A Man From Daddy

A Man From Daddy
Drama Kiel dan kedatangan Bibi



Pagi-pagi sekali, Kenan yang tengah sibuk bersiap untuk pergi ke kantor terlihat begitu terburu-buru.


Setiap malam baginya dan Chloe adalah lembur. Ya, semenjak kehadiran Rachel, mereka begitu menikmati menjadi orang tua. Tengah malam harus bangun mengganti popok dan membuat susu.


“Sayang, apa kamu sudah terlambat?” Chloe merapikan dasi suaminya.


“Tidak, itu kantor saya jadi mana mungkin ada kata terlambat.”


“Tapi sebagai atasan, harusnya menjadi teladan bukan?” Setelah selesai merapikan dasi, Chloe memakaikan jas pada Kenan.


“Iya, mau bagaimana sayang. Nikmat sekali menjadi Ayah.” Kenan tersenyum seraya mengambil sepatunya.


“Bagaimana dengan Kiel?” Raut wajah Chloe tiba-tiba menjadi murung.


“Kiel?” Kenan balik bertanya.


“Apa dia terus mendekati kamu waktu di kantor?” Chloe merapikan tempat tidur.


Kenan mendekati istrinya itu dan merangkul pinggangnya, “Saya akan menjauh jika dia mendekat.”


“Dia itu sepertinya ingin merebutmu dariku.”


“Jangan berpikiran seperti itu. Bukankah kamu yang memintanya untuk kembali bekerja?” Kenan membelai lembut rambut Chloe.


“Iya, tapi semakin lama Kiel jadi terlihat aneh.” Suara Chloe terdengar merajuk.


“Jangan berpikiran seperti itu sayang. Suamimu ini tidak mungkin tergoda dengan wanita lain.” Kenan terdengar begitu yakin.


Kiel itu kan cantik dan seksi. Apalagi, dia tidak memilik kekurangan seperti aku. Batin Chloe.


“Kalau begitu, saya berangkat dulu ya sayang.” Kenan mendaratkan ciuman di kening Chloe.


“Kamu tidak ingin sarapan dulu?”


“Tidak sayang, sudah tidak sempat.” Kenan meraih ponselnya di tempat tidur dan memasukkanya ke dalam saku celana.


“Baiklah, akan aku antar ke depan.”


“Papa pergi dulu ya sayang,” Ucap Kenan seraya mengecup pelan dahi putri kecilnya.


Chloe mengantarkan suaminya hingga teras rumah. Seperti biasa, Chloe akan masuk ke dalam rumah jika mobil suaminya sudah melewati pagar.


Tiba di kantor, Kiel setengah berlari mengejar Kenan.


“Ken, tunggu!” Teriaknya.


Kenan pura-pura tidak mendengar, ia terus melangkah menuju ruangannya.


“Kenan, aku membawa makanan untukmu. Kebetulan aku yang memasaknya sendiri.” Kiel memperlihatkan kotak bekal yang ia bawa.


“Kamu tidak perlu memberikannya pada saya.” Tolak Kenan.


“Tapi aku sudah susah-susah membuatnya untukmu.” Rengek Kiel.


“Mengapa? Saya tidak menyuruhmu! Berikan saja pada orang lain.” Kenan melangkah masuk dan menutup pintu ruangannya.


Kiel begitu dongkol akan sikap Kenan yang sulit sekali untuk didekati. Tapi hal itu tidak akan membuatnya menyerah. Ia masih terus memiliki banyak akal licik untuk membuat Kenan dekat padanya.


Sore hari ketika menjelang pulang, Kiel berakting seolah-olah sedang sakit. Ia sengaja menabrak Kenan dan berpura-pura pingsan.


Brukkk!...


“Kiel kamu kenapa?” Kenan berusaha menopang tubuh Kiel yang jatuh padanya.


Kiel memejamkan matanya seolah tak sadarkan diri. Dengan sigap Kenan menggendong Kiel dan membawanya keluar dari kantor untuk di bawa ke rumah sakit.


“Dokter, bagaimana keadaan Kiel?”


“Istri anda baik-baik saja Pak, mungkin hanya sedikit lelah.” Jelas seorang dokter yang baru saja memeriksa Kiel.


“Dia bukan istri saya dokter.” Bantah Kenan.


“Oh maaf Pak saya tidak tahu. Tapi pasien boleh pulang tidak harus di rawat.”


“Ken, terimakasih sudah menolongku. Mungkin aku terlalu lelah hingga sakit begini.” Suara Kiel terdengar manja.


“Lain kali beristirahatlah di rumah jika sakit.” Kata Kenan sekedar.


