A Man From Daddy

A Man From Daddy
Singapore



Akhirnya hari itu tiba juga. Hari dimana Chloe akan berpisah dengan Ayah tercinta dan memulai halaman kisah hidupnya yang baru.


Tentunya sangat berat ketika kaki mulai melangkah tetapi hati ingin tetap tinggal.


Tidak banyak yang ia harapkan dan katakan pada Ayahnya ketika berada dibandara. Yang ia inginkan hanyalah agar sang Ayah selalu menjaga kesehatan dan rutin mengabarinya apapun yang terjadi.


Pipinya dihujani dengan airmata dan kesedihan yang semakin mencekam. Chloe duduk didekat jendela pesawat, memalingkan wajahnya dari Ken untuk menutupi rasa duka.


"Awan nya bagus ya." Ujar Ken.


Tak ada respon untuk Ken. Istrinya itu hanya terus berlabuh dalam kesedihan.


Harusnya langit akan lebih indah ketika berada diketinggian. Tapi itu tak mampu membuatnya sedikit tenang.


"Jangan berlarut. Ayah akan baik-baik saja. Nanti jika kamu rindu, saya akan izinkan pulang."


"Mengapa bukan kamu saja yang pulang ke Singapur?" Spontan Chloe.


"Hah?!..."


"Seharunya kamu biarkan saja aku tinggal bersama Ayah, toh kita menikah juga hanya sebatas tanda tangan di atas kertas !." Celoteh Chloe sembari menghapus air matanya.


"Tidak mungkin seperti itu. Apa yang nanti orang-orang katakan jika kamu dan saya terpisah ketika sudah menikah?! Walaupun, pernikahan ini bukan keinginan kita berdua, tapi setidaknya jalani kewajibanmu sebagai istri, yaitu mengikuti suami."


Seharusnya memang kamu harus bisa mandiri di usia sekarang. Gumam Ken.


Chloe memandang Ken dengan tatapan yang tidak menyenangkan.


Andai saja aku tidak menikahi Ken.


Ken memberikan senyum sinis diwajahnya.


"Sudahlah, hapus air matamu wanita cengeng. Saya berjanji akan memperlakukan kamu dengan baik sebagai teman menikah." Ucap pria beralis tebal itu.


"Memang sebaiknya begitu." Ketus Chloe.


Ken membalasnya lagi dengan senyuman.


#Singapur#


Tidak menunggu lama setelah turun dari pesawat, sebuah mobil yang amat mewah berserta sopir telah menunggu keduanya.


"Tuan apakah sudah menunggu lama?" Tanya sopir itu dengan begitu hormat pada Kenan.


"Tidak, tepat waktu." Jawab Ken penuh wibawa.


Chloe terbelalak kaget melihat mobil yang begitu mewah menjemput mereka. Bahkan, sopir yang berpenampilan rapi dengan jas hitam, dasi, serta sepatu yang mengkilat.


Ini sopir atau pejabat, rapi sekali...


"Perkenalkan wanita disebelah saya ini adalah istri saya, Nyonya Chloe Aldrich. Mulai sekarang kamu juga bertugas untuk mengantar dia kemanapun ia mau." Tegas Ken.


"Baik Tuan. Nyonya Chloe perkenalkan saya Lian, sopir pribadi Tuan Aldrich." Kata lelaki itu sambil membungkukkan badan.


Chloe hanya tersenyum manis.


Ken benar-benar bukan pria biasa-biasa saja.


Kemudian Lian membuka pintu mobil bagi mereka dan Ken mempersilakan Chloe untuk masuk duluan


"Lian, kamu antarkan saya ke kantor. Setelah itu, tolong antarkan Nyonya Chloe ke apartemen untuk beristirahat. Dan satu lagi, beritahu pada seluruh asisten saya untuk hormat padanya!" Tegasnya lagi.


"Baik Tuan." Jawab Lian sambil terus menyetir.


"Kamu langsung bekerja?" Tanya Chloe.


"Ya, saya sudah banyak berlibur. Akan banyak sekali project yang harus saya cek."


"Bagaimana dengan aku?"


"Tenang saja... mereka akan berlaku baik padamu dan lakukan apa saja yang kamu mau, karna apartemen itu adalah milik saya." Ujar Ken sambil tersenyum.


"Milik kamu?!" Tanya Chloe kaget.


"Iya, A.C Group atau Aldrich Capital Group memiliki beberapa hotel juga apartemen."


"Oh begitu..." Ujar Chloe dengen ekspresi datar.


Dalam hati ia terkagum-kagum dengan Ken.


Wah... keren sekali, usianya yang terbilang muda, ia sudah sangat sukses sebagai pemilik dari A.C group.


Mobil terhenti didepan sebuah gendung tinggi yang bangunan nya begitu mewah dan modern. Jelas sekali didepan nya terpampang nama, A.C Group.


"Saya sudah sampai. Nikmati istirahatmu dan, jika perlu apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Lian ataupun yang lain." Ucap Ken yang bersiap untuk turun dari mobil.


"Iya Ken terimakasih."


Chloe memperhatikan ada tiga orang laki-laki yang berada disana. Satu dari mereka menyambut Ken dengan membuka pintu mobilnya, satu lagi membukakan pintu gedung A.C Group bagi Ken ketika hendak masuk dan yang satu membungkukkan badan nya tanda hormat.


Yang benar saja! Dia diperlakukan seperti sultan. Gumam Chlo.


"Nyonya, apakah sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan?"


Suara Lian mengagetkan Chloe yang dari tadi terpaku melihat suaminya itu.


"Hah apa?!... Eh maksud, saya silakan Lian."


