
Kenan merapikan meja kerjanya dan melirik ke arah jam tangannya, "Saatnya kita pulang."
"Tapi ini kan belum jam pulang, masih ada berapa jam lagi," Ucap Chloe.
"Jika saya katakan pulang, maka artinya?"
"Iya kita pulang," Jawab Chloe sambil memainkan bibirnya kesal.
Kenan berdiri disamping Chloe yang masih duduk, "Ayo bangkit, kamu ingin saya kunci di sini?
"Jangan..." Chloe bergegas.
Kenan memberikan tangannya pada Chloe, seolah memberi petunjuk agar Chloe meraihnya. Chloe pun menurut saja, ia berjalan sambil menggandeng suaminya itu.
Seperti biasa semua karyawan wanita selalu mencuri pandang pada Kenan.
"Jangan menunduk," Bisik Kenan yang memperhatikan Chloe seperti tidak percaya diri.
"Aku malu Kenan, lebih baik menunduk saja dari pada mereka berkata yang bukan-bukan," Chloe masih terus menunduk.
Kenan menghentikan langkah kakinya. Ia menyentuh lembut pundak Chloe lalu menatapnya. Kemudian ia berlaku lembut pada istrinya itu.
"Sayang kamu tahu, hari ini saya bahagia karena sudah di temani oleh bidadari secantik kamu, yang tidak ada bandingan nya." Kata Kenan lantang agar semua mendengar perkataan mereka.
"Ken... apa-apaan kamu!" Bisik Chloe.
Kenan mengarahkan bibirnya dekat pada telinga Chloe, "Ingat hukuman nya ketika berbicara harus di akhiri dengan kata?
"Apa yang kamu lakukan suamiku? Lihat semua orang melihat ke arah kita." Bisik Chloe lagi.
"Sayang, rasanya malam ini saya ingin sekali menghabiskan nya bersamamu. Walau sudah banyak malam yang kita lewati tapi rasanya seperti pertama kali bertemu." Kenan semakin memperkuat suaranya sambil menyentuh lembut wajah Chloe.
"Suamiku," Chloe hendak berbicara, namun jari telunjuk Kenan menempel di bibirnya.
"Sst... jangan ucapkan, saya sudah tahu kamu sangat menyayangi saya,"
Duh... Apa yang Kenan lakukan? Tapi mengapa rasanya senang sekali ya Kenan seperti ini. Walau, aku tahu ini hanya pura-pura dia lakukan, agar mereka tidak membicarakan aku yang bukan-bukan.
"Terimakasih suamiku," Chloe memeluk Kenan tak mau kalah.
Kenan tersentak mendapati Chloe yang memeluknya mesra.
Chloe memeluk saya untuk kedua kalinya. Pertama, waktu dia takut gelap dan sekarang yang kedua kali. Tapi mengapa rasanya berbeda saat ini.
Mereka yang menyaksikan itu memandang iri pada Chloe dan saling berbisik.
"Huu... seandainya aku yang disana."
"Kamu juga tidak pantas mendapatkan pria setampan dan semapan Pak Aldrich."
"Lebih pantas aku dari pada istrinya itu."
Kiel yang mendengar bisik-bisik para karyawan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia berjalan sedikit, lalu mendapati Chloe yang berpelukan dengan lelaki impian nya.
"Berpelukan mesra di tempat umum! Apa-apaan ini! Mereka kan hanya di jodohkan, mengapa malah mesra seperti ini." Ujar Kiel sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Tunggu, apa memang benar yang Kenan katakan waktu itu bahwa ia mencintai Chloe.
"Tidak!..." Teriak Kiel tiba-tiba.
Semua orang melihat ke arah Kiel kebingungan, tetapi ada yang tertawa. Bahkan, teriakan Kiel juga menghentikan Chloe dan Kenan yang sedang berpelukan.
"Sepertinya sekretaris baru centil itu terbakar melihat Pak Aldrich memeluk mesra istrinya hihi..." Bisik seseorang pada teman nya.
Kiel menutup mulutnya dengan tangan
Kiel kau sudah membuat dirimu malu sekarang. Mengapa harus berteriak.
"Pak Aldrich, apa ada yang ingin saya kerjakan?" Tanya Kiel menghampiri Kenan.
"Tidak ada. Saya dan Chloe ingin pulang sekarang." Jawab Kenan sambil kembali menggenggam tangan Chloe.
"Tapi ini belum waktunya Pak," Ucap Kiel.
"Memangnya jam pulang saya kamu yang mengatur?"
"Ti -dak Pak..." Jawab Kiel bergetar.
Kenan mengabaikan Kiel, ia menarik tangan Chloe dan pergi meninggalkan sekretarisnya itu. Chloe melambaikan tangannya pada Kiel dan tersenyum senang seolah-olah, ia sudah memenangkan sebuah perlombaan.
