A Man From Daddy

A Man From Daddy
Bandung 4 (Dinner with Ken)



Seorang pelayan datang menghampiri meja dan memberikan buku menu kepada Ken.


"Chlo kamu mau makan apa?" Tanya Ken sambil terus melihat buku menu.


"Aku mau udang bakar, kepiting lada hitam dan jangan lupa nasinya hehe..." Jawab Chloe yang terlihat sudah sangat lapar.


"Kamu makan sebanyak itu?" Tanya Ken kebingungan.


"Ah itu gak banyak kok. Lagian, aku butuh asupan malam ini karna seharian sudah lelah." Jawabnya.


"Iya iya hehe... Makan saja sebanyak-banyak nya, aku traktir." Ujar Ken sembari bermain mata.


Chloe hanya tersenyum dan mengangguk. Dia memang terbiasa makan dalam porsi besar apalagi jika sedang stress. Kali ini Chloe memang sedang stress memikirkan Ken yang tingkahnya selalu terlihat aneh namun menganggumkan.


Makan malam sudah selesai. Terlihat wajah Chloe yang sudah puas menikmati setiap santapan yang dihidangkan. Bagaimana tidak? Makanan Ken yang tidak habis pun ia selesaikan.


Kini, mereka menikmati suasana yang dingin dimalam hari, angin yang berhembus lembut menyapu kulit, ditambah dengan lampu-lampu hias yang menerangi, tidak lupa live music membuat suasana menjadi lebih hidup.


"Chlo, kamu tahu kenapa bukit di Villa dinamakan bukit hijau asri?" Tanya Ken mencoba menghangatkan suasana yang sejak tadi dingin.


"Kenapa?" Jawab Chlo penasaran.


"Ya karna warna nya hijau, banyak pepohonan yang tumbuh dan hidup disana hehe..." Jawab Ken santai


Chloe yang mendengar candaan datar tersebut merasa bingung harus tertawa atau diam. Tetapi agar Ken merasa berhasil dengan lelucon nya makan Chloe mencoba untuk tertawa.


"Hehe... Wah iya Ken betul juga."


Dasar kaku. Gumam Chloe.


"Chlo, kamu tidak ingin menikah?"


Pertanyaan itu seketika membuat mata Chloe terbelalak kaget.


"Ya, semua orang ingin menikah tentunya Ken, tapi kita gak tahu waktu yang tepat. Begitu juga aku." Ujar Chloe sambil merapihkan rambutnya yang sedari tadi diterbangkan angin.


"Iya betul juga. Menurut saya menikah itu bukan hal yang mudah bukan?" Ucap Ken tersenyum.


"Kalau kamu, bagaimana? Maksudnya apa sudah ada niatan untuk menikah?" Tanya Chloe kali ini sambil bertopang dagu.


Ken memalingkan wajahnya dan membisuh.


"Kriteria mu seperti apa?" Chloe bertanya seperti orang yang ingin melakukan penelitian.


"Tidak tahu. Bagi saya, kriteria itu tidak penting. Jika siap ya menikah, lalu terima kekurangan masing-masing. Jika sudah tidak cocok ya bercerai." Ujarnya sembari meminum kopi hangat yang ia pesan.


"Cerai? Memangnya tidak ada jalan lain?"


Ken menatap Chloe. "Semua pernikahan akan seperti itu. Banyak yang berumah tangga setelah punya anak lalu pisah. Ada yang tidak pisah tapi tersiksa, menikah itu bukan surga. Tapi, masalah." Ujarnya kali ini sambil menghabiskan kopinya.


"Saya rasa kamu takut menikah juga karna takut bercerai kan?" Tanya Ken lagi.


"Tidak, aku hanya belum menemukan yang tepat aja." Tegas Chloe.


"Tidak ada orang tepat untuk kita di dunia ini Chlo... Semua orang berbeda tidak akan pernah sama, cocok atau tepat untuk kamu."


"Ya memang tapi cinta yang mempersatukan." Jawab Chloe tidak mau kalah.


Ken tertawa terbahak-bahak. "Jika begitu maka kamu bukan belum menemukan yang tepat, tapi belum mencintai. Mari kita kembali ke villa." Ajak Ken yang langsung berdiri dan berjalan mendahului Chloe.


Chloe yang melihat tingkah Ken mulai merasa bingung lagi. Ken yang kadang hangat tiba-tiba menjadi dingin.


Tadi waktu masuk dia menggenggam tanganku. Sekarang, dia malah jalan duluan. Dasar aneh!!


Sepanjang perjalanan menuju villa tidak ada obrolan sepatah katapun. Ken yang diam, membingungkan perasaan Chloe. Terlihat dari wajah Ken seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu bahkan membuat Chloe tidak berani untuk bertanya. Sampai di Villa, Chloe turun duluan dan masuk kedalam. Ia hendak kekamarnya, namun tiba-tiba Ken yang menyusul dibelakang  memanggil.


"Chlo..."


"Iya Ken." Jawab Chloe sambil berbalik menghadap Ken.


Ken mulai menjahili Chloe lagi. Ia mulai mendekati Chloe lagi perlahan, dan semakin dekat. Kini hanya berjarak beberapa jengkal, tangan kiri ia letakkan di pintu kamar tepat disamping wajah Chloe. Itu membuat hati Chloe tidak karuan serta gugup.


Lagi-lagi Ken meraih tangan Chloe dengan tangan kanannya dengan begitu lembut seperti orang yang ingin mengajak berdansa. Belum selesai Ken dengan kejahilannya Chloe tersadar bahwa Ken memegang kunci kamar Chloe. Dalam hati ia berkata,


Ah... Dia pasti mau memberi kunci kamar, ritual macam apa ini. Setiap memberi kunci selalu seperti ini."


Segera Chloe meraih kunci yang ada ditangan Ken. "Terimaksih Kenan Aldrich," Ucapnya sembari langsung berbalik badan dan membuka pintu kamar, lalu masuk kedalam.


Dibalik pintu Chloe menarik natas panjang akibat jantung yang terus berdebar-debar sejak Ken mendekatinya. Ken yang masih berada didepan kamar berteriak lembut.


"Good night Chloe..." Lalu beranjak kekamarnya.


Hal itu tentu saja semakin membuat Chloe di jajah perasaan senang nan gugup.


"Ken, mengucapkan itu, apa aku tidak salah dengar? Baru seperti itu saja ucapannya, sudah membuat aku seperti orang yang paling bahagia di abad ini." Histeris Chloe sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tersenyum sendiri.


"Tapi sepertinya membuat Ken jatuh cinta itu bukan hal mudah atau lebih terlihat mustahil untuk wanita seperti aku. Lagipula, Ken itu sulit ditebak dan membingungkan. Dia bilang pernikahan itu masalah, terus mudah sekali baginya untuk bercerai jika sudah tidak cocok. Jika aku menikah dengannya apa jadinya, ah aku tidak mau ada perceraian. Tidak-tidak!" Histerisnya lagi sambil memukuli bantal.


"Lagian mana mungkin dia mau menikah denganku, jangan berkhayal Chlo." Kali ini sambil mencoba untuk memejamkan matanya.