A Man From Daddy

A Man From Daddy
Kenyataan pahit



Pagi hari yang cerah bagi Kenan dan Chloe. Mereka yang masih terlelap dalam pelukan hangat serta selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Ya! Hangatnya cinta yang tumbuh kadang membuat sepasang kekasih tidak ingin lepas walau ketika lelap.


Tiba-tiba ada sesuatu yang menggerogoti perut bawah Chloe, hingga menimbulkan nyeri yang tak tertahankan di rahimnya. Chloe menggeliat dan menahan perutnya.


“Aww sakit!...” Rintihnya.


Kenan tersentak bangun mendapati istrinya yang merintih dan memegangi perut, “Sayang, kamu kenapa?” Tanya nya khawatir.


“Kenan, perutku sakit sekali. Aku tidak tahu kenapa. Aww!...” Chloe semakin merintih akibat rasa sakit yang sudah tidak tertahankan.


“Sayang tunggu sebentar.” Kenan bergegas memasangkan Chloe baju tidur serta baju penghangat, kemudian bersiap diri.


Dalam hitungan menit dengan kondisi yang wajah dan rambut yang berantakkan Kenan menggendong Chloe, hendak membawanya kerumah sakit.


Chloe terus merintih kesakitan di pelukkan Kenan dan seketika membuat seluruh keadaan di rumah menjadi cemas dan panik.


“Chloe, kenapa Ken?” Tanya Ayah dan Tante Loli serentak.


“Saya harus segera bawa Chloe ke rumah sakit.”


Lian yang menyaksikan keadaan itu berlari menuju pintu mobil dan membukanya.


“Ayah ingin ikut,” Ucap Ayah Chloe.


“Ayah, tidak usah biar saya saja.”


Kenan memasukkan Chloe ke dalam mobil dan Lian langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


“Sayang bertahanlah.” Lirih Kenan dengan getar penuh khawatir dan takut.


Dalam waktu kurang lebih 20 menit mereka tiba di Medical Hospital. Kenan langsung menggendong istrinya ke ruang IGD yang langsung di tangani oleh satu dokter dan tiga orang perawat. Sementara di lakukan pemeriksaan, Kenan dan Lian duduk di ruang tunggu dengan raut wajah yang sama-sama terlihat cemas.


“Suami Nona Chloe apa ada di sini?” Beberapa menit, akhirnya suara dokter terdengar.


“Saya!” Seru Kenan yang langsung menghampiri sang dokter.


“Baik, sebaiknya Bapak ikut ke ruangan saya.” Ajak sang dokter.


Kenan pun mengikuti langkah dokter pria yang menjadi dokternya Chloe. Dengan perasaan khawatir yang berkecamuk di kepalanya, membuat Kenan tak sabar ingin mendengar apa yang akan dokter katakan tentang istrinya dan berharap bahwa semua baik-baik saja.


Mereka sampai di ruangan yang tertulis, dr. Samuel Sp.OG dan Sam memulainya dengan sedikit hati-hati.


“Apa bapak tahu bahwa istri bapak mengalami keguguran?”


“Tentu saja dokter! Saya suaminya.” Kenan terdengar tak suka.


“Maaf pak. Saya ingin menjelaskan beberapa hal. Setelah kejadiaan itu, nona Chloe sering mengalami nyeri di rahimnya dan beberapa kali ke rumah sakit untuk melakukan pengeceknya.


"Hari ini kebetulan, nona Chloe datang dan hasilnya sudah keluar.” Dokter Sam menjelaskan dengan tenang. Ia membuka sebuah kertas hasil laboratorium.


“Apa hasilnya dokter?” Tanya Kenan tak sabar.


“Kami sudah melakukan pemeriksaan cairan organ intim nona Chloe dan juga pemeriksaan USG panggul atau CT-scan dan hasil yang di temukan ialah, infeksi rahim yang berkembang begitu cepat hingga membuat adanya pembengkakkan di dinding rahim nona Chloe.” Dokter Sam terlihat ibah.


“Lalu? Apa istri saya akan baik-baik saja dok? Cepat jelaskan apa yang harus di lakukan agar Chloe tetap baik-baik saja?!” Kenan menaikkan intonasi bicaranya.


“Benjolan itu adalah tumor ganas atau yang di sebut dengan kanker rahim pak.” Lanjut Sam.


“Kanker?!” Kenan menatap tak percaya, ia berharap bahwa dokter sudah salah mengatakan.


Samuel mengangguk pelan, ia terlihat menyesalkan apa yang terjadi, “Jika rahim nona Chloe tidak segera di angkat, maka semua akan berakibat fatal baginya pak.”


