A Man From Daddy

A Man From Daddy
Baby Rachel



"Apa yang kalian bicarakan?" Kenan kembali duduk di samping Chloe.


"Biasa, ini tentang wanita." Chloe tersenyum manis memandang suaminya.


"Saya harus kembali ke kantor," Ucap Kenan sambil menggenggam tangan Chloe.


"Apa hari ini banyak pekerjaan yang harus di selesaikan?"


"Tidak juga. Hanya ada beberapa berkas yang harus saya tanda tangani." Kenan bangkit berdiri. Ia mendaratkan ciuman di pipi Chloe dan juga dahinya.


Kiel merasa sangat dongkol ketika harus menyaksikan kemesraan suami istri itu di hadapannya.


Mereka sangat membuat aku muak. Batinnya.


Gadis centil itu kemudian meraih tasnya yang sejak tadi di letakan dikursi sebelahnya. Ia melangkah mengikuti Kenan dan Chloe.


Chloe tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Kenan yang sudah berada di dalam mobil.


Tidak memakan waktu terlalu lama, Kenan telah tiba di kantornya. Ia melangkah mendahului Kiel dan berniat langsung masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.


"Kenan, tunggu!" Seru Kiel yang setengah berlari mengejar Kenan.


Kenan menghentikan langkahnya dan menoleh, "Ada apa?" Tanya nya ketus.


"Tadi aku dengar dari Chloe, kalian berniat untuk mengadopsi seorang anak. Itu benar Ken?"


"Ini adalah jam kerja. Jadi, saya tidak ingin membahas hal itu Kiel. Lagipula, tidak ada hubungannya denganmu tentang rencana saya dan Chloe." Kenan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya dengan wajah acuh.


Bagaimana caranya agar Kenan mau ngobrol denganku lebih lama. Huu... dia selalu saja mengabaikan aku yang cantik dan seksi ini. Menyebalkan! Gumam Kiel sembari melangkah menuju ruang staff.


Selama bekerja, Kiel terus memikirkan dan mencari cara agar ia dapat lebih dekat dengan Kenan.


Drrt... drrt...


Ponselnya berbunyi, segera Kiel meraihnya. Ia mendapati sebuah pesan yang tertera nama Bibi Steve.


Sejak SMA Kiel memang sangat dekat dengan keluarga Kenan, terutama Paman dan Bibinya. Tentu saja, kabar berita tentang Chloe dan Ayahnya ia dapatkan dari Bibi Steve yang tidak sengaja bertemu di suatu cafe teramai di Jakarta waktu itu.


Setelah mengundurkan diri Kiel berniat untuk mencari pekerjaan baru. Namun, niat jahatnya untuk merebut Kenan kembali setelah mendapat dukungan dari Bibi Steve.


Kiel, apa kabarmu sayang? Bagaimana sudah bertemu dengan Kenan? Isi pesan singkat dari Bibi Steve.


Kiel sibuk menggerakkan jari-jarinya membalas pesan itu.


Sudah Tan. Kiel baik-baik saja, tapi Kenan sulit sekali untuk didekati.


Drrt... drrt...


Tenang saja sayang, lambat laun Kenan pasti akan luluh juga padamu.


Kiel tersenyum licik menatap layar ponselnya. Pesan yang dikirim oleh Bibi Steve semakin menambah semangat untuk ia merebut Kenan dari Chloe.


Beberapa minggu setelahnya, semua berjalan biasa saja. Kenan dan Chloe semakin merasa mantap akan rencana mereka untuk mengadopsi anak.


Hari itu adalah hari dimana mereka akan menemui orang tua calon bayi yang akan mereka adopsi.


Dikarenakan sakit yang terbilang parah dan suami yang sudah meninggal, terpaksa harus membuat ibu berusia 26 tahun itu menyerahkan anaknya pada Kenan dan Chloe.


Kenan mengenal wanita ini tanpa sengaja. Sepulang dari kantor, seorang ibu hamil pingsan di jalanan. Terpaksa Kenan harus membawanya ke rumah sakit, sekaligus membiayai semuanya.


Chloe begitu antusias ketika mereka baru saja tiba di rumah sakit. Bahkan, nama pun sudah mereka sediakan untuk bakal calon bayi mereka.


Ia melangkah cepat seraya menggandeng Kenan.


"Permisi ibu," Ucap Chloe ramah. Ia melangkah masuk menuju ruang dimana wanita itu di rawat.


