A Man From Daddy

A Man From Daddy
Pendarahan



Tepat tengah malam, Kenan terlelap sambil memeluk Chloe dengan mesra. Begitu juga Chloe yang tidur bersandar di dada Kenan yang bidang, tiba-tiba saja terbangun.


"Sayang..." Rengeknya manja membangunkan Kenan.


Kenan menggeliat dan membuka matanya, "Iya sayang. Ada apa?"


"Tiba-tiba aku merasa mual," Ujar Chloe manja.


"Mual? Aku ambilkan minum ya sayang,"


"Haha... aku bohong Kenan," Chloe tertawa senang setelah berhasil membuat suaminya itu cemas.


"Chloe..." Ujar Kenan geram.


"Sayang, aku ingin makan nasi goreng." Kata Chloe manja.


"Di tengah malam seperti ini mau makan nasi goreng?" Tanya Kenan heran.


"Iya dan nasi goreng yang aku mau itu, masakan kamu sayang." Rengek Chloe semakin manja.


Sepertinya Chloe sedang berada di fase yang orang sebut, ngidam. Tapi, saya kan tidak bisa masak sama sekali. Batin Kenan.


"Baik, akan saya buatkan. Kamu tunggu saja di sini, nanti setelah masak saya akan bawa nasi gorengnya ke hadapan Nyonya Aldrich tercinta." Kenan mencubit pipi Chloe geram dan bergegas turun ke bawa.


Meskipun Kenan bukan Ayah dari anak ini. Tapi dia mau menuruti keinginan nya. Walau di tengah malam seperti ini. Chloe tersenyum dan berbaring menarik selimutnya.


***


Sudah setengah jam lamanya, Kenan tak juga datang.


"Kenan lama sekali. Lebih baik aku turun saja, melihat dia sedang apa,"


Setelah sampai di dapur, Chloe mendapati Kenan yang masih bingung memandangi setiap bahan makanan yang ada di hadapan nya.


"Sayang... dari tadi kamu belum masak?" Chloe menghampiri Kenan.


Kenan menggarut kepalanya, "Iya sayang maaf ya, saya tidak tahu caranya memasak nasi goreng."


"Haha... Sayang ya ampun, nasi goreng itu mudah sekali masaknya. Ya sudah kalau tidak ya sudah jangan di paksakan." Ucap Chloe sambil tertawa geli.


"Memangnya kamu pikir saya ini orang yang mudah menyerah, hah? Saya akan coba demi kamu juga calon anak kita," Kenan mengusap kepala Chloe.


"Kalau begitu biar aku beri tahu resepnya dan kamu yang memasak." Chloe mengedipkan sebelah matanya.


Kenan menyelesaikan masakannya dengan baik.


"Bagaimana, rasanya enak?" Tanya Kenan penasaran.


Chloe mengunyah nasi goreng itu perlahan, seperti ingin mengoreksi rasanya.


"Enak... aku suka." Katanya girang.


"Kamu sedang tidak berbohongkan?"


"Tidak suamiku... masakan kamu enak kok." Kata Chloe sambil mencubit pelan pipi suaminya.


"Ya, saya jadi lega sekarang." Ucapnya sambil memberikan suapan kedua pada istrinya.


***


Pagi ini Kenan dan Chloe berniat untuk memberitahu sang Ayah tentang kehamilan Chloe. Meskipun, ada rasa ragu di hati Chloe, tapi Kenan bersikeras untuk tetap memberi kabar ini pada seluruh anggota keluarganya.


"Sayang sebaiknya jangan beri tahu Ayah terlebih dahulu." Chloe mencegah Kenan yang hendak menelpon sang Ayah.


"Memang nya kenapa? Jangan khawatir, Ayah pasti malah senang mendengarnya."


"Iya aku tahu. Tapi anak ini bukan cucu Ayah Ken... Tidak mungkin kita membohonginya, kan?" Wajah Chloe murung.


"Siapa bilang dia bukan cucu Ayah? Dia ada di rahim mu sekarang dan semalam dia juga sudah makan masakan saya... Dia darah dagingmu, anak saya dan cucu Ayah."


Mendengar jawaban Kenan, ia tak sanggup untuk mengatakan apapun. Dalam hatinya, ia sangat bersyukur karena Ayah sudah menjodohkan nya dengan pria seperti Kenan.


"Ayah, Chloe sedang mengandung." Ucap Kenan girang.


Ayah Chloe pun tampak sangat bahagia. Sampai suara tawanya terdengar di ujung telepon.


"Haha... Syukurlah nak. Kamu harus jaga istrimu ya. Jangan sampai, dia kelelahan." Ucap Ayah.


"Baik Nak. Salam Ayah untuk Chloe ya."


Tut...tut...


