
Ya ampun, apa yang baru saja terjadi? Yang benar saja pria kaku ini memelukku di depan umum... dia nekat sekali seperti itu. Gumam Chloe sambil memandangi Ken yang menyetir.
Setelah kejadian tadi, wajah pria tampan itu menjadi tegang. Ia tidak berhenti memikirkan apa yang ia lakukan tadi pada Chloe.
Saya belum pernah memeluk wanita seperti tadi, dan ini adalah yang pertama kali saya lakukan. Mengapa rasanya jadi aneh, melihat Chloe saja saya jadi tidak mampu.
"Ken, makasih ya kamu sudah meminjamkan jaketnya ke aku. Nanti, sampai rumah akan aku cuci."
Ken mengangguk dan tersenyum.
"Maaf ya tadi buat kamu malu di hadapan orang-orang. Kamu segitunya, demi menutupi bercak darah di rokku." Kata Chloe lagi
"Bukan, saya yang seharusnya meminta maaf karna sudah memeluk kamu tadi, saya takut kalau kamu berpikir saya mencari kesempatan." Ucap Ken dengan terus fokus melihat ke depan.
"Ah enggak kok Ken." Chloe tersenyum.
"Oh iya nanti Bibi dan Paman mu jam berapa akan kerumah?" Tanya Chloe.
"Mungkin jam 7, kamu bersiap saja ya."
"Apa mereka gak kaget kalau kamu tiba-tiba ingin menikah?"
"Tidak, mereka itu selalu mendukung apa yang menjadi keputusanku. Tapi, saya berharap kamu tidak mengatakan bahwa pernikahan kita hanya karena suruhan Ayahmu." Ken memandang Chloe.
"Kenapa?"
"Saya tidak ingin nantinya mereka berpikiran yang bukan-bukan tentang kamu, dan satu lagi..."
"Apa?"
"Mereka pasti akan memberikan kamu beberapa tes."
"Maksudnya?" Chloe terlihat bingung.
"Ya, mereka ingin tahu apakah kamu mengetahui banyak hal tentang saya. Seperti, makanan kesukaan saya, hal yang suka saya lakukan dan yang tidak." Kata Ken sambil membuka kaca mobil dan memberikan selembar uang seratus ribu pada pengamen yang ada dilampu merah.
"Jadi aku harus gimana dong?"
"Saya akan berikan bocoran. Pertama, makanan kesukaan saya adalah nasi kecap..."
Tiba-tiba tawa Chloe menghentikan ucapan Ken yang belum saja selesai.
"Haha.... apa? Nasi kecap? Yang benar saja. aku pikir kamu adalah orang yang pemilih dalam segala hal baik itu makanan, mungkin."
"Memangnya kenapa? Nasi kecap itu surga dunia, hampir semua orang menyukainya kan?"
Chloe masih terus tertawa. Dia tidak habis pikir pria berkelas seperti Ken makanan kesukaanya hanyalah nasi kecap.
"Haha... iya memang. Tapi aku justru gak suka kecap, karna kalau makan kecap kulitku nanti tambah coklat haha..." Canda Chloe.
"Iya juga ya, haha... kamu lucu juga."
"Yang kedua, hal yang saya suka adalah membuat orang lain bahagia. Jika apa yang saya lakukan bisa membuat orang itu tersenyum saya merasa lebih hidup. Karna, saya tinggal seorang diri, waktu saya bisa membantu orang, maka saya akan merasa tidak sendiri." Kata Ken lagi sambil menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Chloe.
"Kamu orang baik Ken, pantas saja Ayah kagum sekali sama kamu..."
"Hidup memang untuk kebaikan, bukan?"
"Iya, kamu benar. Terus, yang tidak kamu suka apa ?" Tanya Chloe sembari bersiap-siap untuk turun.
"Ketiga, menunggu. Saya paling tidak suka menunggu makanya saya selalu on time ketika ada janji dengan siapapun. Chlo, saya tidak mampir ya."
"Iya Ken. Lagian sudah sore juga... oh iya sekali lagi makasih ya Ken." Chloe turun dari mobilnya.
Ken membuka kaca jendela untuk melihat Chloe yang berdiri di depan pagar.
"Chlo, jangan lupa istirahat untuk nanti malam."
"Iya. hati-hati dijalan Ken." Chloe melambaikan tangannya.
Ken tersenyum dan menutup kaca mobil lalu melaju pergi.
"na...na... na..." Chloe masuk sembari besenandung, wajah jatuh cintanya kini tidak dapat ia tutupi lagi.
"Sudah pulang, mana Kenan?" Ayah mengejutkan Chloe yang baru saja menutup pintu.
"Ken langsung pulang Yah, mungkin mau siap-siap buat nanti malam."
Pak Corlenius memperhatikan putrinya yang berpenampilan aneh.
"Chlo, kenapa kamu pakai jaket Ken seperti itu?"
"Oh ini... tadi kena saos Yah, jadi Ken pinjamkan jaketnya untuk menutupi." Chloe berbohong.
Ayah tersenyum seperti memikirkan sesuatu.
"Ayah kenapa senyum-senyum?"
"Bukan apa-apa. Sudah, lebih baik kamu mandi lalu beristirahat sebentar... nanti tamu kita akan datang."
