A Man From Daddy

A Man From Daddy
Pencarian



"Ah, ayolah hidup sebentar saja aku harus menghubungi Kenan!!!" Celoteh Chloe sambil menepuk-nepuk ponselnya ke telapak tangan.


"Huu... tamatlah semua." Chloe duduk di meja makan sambil bertopang dagu.


Seandainya aku tidak pergi malam itu. Pasti tidak akan seperti ini. Mengapa sekarang rasanya tidak nyaman sekali berada di dekat Kama.


"Hei Chloe." Kama datang tiba-tiba.


"Hei, kamu sudah pulang?"


"Ya begitulah, sebagai seorang bos bebas saja mau pulang kapanpun bukan?" Jawab Kama sombong.


"Hem, begitu." Chloe tersenyum.


"Aku ingin pulang lebih awal karena ada seseorang yang sudah menungguku." Kama membuka jasnya, membuka sepatunya lalu meletakannya sembarangan.


"Mengapa tidak di gantung?" Tanya Chloe.


"Biarkan saja. Nanti juga ada pembantu yang akan membereskan." Kama duduk disamping Chloe.


Dia tidak berubah, semenah-menah dan sombong. Gumam Chloe.


"Chloe, aku tidak bisa melupakanmu." Kama memegang tangan Chloe.


Chloe menarik tangannya merasa risih. "Kamu bisa bantu aku untuk kembali ke apartemen Kenan sekarang?" Ujar Chloe dengan raut wajah tidak sabar.


Kama berdiri lalu mengambil minum di dalam lemari es. Ia tersenyum sinis.


Mengapa aku harus mengantar mu. jika kau datang kepadaku, itu tandanya kau akan jadi milikku.


"Bagaimana Kama? aku mohon bantu aku..." Mohon Chloe dengan wajah memelas.


Kama masih terus tersenyum dengan pikiran jahatnya.


Wanita payah, apa yang kau harapkan dari seorang Aldrich.


"Baik, hari ini kita akan mencari alamatnya." Kata Kama berpura-pura manis.


"Terimakasih Kama. Kalau begitu aku bersiap dulu ya." Chloe bergegas ke kamar mengambil tasnya.


"Tuan, saya belum menemukan keberadaan Nyonya Chloe." Lian bergetar dan menunduk.


Brakk!!! Kenan memukul meja kerjanya.


"Baik, bagaimana alamat pria brengs*k itu?"


"Ti -dak juga Tuan." Lian semakin takut.


Drrt... drrrt... Ponsel Kenan berbunyi.


"Halo."


"Pak, saya sudah menemukan alamat Kama Alfredo." Kata seseorang dari ponsel.


Kenan spontan bangkit dari kursinya. "Baik, segera kirimkan!"


Tut... tut... terdengar suara telepon ditutup.


"Lian antarkan saya." Kenan bergegas pergi dari ruang kerjanya.


Lian mengangguk dan lekas mengikuti langkah Kenan yang cepat.


Brukk!...


"Apa kamu tidak pakai mata?" Bentak Kenan pada seorang wanita yang menabraknya.


Wanita itu sibuk mengambil berkas nya yang terjatuh. "Maaf saya tidak sengaja." Wanita itu kemudian memandang Kenan. "Kenan!" seru Kiel.


Kenan tersontak melihat seorang yang menabraknya adalah Kiel.


Arghh... wanita genit ini. Mengapa dia ada di sini? Gerutu Ken.


Kiel memeluk Kenan. "Ya ampun, akhirnya kita bisa ketemu lagi. Sejak terakhir kita bertemu di Bandung, aku selalu berharap suatu saat kita akan bertemu di kemudian hari dan Tuhan menjawab doaku." Ujarnya manja.


Kenan merasa risih, ia melepaskan pelukan Kiel lalu merapikan jasnya. "Jangan bertingkah seperti itu di kantor saya!"


"Kantor mu?" Kiel melirik kesana kemari dan pandangannya terhenti pada sebuah nama yang terpampang di depan gedung mewah itu.


"Aldrich Capital Group." Ejanya.


Kenan mengabaikan Kiel dan pergi meninggalkannya.


"Kenan Aldrich, benar itu namanya berarti memang benar bahwa ia adalah pemilik perusahaan ternama ini... wah hebatnya." Histeris Kiel.


Kiel mengejar Kenan yang hampir saja masuk ke mobilnya.


"Kenan tunggu, aku ikut ya." Pintanya manja.


"Apa-apaan kamu ini!" Saya sedang sibuk !"


"Kamu tidak merasa kasihan padaku? aku di pecat dari perusahaanku yang lama dan satu-satunya yang aku punya hanya paman dan bibi yang tinggal di sini. di Jakarta aku tidak memiliki siapapun lagi jadi terpaksa aku harus ke Singapur dan tinggal bersama bibi. Kehidupan mereka juga pas pasan, Jadi, aku harus bekerja untuk membayar budi mereka karena sudah menampung aku disini." Ujarnya dengan wajah memelas.


"Lalu apa urusannya dengan saya?" Tanya Ken ketus.


"Kamu kan pemilik perusahaan ini setidaknya sebagai wanita terdekatmu di waktu SMA, tolong aku ya," Rengek Kiel lagi.


"Menolong apa?" Tanya Ken dengan raut wajah yang kesal.


"Jadikan aku sekretarismu." Pinta Kiel memohon.


Bagaimana dengan Chloe, saya tidak punya banyak waktu. Sebelum Kama melakukan hal yang tidak-tidak padanya saya harus segera menjemputnya. Ucap Kenan dalam hati.


