
Pagi hari yang cerah menyambut Chloe yang mulai menampakkan senyum di wajahnya. Baginya, hari ini adalah awal yang baru untuknya dan Kenan. Jadi, ia harus berusaha untuk tersenyum agar Kenan tidak selalu mengkhawatirkan keadaannya.
Chloe membuka matanya di dalam pelukan sang suami tercinta. Ia mengeliat menatap wajah suaminya, memperhatikan mata, hidung, bibir dan keseluruhan wajahnya.
Chloe mengusap lembut pipi Kenan, “Terimakasih sayang,” Ucapnya lembut sembari mendaratkan ciuman di pipi Kenan.
Kenan membuka matanya perlahan, “Kamu sudah bangun sayang?”
‘’Iya, aku merasa lebih baik sekarang. Kamu ingin aku buatkan sarapan?”
“Hei! Tidak. Kamu harus banyak beristirahat sayang.” Kenan mengusap pipi istrinya.
“Aku sudah membaik Ken,” Suara Chloe terdengar manja.
“Tidak! Pokoknya tidak boleh! Jadi biar Intan atau Rani atau yang lain saja yang menyiapkan.” Kenan membuka selimutnya dan bangkit.
“Kamu mau kemana sayang?”
“Saya mau mandi. Apa boleh hari ini saya ke kantor?” Menatap Chloe memelas.
Chloe tersenyum manis, “Tentu saja sayang. Kamu sudah terlalu banyak libur. Pastinya pekerjaan juga menumpuk.”
“Tapi, selama saya pergi kamu tidak boleh melakukan apapun. Kecuali, berbaring, makan dan tidur. Jika perlu apapun, kamu panggil para pelayan di sini.” Kenan memperingatkan seraya mengacungkan jari telunjuknya.
“Iya sayang kamu tenang saja ya.” Chloe mengedipkan satu matanya.
“Baiklah. Saya akan mandi dan bersiap.”
Kenan meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Drrt!... Drrt!...
Dering ponsel Kenan berbunyi dan segera Chloe meraihnya. Terdapat sebuah pesan masuk atas nama Kiel.
Kenan, maaf sudah menggangumu. Aku menyesal telah mengundurkan diri dari perusahaanmu. Saat ini aku sedang di landa banyak masalah dan hutang, aku butuh pekerjaan itu kembali Ken. Aku mohon tolong aku.
“Kiel, kasihan sekali dia…” Wajah Chloe merasa ibah setelah membaca pesan dari Kiel, ia menutup kembali ponsel Kenan dan menunggu suaminya selesai mandi.
Berapa lama setelahnya, Kenan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan piama putih tebal. Ia menggosok-gosok kepalanya dengan handuk.
“Suamiku,”Panggil Chloe.
Kenan menoleh, ‘’Iya, ada apa sayang?’’
“Aku membaca pesan dari Kiel.”
“Kiel?” Menatap tak percaya.
Chloe mengangguk, “Dia membutuhkan pekerjaannya lagi. Sepertinya dia sedang di landa masalah.”
“Apa isi pesannya?”
Chloe memberikan ponsel itu pada Kenan dan suaminya pun membacanya, lalu mengacuhkannya begitu saja.
“Apa kamu tidak ingin merespon pesannya?” Chloe menaikkan sebelah alisnya.
“Untuk apa?” Kenan mendekati lemari, ia mencari kemeja dan jas kerjanya.
“Kamu tidak merasa kasihan sayang padanya?”
“Chlo, saya tidak ingin Kiel nantinya menjadi masalah lagi untuk kita. Kamu pernah katakan bahwa kamu tidak menyukainya, bukan?” Kenan mengancing baju kemejanya.
“Iya, tapi ini masalahnya berbeda sayang. Mungkin saja memang Kiel membutuhkan perkerjaan dan bukan bermaksud untuk menggoda suamiku lagi.”
“Sayang---‘’ Kenan tak sempat melanjutkan kalimatnya.
“Tolonglah dia sayang, ini permintaanku.” Wajah Chloe memelas.
Kenan menghela napas, “Baiklah. Sebentar aku akan telepon dia.” Kenan mengambil kembali ponselnya yang tadi ia letakan begitu saja di atas kasur.
“Halo Kiel. Kamu boleh datang kapan saja ke kantor Aldrich grup dan kembali bekerja,” Ucap Kenan di ujung telepon.
“Yang benar Ken? Sekarang aku ada di Singapura. Apa boleh aku bekerja dari sekarang?” Suara Kiel terdengar bersemangat.
“Ya, silakan!” Jawab Kenan seadanya.
