
Kali ini Kenan berjalan mendahului Chloe di depan para karyawan nya.
"Tumben tidak menggandeng istri kesayangan nya itu..." Bisik mereka.
Tentunya para karyawan yang tidak pernah absen selalu menanti sang bos lewat, kini bingung melihat sikap Kenan dan Chloe. Suami istri itu tidak berjalan beriringan, bahkan wajah mereka masing-masing begitu murung.
Kenan masuk ke dalam ruangan, begitu pula Chloe yang mengikuti suaminya. Ia mengambil posisi duduk di sofa sedangkan Kenan memilih langsung bekerja.
Dari pada aku memandangi wajahnya yang murung seperti itu. Lebih baik aku mengurus bisnis Ayah. Aku kan bisa bekerja dari handphone.
Chloe mengambil ponselnya dan mulai sibuk mengirimkan email.
"Hei, kamu sedang apa?" Tanya Kenan yang sedang memperhatikan Chloe.
"Aku membantu Tante Loli mengurus perusahaan," Jawab Chloe sambil terus sibuk dengan ponselnya.
"Tugas mu sekarang menemani saya. Jadi jangan lakukan apapun yang tidak saya perintahkan." Celoteh Kenan sembari tiba-tiba mengambil ponsel Chloe.
"Hei!... Kembalikan ponselku!" Chloe bangkit berdiri dan berusaha meraih ponselnya dari tangan Kenan.
"Perusahaan itu juga punya saya, kan? Jadi, serahkan saja semua pada Tante Loli, saya yakin semua akan terkendali," Kata Kenan yang masih terus menahan ponsel Chloe.
"Apa salahnya aku mengurangi pekerjaan nya. Kamu pikir mengurus bisnis itu mudah? Sini kembalikan ponselku!..." Kata Chloe lantang.
Chloe berusaha keras meraih ponselnya yang semakin di junjung tinggi oleh Kenan yang lebih tinggi darinya. Ia menjinjitkan kakinya dan tanpa sengaja ia terhenti menatap Kenan, yang juga menatap Chloe.
"Kamu ingin di cium lagi?" Goda Kenan memandangi bibir mungil Chloe.
"Apa katamu! Kembalikan ponselku!" Ucap Chloe tak mau kalah.
"Akan aku kembalikan, tapi jika kamu duduk tenang di samping saya selama saya bekerja." Pinta Kenan tersenyum.
"Aku sudah ada di dalam ruanganmu. Jadi, apalagi hah ?!!" Protes Chloe kesal.
"Disana, duduk di samping saya." Kenan menggerakan kepalanya, menunjuk arah meja kerjanya.
"Iya... tapi sini ponselku," Rengeknya manja.
Kenan mencubit gemas dagu Chloe, "Ini ambil," Katanya memberikan ponsel itu pada istrinya.
Kenan kembali ke meja kerja dan memindahkan kursi yang ada di hadapannya, tepat di sampingnya.
"Chloe, duduk di sini." Pintanya pada Chloe yang masih memasang raut wajah kesal.
Chloe menuruti Kenan dan duduk sangat dekat, di samping suaminya itu.
Mengapa mesti duduk di sampingnya begini. Apa aku ini dayang-dayang baginya.
Kenan bekerja sambil sesekali melirik Chloe yang dari tadi memainkan bibirnya geram.
Apa dia selalu memainkan bibirnya seperti itu ketika sedang kesal.
Pria beralis tebal itu menatap Chloe begitu dalam dan lama. Chloe yang tersadar akan itu, seperti biasa merasakan adanya getaran ketika Kenan menatap dalam bola matanya.
Sekarang malah jadi gugup begini. Kenan berhenti menatapku seperti itu.
"Permisi Tuan Kenan... Sudah saatnya untuk meeting," Kiel tiba-tiba masuk.
Mengapa mereka jadi semakin dekat sih.
"Kamu sudah siapkan semua berkas saya?" Tanya Kenan sambil bangkit dari duduknya.
"Sudah Pak, semua sudah saya siapkan," Jawab Chloe sambil tersenyum manis.
"Baik. Tunggu saya di ruang meeting." Kenan merapikan jasnya dan beranjak pergi meninggalkan Chloe.
"Jangan lakukan apapun! Apalagi, menghubungi Kama sebelum saya selesai meeting dan tetap di sini!" Perintah Kenan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Baik suamiku," Jawab Chloe.
Chloe terus memasang senyum di bibirnya sampai Kenan menutup pintu dan tidak terlihat lagi.
Ia menghembuskan nafasnya lega, "Huu... akhirnya pria menyebalkan itu pergi. Sekarang saatnya aku membuat janji dengan Kama." Chloe mengetik janji di ponselnya untuk Kama.
Tiba-tiba Kiel masuk ke dalam ruangan, "Maaf aku mengejutkanmu Nyonya Aldrich." Katanya tersenyum sinis.
"Ada apa Kiel, bukankah harusnya kamu menemani Kenan?"
