
Setelah beberapa lama menunggu, dokter Samuel keluar dari ruangan operasi masih dengan seragam hijau, sarung tangan, penutup kepala serta masker yang lengkap. Kenan yang sudah tak sabar, buru-buru menghampiri sang dokter.
“Dokter bagaimana operasinya?” Suara Kenan terdengar tak sabar.
“Semuanya berjalan dengan baik. Tapi, efek obat bius jadi Nona Chlo belum sadarkan diri. Sebentar lagi kita juga akan pindahkan ke ruang rawat,” Ucap Samuel dengan senyum sembari membuka sarung tangannya.
“Terimakasih dokter,” Kenan menundukkan kepala sejenak mengucapkan rasa terimakasih nya.
Lian menghampiri Kenan, “Selamat Tuan, Semoga setelah ini Nona Chloe akan baik-baik saja.”
“Amin.” Kata Kenan dengan mata penuh harap.
Para suster mulai mengurus Chloe dan memindahkannya ke ruang rawat inap. Kenan ikut mengiringi istrinya yang masih tidak sadarkan diri. Bibir dan wajahnya begitu terlihat pucat karena baru saja melakukan operasi.
Setelah segala perlatan medis seperti infus dan oksigen terpasang dengan lengkap. Suster meninggalkan Kenan dan istrinya itu. Kenan duduk di samping Chloe dan terus menggenggam tangannya erat.
“Terimakasih Tuhan, kau sudah melancarkan segalanya,” Ucap Kenan.
“Sayang,” Suara lembut Chloe terdengar.
Kenan dengan cepat menoleh, “Kamu sudah sadar sayang? Jangan terlalu banyak bergerak ya.” Katanya mengingatkan.
“Apa sekarang aku sudah tidak jadi wanita lagi?” Manik mata Chloe berbinar-binar.
“Jangan berkata seperti itu Chlo. Tentu saja kamu tetap wanita hebat yang saya miliki.” Kenan mengusap air mata di pipi Chloe.
“Maaf,” Lirihnya dengan getaran. “Maaf karena aku belum sempat memberikanmu anak.”
“Saya tidak ingin kamu membicarakan ini terus sayang.”
“Aku hanya merasa gagal menjadi seorang istri Ken.” Chloe menangis lebih deras.
Kenan setengah berdiri dan mendekap Chloe pelan dalam pelukannya, “Kamu sudah terlalu banyak menangis. Saya minta ini adalah air mata terakhir yang kamu keluarkan. Setelah itu, jangan lagi menangis.
“Jika kamu katakan bahwa kamu gagal menjadi seorang istri, maka saya juga gagal menjadi seorang suami. Karena istri yang baik dikarenakan suaminya hebat. Begitupula sebaliknya. Kamu itu wanita kebanggaan saya sayang.” Lanjut Kenan.
Dalam dekapan Chloe menumpahkan semua sisa beban di hati dan kepalanya. Setelah ini, ia berjanji untuk tidak menjadi cengeng lagi atau lemah seperti ini.
Seminggu setelah operasi keadaan Chloe membaik, mereka memutuskan untuk pulang atas izin dokter Samuel. Wajah Chloe mulai terlihat tenang dan tidak sembab lagi.
“Sayang, kamu masih dalam masa pemulihan. Jadi, banyak-banyaklah beristirahat ya.” Kenan mendorong Chloe yang duduk di kursi roda ke dalam apartemen mereka.
“Selamat datang Nyonya terbaik kami!!!...” Seru para pelayan serta Lian yang ternyata sudah menyiapkan acara sambutan.
Mereka menghias ruang utama apartemen dengan bunga, balon serta cake ukuran besar dengan tulisan “We love you Nyonya Chloe” Bahkan, Lian sibuk meniup terompet.
Tidak ada yang tidak tertawa, mereka semua ingin menularkan kebahagiaan mereka pada Chloe dengan terus tersenyum. Ya! Rasa bahagia karena Nyonya mereka sudah melewati masa-masa sulit.
Chloe begitu terharu, ia tersenyum dengan manik mata yang sedikit berkaca-kaca, “Terimakasih semua…”
“Nyonya, sekarang saatnya potong kuenya.” Rani menghampiri Chloe seraya mendorong kue di atas meja roda ke hadapan Chloe.
Chloe memandang Kenan yang ada di belakangnya, “Kamu yang menyiapkan semua ini?”
“Tidak. Saya bahkan tidak tahu jika mereka berniat mengadakan acara penyambutanmu sayang.” Kenan menggerakkan bahunya.
