A Man From Daddy

A Man From Daddy
Kelicikan Kiel



Di jam istirahat, Kenan berniat untuk pulang sekedar makan siang bersama Chloe, istri tercinta. Ia mempercepat langkahnya keluar dari ruangan meeting.


Brukk!..


“Maaf Ken, eh maksudku maaf Pak Kenan,” Ucap Kiel yang baru saja menabrak Kenan.


“Lain kali jika jalan lebih hati-hati.” Kenan menatap tak suka.


“Iya Pak, sekali lagi saya minta maaf. Bapak mau kemana?”


“Saya ingin pulang makan siang bersama Chloe.” Jawabnya acuh.


“Boleh saya ikut?”


Kenan memandang heran dengan dahi yang di kerutkan, “Untuk apa?”


“Saya hanya ingin menjenguk Chloe, sekaligus menyampaikan rasa duka saya atas kepergian Pak Corlenius.” Katanya mencari alasan.


“Kamu tidak perlu ikut saya. Nanti saya akan sampaikan sendiri pada Chloe.” Kenan melangkah meninggalkan Kiel begitu saja.


“Ahh… Menyebalkan! Mengapa sulit sekali sih untuk bisa dekat dengan Kenan!” Gerutu Kiel dengan wajah kesal.


“Kiel apa kamu melihat Pak Kenan?” Tanya seorang wanita, di tangannya begitu banyak berkas yang ia bawa.


Kiel memperhatikan wanita itu, “Baru saja pergi, katanya mau pulang makan siang. Ada apa?”


“Ada berkas penting yang harus di tanda tangani sekarang juga sebelum di kirim.” Kata wanita itu sedikit panik.


Kiel tersenyum licik, “Berikan padaku!” Ia merampas berkas itu dan melangkah setengah berlari menyusul Kenan.


“Kenan, tunggu!” Teriaknya ketika melihat Kenan baru saja masuk ke dalam mobil.


Kiel menyosor masuk pula ke dalam mobil dan menutup pintunya.


“Hei, kamu ini apa-apaan!” Sentak Kenan.


“Maaf Ken, maksudku Pak Kenan. Ada berkas yang harus anda tanda tangani segera.” Kiel menyerahkan berkas itu.


“Kan setelah makan siang, saya akan kembali ke kantor. Mengapa harus terburu-buru?” Kenan menaikkan intonasi bicaranya.


“Tapi berkas ini harus segera di kirim Pak.”


“Nanti saja. Sekarang kamu turun!”


“Eh pak, sebenarnya saya sangat ingin bertemu dengan Chloe,” Suara Kiel terdengar memelas.


“Kamu tidak harus pergi bersama saya bukan? Silakan cari taksi atau sebagainya.”


“Apa salahnya sekalian. Ya Kenan, ini kan di luar jam kerja jadi kita kan berteman baik dan apa salahnya jika niatku ingin bersilahturahmi pada istrimu.” Rengek Kiel, ia terdengar seperti membujuk.


“Baiklah.” Kata Kenan terpaksa.


“Apa kita jalan sekarang Tuan?” Tanya Lian yang sejak tadi bingung menyaksikan Kiel dan Tuannya.


“Silakan Lian.”


Lian pun menyalakan mobil dan mengendarainya dengan santai, hingga tiba di apartemen kediaman Kenan dan Chloe.


Kebetulan sekali, Chloe sudah duduk di sebuah kursi gantung di depan apartemen. Ia tersenyum bahagia menyambut suaminya, namun tiba-tiba senyumnya memudar ketika melihat Kiel ikut turun bersama Kenan.


Kenan menghampiri Chloe dan mendaratkan satu ciuman di keningnya, “Kamu sudah menunggu sayang?”


“Iya.” Jawab Chloe tak bersemangat, matanya memperhatikan Kiel yang berdiri di belakang Kenan sambil tersenyum.


“Hai Chloe. Bagaimana kabarmu?” Sapa Kiel.


“Aku baik. Kamu ke sini bareng Kenan?” Chloe terlihat bingung.


“Hmm soal itu, Kiel tadi berniat untuk menjenguk kamu sayang dan juga menyampaikan rasa dukanya. Dia tadi meminta tolong agar pergi bersama begitu.” Jelas Kenan dengan raut wajah setengah khawatir kalau Chloe akan berpikir yang bukan-bukan.


Kenan merangkul pinggang istrinya dan mereka masuk ke dalam. Sementara Kiel, diam-diam ia mencebik kemesraan pasangan suami istri itu.


