
Chloe masih tidak sadarkan diri itu cukup membuat Kenan semakin khawatir dengan keadaan istrinya itu. Ia duduk di samping Chloe dan masih tetap menggenggam erat tangan Chloe.
"Tuan, ini makanan nya." Ucap Rani sambil membawa piring berisi makanan dan mangkuk kecil berisi sup, tidak lupa pula dengan segelas air putih.
"Letakan di sini." Pinta Kama sambil menunjuk ke arah meja kecil di samping tempat tidur.
Rani meletakkan makanan itu dan permisi pamit untuk pergi. Tak lama setelah itu Chloe membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun Chloe?" Sapa Kenan lembut.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Chloe mencoba bangkit tapi kepalanya sedikit pusing.
"Lebih baik, kamu beristirahat saja dulu. Kamu pingsan karena sejak kemarin tidak makan apapun. Bagaimana bisa kamu seceroboh itu, hah?! Apa tidak bisa menjaga kesehatan ?!" Omel Kenan geram.
"Aku hanya tidak berselera kemarin. Lagian, biasanya tidak sampai pingsan begini." Chloe masih mencoba untuk bangkit.
"Saya katakan kamu untuk tetap berbaring, kan?" Kenan menahan Chloe lembut, "Sekarang kamu harus makan." Ia meraih makanan yang tadi terletak di meja.
Ia mulai menyendoki nasi itu dan hendak menyuapi Chloe, "Buka bibirmu."
"Biarkan aku makan sendiri. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil." Tolak Chloe sambil mendorong pelan makanan yang mendekati bibirnya.
"Bisa tidak membantah, hah?!" Geram Kenan melihat tingkah Chloe.
Nurut saja deh dari pada Kenan semakin marah dan memberi hukuman lagi.
Chloe membuka bibirnya perlahan menerima suapan dari suaminya itu.
Saya tidak akan biarkan kamu sakit Chloe.
Tiba-tiba Chloe mengingat bahwa hari ini ia harus bertemu dengan Kama. Tapi, ia belum membicarakan ini sebelumnya pada suaminya itu.
Bagaimana ini, dengan kondisiku yang seperti ini pasti Kenan tidak akan mengizinkan aku.
"Chloe, hari ini kamu tidak perlu ikut dengan saya. Kamu beristirahat saja dan jangan kemanapun, diam saja di kamar. Jika perlu apa-apa silakan hubungi para asisten." Kata Kenan sambil memberi minum pada istrinya.
Chloe minum perlahan, "Ini sudah siang, jadi kamu terlambat ke kantor karena aku?"
Kenan mengangguk, "Bukan apa-apa sudah sebaiknya seperti itu jika menjadi suami. Mungkin saya akan lembur Chloe, tapi melihat kondisimu yang seperti ini rasanya, saya tunda saja." Kenan mengusap bekas makan yang menempel sedikit di pinggir bibir Chloe.
Kenan, kamu begitu baik dan perhatian. Andai saja kamu melakukan itu karena mencintaiku, mungkin aku tidak akan berusaha melupakanmu dengan mendekat pada Kama.
"Tidak masalah jika kamu lembur, karena aku di sini tidak sendiri. Aku akan hubungin kamu jika terjadi apa-apa." Chloe memberikan senyum manis.
"Apa kamu yakin?" Sorot mata Kenan ragu.
Chloe memegang tangan Kenan, "Iya suamiku aku tidak apa-apa."
Dengan begitu aku bisa menemui Kama.
Kenan memasang wajah curiga, "Kamu tidak ingin bertemu dengan Kama, kan?"
"Haha... tidak. Memangnya aku harus menemuinya terus?"
Mengapa dia bisa tahu pikiranku.
"Baik kalau begitu, mungkin saya pulang malam. Tapi jangan kunci pintu kamarmu, sebelum tidur saya harus memastikan kamu baik-baik saja." Kenan bangkit berdiri dan membawa piring itu melangkah keluar.
"Baik suamiku." Chloe tersenyum sampai Kenan menutup pintunya.
Ia menghembuskan nafas lega, "Huu... akhirnya nanti malam aku bisa bertemu Kama,"
Tepat pukul 18.30 menjelang malam. Chloe sudah mengenakan dress berwarna hitam tanpa lengan dan hiasan kalung mutiara di lehernya.
Ia bercermin dan memutarkan badannya, mengamati apakah ia sudah cantik.
"Seperti nya tidak ada yang kurang. Sekarang saatnya untuk mencari cara bagaimana aku bisa keluar tanpa ketauan siapapun.
Chloe mulai berpikir keras mencari ide, "Aku tahu harus apa." Ia meraih telepon.
"Tolong untuk semua asisten temui saya di kolam renang belakang sekarang." Ujarnya dengan suara lantang seperti Kenan saat memberi perintah.
