A Man From Daddy

A Man From Daddy
Operasi



Sampai di rumah Kenan menggendong Chloe dengan langkah cepat menuju kamar mereka.


“Ken, Chloe kenapa?” Tante Loli terdengar cemas.


“Tidak apa-apa Tan. Dia hanya sedikit kelelahan,” Jawab Kenan tanpa menghentikan langkahnya terus menaiki tangga membawa sang istri.


Ia membaringkan Chloe di atas tempat tidur dan mengganti seluruh bajunya dengan baju hangat, juga menyelimutinya.


“Sayang, kamu harus lebih kuat dari ini,” Ucap Kenan seraya membelai rambut Chloe.


“Ken,” Panggil Bibi Steve yang masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.


“Ada perlu apa Bi?” Kenan terlihat tak suka. Ya! Kejadian di rumah sakit membuat dia sedikit jengkel pada Bibi Steve.


Bibi Steve berdiri di hadapan Kenan, “Ada yang ingin Bibi bicarakan sebelum Bibi pulang ke rumah.”


“Bicarakan saja Bi.” Kata Kenan tanpa menoleh.


“Tidak di sini,” Ucap Bibi.


Kenan menghela napasnya. Ia merasa bahwa Bibi pasti akan membicarakan tentang rumah tangga mereka. Karena Bibi Steve sudah seperti orang tua bagi Kenan. Semenjak dia kehilangan kedua orang tuanya, Bibi dan Paman sudah mengganti posisi itu.


Mereka melangkah keluar kamar. Sebelumnya, Kenan mendaratkan ciuman di dahi Chloe.


“Ada apa Bi?” Tanya Kenan sambil menutup pintu kamar.


“Hmm begini, Bibi tahu kalian masih berduka atas kepergian Ayah mertuamu. Tapi, apa setelah ini Chloe akan tetap menjalankan operasi pengangkatan rahim?” Bibi terlihat hati-hati memulai perkataannya.


“Maksud Bibi? Tentu saja iya! Chloe harus selamat Bi. Itu yang terpenting bagi saya.” Tegas Kenan, matanya mulai tak ramah atas pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Bibi.


Bibi menyentuh pundak Kenan, “Ya jika memang itu yang terbaik. Tapi, apa kamu tidak ingin memiliki keturunan?”


“Bi, semua orang pasti ingin menjadi orang tua. Tapi, keadaan tidak bisa di paksakan, semua sudah menjadi takdir.” Kenan duduk di sofa ruang depan kamar.


“Tapi takdir itu bisa di rubah Kenan.”


“Maksud Bibi apa?”


Bibi Steve menyusul duduk di samping Kenan, “Ya setelah Chloe di nyatakan sehat, sebaiknya kamu pikirkan lagi tentang rumah tanggamu.”


“Bibi maaf, tapi inti dari perkataan Bibi ini apa?!” Suara Kenan mulai terdengar keras.


“Bibi ingin kamu punya keturunan. Masih banyak wanita yang mengantri untuk di jadikan istri kamu Ken.” Lanjut Bibi.


Kenan tersenyum sinis, “Sampai kapanpun Chloe akan tetap menjadi istri saya dan saya tidak akan menduakan atau mengganti posisinya dengan wanita lain!” Tegas Kenan.


“Tapi Kenan---‘’ Bibi tak sempat melanjutkan kalimatnya.


“Bi, maaf. Saya harus menjaga Chloe jadi, lebih baik Bibi pulang saja.” Kenan meninggalkan Bibi Steve begitu saja.


Ia menahan air matanya di ujung kelopak setelah mendengar kalimat Bibi Steve yang sedikit mengecewakan perasaannya. Jika Chloe sampai mendengar hal ini, tentu saja ia akan terluka.


Tiga hari setelahnya, tepat hari ini Chloe dan Kenan kembali ke Singapura, meninggalkan Tante Loli seorang diri mengurus dan melanjutkan bisnis Pak Corlenius di Indonesia.


Chloe masih sama, diam membisuh dan tidak ada senyum di wajahnya. Sekalipun, Kenan sudah berusaha untuk membuat Chloe tertawa atau sedikit melupakan rasa dukanya tapi rasanya memang tidak mungkin bisa membuat Chloe tersenyum dalam waktu singkat.


Mereka tiba di Medical Hospital. Saatnya bagi Chloe untuk menjalani perawatan sebelum akhirnya menjalankan operasi pengangkatan rahim. Infus sudah terpasang dan Chloe sudah terbaring. Matanya menatap nanar langit-langit kamar.


Kenan sedetikpun tidak berada jauh di sampingnya, ia terus di sana membelai rambut Chloe dan kadang-kadang mengusap air matanya yang perlahan jatuh di pipi istrinya.


Tentu ada banyak hal yang berkecamuk di pikiran Chloe saat ini, belum lagi perasaan duka yang sepertinya sulit di obati dan kenyataan harus menyeretnya lagi dengan kejamnya. Ya! Hari ini ia akan menjadi wanita yang tidak sempurna.


“Sayang, sebentar lagi kamu akan di pindahkan ke ruang operasi. Kamu pasti kuat dan saya akan selalu di sisimu, mendoakan kamu sayang.” Kenan menggenggam tangan Chloe dan sesekali menciumya.


