
Kring... kring... kring...
Dering handphone mengejutkan Chloe yang hampir terlelap. Ia mencoba meraihnya walau sudah sangat mengantuk.
"Chlo... bisa keluar sebentar? Saya ada di depan kamar." Ujar Ken dari telepon seperti orang yang membutuhkan pertolongan.
Chloe yang tadi setengah sadar langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Ken memang ada disana dengan kondisi yang sudah lemah dan sesak nafas. Ia mendadak jatuh di hadapan Chloe.
"Astaga! Ken... kamu kenapa? Bangun Ken!" Teriak Chloe yang begitu khawatir karna melihat Ken dalam kondisi tidak sadarkan diri di lantai.
"Haduh aku harus bagaimana ini," Ucap panik Chloe sambil mencoba menghubungi pihak Villa untuk meminta bantuan. Namun, tidak ada jawaban.
Chloe berusaha untuk menyadarkan Ken dengan memberikan minyak angin di hidungnya.
Dalam waktu beberapa menit Ken sadarkan diri.
"Chlo dada saya sesak." Keluh Ken tanpa sengaja menyentuh tangan Chloe.
"Kok bisa?! Ya sudah kita naik ke tempat tidur, ayo aku Bantu berdiri." Chloe membopong Ken dan membaringkannya di tempat tidur.
Dengan segera Chloe mengambil segelas air dan memberikannya pada Kenan.
"Ken, ini minum dulu." Ucap Chloe sembari membantu memegang gelas.
Ken menghabiskan minumannya lalu kembali berbaring.
"Kamu kenapa kok bisa sampai sesak, juga pingsan?" Tanya Chloe sambil meletakkan gelas di atas meja disamping tempat tidurnya.
"Saya baru ingat kalau ada alergi udang. Mungkin karna tadi saya coba udang bakar pesanan kamu." Jawab Kenan.
"Ya ampun... Maaf Ken aku gak tahu kalau kamu alergi udang, maaf ya." Ucap Chloe dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa apa Chlo. Saya yang lupa harus nya tadi saya tidak makan udangnya. Jadinya merepotkan kamu."
"Sekarang keadaan kamu gimana? Apa sebaiknya kita panggil dokter?" Tanya Chloe yang masih saja mecemaskan Ken.
"Tidak usah. Sudah tidak apa-apa tadi sebelum ke kamar kamu saya sudah minum obat yang biasa saya konsumsi jika kena alergi, mungkin sekarang obatnya baru beraksi." Kata Kenan mencoba menenangkan Chloe yang terlihat sangat khawatir dari raut wajahnya.
"Oke, kalau gitu kamu istirahat saja dulu ya." Ucap Chloe kali ini sembari menarik selimut hendak menyelimuti Ken.
Tindakan Chloe membuat Ken menatapnya dan saat Chloe hendak pergi Ken menahan nya dan menariknya lebih dekat. Chloe mencoba untuk menghindar dengan melepaskan tangan Ken yang merangkul dileher tetapi, ia tidak terlalu kuat untuk melawan tenaga Ken.
Seketika itu darah Chloe mengalir lebih kencang dan detak jantung nya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ditambah tatapan Ken yang terus menyerang kedua bola mata Chloe, sungguh mampu membuat Chloe beku tidak berdaya. Bukan hanya sampai disitu, Ken mendekatkan wajah Chloe semakin dekat dengan wajahnya seperti hendak mencium wanita itu.
"Chlo, terimakasih sudah menolong saya." Bisik Ken yang mampu membuat Chloe merasakan begitu dekat nafas Ken.
"Mengapa dia selalu seperti itu waktu ingin mengatakan sesuatu atau mau memberikan kunci... Sungguh menyebalkan! Dia selalu membuat aku hampir mati setiap ia menatapku." Keluh Chloe yang masih berdiri disamping Ken yang sudah lelap.
"Lebih baik aku tidur dikamarnya. Tapi, kalau dia kenapa-napa gimana ya? Haduh, aku tidak tega untuk meninggalkanya. Ya sudah lebih baik aku tidur disini saja, disofa." Chloe lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tertidur.
Hari sudah berganti menjadi terang. Matahari menyinari kamar Chloe dan membangunkannya.
Chloe yang terbangun segera menghampiri Ken yang masih larut dalam tidur lelapnya. Ia mencoba memastikan apakah Ken sudah membaik.
"Ah, dia demam. Badannya panas sekali." Ujar Chloe sambil menyentuh kening Ken. Chloe mengambil air hangat dengan mangkuk kecil juga kain untuk mengompres.
"Chlo... Kamu sudah berkemas? Hari ini liburan terakhir kita sebelum besok pagi pulang. Saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat."
Tiba-tiba Ken terbangun dengan kondisi kain yang masih menempel di keningnya.
"Tidak usah kemana-mana dulu Ken. Kamu harus istirahat, jadi batalkan saja dulu semua rencana nya." Kata Chloe yang mengkhawatirkan keadaan Ken.
"Tapi besok kita sudah harus pulang."
"Tidak ya tidak Ken! Jangan keras kepala! Kamu ini sedang demam." Ucap Chloe tegas.
"Baiklah Chlo, maaf ya saya merepotkan." Kenan tersenyum
"Jangan pikirkan itu. Yang penting kamu sehat. Tunggu disini ya, aku cari sarapan. Ini handphone jangan jauh-jauh ntar kalau kamu kenapa-napa langsung hubungi aku ya." Perintah Chloe sembari meletakkan handphone Ken disampingnya.
"Iya Chlo, kamu juga jangan lupa bawa handphone. Saya tidak mau kamu kenapa-napa."
"Iya tenang saja. Aku tinggal dulu ya," Ucap Chloe lagi sembari berdiri mengambil dompetnya lalu pergi.
Ken yang ditinggalkan berpikir bahwa ia sudah menyusahkan putri tunggal pak Corlenius. Sungguh ia merasa sangat tidak enak, karna Ken memang tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain.
Ia melepaskan kain yang ada di dahinya lalu memandangi kain itu dan tersenyum mengingat Chloe yang begitu perhatian merawatnya.
"Wanita ini tulus sekali. Sayangnya dia masih terlalu polos dan lugu. Semoga pria yang mendapatkannya kelak tidakĀ memanfaatkan ketulusanya." Ucap Ken sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Chloe.
Tut...tut....tut... Terdengar bahwa Chloe tidak dapat dihubungin.
"Kok tidak menyambung, dia pergi kemana?" Ucap Ken dan mencoba menghubungi Chlo lagi namun tetap mendapatkan hasil yang sama.
"Ya ampun Chloe kamu dimana, kok susah sekali dihubungi. Sudah 20menit tidak kembali juga." Ucap Ken panik dan segera kekamarnya mengambil kunci mobil untuk menyusul Chloe.
Ken begitu khawatir dengan keadaan wanita polosnya. Ntah apa yang membuatnya sangat cemas ketika mengetahui bahwa Chloe tidak bisa dihubungi. Apa itu perasaan cinta yang mulai tumbuh atau hanya sekedar sebuah tanggung jawab selama berada di Bandung.