A Man From Daddy

A Man From Daddy
Pemakaman Ayah Chloe



Jakarta, Indonesia.


Hari ini adalah hari terakhir untuk Chloe menatap wajah Ayahnya dan memasukkanya dalam memori terindah dalam hidupnya. Chloe yang bergeming dalam duka, tak mengatakan sepatah katapun pada siapun, termasuk Kenan.


Tatapannya kosong di depan jendela kaca. Rasanya semua orang bisa melihat kesedihan Chloe dari sorot matanya yang sembab dan memerah. Air matapun rasanya sudah kering dan tenggorokan tak mampu lagi untuk menjerit mengeluarkan duri di dalam hati yang menusuk terlalu tajam dan sakit.


Semua orang datang mengenakan baju serba putih mengucapkan rasa belasungkawa pada keluarga Corlenius. Begitu banyak perkataan yang mengenang kebaikan Ayah Chloe, sebagai pengusaha sukses, rendah hati dan dermawan. Bahkan, tidak sedikit yang meneteskan air mata mendengar kepergiannya yang tidak pernah di duga-duga.


Chloe yang duduk di kursi roda, terus larut dalam lamunan menatap kosong pada jendela yang tirainya terbuka. Kenan mengusap bahunya dari belakang dan mencium kepala Chloe.


“Ayah sudah tenang sayang,” Ucapnya sembari menahan air mata agar tidak menambah kesedihan sang istri.


Kenan membawa Chloe ke ruang utama dimana semua orang sudah berkumpul. Ya, begitu ramai orang datang berbondong-bondong untuk mengantarkan Ayah Chloe pada peristirahatan terakhirnya. Mereka menatap duka pada Chloe.


Pak Corlenius yang terbaring begitu tenang di dalam peti kayu yang di pahat indah berwarna putih. Dengan jas putih serta bunga yang menghiasi sakunya. Tangan yang rapi dan mata yang terpejam seperti sedang tidur, menggambarkan ketenangan dari Almarhum Pak Corlenius.


Chloe meneteskan air matanya dan bangkit berdiri mendaratkan ciuman terakhir di kening sang Ayah.


“Selamat jalan Ayah. Sampaikan salam Chloe pada ibu, semoga kalian bisa bertemu di surga nanti.” Kata terakhir Chloe yang sebenarnya begitu berat untuk di ucapkan dari bibirnya.


“Baiklah, mari kita mulai ibadahnya sebelum kita mengantarkan pak Corlenius ke liang lahat atau tempat peristirahatan terakhir. Semoga Tuhan memberikan penghiburan serta kekuatan bagi keluarga yang di tinggalkan.” Seorang pendeta memengang kitab suci dan memulai ibadah pemakaman.


Semua berlangsung baik. Semua orang ikut menangis menyaksikan Chloe yang enggan melepaskan pelukannya dari sang Ayah ketika peti akan di tutup. Kenan terus ada di samping Chloe. Memapahnya dalam kelemahan dan menjadi tempat Chloe bersandar ketika ia akan rebah saat ini.


Bunyi mobil ambulance sudah terdengar. Beberapa orang pria mulai mengangkat peti itu dan memasukkanya ke dalam mobil. Chloe dan Kenan pun ada di sana.


Mereka ingin menghabiskan menit-menit terakhir di samping Ayah sekaligus mertua tercinta.


Selang berapa menit, mereka sudah sampai ditanah yang akan menjadi rumah baru bagi Ayahnya. Semua orangpun terlihat berkumpul di sana. Tante Loli, keluarga yang jauh dan dekat, Paman Steve berserta istrinya dan juga para rekan kerja bisnis pak Corlenius.


Suasana sunyi, begitu sunyi dalam kesedihan. Hanya ada isak tangis yang terdengar dari orang-orang yang begitu mengenal Pak Corlenius. Ya, ketika kematian semua orang akan mengingat hal-hal yang baik yang kita berikan selama hidup. Itulah yang akan menjadi bekal semua orang ketika ajal menjemput.


“Ayaahhh!...” Teriak Chloe sekencang-kencangnya ketika peti mulai di tutupi dengan tanah. Ia tersungkur dari kursi rodanya dan Kenan berada di sampingnya, memeluknya serta ikut menangis bersamanya.


