
Chloe tak sadarkan diri setelah begitu lama ia menangis di pelukan suaminya. Karena begitu khawatir dengan keadaannya, Kenan memanggil dokter Samuel dengan menekan tombol di samping tempat tidur.
Dalam waktu beberapa menit dokter Sam datang.
“Dokter, istri saya tak sadarkan diri. Tolong periksa,” Ucap Kenan dengan seluruh getar ketakutan, hingga ia terlihat begitu tak sabar.
“Tenang Pak, kami akan memeriksanya.” Samuel memeriksa detak jantung Chloe serta suhu tubuhnya.
“Nona Chloe hanya sedikit shock dan itu yang membuatnya tidak sadarkan diri. Tapi, kondisinya tidak apa-apa. Biarkan saja dulu dia beristirahat Pak.” Jelas dokter Sam.
“Baik dokter. Terimakasih,” Ucap Ken merasa sedikit lega.
Setelah dokter keluar dari ruangan. Kenan duduk di samping Chloe, ia menggenggam tangannya begitu erat dan menempelkannya di pipi.
Seketika Kenan teringat akan keluarganya yang menunggu kabar. Ia meraih ponsel hendak menghubungi orang-orang yang ada di rumah.
“Tuan,” Panggil Lian yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
Kenan menoleh ke arahnya seraya menutup ponsel, “Ada apa?” Tanya nya.
“Tuan, maaf sebelumnya saya mendengar apa yang Nona Chloe alami. Saya ikut sedih.” Lian menunduk dengan wajah ibah.
“Terimakasih.” Jawab Kenan sekedar.
“Tuan, Tuan besar Steve serta yang lain akan menuju rumah sakit.” Kata Lian lagi yang masih berdiri di ambang pintu ruangan.
“Saya belum memberitahu mereka tapi mengapa mereka bisa menyusul?” Kenan menatap heran.
“Maaf Tuan, saya yang memberitahu karena tadi Tuan besar menelpon saya.” Lian sedikit merasa bersalah karena ia berpikir bahwa ia sedikit lancang.
“Tidak masalah Lian.”
“Baik Tuan, saya permisi.” Lian pamit.
Berapa menit setelahnya, seluruh anggota keluarga datang dengan kecemasan yang melanda di kepala mereka masing-masing.
“Kenan,” Panggil paman Steve dan kemudian masuk ke dalam ruangan VIP dan di susul dengan yang lainnya.
“Paman, Ayah.” Sapa Kenan yang diam-diam mengusap air matanya.
“Bagaimana keadaan Chloe?” Tanya Ayah yang hampir menangis melihat putrinya pingsan.
Pertanyaan itu seketika membuat Kenan membungkam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Apalagi, semua orang berharap begitu besar akan kehadiran cucu dari Chloe.
“Kenan,” Panggil Bibi Steve.
Kenan tersadar, “Chloe baik-baik saja,”
“Lalu mengapa Chloe tidak sadarkan diri seperti ini Kenan? Katakan sebenarnya apa yang terjadi?!” Ayah terdengar begitu khawatir.
Kenan bergeming ia berpikir bagaimana caranya ia harus menceritakan semua. Hal itu membuat semua orang menatap heran pada Kenan.
“Chloe harus segera melakukan operasi pengangkatan rahim,” Akhirnya Kenan mengatakan yang sebenarnya.
“Apa?!” Sontak semua orang dengan tatapan tak percaya.
Kenan mengangguk, “Ada pembengkakan di dinding rahim Chloe atau di sebut dengan kanker dan itu membuat Chloe harus segera operasi agar kankernya tidak menyebar.”
“Jadi itu artinya kalian tidak bisa memiliki anak?” Spontan Bibi Steve bertanya.
Kenan hanya diam dengan wajah penuh penyesalan.
“Keselamatan Chloe, itu yang terpenting sekarang,” Ucap Ayah. Ia mendekati Chloe, membelai rambutnya dan menangis.
Tante Loli tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu bagaimana hancurnya jika harus jadi Chloe dan juga Kenan. Tapi, keadaan tidak mungkin bisa di rubah. Ini semua sudah takdir yang harus Kenan dan Chloe hadapi di usia pernikahan mereka yang masih muda.
“Kenan, kamu harus bisa menguatkan Chloe ya.” Tante Loli mengusap pundak Kenan.
“Iya Tan, terimakasih.”
“Kok bisa seperti ini sih Ken? Jadi, bagaimana nanti dengan penerus kalian, jika Chloe tidak bisa memberi keturunan?” Bibi Steve menatap menghakimi.