“Rani, siapa yang memberi ide ini?” Tanya Chloe pada Rani.
“Lian Nyonya dan semua kami bekerja sama dengan baik. Kami ingin melihat Nyonya Chloe tersenyum lagi.”
Chloe tersenyum manis dan memandangi para pelayannya, “Terimakasih untuk semua. Saya sangat tersentuh dengan apa yang kalian lakukan.”
“Kami tidak ingin Nyonya menangis terus pokoknya!” Lian terdengar mengancam dalam canda.
“Iya. Awas saja kalau Nyonya Chloe menangis lagi!” Ucap yang lain.
Chloe tertawa kecil, “Iya saya tidak akan menangis lagi.”
“Nah begitu dong.” Kata mereka serentak.
Chloe menggangguk dan mulai memotong kue itu dan memberikannya pada semua secara bergantian.
“Sayang, aku tidak perlu kursi roda lagi.” Chloe beranjak.
“Sayang kamu jangan terlalu banyak bergerak.”
“Tidak apa-apa. Aku akan lebih hati-hati.” Chloe meyakinkan. Tentu saja rasanya akan bosan jika duduk di kursi roda seperti orang yang tidak bisa berjalan.
Para pelayan berhasil membuat Chloe tertawa dan tersenyum lagi di hari itu. Mereka menghibur Chloe dengan nyanyian dan permainan pantun, bahkan ada dari mereka yang sengaja menulis puisi untuk kisah cinta Kenan dan Chloe. Tentu saja itu membuat Chloe tertawa geli sekaligus menahan malu.
Hari itu berlalu, Chloe mulai terjaga tidur memeluk suaminya dengan kepala yang ia sandarkan di dada bidang milik Kenan. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang masih begitu segar.
“Sayang, apa Ayah sudah bertemu dengan ibu?’’ Tanya nya dengan bola mata yang masih ia layangkan.
“Tentu saja! Mereka sudah tidak harus menahan rindu lagi sekarang.” Kenan melirik ke arah istrinya.
“Ayah begitu mencintai ibu sama seperti Ayah mencintaiku.”
“Saya akan mengambil ahli pekerjaan Ayah.” Kenan mengecup rambut Chloe dengan lembut.
“Sudah.”
“Apanya yang sudah?” Kenan terlihat bingung.
“Kamu sudah melakukan semua itu padaku.” Chloe memberi senyum pada suaminya itu.
“Benarkah? Tapi belum seberapa, saya ini masih remah-remah hehe…”
“Sayang, kamu sudah sama seperti Ayah.” Sanggah Chloe.
“Ada yang berbeda.” Tukas Kenan pula.
“Apa?” Chloe menoleh.
“Saya tidak ada kumisnya hehe…” Canda Kenan.
“Huu… dasar! Kalau kamu punya kumis maka aku tidak mau di cium.” Rengek Chloe.
“Memangnya kenapa? Jika nanti sudah tua tentu saja aku akan menumbuhkan kumisku ini seperti Ayah.”
“Tidak! Rasanya akan sedikit geli dan berduri jika di cium,”
“Memangya seperti itu?” Kenan menahan tawa di bibirnya.
“Iya. Ayah suka sekali menciumku dan kumisnya seperti duri yang menusuk.” Suara Chloe terdengar seperti sedang merajuk.
Kenan terpingkal-pingkal mendengar ucapan istrinya.
“Mengapa kamu malah tertawa?” Tanya Chloe.
“Bukan. Hanya saja, saya semakin berniat untuk menumbuhkan kumis setelah mendengar curhatanmu sayang.” Kenan masih terus tertawa.
“Awas saja!...” Chloe mencubit geram pinggang Kenan.
“Dasar tukang cubit! Sakit sekali…” Gerutu Kenan seraya memegangi pinggangnya yang terkena cubit.
Dalam diam Kenan memandangi istrinya itu. Ia melihat sekarang wajanya jauh lebih berseri dari sebelumnya.
Akhirnya kamu tertawa lagi sayang. Setelah ini, saya berjanji tidak akan membiarkan pipi dan matamu sembab lagi. Saya tidak akan biarkan sedikit pun kesedihan datang dalam hari-harimu, sayang.
Chloe memilih untuk memejamkan matanya sambil terus bermanja di dada suaminya.
“Selamat malam sayang,” Ucapnya.
Terimakasih Ayah, untuk Kenan. Aku sangat beruntung bisa memiliki suami sepertinya. Semoga akan terus seperti ini untuk selamanya.
Kenan mendaratkan ciuman di kening dan pipi Chloe, “Good night honey!”