A Man From Daddy

A Man From Daddy
Wedding Day



#Ed Garden and Resto#


Hari yang akan menjadi sejarah bagi Ken dan Chloe dimana dalam waktu singkat mereka akan resmi menjadi suami istri. Tentu saja, semua orang menunggu hari terpenting dalam hidupnya. Akan tetapi, ini adalah saat yang cukup menakutkan bagi keduanya.


Akankah mereka bisa menjalani kehidupan setelah ini. Usai menikah semua pasti akan berbeda tidak hanya status yang berganti, tapi juga keadaan akan berganti seperti musim. Apalagi, jika menikah tanpa rasa cinta. Hal itu tidak bisa dibayangkan oleh Ken dan Chloe.


Dekor yang bernuansa serba putih, bunga mawar putih dan dedaunan hijau yang menjalar indah di kanan dan kiri, menghiasi taman yang cantik itu hingga membuat pesta terlihat mewah dan berkelas


Para tamu undangan dari orang biasa, sampai pada pengusaha-pengusaha besar sudah mengisi bangku-bangku. Ada yang saling mengobrol sambil menunggu acara yang sebentar lagi akan dimulai.


Tante Loli, rekan kerja, para tamu Chloe duduk di barisan sebelah kiri. Sementara itu, disebelah kanan adalah Paman Steve berserta istrinya, dan para tamu undangan dari pihak Ken. Ditengah mereka tergerai karpet putih panjang dimana Chloe akan berjalan didampingi oleh Ayahnya dari kejauhan untuk menemui Ken yang menunggu di altar.


Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Aldrich... Tidak ku sangka bahwa pernikahan ini akan benar benar terjadi. Tuhan tolong siapkan aku lebih lagi.


"Kamu sudah siap Chlo?" Tanya sang Ayah yang berdiri di sampingnya.


"Sudah Yah"


"Mari gandeng Ayah sebentar lagi acara akan di mulai."


"Baik Yah." Chloe menggandeng tangan sang Ayah dengan tubuh yang mulai bergetar gugup serta takut.


"Para tamu undangan dimohon untuk berdiri!" Kata sang Pendeta dengan lantang.


Alunan biola dan piano pun dimainkan mengiringi langkah Chloe perlahan. Chloe mulai mempapah langkah nya pelan bersama sang Ayah. Ia mencoba untuk lebih tenang, setiap langkah demi langkah ia menarik nafasnya panjang.


Terlihat gaun putih panjang terseret indah menutupi kaki Chloe. Ia juga sangat cantik dan anggun dengan make up yang natural, rambut yang di bentuk bagaikan putri kerajaan, juga tidak lupa mahkota kecil di kepalanya membuat semua mata tertuju padanya.


Ia memegang bunga dan terus berjalan menuju mempelai pria yang kini sudah memandangnya dari kejauhan.


Cobalah sedikit lebih tenang Chlo. Sedikit lagi akan sampai, coba perlihatkan senyummu demi Ayah.


Mereka telah sampai di Altar pemberkatan, musik terhenti, Pak Corlenius menyerahkan tangan putrinya itu kepada calon suaminya dengan wajah yang dipenuhi senyum, dan para tamu undangan dipersilakan duduk.


Pendeta mulai membacakan ayat-ayat suci pernikahan, lalu meminta Ken dan Chloe untuk saling mengucapkan janji suci mereka.


Dalam waktu singkat mereka sudah saling mengucapkan janji, bertukar cincin dan resmi menjadi suami istri.


"Silakan cium istrimu sebagai tanda bahwa kalian telah resmi menikah." Ucap pendeta sambil tersenyum.


Bagaimana mungkin saya menciumnya, saya tidak bisa lakukan ini tanpa izinnya. Memang dia istriku sekarang, tapi tidak mungkin saya menciumnya. Itu akan membuatnya marah. Gumam Ken.


Apa?! Tidak mungkin Ken menciumku. Aku ini bukan wanita yang ia cintai.


"Mari, kalian sudah sah sebagai suami istri." Kata pendeta itu lagi seperti mendesak.


Ken mendekatkan wajahnya ke arah Chloe perlahan dengan rasa getar yang semakin kuat disekujur tubuhnya.


"Maaf saya harus lakukan. Agar Ayahmu dan orang-orang tidak berpikir yang bukan-bukan." Bisik Ken seolah memberi aba-aba pada Chloe.


