
Hangat mentari menyambut pagi pasangan pengantin baru, Ken dan Chloe yang masih tidur lelap karena lelah yang tidak tertolongkan.
Suara ketukan pintu yang sedari tadi di abaikan, tidak lain adalah asisten rumah tangga memanggil mereka untuk sarapan. Kini, ketukan itu terdengar bisuh.
Paman Steve dan istrinya sudah menunggu di meja makan dengan aneka sarapan lengkap guna menyambut pengantin yang menginap dirumah mereka. Hidangan yang tidak seperti biasanya, nasi goreng, nasi uduk, bubur ayam, roti, susu dan berbagai jenis buah-buahan.
"Bagaimana bi mereka sudah bangun?" Tanya paman Steve kepada asisten rumah tangga yang baru saja turun dari lantai dua.
"Belum pak. Tuan dan non sulit sekali dibangunkan. Saya sudah coba berapa kali." Jawanya sambil menunduk.
"Ya sudah bi, biar saya bangunkan." Ujar Bibi Steve sembari berdiri hendak menuju kamar Ken.
Paman Steve menahan tangan istrinya. "Ma jangan, namanya juga pengantin baru. Biar mereka bangun sendiri."
"Nanti sarapannya dingin pa." Bibi Steve mengabaikan suaminya dan tetap naik keatas.
"Ma..." Paman Steve mecoba untuk mencegah namun istrinya itu terus berjalan.
Sampailah Bibi di kamar Ken. Ia mengetuk nya dari pelan hingga sedikit kuat.
"Nak Chloe, Kenan mari bangun sarapanya sudah siap."
Kok tidak ada suara apapun. Apa mereka masih tidur ya atau...
Ah, saya coba masuk saja siapa tahu mereka masih tidur. Kemarinkan lelah seharian bisa saja mereka masih tidur.
Bibi mencoba untuk membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia kaget mendapati Chloe dan Kenan tidur terpisah.
Kenapa Kenan tidur di sofa, Chloe tidur sendiri. Bagaimana aku bisa punya cucu cepat.
"Kenan.... hei nak bangun!" Bibi membangunkan dengan suara lantang.
Kenan terbangun dengan perasaan kaget.
"Bibi, kok bisa masuk ke sini?"
"Kamar kamu tidak terkunci. Kamu ini bagaimana sih Ken, kok pengantin baru tidurnya pisah begini?" Omel Bibi.
Ken menggarut punggung lehernya.
Saya harus jawab apa ini. Akibat Chloe yang susah di atur.
"Ken!" Bibi mengagetkan.
Tiba-tiba Chloe terbangun mendengar suara-suara berisik, samar-samar ia melihat Bibi ada dikamarnya.
Astaga gawat ini, kalau Bibi menyangka aku tega membiarkan ponakannya tidur di sofa.
Chloe segera beranjak menghampiri keduanya.
"Pagi bi..." Katanya tersenyum.
"Iya Chloe pagi, kamu kok biarkan suamimu tidur di sofa ?"
Harus bicara apa aku. Gumam Chloe lagi.
"Gini bi, semalam saya ada urusan kerja, jadi saya lembur eh malah ketiduran disini begitu." Ucap Kenan.
"Tapi lembur kok tidak depan laptop?" Tanya Bibi lagi.
"Oh itu bi, Kenan pakai hp semalam kerjanya. Ya kan sayang?" Chloe mengedipkan sebelah matanya pada Ken.
Bibinya Kenan kepo sekali uh... dan tak seharusnya dia masuk kekamar tanpa izin kan.
"Iya sayang." Jawab Ken dengan tersenyum.
"Pengantin baru tapi malah kerja terus Ken. Pokoknya Bibi dan paman ingin segera kalian punya anak. Jadi, kalau nanti pulang ke Singapur kalian harus banyak habiskan waktu bersama ya... jangan kerja saja Ken."
"Iya bi." Jawab keduanya serentak.
"Bibi tunggu di bawah ya untuk sarapan." Kata Bibi sambil beranjak pergi.
Hari ini banyak sekali yang akan di urus keduanya sebelum pulang ke Singapur besok. Jadi setelah sarapan, mereka berniat untuk berpamitan dengan Pak Corlenius, tante Loli dan sekalian membeli perlengkapan Chloe yang akan dibawa ke Singapur. Karena Ken sudah memberi peringatan bahwa, ia akan sibuk sekali setelah disana dan mungkin tidak sempat untuk menemani Chloe berbelanja.
