
“Bibi dan Paman kemana sayang?” Tanya Ken.
“Aku tidak tahu. Mereka tadi hanya memberitahu tentang keadaan Ayah padaku dan…”
“Dan?” Kenan menanti kalimat Chloe selanjutnya.
“Bibi benar Ken. Aku wanita yang tidak ada gunanya.” Chloe melanjutkan kalimatnya.
“Sayang, itu tidak benar! Jangan dengarkan Bibi.” Sanggah Kenan.
Bibi tega sekali berkata seperti itu pada Chloe. Padahal, harusnya mereka menenangkannya.
“Bibi bilang, siapa nanti yang akan meneruskan Aldrcih? Jika rahimku di angkat, aku benar-benar tidak ada gunanya lagi. Semua ini karena kebodohanku!” Chloe hampir berteriak.
Kenan mendekap Chloe dalam pelukannya, “Sayang, kamu tidak perlu memikirkan soal itu, yang terpenting adalah keselamatanmu.”
“Maafkan aku Kenan.” Chloe terisak dalam pelukan suaminya.
“Dengarkan saya, tidak bisa ataupun bisa memberi keturunan bukan berarti kamu tidak ada gunanya. Kamu tetap istri saya, yang saya cintai. Karena cinta saja cukup untuk menutupi semuanya sayang.” Kenan berusaha menenangkan Chloe.
“Ken, aku tidak mau kehilangan rahimku.”
“Sayang, ini sudah jalannya.” Kenan memegang wajah Chloe dengan kedua tangannya, lalu menatapnya.
“Aku ingin memberikanmu keturunan.” Lirih Chloe bergetar.
“Hei, dengar! Anak bisa kita dapatkan dari apapun, kita bisa adopsi mereka dari panti asuhan.” Kenan tersenyum.
“Tapi itu artinya, mereka bukan darah dagingmu.”
“Kata siapa? Jika dari bayi kita rawat mereka dengan sepenuh hati, hidup dan makan serta tinggal bersama kita, itu sudah jadi tanda bahwa mereka adalah darah daging kita, anak kita.” Kenan mengusap-usap pipi Chloe.
“Ntahlah. Terimakasih Kenan kamu sudah menerima keadaanku.”
Kenan kembali menarik pelan wajah Chloe ke dalam pelukannya, “Sudah menjadi kewajiban seorang suami. Mencintai dan menerima keadaan istrinya.”
Baru saja keadaan Chloe sedikit tenang hari itu, sorenya Kenan mendapat kabar buruk bahwa Ayah Chloe mengalami kritis.
Kenan berusaha untuk menutupi keadaan itu dari Chloe, meskipun sang istri terus menanyakan tentang Ayah, Ia selalu memiliki alasan untuk menjawab. Sampai akhirnya Kenan merasa bahwa keadaan ini tidak mungkin bisa di tutupi lagi.
“Chloe,” Panggil Kenan.
“Iya sayang.” Jawab Chloe.
“Ayah sedang berada di fase kritis di ruangan ICU.’’ Kenan mengatakannya perlahan dan hati-hati.
“Apa?! Mengapa Ayah bisa ada di ruang ICU? Tadi kamu bilang bahwa Ayah baik-baik saja.” Suara Chloe terdengar begitu murka.
“Maaf sayang, saya berusaha untuk menutupi semuanya agar kamu tidak khawatir.”
“Tapi soal Ayah harusnya kamu beritahu aku Ken!” Chloe menarik paksa infusnya hingga terlepas.
“Chloe, kamu ini apa-apaan?!”
“Aku ingin bertemu Ayah.” Chloe memaksa untuk turun dari tempat tidur.
“Baik, kita akan segera menemui Ayah tapi tidak seperti ini caranya. Kamu harus pakai infus lagi ya, nanti saya akan minta kursi roda agar kita bisa melihat Ayah.”
Setelah perawat memasang infus kembali dan sesuai dengan izin dokter Samuel, Kenan di perbolehkan membawa Chloe untuk bertemu dengan sang Ayah.
Ia membawa Chloe dengan kursi roda serta baju yang serba hijau juga masker yang harus mereka kenakan ketika memasuki ruang ICU.
Dalam ruangan yang sunyi senyap, hanya terdengar suara mesin detak jantung. Di sana Ayah Chloe terbaring begitu lemah dan tak sadarkan diri. Ya, dia sedang berada di fase kritisnya.
Chloe menyentuh punggung tangannya yang sudah keriput, air matanya perlahan menetes membasahi pipi, bahkan terkadang jatuh ke tangan sang Ayah.
