
Pernikahan akan terlaksana 3 hari mendatang setelah lamaran. Semua sudah di atur sedemikian rupa. Hanya tinggal mempersiapkan hati dan mental keduanya untuk siap menjadi suami istri.
Orang-orang berkata bahwa semakin dekat harinya, semakin banyak daftar ketakutan yang dirasakan. Pernyataan itu bukanlah mitos tapi benar adanya.
Apakah aku bisa menikah dengan Ken? mengapa takut itu ada setelah semua semakin dekat. Apakah ini benar keputusan yang tepat? Bagaimana jika kami tidak bahagia? Setelah menikah aku akan jauh dari Ayah pergi membuntuti suamiku kemana ia akan berlabuh. Meski tak di cintai, aku ini wanita yang berharap bisa menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang mencintaiku juga? Apakah Ken bisa mencintaiku dengan tulus kelak ? Wanita yang tidak punya daya pikat ini ? Membangun rumah tangga tanpa cinta rasanya mungkin akan menciptakan api neraka dirumah sendiri atau seperti memulai perjalanan panjang tanpa tahu arah dan tujuan.
Ia berlarut dalam lamunan malam yang cukup mengelisahkan juga sesakan dada.
Chole memang orang yang sedikit bimbang, dan tidak tepat pendirian. Sebentar ia menginginkan ini namun, kemudian keraguan dapat membuat ia berubah-ubah seperti hal nya pernikahan ini. Kadangkala, ia yakin akan semua demi sang Ayah dan tidak berharap banyak untuk di cintai oleh Ken. Namun, jauh di dasar hatinya ia menggali harapan besar.
Nanti setelah semuanya terjadi. Saya resmi melepas masa lajang dan memikatnya dengan nama belakang, dengan seorang wanita yang tiga tahun lebih tua dan tak pernah saya jumpai sebelumnya. Sebagai seorang yang lama memimpin perusaahan besar, saya tidak pernah ragu dan takut akan keputusan saya. Tetapi, itu tidak berlaku untuk hal ini. Apakah itu artinya saya memang tidak bisa mengedalikan takdir? Semua nya sekarang terasa menakutkan, saya harus menjaga amanah seorang Ayah yang memberikan putrinya untuk saya, ini adalah bidang yang belum pernah saya pegang, bagaimana jika saya gagal membahagiakan nya, bagaimana jika nanti dia tidak juga menemukan pria yang mencintainya dan melepaskan posisi saya? Apakah sampai mati ia akan terikat dengan pria yang bukan mimpinya?
Kenan Aldrich, pemimpin yang bijaksana. Tetapi tidak dalam segala hal, ia ragu jika ia bisa memimpin bahtera rumah tangga yang dibangun dalam sekejap. Tapi, keputusan tetaplah keputusan. Waktu dan jam akan terus berjalan tidak peduli pada keraguan, bahkan tidak memberi kesempatan untuk berpikir ulang.
Apa yang kini membuat keduanya berlabuh dalam kebimbangan? Mereka keduanya adalah takdir yang akan dipersatukan tanpa diberi petunjuk, mereka takdir yang mililki ketakutan yang berbeda, takut untuk tidak di cintai, dan takut jika tidak bisa memberikan kebahagian karena ketidakhadiran cinta.
Cinta bisa membuat hal sulit menjadi mudah, dan mempersulit hal yang harusnya mudah. Jika saja ia hadir di waktu sekarang mungkin ia akan menutupi keraguan Ken untuk mendampingi Chloe.
Ken berdiri menatap wajahnya dicermin sambil berlatih mengucapkan janji suci yang akan di lontarkan dihadapan Tuhan, juga para jemaat.
Hal yang sama terjadi pada Chloe, iapun berdiri didepan cermin berlatih untuk mengatakan bahwa ia berkenan menerima Kenan Aldrich untuk menjadi suami nya.
"Saya Chloe Corlenius menerima engkau Kenan Aldrich sebagai suami yang sah dihadapan Tuhan dan berjanji untuk---"
"Chlo, Ayah boleh masuk?"
Suara sang Ayah dari depan pintu kamar menghentikan aktivitas Chloe.
"Iya Yah, masuk aja."
Segera Ayah masuk ke kamar putrinya yang masih berdiri di depan cermin, namun kini memalingkan wajahnya melihat sang Ayah.
"Kenapa Yah?"