“Iya Ken terimakasih sudah sangat memperdulikan aku.” Kiel menyentuh punggung tangan Kenan. “Aku ingat ketika kita masih SMA, kamu selalu melindungiku ketika sakit.”


Kenan melepaskan tangan Kiel dengan kasar, “Kiel lebih baik sekarang kamu saya pesankan taksi online. Pulanglah.”


“Kenan kepalaku ini masih terasa sakit. Apa kamu tidak bisa mengantar sebentar saja?” Wajah Kiel dibuat memelas agar Kenan merasa ibah padanya.


“Kiel, kamu bisa pulang sendirikan?”


“Ken, aku takut jika aku pingsan lagi. Tidak mungkin sopir taksi online yang menologku, kan? Jika nanti dia malah macam-macam padaku gimana? Tolonglah Kenan.” Kiel berusaha untuk terus membujuk Kenan.


Kenan mulai menimbang-nimbang apakah dia harus mengantar Kiel pulang atau tidak. Melihat kondisinya, Kenan merasa ibah. Apalagi Kiel adalah wanita dan teman dekatnya sewaktu SMA.


“Baiklah, saya akan antar kamu.”


“Terimakasih Kenan.” Kiel tersenyum penuh kelicikan.


Sementara Chloe, ia merasa begitu gelisah saat ini. Setelah meletakkan Rachel di ranjang bayi, ia berulang kali melihat ke arah jam dinding.


“Kenan kok pulangnya terlambat ya. Apa dia sedang sibuk?” Chloe mulai bertanya-tanya.


Ia meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Kenan, namun tidak ada jawaban.


“Mengapa teleponku tidak di angkat ya?”


Chloe berjalan mondar-mandir di ruang kamar seraya memegangi ponselnya, berharap Kenan akan memberi kabar untuk melonggarkan rasa gelisahnya.


“Permisi Nyonya Chloe, ada Bibi Steve di bawa.” Intan tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk.


Mata Kiel membolak. Ia begitu tersentak mendengar perkataan Intan, “Bibi Steve? Kok tidak bilang jika terbang ke Singapur?”


“Saya juga tidak tahu Nyonya,’’ Ucap Intan.


Chloe meninggalkan Intan begitu saja. Ia bergegas menemui Bibi yang sudah menunggu di sofa ruang tamu.


“Bibi, mengapa tidak bilang jika mau kemari?” Chloe menyalami Bibi dan mencium punggung tangannya.


Bibi terlihat tidak menyukai Chloe seperti dulu lagi. Ia menarik tangannya cepat dari Chloe, “Iya, Bibi hanya ingin mengunjungi Kenan. Di mana dia?”


“Kenan belum pulang Bi. Mungkin dia sedang lembur.”


“Mungkin? Memangnya dia tidak memberi kabar?” Bibi Chloe menatap heran pada Chloe.


“Tidak Bi. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Lebih baik Bibi beristirahat dulu ya.”


“Nanti saja, Bibi tidak merasa lelah.” Bibi Steve meraih ponselnya. Ia seperti mengetahui di mana keberadaan ponakannya saat ini.


“Halo Kiel, apa Kenan ada bersamamu sekarang?” Bibi sengaja mengeraskan suaranya.


“Baiklah kalau begitu. Suruh dia langsung pulang jika sudah mengantarmu ya.” Tekan Bibi Steve agar Chloe mendengar kalimatnya.


Sentak Chloe merasa dibakar api cemburu mendengar bahwa suaminya mengantar Kiel pulang kerumah. Kini perasaan gelisah bertambah dihatinya.


“Kenan sedang bersama Kiel Bi?” Chloe memastikan apa dia tidak salah mendengar.


Bibi Steve mengangguk dengan wajah sinis. Ia kemudian meraih teh hangat yang terletak di atas meja tanpa memperdulikan raut wajah Chloe yang terlihat sedih.


“Bagaimana Bibi bisa langsung menebak dan menelpon Kiel?” Mata Chloe terlihat menahan air matanya.


“Ya tahu saja. Mereka kan satu kantor dan Kiel itu dari dulu memang dekat dengan Kenan.” Jawab Bibi Steve dengan santai.


“Tapi, Bibi tahu dari mana kalau Kiel bekerja pada Kenan?”


“Tentu saja tahu. Bibi yang menyarankan Kiel untuk bekerja diperusahaan Kenan.” Jawab Bibi.


Chloe mematung mendengar perkataan Bibi Steve. Ia mulai berpikir, bawah Bibi terlihat begitu menyukai Kiel dan ingin mendekatkannya pada Kenan.