"Baik Nyonya," Terdengar sebuah jawaban dari ujung telepon.
"Sepertinya ini akan berhasil." Chloe tersenyum mengambil tas kecilnya dan mulai mengendap-endap.
Sementara itu seluruh asisten sudah berkumpul dan menunggu di kolam renang.
"Nyonya kok aneh sekali ya, ngumpulin kita di sini, padahal ini kan sudah mau malam." Bisik mereka satu sama lain.
"Taxi!..." Teriak Chloe.
Kali ini berbeda, Kama yang biasanya sudah tiba duluan kini Chloe yang harus menunggunya.
"Hei, sorry I'm late..." Kama menghampiri Chloe sambil memberikan nya bunga.
"Iya tidak apa-apa. Terimakasih ya," Chloe meraih bunga itu dan menciumya.
Kama duduk di hadapan Chloe, "Sudah pesan latte?
"Sudah tapi belum di antar. Aku juga sudah pesankan kopi kesukaanmu." Ujar Chloe sambil meletakkan bunga itu di meja.
"Chloe," Panggil Kama sambil meraih tangan Chloe.
"Ingin mengatakan sesuatu?" Chloe melepaskan tangannya dari Kama.
Mengapa rasanya tidak nyaman ya.
"Aku ingin membawamu ke apartemenku malam ini." Kama tersenyum tipis seperti memiliki maksud tertentu.
Chloe kaget dan membelalakkan matanya, "Apa?"
"Haha... aku hanya bercanda," Kama memanggil pelayan laki-laki dan meminta segelas minuman keras.
"Mengapa memesan minuman keras Kama? Aku sudah pesan kopi untuk mu." Raut wajah Chloe bingung.
"Untuk menghangatkan badan, di luar dingin sekali." Jawab Kama sambil melirik ke bagian dada Chloe sekilas.
Pelayan itu mengantar pesanan Kama juga dua buah gelas kecil.
"Terimakasih," Kama memberi tip padanya.
Ia menuangkan minuman itu ke dalam gelas dan menyodorkan nya pada Chloe.
"Kamu perlu ini sedikit agar badanmu hangat,"
Chloe mendorong gelas itu perlahan, "Tidak Kama. Aku tidak pernah minum itu."
"Chloe, ayolah..." Bujuk Kama sambil terus menyodorkan minumannya.
"Aku tidak ingin mabuk Kama." Chloe masih menolak.
Jika nanti aku pulang dengan aroma minuman itu Kenan pasti sangat marah dan bagaimana jika Ayah sampai tahu.
"Haha... kamu ini memang lugu sekali Chloe. Sedikit saja tidak akan memabukkan. Lihat orang di sekitarmu mereka minum hanya untuk menghangatkan badan." Kama terus menyakinkan Chloe sambil mengedipkan sebelah matanya.
Malam ini kau harus aku dapatkan. Mungkin di waktu SMA aku tidak tertarik sedikitpun padamu, tapi aku tidak akan rela jika musuhku itu menikmati mu terlebih dahulu. Kau ini mudah sekali untuk di dapatkan, rasanya semalam saja cukup.
Chloe mengambil minuman itu tetapi masih ragu untuk meminumnya.
"Ayo Chloe minumlah..." Rayu Kama lagi.
Lebih baik aku minum saja sedikit. Agar Kama tidak tersinggung. Mungkin jika sedikit tidak akan memabukkan.
Chloe dengan cepat meminumnya sampai habis. Rasanya sesuatu yang asing mengalir di tenggorokan nya dan sangat tidak enak.
Kama tertawa, "Haha... Akhirnya kamu meminumnya juga." Kama menuangkan nya lagi di gelas Chloe.
"Kama sudah cukup, aku tidak ingin minum lagi." Tolak Chloe dengan wajah sedikit kesal.
"Haha... Chloe, sedikit lagi saja agar badanmu lebih fit." Kama mulai memaksa Chloe.
"Tidak Kama, aku tidak mau." Chloe menggeser minuman itu ke arah Kama.
Kama memasang wajah kesal, "Kamu membuatku tersinggung Chloe!"
"Bukan begitu Kama, tolong jangan marah..." Ujar Chloe dengan muka memelas.
Kama hanya diam saja dan minum dengan kesal.
Duh... bagaimana ini. Kama sepertinya marah.
"Baiklah aku akan minum," Chloe meneguk lagi minuman itu hingga habis.
Kama tertawa sinis, "Haha... Terimakasih Chloe,"
Kita lihat sebentar lagi kau akan merasakan pusing Chloe.
Dan benar saja tebakan Kama. Chloe mulai memegangi kepalanya, merasakan pusing yang cukup menyakitkan karena dia sebelumnya tidak pernah minum minuman keras sedikitpun.
Kama memanfaatkan situasi itu sambil terus menuangkan minuman itu untuk Chloe hingga ia mabuk dan tak sadarkan diri.