Ayah Chloe duduk sambii mengeluarkan berkas dari amplop berwarna coklat.
"Ayah sudah menanda tangani semua berkas pembelian saham kita dengan suamimu."
Chloe mengambil berkas itu dan membacanya dengan seksama. Dibalik kertas itu pula ada selembar kertas ahli waris yang isinya sudah tertulis nama Chloe sebagai pemilik perusahaan kedua setelah Kenan.
"Ini artinya Ayah akan pensiun?"
"Iya, kamu keberatan?"
Chloe mengerutkan keningnya. "Tentu saja gak Ayah... memang sudah saatnya untuk Ayah menjaga kesehatan dan tidak bekerja lagi, semuanya akan Chloe atur."
"Untuk sementara fokuslah dulu pada suamimu, biarkan Tante Loli disini yang akan mengurusnya seperti perjanjian awal Ayah pada Ken bahwa kamu akan dibawa ke Singapur."
"Tapi, Chlo ingin selalu dekat dengan Ayah."
Sang Ayah tak dapat membendung air mata dalam pelukan hangat putri kesayangan nya.
"Kamu tahu sewaktu kamu didalam kandungan ibumu, Ayah tiada hentinya menyapamu, mengajakmu bicara, dan mengatakan bahwa Ayah tidak sabar untuk melihatmu. Setelah engkau lahir seluruh dunia Ayah berpusat padamu. Saat ibumu meninggalkan kita, Ayah berjanji akan selalu menjagamu dengan seluruh hidup Ayah... dan tidak ingin sedikitpun meihatmu terluka... Ketika kamu mulai mengenal cinta, Ayah begitu khawatir dan takut akan kehilanganmu tapi, Ayah sadar bahwa tidak selamanya kamu terus ada dalam genggaman Ayah, suatu saat tanganmu akan terlepas untuk menggenggam tangan seorang pria yang Ayah percaya dapat menjaga dan mencintaimu seperti Ayah."
Air mata Chloe terus menghujani pipinya. Ia tak mampu mengatakan apapun, semua tertahan dalam benak. Betapa ia sangat mencintai pria yang sudah menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
Pak Corlenius melepaskan pelukan putrinya dan menghapus air matanya.
"Percayalah Ayah akan baik-baik saja. Ada Tante Loli yang akan mengurus Ayah disini."
"Yah, jaga diri untuk Chlo."
"Iya." Sang Ayah tersenyum lalu mengecup kening Chloe.
"Boleh minta sesuatu?" Tanya Chloe.
"Apa saja."
"Berjanjilah akan selalu sehat?"
"Ayah berjanji." Lagi ia tersenyum.
"Satu lagi..."
"Apa nak? Katakanlah." Ayah membelai rambut Chloe.
"Boleh gak Chloe tidur dipangkuan Ayah sebentar?" Pintanya dengan mata berbinar.
"Tidak perlu bertanya."
Chloe berbaring lalu meletakkan kepalanya dipangkuan sang Ayah. Berapa menit berlalu, ia sudah tertidur lelap di tempat yang paling nyaman.
Pak Corlenius terus membelai rambut sang anak, dan tanpa terasa ia meneteskan air matanya dan terjatuh di pipi Chloe. Buru-buru ia menghapusnya.
Maafkan Ayah jika nanti tidak bisa menepati janjimu... Ayah berharap kamu akan selalu bahagia bersama Ken.
Ia membenarkan posisi tidur Chloe, meletakkan kepalanya di atas bantal, lalu menyelimuti, dan lagi memberikan kecupan kasih sayang dikening gadis kecilnya dan beranjak pergi.
"Terimakasih Ayah." Chloe membuka matanya sejenak lalu kembali memejamkannya.
"Sayang, sebentar lagi putri kita akan menikah dengan pria yang adalah pilihanku. Tenang saja, laki-laki ini adalah orang yang baik. Dia adalah ponakan sahabatku, Steve. Tak terasa, waktu berlalu kian cepat. Setidaknya aku sudah melakukan yang terbaik dan menjaganya sesuai permintaanmu. Ia akan bahagia sama seperti pernikahan kita. Sayang, aku sudah sangat merindukanmu, aku harap Tuhan turut merasakan rindu yang bertahta kian lama di hati ini."
Pak Corlenius memandangi foto almarhumah istrinya yang tersenyum manis dan membisuh.