"Tidak juga," Jawab Chloe singkat.
"Tidak bagaimana?" Kiel menaikkan satu alisnya.
"Ya, menurutku hanya tidak saja," Jawab Chloe lagi sambil sibuk menatap layar ponsel.
Kiel duduk di kursi Kenan, disamping Chloe.
"Iya memang tidak sempurna, karena Kenan belum menemukan orang yang sepadan dengan nya hehe... Maksudku, kalian kan di jodohin jadi ya Kenan belum menemukan cinta sejati yang sesungguhnya,"
Sejauh itu Kenan sudah bercerita pada sekretaris nya ini. Hingga dia tahu bahwa kami hanya di jodohkan.
Chloe mengacuhkan perkataan Kiel.
"Kenan itu pasti mencari wanita yang berkelas. Ya... dalam berpenampilan, cantik, memiliki kulit yang mulus." Kata Kiel berusaha menjatuhkan Chloe, ia tersenyum sambil memandang penampilan Chloe.
"Ya mungkin saja," Jawab Chloe acuh.
Apa maksudnya Kiel mengatakan seperti itu. Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa aku ini tidak pantas, ah biar saja.
Kiel kesal melihat Chloe yang tidak memperdulikan perkataan nya. Ia beranjak pergi membawa berkas tanpa mengatakan apapun.
Dasar!!... Tadi dia katakan pada Kenan bahwa semua sudah siap, sekarang punya alasan untuk mengambil berkas dan mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
"Jika cinta Kenan ya silakan, aku memang jatuh cinta pada pria itu. Tapi, aku bukan wanita yang suka memaksa," Ucap Chloe.
Chloe menanti balasan dari Kama hingga tertidur. Berapa lama setelah itu, Kenan masuk bersama Kiel mendapati Chloe yang sudah tidur lelap di tempat yang masih sama.
"Ya ampun Nyonya Aldrich malah tidur di sini," Ujar Kiel.
"Sst!!" Kenan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Kenan menggendong istrinya itu dan membaringkan nya di sofa.
"Kiel, tugas kamu sudah selesai. Kamu boleh keluar sekarang." Kata Kenan melihat Kiel yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ken, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu ini di kantor, tapi tugasku sudah selesai dan anggap saja di jam ini aku bukan sekretarismu," Kiel menyosor masuk mendekat pada Kenan yang masih juga berdiri.
"Apa kita menjadi seasing ini Ken? Aku tahu sekarang aku adalah bawahanmu. Tapi, apa tidak bisa kita sehangat sewaktu SMA?" Lanjut Kiel lagi.
Kenan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dan berjalan melewati Kiel menuju meja kerja, "Haha... apa yang kamu bicarakan Kiel,"
"Dulu kamu begitu baik padaku bahkan, kita begitu dekat seperti pasangan serasi. Dulu kamu juga katakan bahwa kamu mencintai seorang wanita, apa itu aku?" Kiel mendekat pada Kenan.
Tanpa sengaja, Chloe terbangun dan mendengar perkataan mereka.
Mereka sedang membicarakan apa. Sebaiknya aku pura-pura tidur saja agar bisa dengar apa yang ingin mereka bicarakan.
"Haha... Mengapa kamu ini Kiel?" Ujar Ken sambil tertawa memandang pada laptop.
"Ken, aku hanya ingin tahu. Apa dulu wanita yang kamu maksud itu aku? Karena selain denganku kamu tidak pernah dekat dengan wanita lain," Kini Kiel berdiri di hadapan Kenan, berusaha agar pria itu memandangnya.
Kenan melipat kedua tangannya dan menghembuskan nafasnya keluar, ia memandang Kiel, "Iya itu kamu."
Kiel tersenyum lebar dan menjadi salah tingkah, "Aku sudah yakin bahwa itu aku..."
"Tapi itu adalah masa lalu. Saya mencintai kamu di waktu lampau dan untuk sekarang tidak sama sekali." Lanjut Kenan lagi sambil tersenyum pada Kiel sekilas dan kembali memandang laptopnya.
Senyum Kiel berubah menjadi murung.
Tidak mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi, apa dia mencintai Chloe.
"Apa benar sekarang kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"
"Iya tentu saja." Jawab Kenan lagi-lagi tersenyum.
Ia mengatakan itu begitu yakin, ah mengapa dulu aku acuh padanya jika tahu dia akan menjadi setampan sekarang**. Ucap Kiel dalam hati.
"Kenan, aku..."
"Kiel, saya ingin bekerja... Jadi untuk hal itu lupakan saja. Itu hanya masa lalu dan tidak berguna untuk di bahas," Potong Kenan sambil tersenyum paksa.
"Baik, maaf sudah mengganggumu." Kiel perlahan keluar dari ruangan.
Ahh! Tidak akan aku biarkan Kenan mencintai wanita lain, apalagi itu istrinya yang tidak ada bandingan nya dengan aku.