Mereka telah sampai dirumah Pak Corlenius. Segera Chloe berlari masuk kerumah mendapati Ayahnya yang sedang menonton tv.
"Ayah..." Chloe merengek dan memeluk Ayahnya.
"Halo Ayah." Ken menyusul dan bersalaman dengan mertuanya.
"Kalian kesini tidak beri tahu jamnya." Kata Ayah sambil tertawa bahagia menyambut keduanya.
"Memangnya harus, ini kan rumah kami." Kata Chloe.
"Haha iya nak. Sana buatkan Ken minum."
"Baik Yah." Chloe menuju dapur.
Didapur ada Tante Loli yang sibuk membuat sayur sup kesukaan Ayah Chloe.
"Hai tante..."
"Sayang... kamu disini."
Mereka saling berpelukan dan juga saling mencium pipi kiri kanan.
"Iya tan, kan mau pamit." Kata Chloe murung.
"Sudah jangan begitu, Singapur dan Indonesia kan dekat."
"Iya sih tan hehe..." Kata Chloe sembari mengambil gelas lalu hendak membuat jus jeruk untuk Ken.
"Bagaimana dengan Ken?" Tanya tante menggodai ponakannya itu.
"Bagaimana apanya tan?" Jawab Chloe sambil terus sibuk dengan jusnya.
"Kalian kan pengantin baru." Ledek Tante.
"Memangnya kenapa Tan?"
Pasti Tante Loli berpikir yang bukan-bukan. Menjengkelkan sekali pertanyaan seperti itu.
"Tidak apa-apa Chlo, lupakan saja ya hehe." Kata Tante Loli seolah paham akan yang ada dipikiran Chloe.
Sampai pada sore hari Chloe melepaskan rindu pada Pak Corlenius, sebelum akhirnya ia akan pergi meninggalkan Ayah tercinta.
Banyak yang mereka bicarakan bersama, mulai dari masa kecil Chloe bahkan, keinginan Pak Corlenius untuk segera memiliki cucu. Mereka hanya bisa mengiyakan tanpa tahu bagaimana caranya mereka akan menepati permintaan Ayah.
Pak Corlenius memang sudah lama sekali ingin menimang cucu karena, usianya yang semakin lama semakin tua. Bahkan juga, karena penyakit yang ia derita membuatnya takut jika segala sesuatu tidak sempat ia lakukan dan dapatkan.
Chloe memeluk Ayahnya itu begitu lama dan meneteskan air mata. Tak mampu ia berkata-kata atau membayangkan bagaimana jika nantinya ia tidak bisa jauh dari Pak Corlenius. Karena, sejak kecil ia tidak pernah pergi jauh walau hanya sehari.
"Ayah besok akan ikut ke bandarakan, mengantar kami?" Tanya Chloe melepaskan pelukannya.
"Iya nak Ayah pasti datang."
"Terimakasih Yah."
"Iya nak" Katanya sembari mengusap kepala putrinya.
Mereka pun pamit pulang hendak kembali kerumah Paman Steve untuk beristirahat, agar besok tidak ada kendala untuk terbang.
Ken merasakan kesedihan yang di alami istrinya itu. Terlihat sejak meninggalkan rumah Pak Corlenius ia hanya diam membisuh dalam kesedihan. Sangat berat bagi Chloe untuk pergi, tapi semua adalah keinginan Ayahnya. Ia hanya bisa menuruti apapun yang Ayah katakan tanpa mengerti maksudnya. Chloe percaya apa yang Ayah lakukan pasti untuk kebaikannya yang mungkin sekarang belum terjawab.
Kenan menyetir sembari sesekali memandangi Chloe yang duduk disampingnya.
Pasti kamu sangat sedih Chloe. Saya bisa rasakan itu dari matamu... maafkan saya yang sudah membuatmu harus jauh dari Ayah.
Mobil Kenan melaju kencang menerabas hujan yang tiba-tiba turun dengan deras bersama angin menyambut malam seolah, beradaptasi dengan perasaan Chloe. Ya, kisah Chloe baru akan di mulai.