Memangnya harus bertanya dulu jika mau jalan.


"Saya takut jika langsung saja tanpa bertanya, Nyonya akan marah. Apalagi, Nyonya sedang memperhatikan Tuan."


"Apa?!... iya... iya silakan jalan saja." Jawab Chloe tersentak.


20 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di apartemen. Segera Lian membukakan pintu mobil dan Chloe pun turun. Lalu kemudian Lian mengangkat semua barang-barangnya yang ada di bagasi.


"Silakan Nyonya..." Sambut lima orang asisten yang berdiri didepan apartemen.


Mereka semua adalah perempuan yang masih muda.


Chloe melangkahkan kakinya perlahan sambil melihat kesana kemari.


Ini apartemen termewah yang pernah aku lihat.


"Mari Nyonya saya antarkan ke kamar." Ujar salah satu dari mereka.


Chloe hanya mengangguk dan tersenyum.


Kemudian mereka menaiki lift menuju kamar.


"Silakan Nyonya, dan ini kunci kamarnya."


"Terimakasih," Ujar Chloe dengan ekspresi bingung hendak memanggil apa.


"Rani Nyonya." Ujar asisten itu sambil tersenyum.


"Terimakasih Rani, tapi apa saya boleh minta tolong?"


"Apa saja Nyonya." Jawab Rani.


"Pindahkan baju-baju saya kedalam lemari ya." Kata Chloe sambil membuka pintu kamar dan langsung menjelajahi kamarnya.


Kamar ini luas sekali dengan desain yang luarbiasa... tempat tidur yang mewah dan klasik, lengkap dengan sofa, televisi modern yang menempel di dinding, lemari pakaian yang cantik, kamar mandi mewah, bahkan kaca jendela yang luas mengarah ke pusat kota. Pasti malam akan terlihat indah jika tirainya dibuka. Pikir Chloe sambil tersenyum sendiri.


Lagi-lagi ia terpaku dengan apartemen tempat tinggal Kenan.


"Nyonya, apakah jadi pakaiannya saya pindahkan?" Tanya Rani yang sedari tadi sudah menunggu Chloe.


"Oh iya Rani, maaf saya lupa hehe... jadi kok, pakaian yang ada di koper seluruhnya pindahkan ya."


"Baik Nyonya" Segera Rani melakukan tugasnya.


Sementara Chloe duduk disofa mengambil handphone, hendak memberi kabar pada sang Ayah.


Ayah, Chloe sudah sampai dengan selamat. Sekarang Chloe sudah di apartemen Kenan. Semuanya baik-baik saja Yah. Chloe sayang Ayah.


Chloe segera mengirimkan pesan singkat itu pada Ayahnya. Lalu ia kembali memperhatikan Rani yang sibuk dengan tugasnya.


"Rani, usia kamu berapa?" Tanya Chloe.


"Saya 18 tahun Nyonya." Jawab Rani sopan.


"Mengapa tidak kuliah?" Tanya Chloe heran.


"Saya memang tidak ingin melanjutkan pendidikan Nyonya."


"Mengapa begitu?" Tanya Chloe lagi.


"Tidak apa-apa Nyonya memang sudah kemauan saya. Lagipula, tidak perlu pendidikan tinggi gaji saya disini sudah sangat cukup bahkan lebih. Malahan, saya sudah punya dua mobil."


"Mobil ?!" Chloe terbelalak.


"Iya Nyonya. Meskipun, Tuan Aldrich itu sangat galak tapi dia itu dermawan dan tidak pelit hehe..." Rani tertawa kecil.


"Memangnya Tuan Aldrich itu galak?" Tanya Chloe.


"Bukan lagi Nyonya. Segala sesuatu harus sempurna dimata Tuan kalau tidak, bisa habis semua orang dengan amarahnya."


Chlo mengangguk-angguk.


Kenan tidak pernah menunjukkan sifatnya yang seperti itu.


"Semua pekerja disini orang Indonesia?" Tanya Chloe lagi.


"Betul Nyonya, termasuk Lian." Jawabnya.


"Oh... pantas saja kalian begitu lancar bahasanya."


"Iya Nyonya. Nyonya beruntung bisa menikah dengan Tuan Aldrich." Lagi-lagi Rani tertawa kecil.


"Kenapa begitu ?." Chloe bertopang dagu.


"Tuan Aldrich itu banyak sekali penggemarnya termasuk para asisten disini Nyonya."


"Termasuk kamu?" Tanya Chloe ketus.


"Tidak Nyonya hehe... saya hanya kagum saja karena Tuan itu tampan, mapan, juga dermawan." Ujar Rani.


"Hem begitu... Tadi saya perhatikan kalian semua masih muda?"


"Betul Nyonya. Tuan Aldrich tidak akan mau mempekerjakan orang yang sudah lanjut usia. Karena, Tuan Aldrich sangat hormat terhadap yang lebih tua." Celoteh Rani sambil menutup lemari tanda pekerjaannya telah selesai.


"Oh... okay."


Ken memang pria yang sangat baik.


"Saya sudah selesai Nyonya, apa ada yang harus saya kerjakan lagi?" Tanya Rani memastikan.


"Tidak Ran, terimakasih."


"Baik Nyonya saya permisi." Katanya sambil menunduk dan pergi meninggalkan Chloe.


Chloe lalu mengambil foto Ayahnya didalam tas lalu meletakannya diatas lemari kecil tepat disamping tempat tidur.


Ayah benar Ken itu bukan pria yang biasa-biasa saja. Doakan Chloe Ayah agar bisa bahagia disini. Chloe memandangi foto Ayahnya sambil tersenyum.