‘’Kiel, silakan makan apa saja yang ingin kamu makan. Hari ini aku sengaja menyuruh pelayan memasak sedikit banyak.” Chloe mendekatkan beberapa hidangan pada Kiel yang duduk di hadapannya.


“Maaf Chloe, aku jadi ikut merepotkan. Padahal, niatnya ingin menjenguk saja tapi malah numpang makan hehe…” Ucapnya basa-basi.


“Tidak masalah Kiel.”


Mereka menikmati makan siang bersama. Selama makan siang berlangsung, Kiel merasa sedikit muak dan jijik atas perlakuan manis Kenan dan Chloe yang sesekali saling menyuap.


Menyebalkan! Menyaksikan Kenan begitu bersama Chloe, sungguh membuat aku muak! Kapan akau bisa ada di samping Kenan seperti itu? Huu… Gerutunya dalam hati.


“Chlo, makanannya enak sekali ya.” Kiel berlagak manis.


“Terimakasih Kiel, syukurlah kalau kamu suka.”


“Sayang, aku mau ke toilet sebentar ya.” Kenan beranjak dari meja makan.


Chloe dan Kiel memandangi Kenan bersamaan, hingga ia berjalan begitu jauh menuju toilet yang ada di dapur. Tapi, Chloe tidak menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya sekarang ikut terkesima dalam pesona akan suaminya.


“Chloe,” Panggil Kiel.


Chloe menoleh ke arahnya.


“Aku turut sedih ya mendengar kabarmu. Maksudku tentang operasi pengangkatan rahim itu, apa itu benar?” Tanya Kiel bermaksud itu memastikan kebenaran berita itu.


Chloe terlihat murung, “Iya. Kamu tahu dari mana?”


“Seluruh orang di kantor membicarakan hal itu. Ya, harusnya tidak menjadi gosip. Aku kasihan padamu.” Kiel diam-diam tersenyum licik.


“Tidak perlu kasihan Kiel. Itu sudah menjadi jalan Tuhan dan aku tidak pernah menyesalinya. Terlebih Ayah, dia sudah memberikan aku Kenan yang bisa menerimaku mencintaiku setulus hati.” Chloe tersenyum.


Kiel diam-diam mencebik.


Terdengar begitu menjijikan!


“Ya, kamu beruntung sekali bisa mendapatkan Kenan. Semoga saja, Kenan terus menerima kamu seperti itu ya.”


“Maksudmu?” Chloe mengerutkan kening.


“Maaf, jangan tersinggung Chlo. Sebagai wanita aku tahu betul perasaanmu, jadi aku berharap agar Kenan bisa menerimamu selamanya. Bukan maksud apa-apa kok.” Kiel mencoba memojokkan perasaan Chloe.


“Ya, aku yakin Kenan akan terus mencintaiku sampai akhir.” Chloe melayangkan bola matanya dan tersenyum bahagia.


“Lalu, apa kalian tidak berniat memiliki keturunan? Maksudku, penerus Aldrich Capital Group.”


“Ntahlah, aku dan Kenan belum membicarakan soal itu. Tapi kami berniat untuk mengadopsi bayi dan menjadikannya anak.” Chloe terdengar antusias.


“Wah, semoga saja ya rencana kalian terlaksana dengan baik.”


Mengadopsi? Apa keluarga Kenan nantinya tidak keberatan jika penerusnya bukan dari darah daging Kenan. Terutama Bibi Steve, dia sendiri yang sudah mengeluh padaku bahwa Chloe tidak bisa memberikan keturunan.


Kiel tersenyum licik, “Jika nanti aku menikah, aku berharap bisa segera hamil agar bisa merasakan bagaimana rasanya hehe…” Kiel seolah-olah sedang membayangkan kehamilannya, padahal ia berniat untuk menjatuhkan perasaan Chloe dalam rasa sedih.


“Wah, semoga saja ya Kiel. Apa kamu sudah punya calonnya?” Chloe begitu polos, hingga ia tidak membawa pernyataan Kiel dalam perasaan.


“Belum. Tapi mungkin sebentar lagi.”


Mungkin sebentar lagi, bersama Kenan.


Chloe meraih tangan Kiel dan mengusapnya lembut, “Aku akan mendoakan kamu dapat pria yang sangat sayang dan mencintaimu,seperti Kenan padaku.”


Dasar kau tukang pamer! Tentu saja aku inginkan Kenan! Batin Kiel penuh kelicikan.


Kiel tersenyum manis, “Terimakasih Chloe atas doanya.”