A Man From Daddy

A Man From Daddy
Hari pertama menjadi suami istri



Mobil mewah yang sudah di hiasi dengan bunga pertanda bahwa yang menumpanginya adalah pengantin baru, sudah menunggu didepan lokasi pesta.


Hari ini adalah hari pertama Chloe resmi menjadi Nyonya Aldrich. Ken membawa istrinya itu pulang bersamanya kerumah Paman Steve.


Chloe yang masih mengenakan gaun pengantin tentunya sulit untuk melangkahkan kakinya, melihat itu Ken meminta dua orang asisten yang disewa untuk mengurus dan membantunya di hari pernikahan untuk menolong Chloe.


"Tolong dia untuk bisa masuk ke mobil." Perintah Kenan.


"Baik Pak." Jawab kedua asisten itu serentak dan langsung melaksanakan perintah.


Seorang sopir membukakan pintu bagi Chloe, sementara itu Kenan sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Ken cuek sekali melihat aku kesulitan seperti ini. Gumam Chloe.


Sekarang mereka sudah berada didalam mobil, namun keduanya seperti orang yang kelelahan. Tentu saja, setiap pengantin akan mengalami hari lelah seharian dari pagi hingga pesta usai.


Namun sepertinya bukan hanya lelah yang menguasai mereka tapi juga perasaan bingung antara harus lega atau malah sebaliknya.


20 menit perjalanan mereka sudah tiba dirumah mewah yang adalah milik Paman Steve. Mereka disambut dengan hangat oleh Paman juga Bibi yang sudah pulang duluan dari pesta, serta para asisten rumah tangga.


"Kalian langsung naik ke atas saja, mandi dan beristirahatlah." Ujar Bibi.


Duh... bagaimana aku naik ke atas dengan gaun seperti ini, Ken tidak ingin membantu sama sekali.


Ken memandang Chloe yang masih memakai gaun pengantin.


Pasti sulit baginya untuk berjalan dengan gaun pilihannya ini. Tapi Chloe terlihat cantik sekali**.


Tiba-tiba Ken menggendong Chloe dan membawanya ke atas.


"Ken! Astaga apa-apaan ini, turunkan aku !." Teriak Chloe.


"Haha... jangan malu nak Chloe, Ken kan sekarang suamimu." Ledek Bibi yang tertawa geli melihat tingkah pengantin baru itu.


"Ken, aku bilang turunkan aku!"


Ken menghentikan langkahnya. "Jangan membantah! Memangnya kamu bisa naik tangga dengan gaun ini? Kalau bisa saya akan turunkan."


"Sepertinya,... gak bisa."


"Kalau begitu diam saja jangan protes."


Chloe melingkarkan kedua tangannya di leher Kenan sambil memandangi suaminya itu diam-diam.


Melihat pria tampan ini, aku semakin bingung apakah aku beruntung bisa menikahinya atau, malah bersedih karena tidak bisa memiliki hatinya. Dia memang pria yang sangat sempurna.


Chloe terus melamun tanpa sadar bahwa ia sudah berada dikamar. Ken membaringkan Chloe di atas kasur dan kemudian duduk ditepi tempat tidur, membuka jasnya dan melonggarkan dasinya karena sudah menahan gerah sejak tadi.


Chloe tersadar dan memandangi kamar itu yang ternyata milik suaminya, karna begitu banyak foto-foto Kenan terpampang jelas didalam lemari yang adalah tempat khusus koleksi foto.


Ia memfokuskan pandangannya pada satu foto lama yang didalamnya anak lelaki kecil.


Itu pasti Ken.


"Ken, itu kamu waktu kecil ya?" Chloe menunjuk ke arah foto tersebut.


Ken melihat ke arah foto itu sembari menggulung lengan bajunya. "Iya."


"Disini banyak foto kamu ya ternyata."


"Iya karena ini memang kamarku sejak kecil. Dulu, dari kecil hingga kuliah aku tinggal disini selama Ayah, ibu sibuk di Singapur."


"Oh begitu..."


"Kamar mandinya hanya satu di setiap kamar... kamu tidak mau mandi?" Tanya Ken.


"Iya aku gerah dan ingin mandi. Tapi, apa bisa panggilkan Bibi untuk membantuku membuka gaun ini?"


Ken melihat ke arah Chlo. "Baik, tunggu sebentar."


Ken segera turun. Beberapa saat kemudian, ia kembali tapi Bibi tidak terlihat bersamanya.


"Mana Bibi?"


"Dia sudah tidur sepertinya."


"Cepat sekali, apa gak ada asisten rumah tangga?"


"Saya sudah coba panggil tapi, tidak ada yang menjawab. Ntah kemana semua penghuni rumah ini." Ujar Ken mengeluh.


"Lalu bagaimana?"


"Tidak ada cara lain, saya akan bantu kamu." Ken mendekati Chloe.


Chloe sedikit mundur agar Ken tidak terlalu dekat dihadapanya. "Apa?! Yang benar saja Ken."


"Tidak ada pilihan. Jika kamu mau menunggu atau tidur dengan gaun itu hingga pagi tidak masalah." Ucap Ken ketus.


"Kita memang resmi menikah. Tapi pernikahan kita hanya karena Ayah dan, kita menikah sebagai teman baik bukan suami dan istri."