Chloe bergeming, ia menoleh ke arah Kenan. Jelas terlihat, ia berusaha menahan air matanya.


“Istriku ini wanita yang kuat.” Kenan tersenyum manis memandangi Chloe.


“Ken,” Panggil Chloe.


“Iya sayang, ada apa?”


“Setelah operasi, apa kamu akan tetap mencintaiku?” Chloe menatap dalam pada suaminya.


“Apa kamu tidak berniat untuk menceraikan aku?”


“Hei! Apa yang kamu bicarakan ini?! Chloe dengarkan saya, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya satu-satunya. Saya sudah berjanji pada Tuhan untuk tetap mencintai kamu sampai akhir hidup saya, apapun keadaan kamu!” Kata Kenan penuh penekanan.


“Tapi, kita menikah dan mengucapkan janji waktu itu karena keterpaksaan Ken.”


“Jika sudah di ucapkan pada Tuhan, tidak ada kata terpaksa sayang. Kamu jangan pikirkan apapun lagi ya.” Kenan tersenyum dan kemudian mendaratkan ciuman di dahi Chloe.


“Terimakasih sayang.” Chloe meneteskan air matanya.


“Jangan menangis lagi sayang.”


“Aku hanya bahagia, karena Ayah sudah memberikan pria terbaik untukku,” Ucapnya bergetar.


Kenan mengusap air mata Chloe, “Ayah tahu apa yang terbaik untuk putri hebatnya.”


Mendengar perkataan Kenan, hati Chloe sedikit tenang dan dia mampu tersenyum walau masih senyuman seadanya.


“Nona Chloe, apa anda siap?” Dokter Samuel masuk bersama berapa orang perawat.


“Um…” Chloe mengangguk.


“Baiklah, kita akan pindah ruangan karena operasi akan segera di jalankan. Suster tolong,” Samuel meminta suster untuk mengurus Chloe.


Kenan menghampiri Samuel, “Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Mata Kenan menatap penuh harap.


Samuel tersenyum dan menyentuh pundak Kenan, “Tenang saja Pak, semua pasti berjalan lancar.”


Kenan mengangguk, mengiyakan. Sorot matanya menggambarkan jelas sebuah kekhawatiran yang amat mendalam.


Para perawat membawa Chloe ke ruang operasi dan Kenan ikut megiringi seraya terus berdoa, agar Tuhan melancarkan segala hal, hingga Chloe bisa pulih secepatnya.


“Sayang, kamu harus kuat ya,” Ucap Ken sebelum akhirnya pintu kamar operasi di tutup.


Kenan menunggu tepat di depan ruangan operasi. Sedetikpun ia tak berniat untuk meninggalkan Chloe, walau bibirnya sudah terasa kering.


“Tuan,” Panggil Lian yang tiba-tiba menghampiri.


Kenan hanya menoleh dan tidak menjawab apapun.


“Tuan, tenang saja. Semua pasti akan berjalan dengan baik dan Nyonya Chloe akan segera sembuh.” Lian duduk di samping Kenan dan memberikan sebotol minuman.


“Saya tidak haus Lian.” Tolak Kenan.


“Tuan, bibir anda terlihat kering. Minumlah terlebih dahulu Tuan,”


Kenan melirik seraya menghela napas dan meraih minuman itu.


“Istri saya juga sama seperti Nyonya.” Lian menunduk, wajahnya terlihat sedih.


“Maksudnya?” Kenan tak mengerti.


“Istri saya juga memiliki penyakit yang sama seperti Nyonya Chloe dan harus segera di operasi waktu itu. Saya tahu bagaimana rasanya jadi Tuan. Tapi, Tuan sudah melakukan yang benar.” Lian melirik ke arah Kenan.


“Saya takut tidak bisa membahagiakan dan menjaga Chloe seperti Ayahnya.” Kenan menatap kosong.


“Tuan, saya melihat Tuan begitu mencintai Nyonya. Tuan pasti bisa menjaganya sama seperti almarhum Tuan besar.” Lian tersenyum sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. “Dulu saya juga tidak tahu bagaimana caranya membuat istri saya bahagia setelah kenyataan yang harus ia hadapi, tapi rasa cinta itulah yang akan membantu kita.”


“Terimakasih Lian. Lalu bagaimana istrimu sekarang?”


“Dia terlihat bahagia, bahkan tidak pernah sekalipun ia menyesali apa yang sudah terjadi. Karena saya berusaha untuk tetap membuat dia merasa utuh menjadi wanita dan kami juga mengadopsi anak dari keluarga jauh.”


“Oh ya? Bagaimana rasanya Lian?” Kenan terlihat antusias.


“Menjadi orang tua itu menyenangkan Tuan. Seorang anak tetaplah anak, sekalipun ia bukan terlahir dari darah daging kita. Tapi, jika kita memberinya kasih sayang yang utuh maka semua akan menyenangkan Tuan.” Jelas Lian.


Kenan tersenyum, wajahnya menjadi lebih baik dan dia merangkul akrab pundak Lian, “Terimakasih Lian.”


“Ya Tuan, saya berharap agar Tuan selalu bahagia bersama Nyony Chloe.”


Kenan tersenyum dan mengangguk.