
Begitu banyak darah yang bercucuran mengalir di kakinya. Melihat itu sekretaris Kama merasa ibah dan berusaha untuk menolongnya.
"Tuan Kama apa kamu tidak punya, hati?! cepat bawa dia ke rumah sakit." Teriak gadis itu penuh khawatir.
Tanpa mengatakan apapun, Kama menggendong Chloe dan membawanya kerumah sakit. Chloe sempat tak sadarkan diri. Ia terbangun ketika sudah terbaring dan terpasang infus di tangannya.
"Nona, maafkan kami karena tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan Nona. Ia masih terlalu muda, jadi pendarahan yang luarbiasa membuat janin nya tidak selamat." Ucap seorang dokter yang berada di sampingnya.
Chloe tak mengatakan apapun. Ia hanya meneteskan air mata penuh penyesalan. Meskipun bayi itu bukanlah hasil dari buah cinta antara Kenan dan dirinya, tapi sebagai ibu perasaan bersalah timbul dalam dirinya
untuk janin yang tidak berdosa.
Melihat kesedihan Chloe, dokter seperti mengerti dan pergi meninggalkan nya sendiri. Chloe meraih ponsel di dalam tas yang dari tadi terletak di atas lemari kecil di sampingnya.
Suamiku, aku ada medical hospital. Aku mengalami pendarahan sehingga janin nya tidak selamat. Chloe mengirim pesan singkat itu pada Kenan.
Drrt ... drrt ...
"Halo sayang... Bagaimana bisa kamu pendarahan ?" Suara panik Kenan terdengar dari telepon.
Chloe menangis, "Aku terjatuh... Maafkan aku karena tidak bisa menjaga janin ini..."
"Jangan menangis. Saya akan segera kesana, jangan pikirkan apapun dan tenangkan dirimu." Kenan menutup telepon nya karena ia terburu-buru ingin segera bertemu Chloe.
Chloe kembali termenung atas setiap kesalahan yang begitu banyak yang sudah ia lakukan. Rasanya, jika bisa memutar waktu ia ingin kembali di saat Kenan mengingatkan nya tentang siapa Kama.
"Nona... Kamu sudah sadar? Aku turut berduka atas kepergian bayimu." Tiba-tiba sekretaris Kama menghampirinya.
"Terimakasih," Chloe membuang mukanya.
Gadis itu mengusap lembut tangan Chloe yang terinfus, "Tolong maafkan Tuan Kama Nona. Saya tahu ini sudah keterlaluan, tapi saya mohon maafkan dia."
"Mengapa kamu begitu baik dengan pria brengs*k itu ?" Chloe tersenyum tipis dan masih membuang mukanya seperti sangat tidak ingin melihat wajah wanita itu.
Gadis itu hanya membisuh tanpa mengatakan apapun.
"Kamu harus berhati-hati dengan nya. Dia bukan pria yang baik." Kata Chloe lagi kali ini memandang wanita itu.
"Terimakasih Nona. Jika saya boleh tahu, dimana suamimu?"
"Dia sudah di jalan menuju kemari. Tapi aku mohon, bawa Kama pergi dari sini. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi, apalagi jika sampai suamiku tahu bahwa aku menemui nya. Aku mohon cepatlah pergi..." Pinta Chloe dengan wajah memelas.
"Tunggu sebentar Nona..." Gadis itu pergi meninggalkan Chloe.
Chloe tak mengerti apa yang di maksud oleh gadis itu dengan kata "tunggu sebentar". Berapa lama kemudian Ia masuk bersama Kama. Chloe langsung membuang mukanya karena rasa muak terhadap pria bajing*n itu.
"Chloe maafkan aku. Aku tahu aku sudah keterlaluan. Aku merusakmu bahkan mungkin menyakiti hati suamimu hanya demi kepuasan nafsu balas dendamku terhadap Ayahmu yang tidak wajar di lakukan." Kama berdiri di samping Chloe.
Chloe terus tidak ingin melihat Kama. Wajahnya begitu muak dan benci. Ia hanya diam tanpa membalas apapun.
"Nona, saya mohon maafkan Tuan Kama..." Hanna pun ikut memohon belas kasih dari Chloe.