"Iya, maksudnya Ken dan keluarganya hehe..."
"Huh Ayah... Chlo pikir Ayah mengundang banyak orang." Chloe menghela napasnya.
"Ya memang."
"Apa? Siapa Yah?"
"Seluruh kerabat, rekan kerja Ayah juga, teman-teman Ayah." Kata Ayah sambil mengambil koran di atas meja.
"Sebanyak itu Yah?" Chloe terbelalak kaget.
"Nanti di pernikahan kalian hehe..." Ayah menjahili Chloe sambil mengedipkan mata kanannya.
"Ayah..." Chloe merengek manja dan beranjak pergi meninggalkan Ayahnya menuju kamar.
Sungguh hari yang melelahkan untuk Ken juga Chloe. Ternyata, mengurus pernikahan yang akan dilangsungkan sesegera mungkin tidaklah mudah semua serba mendadak dan diatur sebaik mungkin. Ditambah, Chloe mengatur semuanya sendiri bahkan Ken hanya menurut saja, itu membuatnya sedikit jengkel.
"Sepertinya yang akan menikah hanya aku saja, dasar Ken!" Chloe mengeluh.
"Ah sudahlah jangan berharap banyak, tentu saja dia seperti itu. setidaknya, aku lega semua sudah beres. Undangan sudah dicetak tinggal di sebar saja, baju oke, catering, semuanya sudah oke. Hei Chloe kamu akan menikah dengan Ken, pria pilihan Ayah huh... aku harap ini bukan keputusan yang salah." Chloe tidak hentinya berkata-kata sendiri di kamarnya.
Tok..tok...tok...
Mendengar ketukan pintu Chloe beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Tante, sudah pulang kantor?"
"Sudah dong kan hari ini acara lamaran ponakan tante satu-satunya." Tante Loli langsung masuk dan berbaring di kasur Chloe.
Chloe menyusulnya pula. "Tumben langsung ke kamar Chlo tan?"
"Iya tante mau nanya kamu bahagia sama keputusanmu?"
"kenapa tante nanya begitu?"
"Karena setahu tante kamu awalnya menolak permintaan Ayah mu."
"Iya sih tan, tapi ini yang terbaik sepertinya."
Tante Loli mengubah posisinya yang berbaring menjadi duduk bersandar di tempat tidur.
"Bukan sepertinya tapi memang ini yang terbaik sayang." Ujar Tante Loli.
"Kenapa begitu tan?"
"Ayah kamu itu tidak mungkin memberikan sesuatu yang jahat pada putri semata wayang nya. Kamu tahu, tidak ada Ayah yang memberi ular ketika anaknya minta roti."
Chloe meletakkan kepalanya dipangkuan Tante Loli, lalu tante Loli membelai-belai rambutnya seperti seorang ibu kepada anaknya.
"Iya tan Chlo juga berpikir seperti itu. Tante tahu gak, Ken itu memang sangat baik, dia tulus bahkan terkadang penuh perhatian." tanpa sadar Chlo tersenyum.
"Kamu jatuh cinta sama Ken?" Tante Loli menebak ponakan nya yang sepertinya menganggumi pria yang akan menjadi suaminya.
"Tan, apa mungkin kalau menikah nanti lama-lama rasa cinta itu akan tumbuh?" Chloe mengabaikan pertanyaan tante Loli.
"Mungkin... kenapa?"
"Kok mungkin? Berarti masih ada kemustahilannya."
"Hem... jawab Tante, memangnya kamu jatuh cinta sama Ken?"
"Sepertinya iya tan. Wanita mana yang tidak jatuh cinta pada sosok pria seperti Ken... tapi Ken gak mungkin bisa jatuh cinta pada Chlo." Chloe seketika murung.
"haha... kamu ini seperti anak remaja saja. Sebentar lagi kan kalian akan terus bersama pasti Ken lama-lama jatuh cinta sama kamu."
"Akankah Ken bisa sayang sama Chloe dengan tulus? Lihat aja penampilan Chlo tan." Chloe lalu berdiri menuju cermin.
"Chlo stop menyalakan diri juga penampilan kamu. Kalau kamu terus tidak percaya diri, merasa tidak cantik maka akan jadi seperti itu."
Tante Loli berdiri menghampiri Chloe.
"Kamu itu cantik, hanya kamu tidak sadar akan itu... Kecantikan itu timbul dari dalam diri kamu. Tidak semua pria jatuh akan pandangan saja, tetapi ada pula yang jatuh karena kelembutan wanita yang terpancar dari dalam."
Chloe memeluk tantenya itu.
"Maaf tan, Chloe memang payah."
Tante Loli membalas pelukan Chloe.
"Ken adalah pria yang ditakdirkan untuk kamu. Jadi, kamu harus bahagia dengan takdirmu, genggam apa yang sudah menjadi milikmu."
"Untuk sekarang Chloe tidak ingin berharap lebih terhadap Ken. Menikah dengan Ken adalah perintah yang harus dijalankan. Ntah apa yang akan terjadi kedepan, setidaknya Chloe sudah menjalankan tugas dengan baik." Chlo melepaskan pelukkan nya.
"Tante akan selalu mendukung dan mendoakan kamu sama Ken."
"Terimakasih tan."