"Saya sangat lapar, tolong buatkan saya sesuatu yang enak." Pinta Kenan ketika mereka baru saja sampai di apartemen.
"Kita kan baru saja sampai Kenan," Rengek Chloe menolak.
Kenan hanya menatap Chloe sekali namun cukup mengingatkan wanita itu akan hukumannya.
"Bagus. Silakan masak, saya akan mandi, lalu menunggunya di kamar." Kenan melangkahkan kakinya menaiki tangga meninggalkan Chloe.
"Makan itu harusnya di meja makan bukan di kamar." Teriak Chloe.
"Jadi mau membantah?" Sahut Kenan.
"Tidak suamiku."
Chloe menuju dapur untuk segera memasak. Ia menyiapkan semua bahan-bahan yang ia ambil dari lemari es. Berupa sayuran, juga daging segar.
"Nyonya, biarkan saya saja yang memasak," Kata Rani mengejutkan Chloe.
Chloe menoleh pada Rani, "Hei Ran... tidak usah biar saya saja,"
"Jangan Nyonya, nanti Tuan bisa marah besar kalau kuku Nyonya rusak," Kata Rani lagi.
"Justru Tuan Kenan yang meminta saya memasak untuk makan malamnya," Chloe memakai sebuah clemek, "Lagian saya ini jago memasak kok." Lanjut Chloe lagi sambil tersenyum dan mengedipkan matanya pada Rani.
"Tapi kalau perlu apapun, bilang pada saya ya Nyonya,"
"Iya Ran tenang saja," Chloe mulai membersihkan daging yang akan ia masak.
Tanpa ia sadari, Kenan turun diam-diam dan memperhatikan Chloe dari belakang.
Dia semangat sekali dan sepertinya sudah ahli dalam hal memasak. Saya pikir dia hanya wanita manja.
Chloe mulai memanggang daging, menaburnya dengan sejumput garam dan lada.
Aku akan buat Kenan yang menyebalkan itu bungkam setelah mencicipi makananku. Bahkan mungkin jatuh cinta padaku hehe...
Kemudian Kenan menghampiri Chloe, memperhatikan istrinya yang sedang sibuk.
"Sepertinya kamu sudah ahli," Ujar Kenan.
"Kamu! Mengejutkan saja."
"Saya akan suruh kamu memasaknya ulang kalau tidak enak,"
"Tenang saja suamiku, ini pasti akan memanjakan perutmu," Kata Chloe percaya diri.
Kenan tersenyum dan meninggalkan Chloe kembali ke kamarnya.
Berapa lama kemudian, Chloe sudah selesai dengan masaknya. Ia menghias makanan nya dengan cantik dan cukup percaya diri untuk di coba oleh suaminya itu.
Ia membawa makanan itu ke kamar Kenan. Tanpa mengetuk, Chloe masuk saat Kenan sedang sibuk di depan laptop bekerja.
"Suamiku, makanannya sudah selesai," Chloe menghidangkan nya di meja, tepat di hadapan Kenan.
"Kamu masak steak saja begitu lama..." Omel Kenan.
Memangnya masak itu mudah, Gerutu Chloe.
"Maaf suamiku, kalau begitu silakan di makan sebelum dingin," Ucap Chloe lagi.
"Saya sedang kerja. Jadi tolong suapi saya." Pinta Kenan sambil sibuk mengetik.
"Mengapa kamu bekerja hingga malam hari. Harusnya saatnya makan, ya berhenti." Celoteh Chloe jengkel.
"Bukankah tadi saya sudah katakan bahwa saya akan lembur? Ini yang saya maksud temani saya lembur." Jawab Kenan.
"Lembur itu hanya berlaku di kantor bukan di rumah seperti ini," Balas Chloe tak mau kalah.
Kenan memandang Chloe, "Kamu lupa, saya berhak melakukan apapun yang saya mau dan kamu harus lakukan?"
"Iya baik suamiku," Chloe mulai memotong kecil daging steak dan menyuapi Kenan dengan lembut.
"Ahh! Panas sekali," Teriak Kenan merasakan makanan panas yang membakar lidahnya.
Chloe tertawa, "Haha... makanya sebelum makan itu di tiup terlebih dahulu,"
Wajah Kenan jengkel, "Harusnya kamu yang meniup jangan langsung diberikan pada saya. Pastikan dulu makanan itu tidak panas." Omel Kenan lagi.
Seperti anak kecil saja. Tapi Kenan terlihat lucu juga karena lidahnya terbakar.
"Maaf suamiku, aku tidak tahu." Kata Chloe.
"Lakukan dengan baik kali ini,"
Masakan Chloe enak sekali, rasanya lebih enak dari makanan restoran.
Chloe meniupnya dan mulai menyuapi Kenan lagi. Suapan demi suapan hingga habis. Selama itu pula Kenan menahan tawa dalam hatinya, melihat Chloe yang menuruti kemauannya.