Chloe hanya mengangguk dan menutup matanya. Ken terus mendekatkan wajahnya pelan, dan mulai mendekati bibir Chloe, Lalu terhenti sesaat.


"Saya tidak tahu bagaimana mencium wanita." Bisik Ken lagi.


"Lakukan saja yang kamu bisa, tapi dengan cepat." Bisik Chloe pula dengan tetap menutup matanya.


"Baik dan, maaf Chlo."


Ken menempelkan bibirnya pada bibir Chloe dengan sangat cepat seolah-olah ia benar-benar mencium Chloe di hadapan semua orang.


Pemberkatan telah usai, saatnya para tamu menikmati hidangan yang sudah disediakan. Ada yang menghampiri Ken dan Chloe juga mengucapkan selamat disertai doa-doa yang terbaik.


"Akhirnya kalian resmi menikah, sekarang nama Chloe sudah menjadi Chloe Aldrich hehe... selamat ya sayang." Ucap Bibi Ken yang memeluk Chlo dan mencium pipinya.


Ayah, Tante Loli, juga Paman Steve pun menyusul dan ikut mengucapkan selamat. Mereka terlihat sangat bahagia dengan berlangsungnya pernikahan ini.


Ken juga Chloe hanya mencoba untuk tersenyum menutupi rasa yang tidak karuan di dalam benak.


"Setelah ini, Chlo dan Ken untuk sementara menginap di rumah Bibi kan ?." Tanya Bibi.


Ken mengangguk cepat tanda mengiyakan.


Hah, yang benar saja malam ini aku sudah tidak tinggal dirumahku bersama Ayah.


"Iya Ken, Paman dan Bibimu sudah menyiapkan kamar istimewah untuk kalian berdua haha..." Sambung Paman Steve.


"Iya Paman terimakasih. Mungkin, saya dan Chloe hanya menginap satu atau dua hari sebelum kembali ke Singapur."


"Nanti kalau mau berangkat ajak Chloe kerumah Ayah dulu ya untuk terakhir kali."


"Pasti Om, eh maksudnya pasti Ayah." Kata Ken.


"Haha... masih baru jadi menantu, jadi salah itu wajar ya Nius?" Ledek Paman Steve.


"Betul Steve haha."


"Ayah jangan bilang untuk terakhir kali, kan nanti kita akan terus bertemu." Chloe memeluk Ayahnya.


"Iya sayang, kita akan sering-sering bertemu."


Chloe melepaskan pelukan nya. "Ken, boleh tidak malam ini aku tetap kembali kerumahku?"


Ken terdiam bingung, dia memaklumi Chloe adalah anak yang begitu manja terhadap Ayahnya. Jadi, pasti sulit untuk berpisah walau hanya sebentar.


"Chlo tidak bisa dong, kan kamu sudah jadi istrinya Kenan, jadi kemanapun Kenan pergi ya kamu harus ikut. Kalau soal Ayah, kan ada Tante. kamu tenang saja." Ujar Tante Loli.


"Tapi kan tan---"


"Chlo, sudah jangan membantah, kalau nanti ada waktu sebelum ke Singapur kamu dan Kenan harus temui Ayah." Kata Ayah Chloe.


"Masa pengantin baru sudah mau pisah haha..." Goda Paman Steve pula.


"Ken..." Chloe merengek manja meminta belas kasihan suaminya itu.


Ken hanya tersenyum dan menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui.


Maaf Chlo, jika saya turuti kemauan kamu nanti yang ada kamu akan terbiasa manja, apalagi kamu sudah jadi istriku dan harus jauh nantinya dari keluargamu.


Chloe murung melihat respon Ken. Tapi, ia tidak bisa membantah, mengingat Ken adalah suaminya sekarang. Apapun yang Ken perintahkan ia harus lakukan, itulah kewajiban seorang istri.


"Turuti kemauan suami ya nak." Bibi menasehati Chloe.


Senja telah menyinsing, tanda usainya pesta tersebut. Masih tak disangka-sangka bahwa pernikahan ini sudah terjadi.


Saatnya memulai kehidupan yang baru bagi keduanya. Dan yang pasti mereka mengharapkan semua akan baik-baik saja, walau sudah suami istri perjanjian adalah perjanjian. Ken dan Chloe hanya akan tetap menjadi teman, ntah itu sampai kapan.