"Bagaimana Kenan?" Kata Kiel lagi.


Kenan yang memikirkan Chloe membuatnya tidak bisa berpikir panjang lagi.


"Terimakasih Kenan, aku akan menjadi sekretarismu yang handal." Teriak Kiel sambil memeluk Kenan erat.


"Lepaskan!" Tegas Kenan sambil melepaskan pelukan Kiel.


Orang-orang yang berada disekitar A.C Group memandangi bos nya yang sedang dipeluk wanita asing.


Kenan yang menyadari itu berusaha tetap menjaga wibawanya dan segera masuk kedalam mobil. Kiel pun ikut menyusulnya masuk kedalam mobil.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" Sontak Ken terkejut melihat Kiel yang menyosor masuk ke mobilnya.


"Aku sekretarismu sekarang, jadi kemana kamu pergi aku akan ikut," Ucap Kiel heboh.


"Apa?! Tidak!" Bentak Kenan.


"Mengapa tidak? kamu yang tadi mengiyakan dan menerima aku." Protes Kiel


"Tapi tidak dari sekarang, jadi saya minta kamu untuk turun!" Perintah Ken.


Kenan.... apa yang kau pikirkan sehingga menerima wanita genit ini.


"Tidak mau!" Ucap Kiel bersikeras.


"Turun!" Kata Ken dengan suara lancang.


"Tidak mau Kenan!" Jawab Kiel pula tak mau kalah.


"Tuan apa kita jalan sekarang?" Sambung Lian yang sudah siap menyetir.


Ken memandang Kiel dengan tatapan risih juga bingung.


Ingin sekali rasanya aku menyihir wanita ini.


"Iya Lian silakan jalan." Kata Ken yang pasrah membawa Kiel mengikutinya.


Kenan mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Chloe.


"Harusnya dia mengaktifkan ponselnya." Gerutu Kenan.


Kiel menggeser tempat duduknya dan melirik layar ponsel Kenan hendak mengetahui siapa yang ia hubungi barusan.


"Chloe?" Tanya Kiel bingung.


Ken melirik Kiel segera memasukkan handphonenya kedalam saku.


"Tuan, dimana kita akan menjemput Nyonya Chloe?" Tanya Lian.


"Saya akan beritahu alamatnya, sekarang kamu ikuti saja jalur ini." Jawab Ken.


"Baik Tuan."


"Nyonya Chloe? Maksudnya Chloe ada di Singapur?" Kiel semakin bingung.


"Chloe sudah menjadi istriku."


"Apa?!" Sontak Kiel membelalakkan matanya.


Kenan diam dan mengabaikan.


"Bagaimana mungkin kalian sudah menikah? Maksudku, Chloe itu tidak sebanding denganmu. Dia memang orang berada dan sedikit cerdas tapi kan dia sangat tidak berkelas." Ceplos Kiel.


"Hentikan perkataan mu!" Bentak Kenan.


Kiel menutup mulutnya, "Kenan aku tidak bermaksud menghina Chloe hanya saja, aku pikir pria tampan dan mapan sepertimu akan didampingi oleh wanita yang berkelas dan cantik seperti aku," Lanjutnya lagi.


"Diam!!!" Teriak Kenan yang begitu marah. "Diam atau kamu akan saya turunkan!" Katanya lagi.


"Jangan Kenan, aku minta maaf." Kiel menyentuh bahu Kenan namun Kenan menepisnya.


Lian tertawa kecil melihat ekspresi Kiel yang ketakutan dari spion mobil.


Wanita ini berani sekali menjelekkan Nyonya. Dia memang cantik, tapi mengapa dia tidak menjaga sikapnya hingga berani mengatakan hal buruk tentang Nyonya.


"Kama, kita sebenarnya mau kemana? dari tadi hanya berputar di jalan saja." Tanya Chloe jengkel.


"Tenang dan sabar Chloe, aku juga sedang berusaha mencari alamatnya." Jawab Kama sambil terus menyetir.


"Tapi ini sudah berjam-jam, kamu sama sekali tidak tahu jalan?"


"Tunggu, aku akan berusaha." Kata Kama tersenyum.


"Kama!" Seru Chloe tiba-tiba. "Boleh kamu pinjamkan handphone? aku baru terpikir mengapa kita tidak cari alamatnya di internet, pasti alamat Kenan tertera disana." Kata Chloe kegirangan.


"Lebih baik kita sambil makan. Di sana ada tempat kuliner enak, dengan bersantai kita bisa mencarinya di internet." Kata Kama beralasan.


Tidak bisa aku biarkan dia kembali pada Kenan sebelum aku memilikinya malam ini. Pikir Kama jahat.


Mereka berhenti di suatu tempat yang ramai pengunjung menyakinkan bahwa makanan nya pasti sangat lezat.


"Chloe mari duduk sini." Ajak Kama yang sudah memilih tempat untuk mereka.


"Tempatnya ramai sekali ya." Ujar Chloe sambil mengambil posisi duduk.


"Ya, karena makanan disini sangat enak. Kamu pasti ketagihan kalau sudah mencoba."


"Sepertinya iya hehe..." Ucap Chloe.


"Oh iya, jadi boleh sekarang aku pinjam ponselmu?" Tanya Chloe lagi.


"Chlo, kita makan dulu ya. Jangan terlalu khawatir." Kata Kama lagi-lagi mengelak.


Chloe hanya mengangguk-angguk.