“Hmm, padahal Bibi dan Pamanmu ini berharap banyak loh dari kalian. Kita inikan sudah tua tentu saja berharap punya cucu.” Sambung Paman Steve.
“Sekarang yang terpenting adalah Chloe.” Ayah Chloe terdengar tak suka dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh besannya itu.
“Tapi, kalau beginikan tidak mungkin juga Kenan tidak punya keturunan. Dia itu seorang pengusaha dan bisnisnya banyak di mana-mana. Siapa yang akan meneruskan Aldrich?” Bibi Steve menaikkan intonasi bicaranya.
“Untuk itu nantikan bisa di bicarakan.” Balas Ayah.
“Kapan? Memangnya Chloe bisa kasih keturunan?” Bibi Steve semakin memojokkan.
“Sudah cukup! Ini di rumah sakit dan keadaaan Chloe belum sadar. Jadi tolong jangan berdebat di sini!” Bentak Kenan.
Brukk!!!...
Ayah Chloe rebah seketika, hingga membuat keadaan semakin kalut dalam panik.
“Ayah kenapa?!” Kenan dan yang lain membopong pak Corlenius dan membawanya ke sofa.
“Ken sepertinya sakit jantung Ayah kambuh. Lebih baik kita panggil dokter saja ya.” Saran Tante Loli.
Kenan mengangguk, ia segera berlari keluar untuk meminta pertolongan pada perawat. Dengan cepat sebuah tempat tidur dengan roda membawa Ayah Chloe ke dalam ruang pemeriksaan.
Tante Loli menangis sambil menunggu di depan. Ia begitu khawatir akan kedua orang yang sangat dia sayangi harus mengalami hari yang buruk.
Kenan yang juga ikut menunggu bersama Tante Loli hanya bisa duduk terdiam dalam lamunan.
Sepertinya memang ini adalah tugas saya. Ayah, saya berjanji akan tetap menjaga putrinya dan mencintainya apapun keadaannya.
“Bagaimana keadaan kakak saya dokter?” Tante Loli menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
“Keadaannya memburuk, untuk itu kami berniat untuk memindahkannya ke ruang ICU sekarang.” Jelas dokter dan kemudian para perawat membawa Pak Corlenius keluar untuk di pindahkan ke ruang ICU.
Kenan menenangkan Tante Loli yang terlihat begitu khawatir, hingga pipinya terus di banjiri dengan air mata. Kenan juga memikirkan bagaimana jika Chloe tahu keadaan ini, dia harus menjelaskan bagaimana lagi.
“Ken, biar Bibi saja yang menunggu di sini. Kamu hampiri Chloe, kasihan dia.” Suruh Tante Loli.
“Baik Tan. Nanti jika perlu apa-apa tante hubungi saya saja ya.”
“Kamu tenang saja. Lebih baik rahasiakan ini dulu dari Chloe ya.” Tante Loli menatap penuh harap.
“Tapi Tan---‘’
“Tante tidak ingin keadaannya memburuk Ken.” Bujuk Tante Loli sambil mengusap pundak Kenan.
Kenan hanya mengangguk dan melangkah meninggalkan tante Loli di depan ruang ICU. Ia sampai di ruangan, di mana Chloe berbaring dalam lamunan seorang diri.
“Sayang di mana Paman dan Bibi?” Tanya Kenan.
“Bagaimana keadaan Ayah? Aku ingin melihatnya.” Chloe bangkit dan duduk, ia hendak turun dari tempat tidur, namun Kenan menahannya.
“Ayah baik-baik saja. Hanya perlu sedikit istirahat.” Kenan berbohong.
“Kenan, kamu tidak perlu menutupi apapun lagi. Tadi, Paman dan Bibi sudah memberitahu bahwa jantung Ayah kumat dan harus segera di tangani. Aku ingin melihatnya Kenan.” Chloe bersikeras hendak turun dari tempat tidur.
“Tidak usah! Kamu tetap di sini! Ayah akan baik-baik saja.” Kenan mengeraskan suaranya.
“Kenan, aku ingin bertemu Ayah.” Chloe meronta-ronta.
“Chloe, cukup!!! Kamu ini jangan keras kepala, pikirkan juga keadaan kamu!” Bentak Kenan, hingga membuat Chloe terdiam.
“Maaf sayang. Tapi, Ayah akan baik-baik saja. Percayalah,” Kenan melembutkan suaranya dan membaringkan Chloe kembali.
Chloe hanya diam dan meneteskan air mata. Ia memalingkan wajahnya dari Kenan.