"Chlo, saya tidak ingin macam-macam atau mencari kesempatan. Saya hanya ingin membantu, tangan kamu tidak sampai kebelakang kan? Lalu, bagaimana kamu membuka resletingnya?" Ken duduk disamping Chloe.


Chloe bergeser mengambil jarak seperti takut jika Ken akan menyentuhnya.


Jangan-jangan ia ingin mencari kesempatan. ini tidak bisa dibiarkan. Tidak akan aku biarkan dia menyentuhku sedikitpun. Walaupun, aku memang jatuh hati padanya tapi aku hanya ingin disentuh lelaki yang mencintaiku.


Tidak mungkin aku tidur dengan gaun pengantin dan make up yang masih menempel. Haduh... bagaimana ini? Gumam Chloe.


"Okay kalau kamu tidak percaya, saya punya ide." Ken berdiri mengambil sebuah kain seperti sapu tangan dari dalam lemari.


"Ini ambil." Kata Ken.


"Untuk apa?" Chloe kebingungan.


"Tutup mata saya pakai ini saya akan buka dress kamu dengan tutup mata. Jadi, kamu tidak akan berpikir macam-macam." Ujar Ken sambil duduk membelakangi Chloe.


Chloe menutup mata Ken dengan kain itu dan mengikatnya dibelakang kepala seperti orang yang hendak melakukan permainan nenek buta mencari cucu.


"Nah sekarang berdiri di depan saya." Perintah Kenan.


Chloe berdiri dan membelakangi suaminya.


"Kamu bisa arahkan dimana resletingnya?" Tanya Ken.


Chloe memegang tangan Ken dan mengarahkannya ke punggung.


"ini dia." Ucap Chloe.


Ken perlahan meraba dan membuka resleting gaun istrinya tersebut. Sedangkan Chloe, ia berkali-kali mencoba melirik Ken hendak mengawasi.


"Ken jangan mengintip!"


"Tidak akan. Jangan takut, mata saya tertutup rapat."


Chloe sedikit waspada dan jantungnya berdetak kencang. Namun Ken adalah laki-laki normal, ia sedikit penasaran dan melanggar janjinya. Ia membuka sedikit kain sebelah kiri yang menutupi matanya dan melihat punggung Chloe.


Dia pintar merawat kulit juga meskipun tidak putih, tapi coklat yang sangat menarik.


"Ken! Sudah belum lama sekali." Kata Chloe lantang dan mengejutkan Ken.


Ken menutup matanya segera. "Sudah."


Chloe membalikan badan nya sambil menahan gaunnya dengan kedua tangan didada.


"Jangan buka mata sebelum aku beri aba-aba." Perintah Chloe.


"Iya baik."


"Aku akan memberitahu jika sudah saatnya boleh di buka." Chloe menuju kamar mandi sambil terus mengawasi Ken.


"Iya iya... baik." Ucap Ken jengkel.


Chloe menutup pintu kamar mandi dan berteriak dari dalam. "Ken sudah, silakan buka matamu."


Kenan menarik nafas panjang tanda kelegaan. "Dia sangat takut. Memangnya akan saya apakan dia? Hanya melihat sedikit saja."


Terdengar suara air yang mengalir tanda Chloe sudah memulai ritual mandi. Sementara itu, Kenan turun kebawa mengambil koper yang baru saja di antar oleh sopir pak Corlenius yang isinya adalah baju-baju Chloe.


Ken membawa koper itu ke kamarnya.


"Chlo, bajumu sudah sampai. Kopernya saya letakan di dekat lemari ya." Teriak Ken didepan pintu kamar mandi.


"Iya Ken , terimakasih."


Astaga aku ini bagaimana, handuk pun tidak aku bawa. Ya Tuhan masih didalam koper... bagaimana ini.


"Ken! Bisa tolong ambilkan aku handuk?" Teriak Chloe.


"Handuk? Di mana?"


"Didalam koper buka saja, kodenya 3443."


"Baik, tunggu sebentar."


Ada-ada saja, bagaimana mungkin dia mandi tanpa membawa persiapan.


Ken membongkar isi koper Chloe yang penuh dengan banyak baju wanita.


Mengapa bajunya tidak ada yang menarik, padahal dia wanita harusnya lebih hebat dalam menjaga penampilan.


"Haha... lucu sekali bentuk baju ini." Ken mengambil baju renang Chloe yang biasa ia kenakan ketika berlibur di pantai.


"Tidak bisa dibayangkan jika dia pakai baju ini. Ternyata, dia berani juga." Ken terus tertawa melihat baju mini yang kurang bahan.


Ken tanpa sengaja menemukan foto Chloe bersama Pak Corlenius. Ia mengambilnya, memandangnya sebentar lalu meletakkannya kembali.


"Ken, ketemu tidak?" Teriak Chloe.


Ken menghentikan penjelajahanya, dan mengambil handuk Chloe. "Iya ini sudah ketemu. Saya masuk ?."


"Jangan!" Teriak Chloe.


"Jadi bagaimana?"


Chloe membuka pintunya kecil dan mengulurkan tanganya keluar. "Sini berikan!"


Ken meletakkan handuk itu ke tangan Chloe. lalu wanita itu langsung menutup pintunya dengan lupa mengucapkan terimakasih.


"Dasar payah." Keluh Ken kemudian melangkah pergi keluar, hendak mandi dibawah.