," ucap Ruri polos.
"Ja-jangan bercanda?!" ucap orang itu sambil berlari kearah Ruri.
Ruri tersenyum lalu mengangkat tangannya dan menembakkan bola api beruntun.
Akan tetapi orang itu hanya menghindarinya dan sesekali menebasnya.
"Ayolah, apa kau yakin akan tetap tidak ingin melangkah sedikitpun?" ucap orang itu sambil melompat dan mengayunkan pedangnya mengarah ke kepala Ruri.
"Tentu saja," ucap Ruri sambil membuat protector di bagian atas.
*Taaannng ...
Suara pedang yang berbenturan dengan protector.
"Kau membuat protector di bagian atas? Akan tetapi bagian bawah mu penuh cela," katanya sambil turun dan menyerang bagian bawah Ruri.
"Heh? Kau mudah terpancing? Payah sekali kau ini."
Orang itu terkejut mendengar kata kata Ruri.
"Wind thrust ... !!!"
Seketika saja orang itu terpental agak jauh karena sihir angin milik Ruri.
"Apa kau masih mau melanjutkan?" tanya Ruri.
"Cihh ... " ucap orang itu yang kembali berlari lalu menembakkan bola api dari ujung pedangnya.
"Heh? Ternyata bisa juga pedang digunakan seperti itu?" ucap Ruri sambil tersenyum.
Dengan cepat Ruri menembakkan beberapa jarum es ke arah bola api musuh lalu menembusnya dan dengan cepat mengarah langsung ke orang itu.
Karena tidak sempat menghindar, orang itu menebas satu persatu jarum es itu, akan tetapi karena sedikit lengah, salah satu jarum es milik Ruri tertancap tepat di pundak kanan orang itu.
"Sudahlah kita hentikan sampai di sini saja," ucap Ruri yang melihat orang itu kesakitan.
"Ini bukan apa-apa," kata orang itu yang kembali berlari kearah Ruri lalu mengayunkan pedangnya.
"Apa boleh buat," ucap Ruri sambil membuat pedang es nya.
*Taaannng ...
Suara pedang beradu.
"Untuk seukuran bocah kekuatanmu boleh juga," ucap orang itu sambil mendorong pedangnya dengan sekuat tenaga.
"Aku akan bertanya, apa kau ingin menyerah?" ucap Ruri yang dalam posisi bertahan.
"Apa maksudmu, arrrgghhh ... " ucap orang itu karena tertusuk sebuah jarum es dari belakang.
"Tenang saja, aku berusaha untuk tidak mengenai organ vitalmu," kata Ruri.
"Kau bisa membuat sihir dalam keadaan seperti ini?" ucap orang itu tidak percaya.
"Tentu saja, maka karena itu aku tanya lagi, apa kau ingin menyerah?" ucap Ruri yang di barengi tusukan sebuah jarum es tepat mengenai lengan kanan orang itu.
"Tidak akan?!" ucap orang itu yang masih menekankan pedangnya.
"Aku akui kekuatanmu, tapi, ini sudah berakhir," ucap Ruri yang menggerakan ketiga jarum es yang tertancap di tubuh orang itu menjadi lebih dalam.
Karena menahan rasa sakit itu, ia tidak bisa bergerak dan Ruri dengan cepat membuat belasan pedang es melayang mengelilingi orang itu.
"Apa masih mau dilanjutkan?" ucap Ruri.
"Mu-mustahil ... !!!" gumam orang itu setelah melihat sekitar.
"Kalau hanya sebuah jarum yang menusukmu, mungkin tidak seberapa, tapi, apa kau mau mencoba semua pedang es ini menyentuh tubuhmu?" kata Ruri.
"Sudah cukup, kami menyerah," ucap rekannya sambil berjalan mendekati Ruri.
"Hmm baiklah," ucap Ruri yang menghilangkan semua es nya termasuk yang tertancap di tubuh orang itu.
Seketika saja orang yang dihadapan Ruri jatuh terduduk di hamparan rerumputan hijau.
"Ini uang mu dan miliknya, ambilah! Dan aku ucapkan minta maaf atas kelakuan rekanku ini," katanya.
"Tidak apa, baiklah aku pergi dulu," ucap Ruri sambil beranjak pergi.
"I-iya."
"Sial! Kenapa aku kalah hanya dari seorang anak kecil?!"
"Itu salah kau sendiri, sudahlah ayo kita pergi ke rumah sakit."
"Tapi, aku sudah tidak punya uang lagi."
"Sudahlah kau boleh meminjam punyaku dulu."
"A-aku tidak bisa menerima bantuan temanku karena perbuatan bodohku sendiri."
"Sudahlah kau boleh menggantinya nanti."
Tiba-tiba saja ...
"Heal ... !!!"
Seketika saja orang yang terluka itu tubuhnya bercahaya, dan semua lukanya mulai menutup dengan sendirinya.
"I-ini ... sihir penyembuhan?" ucap rekan orang itu sambil menoleh.
"Semua luka ku, hilang?"
"Terima kasih Naila," ucap Ruri.
"Ti-tidak apa-apa."
"Kenapa kau menolongku?" katanya sambil menatap Ruri.
"Tidak, yang menolongmu bukan aku, tapi gadis ini," ucap Ruri sambil melirik ke arah Naila.
"Ru-Ruri ... " ucap Naila sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Nona terima kasih," ucap orang itu sambil menundukkan kepalanya.
"Ahh ti-tidak apa-apa, jadi tolong angkatlah kepalamu," ucap Naila.
"Hei orang aneh, tangkap ini," ucap Ruri sambil melempar sebuah kantung berisi koin.
"Heh? Inikan ... "
"Iya, aku tidak tega mengambil barang dari seseorang, baiklah, ayo kita kembali, Naila!"
"Hmm iya."
"Hei, siapa namamu?" ucap rekan orang itu.
"Ruri, Ruri Narendra," ucap Ruri sambil berlalu pergi bersama Naila.
"Ruri!" ucapnya lagi.
Ruri hanya menoleh.
"Terima kasih."
Ruri hanya tersenyum.
"Beruntung kau bertemu dengannya, kalau yang kau lawan bukan dia, entah seperti apa nasibmu."
"Aku tau, aku akan mencoba menahan diri mulai sekarang."