“Terimakasih Kenan atas kesempatannya.”
Kenan memutuskan telepon begitu saja. Dari wajahnya ia tak begitu menyukai kehadiran Kiel kembali di kantornya. Namun, ini adalah permintaan Chloe.
“Terimakasih sayang,” Ucap Chloe.
“Sekarang kita turun ke bawa dan sarapan.” Kenan membantu Chloe bangkit dari tempat tidur dan mereka melangkah keluar kamar.
Sarapan hanya di selesaikan dalam waktu singkat. Kenan terlihat di buru waktu karena ia harus meeting pagi ini bersama para karyawan untuk projek baru. Ia pamit dengan mendaratkan ciuman di bibir, kening dan pipi Chloe.
“Jangan melakukan apa-apa ya!” Kenan memperingatkan Chloe lagi dari kaca mobil yang terbuka setengah.
Chloe mengangguk dan tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Kenan.
Aldrich Capital Group
Kenan berjalan dengan penuh wibawa menyusuri koridor kantor. Semua para karyawan menunduk hormat padanya. Bahkan, tidak sedikit yang mengucapkan rasa belasungkawa walau Kenan hanya membalasnya dengan senyum.
Tepat di depan ruang kerjanya. Wanita berpenampilan rapi dan cantik sudah menunggu.
“Kenan, sekali lagi aku ucapkan terimakasih karena mau menerimaku lagi sebagai sekretarismu,” Ucap Kiel.
“Saya tidak berniat menjadikanmu sekretaris lagi. Tapi, sebagai staff kantor biasa.” Kata Kenan dengan tatapan tak suka.
“Baiklah Kenan, apa saja aku pasti akan melakukannya dengan baik.”
Kenan tersenyum paksa dan hendak masuk ke ruangannya.
“Ken sebentar.” Kiel memasang wajah dukanya, “Aku turut berduka cita atas kepergian Ayah Chloe,sampaikan salamku padanya.”
Kenan hanya mengangguk tanpa senyum.
“Dan aku juga mendengar jika Chloe baru saja operasi pengangkatan rahim. Apa itu benar?” Tanya Kiel dengan wajah ibah.
“Kiel, saya akan ada meeting sebentar lagi. Jadi, sebaiknya kembali ke ruangan staff dan bekerjalah dengan baik.” Kenan masuk ke ruangannya dan menutup pintu begitu saja.
Kiel merasa jengkel, ia menghentakkan kakinya ke lantai.
Sombong sekali dia. Padahal, niatku kan baik. Tapi, jika memang benar, itu tandanya Chloe tidak bisa memiliki keturunan. Ternyata langkah ini bisa menjadi awal yang baik untukku. Batin Kiel sembari melangkah menuju ruangan staff.
Kiel duduk di paling pojok. Ruangan itu di penuhi banyak karyawan staff, kurang lebih 20 orang. Laki-laki dan juga perempuan. Ia mulai menyalakan komputernya.
“Kiel kamu bekerja di sini lagi?” Tanya seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
“Tentu saja! Seorang Kenan membutuhkan pekerja yang baik seperti aku.” Jawabnya angkuh.
“Tapi mengapa tidak menjadi sekretarisnya sekarang?” Wanita tersenyum sinis.
“Sebenarnya, aku ini bisa saja menjadi sekretarisnya Pak Kenan Aldrich. Hanya saja, aku lebih memilih menjadi staff kantor biasa. Karena, kalian tahu aku ini sangat cantik dan aku hanya ingin menjaga hubungan Kenan dengan istrinya saja.” Suara Kiel begitu centil dan percaya diri. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya.
Mendengar perkataannya semua orang mencebik, kecuali para pria. Ya! Rata-rata mereka menyukai Kiel yang tergolong wanita cantik dan seksi di kantor itu.
“Hei apa benar kalau istrinya pak Aldrich baru saja melakukan operasi pengangkatan rahim?” Kiel berbisik pelan.
“Benar. Kau tahu dari mana?” Wanita di sebelahnya balik bertanya.
“Aku ini sebenarnya teman akrabnya Chloe, tapi aku tahu dari gosip yang beredar.” Kiel semakin mengecilkan suaranya.
“Kasihan ya dia. Untung saja Pak Kenan itu pria yang sangat baik. Ahh… mengagumkan jika memiliki suami seperti dia.” Wanita itu melayangkan pandangannya seakan sedang membayangkan Kenan.
Kiel mencebik dan menatap sinis pada wanita yang bernama Gani itu.
Tentu saja wanita seperti aku yang sepatutnya menjadi pendamping Kenan. Batin Kiel.