Bibir Chloe bergetar, ia seperti tak mampu mengatakan apapun lagi selain berharap Ayahnya akan terus bertahan.
“Ayah, bertahanlah untukku. Chloe tidak tahu harus apa jika Ayah seperti ini.” Lirihnya di iringin air mata.
“Ayah, maaf jika Chloe tidak bisa memberikanmu cucu. Maaf jika Ayah jatuh sakit karena Chloe.” Suara Chloe yang tak begitu jelas karena tangisan yang tak dapat di kendalikan.
“Ayah harus tetap kuat ya demi Chloe.” Kata-kata terakhir Chloe sebelum akhirnya tangisannya pecah, ia menutup wajahnya tepat di samping tangan sang Ayah yang tak berdaya dan Kenan menenangkan Chloe dengan mengusap-usap bahunya.
“Sayang, semua akan baik-baik saja.”
Tiba-tiba jari sang Ayah bergerak-gerak dan itu menyadarkan Chloe dari tangisannya.
“Sayang, lihat tangan Ayah.” Kata Kenan.
Chloe menatap tak percaya, “Ayah!”
Tapi ternyata itu adalah tanda ucapan terakhir dari sang Ayah, sebelum akhirnya mesin detak jantung berbunyi dengan keras dan garis lurus tergambar di layarnya. Melihat itu Chloe berteriak.
“Ayahhh!…” Seperti begitu murka ia menggoyang-goyangkan tubuh sang Ayah, seraya meneteskan air mata ia terus memanggil Ayahnya.
Kenan berlari memanggil dokter dan akhirnya dokter serta beberapa perawat masuk untuk memastikan keadaan Pak Corlenius.
Mereka melakukan pemeriksaan detak jantung, mata juga urat nadi di tangan Ayah Chloe. Dengan penuh penyesalan para dokter serta perawat menyampaikan ucapan duka cita yang sebesar-besarnya.
Chloe begitu hancur dan terpuruk dengan kenyataan yang harus ia terima. Segala sesuatu begitu cepat terjadi, rasanya seperti mimpi buruk yang menyambarnya di siang hari.
Tidak pernah menyangka bahwa kedatangan sang Ayah ke singapura malah menjemput ajalnya. Ia yang baru saja kehilangan bayi, di vonis mengidap kanker rahim dan sekarang takdir begitu tajam dan kejam, mendorongnya begitu jauh jatuh ke dalam lubang kelam yang menyedihkan.
Ia menangis sekuat-kuatnya sampai suaranya tak mampu lagi untuk berteriak. Kenan yang memeluk Chloe juga tak kuasa menahan air matanya. Ia berdoa agar Chloe bisa menjadi lebih kuat setelah kenyataan memaksanya untuk kehilangan Ayah tercinta.
Jenazah Ayah Chloe di tutupi kain dan dibawa keluar, di iringi para perawat, Kenan dan Chloe juga Tante Loli yang menjerit menangis sambil menutup mulutnya.
Keadaan itu langsung di beri tahu oleh Lian pada Tuan besar Steve serta para pelayan yang bekerja di apartemen Kenan.
Mereka mengurus semua adminitrasi dan surat keterangan untuk membawa pulang jenazah ke Indonesia agar di makamkan.
Kenan juga berdiskusi dengan dokter Samuel, apakah operasi Chloe bisa di tunda sementara.
Dokter Samuel memberikan izin untuk Chloe menghadiri pemakaman sang Ayah sebelum akhirnya harus segera kembali dan menjalankan operasi.
Hari itu semua terjadi begitu singkat dan cepat. Tidak menyangka, Chloe yang pagi-pagi sekali di bawa ke rumah sakit, tetapi malah pulang bersama jenazah Ayah tercinta.
Dalam lamunan dan rasa tak terima, Chloe duduk di kursi roda menatap peti sang Ayah yang baru saja akan di tutup untuk segera di berangkatkan pulang ke Indonesia.
Air matanya tak henti-hentinya jatuh dari tempatnya berada bak hujan deras yang membanjiri pipinya. Matanya sedikit merah dan membengkak, serta wajah yang sembab menggambarkan duka yang mendalam yang di rasakan wanita 29 tahun itu.
Belum sempat ia mengaduh rasa sakit yang ia alami atas kenyataan, tapi takdir memberikan jalan lain. Jalan yang berduri, hingga terasa perih dan sakit ketika kaki harus di tapakkan.