Wanita itu tengah memberi asi, "Nona Chloe?" Wajahnya terlihat bingung.


Kenan merangkul pinggang Chloe, "Ini adalah istri saya." Katanya tersenyum ramah.


"Mari Nona, silakan lihat anak saya."


"Manisnya anak ini." Chloe mengecup pelan bayi itu.


"Silakan Nona beri nama." Wanita itu memberikan izin pada Chloe.


"Rachel Aldrich." Suara Chloe terdengar lantang.


Kenan tersenyum dan mengusap pelan bayi yang sekarang menjadi anaknya.


"Nama yang bagus. Saya harap Rachel akan bahagia bersama kalian ya." Wanita itu menitikkan air matanya dan tersenyum penuh haru.


Tidak lama setelah itu, tanpa di duga wanita itu menghembuskan napas terakhirnya di hadapan Kenan, Chloe dan putrinya.


Chloe menangis. Walau ia baru pertama kali bertemu wanita itu, tapi rasanya sangat sedih. Mengingat Rachel yang baru lahir tapi harus kehilangan ibunya.


Ia berpikir bahwa dirinya lebih beruntung dari Rachel. Ia kehilangan sang ibu ketika masih anak-anak, jadi kasih sayang ibu masih dapat ia rasakan.


Chloe menitipkan Rachel pada Intan dan Rani. Mereka berniat untuk mengurus pemakaman sang ibu bayi.


Setelah semua selesai. Chloe kembali ke apartemen bersama Kenan. Segera ia menggendong Rachel. Begitu lembut ia mengusap-usap kepala Rachel dan menyanyikan lagu untuknya.


Mama berjanji, akan menjaga dan merawat kamu sepenuh hati sayang. Mama akan menganggap kamu seperti anak kandung mama sendiri, yang lahir dari dalam rahim mama. Walau kenyataannya tidak seperti itu. Batin Chloe.


"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Kenan yang baru saja selesai mandi. Ia duduk di ujung tempat tidur memperhatikan Chloe.


"Aku sedang bahagia karena ada Rachel." Jawab Chloe.


"Iya, jadi sekarang kalau saya pergi. Mama sudah ada temannya." Kenan tersenyum seraya memakai bajunya.


"Oh iya apa Bibi dan Paman sudah tahu soal ini?"


Kenan menggeleng cepat, "Tidak perlu diberitahu."


"Kenapa? Harusnya diberitahu." Chloe mengerutkan kening.


Kenan mematung bisuh. Ia memikirkan apa yang Bibi Steve katakan tentang Rachel. Bibinya pasti tidak akan menyukai kehadiran anak mereka.


"Sayang," Panggil Chloe dengan suara keras.


"Chlo, sebenarnya Bibi tidak setuju jika kita mengadopsi anak. Jadi, lebih baik biar mereka tahu sendiri." Jelas Kenan.


"Tapi sayang---"


"Chlo, sudahlah. Biarkan mereka tahu sendiri ya." Kenan meminta Rachel dari tangan Chloe.


"Hati-hati menggedongnya, dia masih terlalu kecil."


"Jangan remehkan papanya." Kenan menimang-nimang putrinya itu penuh kasih sayang. Raut wajah yang terlihat begitu bahagia. Ia sangat menikmati rasanya menjadi seorang Ayah.


Drrt... drrt


Dering ponsel Kenan berbunyi. Chloe meraih ponsel itu dan membuka isi pesan yang masuk.


Kenan, bisakah aku meminta tolong? Hari ini aku merasa tidak enak badan. Aku ingin pergi ke dokter, tapi tidak tahu harus dengan siapa.


Wajah Chloe berubah menjadi jengkel ketika membaca pesan singkat itu.


"Ini sudah berapa kali, Kiel selalu saja meminta tolong padamu." Gerutunya.


"Memangnya dia mengatakan apa lagi?"


"Dia ingin kamu mengantarnya ke rumah sakit."


"Biarkan saja kalau begitu." Kenan terdengar acuh.


"Ya lebih baik kan seperti itu. Lagian, kamu bukan siapa-siapanya." Chloe meraih Rachel dari Kenan dan meletakkannya di tempat tidur.


Kenan menghela napas dan kemudian memandangi Chloe yang terlihat begitu jengkel. Ya, ini bukan pertama kalinya Kiel meminta Kenan mengantarnya ke rumah sakit.