Suara telepon di tutup. Kenan berkemas untuk pergi. Ntah mengapa kehamilan Chloe malah membuat Kenan lebih bersemangat meskipun, ia tahu itu bukan anaknya. Tapi, rasa tulus dan kasih sayang yang ia miliki untuk Chloe menutupi segala kesalahan.


Setelah Kenan pergi meninggalkan Chloe. Ia kembali merenung dan terus merasa bersalah. Baginya, ia sudah sangat mengecewakan orang-orang yang ia sayangi.


Untuk itu Chloe berniat pergi menemui Kama secara diam-diam. Ia bersiap, meraih tasnya dan pergi tanpa mengatakan apapun pada semua asisten.


"Luxuria Group. Ini dia kantor tempat pria brengs*k itu bekerja. Akan aku habisi dia." Ucap Chloe geram.


Ia melangkah masuk dan menemui pihak resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya seorang wanita yang bekerja sebagai resepsionis.


"Apa boss anda ada di sini?" Tanya Chloe dengan tatapan tajam.


"Maksud Nona, Tuan Kama?" Wanita itu balik bertanya.


"Iya. Apa Tuan Kama sedang tidak sibuk?" Mata Chloe semakin tajam menatap. Ia sungguh tak sabar untuk menemui Kama.


"Tapi Nona, ada perlu apa?" Wanita itu memandang Chloe curiga.


"Oh... saya ada keperluan penting. Ini mengenai kerja sama kami." Jawab Chloe berbohong.


"Baiklah Nona. Tuan Kama ada di lantai paling atas." Ucapnya ramah.


Tanpa mengucapakan terimakasih, Chloe bergegas naik ke atas. Ia mempercepat langkahnya agar segera dapat bertemu dengan Kama.


Sampai di depan ruangan yang pintunya tertulis "Yang terhormat : Tuan Kama." Chloe mencoba masuk namun seorang wanita membawa segelas kopi menahan nya.


"Maaf Nona, anda siapa? Dan perlu apa dengan Tuan Kama?" Tanya wanita yang berpakaian rapi itu.


Chloe memandang wanita itu dari atas hingga ke bawa.


Dia cantik. Apa dia sekretarisnya Kama.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Kama. Ada hal penting yang harus saya bicarakan. Anda siapa?" Tanya Chloe.


"Saya adalah sekretaris baru Tuan Kama Nona. Perkenalkan saya, Hanna." Gadis itu mengulurkan tangan nya.


Tetapi Chloe mengabaikannya begitu saja.


"Apa Nona sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya gadis itu lagi sambil menurunkan tangannya.


Chloe tak juga menghiraukan Hanna. Ia mendorong kuat pintu itu. Kama yang sedang duduk di kursi singgasana nya tak merasa kaget ataupun gempar dengan kedatangan Chloe.


"Haha... Kau rupanya. Apa kabarmu Chloe?" Kama berpangku tangan dan duduk bersandar.


Hanna yang masih bingung tentang kehadiran Chloe. Hanya berdiri di belakangnya sambil terus memegangi segelas kopi panas.


Chloe meraih kopi itu dan menyiramkan Kama, tetapi hanya mengenai jasnya.


"Nona, apa yang kau lakukan?!" Teriak Hanna.


"Hanna, biarkan saja wanita ini melakukan apa yang dia mau haha..." Kama bangkit berdiri dan mendekati Chloe.


"Mengapa begitu marah Chloe? Haha..." Kama memperhatikan perut Chloe, "Oh... Kau dan suami mu itu akan menjadi orang tua dari anakku?" Kama bertepuk tangan dan tertawa.


"Kama!!... Kau pria bajing*n!" Suara Chloe lantang menampar keras Hanna yang mendengarnya.


"Haha... Ya itulah Tuan Kama. Kau yang terlalu bodoh! Kau wanita yang haus sekali akan cinta, hingga lupa bahwa kau sudah punya suami. Lihat, inilah hasilnya." Kama memandangi perut Chloe dan tertawa senang.


"Tapi... Balas dendamku terhadap Ayahmu sudah terbalas. Setidaknya, anakku nanti akan menjadi cucunya, bukan? Haha... Mau tidak mau, Ayahmu yang dulu menolakku akhirnya harus menganggap bayi ini sebagai cucunya." Lanjut Kama sambil terus tertawa.


"Tuan Kama!..." Hanna berteriak marah.


"Jangan berteriak padaku, Hanna!" Mata Kama menatap tajam pada sekretarisnya.


Chloe yang tidak tahan mendengar kata-kata menyakitkan dari Kama. Bergegas meninggalkan Kama dengan langkah yang cepat, hingga membuatnya tersandung dan mengalami pendarahan.


Bersambung.......