Lebih baik aku maafkan saja pria ini. Dengan syarat agar dia tidak menggangguku ataupun Kenan. Aku rasa ini sudah jalan nya. Batin Chloe
Kama mengangguk dan tersenyum. Tampak dari wajahnya ia begitu tulus meminta maaf. Ntah apa yang bisa membuat ia mengakui kesalahan nya.
Tidak lama setelah membuat kesepakatan agar tidak saling mengganggu lagi, Kama pergi meninggalkan Chloe bersama sekretarisnya.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa kan? Bagaimana keadaanmu, lalu dokter bilang apa?" Tanya Kenan tak sabar karena dipenuhi rasa khawatir.
Chloe langsung memeluk suaminya itu, "Aku sudah membunuh janin yang tidak bersalah." Ia menangis.
Kenan mengusap lembut rambut Chloe, "Sayang... Semua kecelakaan. Jangan katakan itu lagi, kamu tidak sengaja. Tuhan juga pasti mengerti."
Chloe tetap menangis dan memeluk Kenan.
Maafkan aku Kenan karena harus berbohong padamu. Aku takut jika nanti kamu akan marah.
"Bagaimana kamu bisa terjatuh sayang?" Kenan melepaskan pelukan nya.
"Aku tadi jalan terburu-buru dan terpeleset." Jawab Chloe.
"Lalu, siapa yang mengantar kamu ke sini? Intan atau siapa?" Kenan melempar pandangan nya mencari siapa yang sudah menolong istrinya itu.
"Aku -aku tadi pergi ke supermarket dan kejadian nya disana, kebetulan ada sepasang suami istri yang menolongku. Tapi mereka sudah pulang dari tadi." Ucap Chloe berbohong.
Kenan tersenyum mengusap rambut Chloe, "Siapapun itu saya sangat berterimakasih padanya. Sekarang lebih baik, kamu jangan pikirkan apapun lagi ya. Semua sudah terjadi dan mungkin memang sudah jalannya.
Chloe mengangguk paham.
***
Tiga hari setelah itu, dokter memperbolehkan Chloe pulang karena keadaan nya sudah sangat membaik. Ia juga sudah melupakan kejadian yang menyedihkan itu. Ya, bukan karena ia tidak menyayangi janin yang ada dalam kandungan nya. Tapi, Kenan inginkan agar Chloe tidak berlarut terlalu dalam kesedihan.
Mereka berdua berjanji akan memulai awal yang baru. Saling mendengar dan menurut satu sama lain dan yang terpenting adalah mendengarkan nasehat suami.
Hari itu juga hari yang menyenangkan untuk pasangan suami istri ini. Karena, sang Ayah, tante Loli paman Steve juga bibi akan datang ke Singapur untuk berkunjung. Mereka berniat, untuk menghibur Chloe yang baru saja kehilangan janin nya. Meski, rahasia tentang janin itu masih terus tertutup rapat.
"Sayang... harusnya biarkan saja Rani dan Intan yang memasak. Kamu harusnya beristirahat." Omel Kenan pada istrinya yang sibuk memotong sayur.
"Iya Nyonya, padahal disini banyak asisten masa kita gak ngapa-ngapain." Sambung Rani yang juga ada di dapur.
Chloe tersenyum, "Kalian ini jangan terlalu khawatir. Rani, kamu mendingan bantuin asisten yang lain membersihkan kamar tamu juga ruangan keluarga ya..." Pinta Chloe sambil mengoreksi rasa masakan nya.
"Baik Nyonya." Rani bergegas melakukan apa yang Nyonya nya perintahkan.
Nyonya Chloe orangnya sangat baik, hingga semua orang yang bekerja di sini jadi betah. Bahkan, Tuan Kenan jadi tidak galak lagi. Batin Rani sambil terus melangkah.
"Sayang, sini biar saya saja yang potong sayur nya ya." Kenan mengambil ahli pekerjaan Chloe.
"Haha... Memangnya kamu bisa?" Ledek Chloe meragukan.
"Bisa... Lagian juga ini kan menyambut keluarga kita. Jadi, tidak akan saya biarkan istri tercinta melakukan nya seorang diri." Kenan mencium mesra pipi Chloe.