“Sayang tenanglah,” Kenan berulang kali mengusap wajah Chloe serta menciumi kepalanya.


Chloe menutup wajahnya di dada Kenan dan menangis di sana. Ia mengeluarkan semua kedukaan di dalam hatinya hingga peti itu tidak terlihat lagi.


Acara terakhir, saatnya untuk menaburi bunga di atas kuburan sang Ayah, serta meletakkan foto terakhir di dekat batu nisan.


Semua sudah terlewatkan. Beberapa orang mulai meninggalkan tempat itu bergantian. Mereka sebelumnya menghampiri Chloe, menguatkannya bahkan ada yang memberikan pelukan.


“Chloe kamu yang sabar ya Nak. Ayahmu sudah tenang dan sudah bertemu ibu di sana.”


“Sayang, kami sekeluarga turut merasakan kedukaanmu. Tapi, jangan terus berlarut ya sayang.”


Begitulah rata-rata orang berkata sebelum akhirnya pamit pulang.


“Chlo, kita pulang ya. Ini sudah mendung,” Ajak Tante Loli sembari menyentuh bahu Chloe.


Lagi-lagi, Chloe bergeming dan tidak mengatakan apapun. Bahkan,matanya tak mau ia alihkan dari kuburan sang Ayah. Hal itu membuat Kenan dan Tante Loli saling menatap.


Cuaca saat itu seolah juga merasakan duka yang di alami mereka, begitu mendung dan gelap.


“Kenan, Tante duluan ya. Kamu jaga Chloe.” Kata Tante Loli yang pamit pulang.


Kenan mengangguk, “Iya tan saya pastinya akan terus menjaga Chloe. Nanti biar Lian yang menyetir." Ya, Lianpun ikut mengiringi hingga ke Indonesia.


“Sayang jangan terlalu lama di sini ya.” Tante Loli mengecup kening Chloe seraya mengusap air matanya.


Tiba-tiba angin semakin kencang dan air mulai berjatuhan dari langit, semakin lama semakin deras.


Kenan berusaha mendorong kursi roda Chloe untuk kembali ke mobil dan pulang, namun Chloe begitu marah padanya.


“Aku masih ingin tetap di sini bersama Ayah! Tolong jangan ajak aku pulang!... Aku masih ingin di sini Ken!…” Lirihnya hampir menjerit dan kemudian menangis.


Kenan mendekap Chloe dalam pelukannya bersama hujan yang semakin deras membasahi tubuh mereka berdua, “Sayang, Ayah sudah tenang di sana. Sekarang kita pulang ya.” Bujuk Kenan yang sedikit kedap karena suara hujan yang begitu keras.


Chloe menggeleng dan masih terus menangis, “Aku masih mau di sini Ken…” Pintanya.


“Sayang ini hujan, saya janji besok pagi kita akan kembali ke sini ya.” Kenan membujuk lagi.


Chloe tetap menggeleng, “Aku mau di sini terus.”


“Sayang, please! Nanti juga Ayah sedih kalau kamu seperti ini terus.”


Setelah begitu lama membujuk, akhirnya Chloe mau di ajak pulang. Lian yang ternyata menyaksikan itu sedari tadi di belakang, ikut menangis dalam hujan. Tentu saja Lian mengerti, karena ia juga sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi di waktu usianya masih menginjak masa remaja.


Lian membantu Kenan membawa Chloe kembali ke mobil dalam keadaan basah kuyup. Mereka tidak memperdulikan lagi keadaan mereka yang membasahi seluruh isi dalam mobil.


Akhirnya, Chloe merasa begitu lelah, hingga ia tertidur dalam tangisan di pelukan sang suami.


Kenan meraih baju hangat yang ada di kursi belakang mobil dan memakaikannya pada Chloe. Ia kemudian mengecup Chloe dan mendekapnya lagi.


“Kamu pasti kuat sayang. Saya akan menggantikan Ayah yang selalu menjaga, mencintai kamu dan memberikan kebahagiaan untuk kamu.” Kenan membelai rambut Chloe yang basah.


Lian diam-diam memperhatikan dari kaca mobil yang ada di hadapannya dan sesekali megusap air matanya diam-diam.


“Tuan, saya turut berduka cita atas kepergian Ayah mertua Tuan.” Katanya dengan mata berbinar-binar.


“Terimakasih Lian.” Jawab Kenan.