Sam mengangguk lagi, “Terpaksa, untuk menyelamatkan nona Chlo dan agar sel kankernya tidak menyebar.”


“Dokter, lalukan apa yang sebaiknya anda lakukan. Jika memang jalan yang terbaik adalah mengangkat rahim Chloe, maka saya akan menyetujuinya asalkan istri saya tidak akan kenapa-napa.” Kenan menahan air mata penyesalan di ujung matanya.


“Baiklah pak. Kami akan segera melakukan operasi tiga hari lagi. Untuk itu nona Chloe sebaiknya di rawat di rumah sakit dulu.”


“Apa Chloe sudah tahu soal ini?”


Sam menggeleng, “Sebaiknya bapak bicarakan pada istri bapak dan tenangkan dia.”


Kenan menutup mukanya, ia tak kuasa menjatuhkan air matanya di depan Samuel. Tentu saja ada banyak hal yang ia pikirkan. Bagaimana ia harus mengatakannya dan menjelaskan semua pada Chloe, apakah dia bisa menerima semua.


Tidak mudah bagi seorang wanita yang belum sempat memiliki anak akan kehilangan rahimnya. Apalagi Chloe baru saja mengatakan jika ia khawatir tidak bisa memberikan keturunan pada Kenan semalam.


Dengan langkah berat Kenan melangkah masuk menuju kama Chloe. Ia terhenti sejenak, menarik kembali air matanya yang hampir jatuh dan mencoba tersenyum.


Chloe yang terbaring dengan infusan, mimik wajahnya terlihat tak bersemangat. Ntah memang sebuah firasat yang buruk sudah melanda hati dan pikirannya.


“Sayang,” Panggil Kenan.


“Apa yang dokter katakan?” Spontan Chloe bertanya.


Kenan tersenyum dan membelai rambut Chloe, ‘’Dokter katakan semua baik-baik saja.”


“Jangan berbohong suamiku!” Chloe menatap tak suka. “Katakan apa hasilnya?”


“Kenan mengecup kening Chloe dan tersenyum lagi. Ia meraih tangan Chloe, lalu menggenggamnya begitu erat.


“Saya mencintaimu.” Mata Kenan berbinar.


“Kenapa kamu katakan itu?” Chloe terisak, ia seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi.


Kenan membisuh, ia mengecup punggung tangan Chloe dan menatap istrinya itu penuh kasih sayang yang tulus.


“Ken, apa yang terjadi padaku? Katakan!” Chloe meneteskan air matanya.


“Saya mencintaimu.” Kenan terisak suaranya kemudian kedap setelah ia mencium tangan Chloe tak kuasa jika harus mengatakan semua pada Chloe.


“Sayang. Katakan!” Desak Chloe.


“Dokter harus segera melakukan operasi pengkatan rahim, karena ada kanker di dalam rahimu.” Kenan mengatakanya dengan getar dan lagi-lagi ia membelai rambut Chloe.


Chloe memberontak tak terima, ia menjerit dan memukuli Kenan. Seketika tangisan pecah memenuhi isi ruangan,


“Kamu bohong!!! Aku tidak mungkin sakit kanker. Sudah aku katakan bahwa aku harus mengandung anak bagimu.” Chloe terisak, seperti ada sesuatu yang tercabut dari tubuhnya dan terasa begitu sakit.


Kenan memeluknya erat dan mencoba untuk menenangkan Chloe, “Sayang, kita harus terima ini. Kamu akan tetap jadi istri saya, wanita yang satu-satunya saya cintai. Apapun kondisi dan keadaanmu.”


“Tidak Ken! Aku tidak mau rahimku di angkat, tidak mau!!!...” Histeris Chloe dengan air mata yang kian deras membanjiri pipinya.


“Sayang, saya tidak mau kehilangan kamu.” Kenan memeluk dan mencium kepala Chloe.


‘’Aku tidak berguna jadi wanita! Tidak berguna!!!” Teriak Chloe sembari meronta-ronta.


“Sayang, sudah cukup. Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja. Saya akan tetap mencintai kamu.” Kenan mendekap erat Chloe yang menangis dalam tubuhnya.


Ia begitu tahu, apa yang saat ini Chloe rasakan. Begitu hancur dan sakit, Kenan juga merasakan apa yang begitu sakit di dalam istrinya saat ini.


Tapi, Kenan akan lakukan apapun demi keselamatan Chloe, karena cintanya akan menutupi kekurangan Chloe.