A Man From Daddy

A Man From Daddy
Kesal



Pagi-pagi sekali Chloe sudah terbangun. Mengingat hari ini ia harus menjalankan hukuman yang diberikan oleh suaminya.


Sebenarnya itu bukan hukuman baginya, apa beratnya melakukan kewajiban sebagai seorang istri.


Chloe meraih pita rambut, dan mengikat rapi rambutnya. Ia kemudian mandi dan bergegas ke dapur untuk memasak sarapan.


Kemudian ia bergegas ke kamar suaminya yang masih tidur lelap. Ia menyiapkan pakaian dan jas untuk Kenan, semua ia selesaikan dengan sigap.


"Suamiku, bangun saatnya bersiap untuk ke kantor." Ia membuka selimut Kenan hendak membangunkan nya.


"Astaga!!! Selalu saja tidur tanpa baju. Apa tidak masuk angin." Chloe menutup kembali tubuh Kenan dengan selimut.


Kenan menggeliat, "Sudah jam berapa ini?"


"Jam 06.00 tepat," Jawab Chloe.


Kenan tersentak bangkit dari tidurnya, "Kamu membangunkan saya di jam seperti ini? Ini masih terlalu pagi Chloe," Gerutu Kenan.


"Lalu mau di bangunkan jam berapa? Seharusnya sebagai boss kamu harus datang lebih dulu sebelum bawahanmu," Kata Chloe sembari membuka tirai jendela.


"Hei! Tutup kembali, saya masih ingin tidur." Kenan kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Chloe melangkah geram dan membuka selimut Kenan, "Bangun! Aku sudah bersusah payah menyiapkan sarapan untukmu dan aku tidak ingin masak lagi jika makanannya dingin!"


"Itu tugas seorang istri jadi jangan mengeluh. Saya hanya minta kamu merawat saya bukan yang lain kan? Jika saya inginkan seorang anak darimu baru kamu boleh menolaknya," Kata Kenan sambil mengganti posisi tidurnya.


Mata Chloe terbelalak, "Kamu bilang apa seorang anak?! Tidak!"


Kenan menarik tangan Chloe hingga jatuh menimpah tubuhnya, "Saya kan belum meminta mengapa sudah menolak saja?" Katanya menatap mata Chloe.


"Ken, lepaskan!" Chloe berusaha melepaskan tangan Kenan yang memeluknya erat.


"Chloe, apa kamu berpikir bagaimana jika Ayah sudah tidak bisa menahan keinginan nya untuk menimang seorang cucu?" Ken menggoda Chloe dan membuat wajahnya memerah.


"Maksudmu?" Tanya Chloe tidak mengerti.


"Mengapa kita tidak wujudkan saja mimpi Ayah?" Kenan menggoyang- goyangkan kedua alisnya sambil tersenyum menjahili Chloe.


"Rasakan ini!..." Chloe mencubit dada Kenan dengan kuat.


"Arghh!..." Kenan mengerang kesakitan dan melepaskan pelukannya.


"Cepat bangun dan bersiaplah, aku tunggu di meja makan!" Kata Chloe kesal sembari meninggalkan suaminya yang masih kesakitan.


"Hei!... saya belum selesai. Dasar wanita ! Mengapa selalu suka mencubit," Gerutu Kenan.


"Rapikan jas dan dasi saya." Pinta Kenan menghampiri istrinya yang sudah duduk sejak tadi di meja makan.


Chloe langsung melaksanakan perintah Kenan, "Aku masak nasi goreng,"


"Aku ingin salad pagi ini," Kata Ken sengaja ingin membuat istrinya itu kesal.


"Aku sudah buatkan nasi goreng, jadi makan apa yang ada." Ucap Chloe dan sengaja mengencangkan dasi Kenan hingga ia sedikit tercekik.


"Mengapa kasar sekali?" Kata Kenan jengkel.


"Maaf aku tidak sengaja," Chloe tersenyum lebar memandang wajah suaminya itu.


"Saya ingin makan salad bukan nasi goreng," Pinta Kenan lagi.


Chloe kemudian kembali mengikat kencang dasi Kenan, "Salad buah atau sayuran segar suamiku?"


"Ahh!... Mengapa sekarang kasar lagi, kamu tidak bisa memasang dasi dengan benar hah?!" Ucap Kenan semakin kesal.


"Ya ampun maaf suamiku, aku tidak sengaja lagi. Jadi apa masih ingin makan salad?" Chloe kini mengancing jas yang Kenan pakai.


"Tidak, nasi goreng saja." Jawab Kenan jengkel dan langsung duduk.


Chloe menahan tawa atas Kenan, sambil menyendoki nasi goreng ke piring suaminya itu.


"Mengapa kamu terlihat senang hah?" Tanya Kenan yang memperhatikan istrinya itu.


"Tidak, hari ini kamu terlihat tampan dengan jas abu-abu," Kata Chloe berbohong.


Bukan aku saja yang bisa kamu bikin kesal Kenan.


"Setelah makan kita langsung berangkat dan jangan lupa untuk tetap tersenyum, karena saya tidak ingin melihat wajahmu yang menjengkelkan itu tanpa senyum." Ucap Kenan sambil menikmati nasi goreng.


Karena senyum kamu bisa membuat saya menjadi lebih tenang.


"Suamiku, setelah pulang kantor aku ingin bertemu dengan Kama,"


"Apa?! Mengapa ingin bertemu dengan nya?" Kenan menghentikan makannya.


"Kamu lupa soal apa yang kita bicarakan semalam? Kamu berjanji akan mengizinkan, bukan?"


Saya takut jika kamu semakin dekat dengan Kama, untuk saat ini saya tidak paham rasa takut ini mengartikan apa.


Drrt... drrt... Dering ponsel Kenan berbunyi.


"Halo Ayah," Kenan mengangkat telepon.


"Halo nak... bagaimana kabar kalian apakah sehat?" Terdengar suara Ayah dari telepon.


Wajah Chloe berseri mendengar Ayahnya yang sedang menelpon.


"Ken berikan padaku," Pinta Chloe tak sabar.


Kenan memandang Chloe seolah memikirkan sesuatu yang jahil, "Iya Ayah kami sehat, hanya saja putrimu akhir-akhir ini sering merasakan mual dan tidak enak badan."


"Hei! Apa yang kamu katakan?" Kata Chloe sambil mengerutkan keningnya.


"Wah... Mungkin saja istrimu itu sedang hamil," Jawab sang Ayah kegirangan.


"Haha... mana mungkin Ayah, kami saja baru menikah." Canda Kenan sambil mengedipkan matanya pada Chloe, "Ayah sudah tidak sabar ya?"


"Iya Kenan tentu saja, Ayah harap kalian segera punya anak."


"Doakan saja Ayah secepatnya putri Ayah bisa hamil hehe..." Lagi Kenan menatap Chloe yang begitu kesal.


"Berikan padaku!" Chloe merampas ponsel Kenan.


"Halo Ayah, Chloe rindu pada Ayah..." Rengeknya manja.


"Iya Ayah juga sayang. Bagaimana kamu dan Kenan sudah bulan madu?" Tanya Ayah spontan.


"Eh... iya Ayah sudah," Jawab Chloe berbohong.


"Bagus haha... Kalau begitu kamu harus rutin minum vitamin dan jaga daya tahan tubuh ya, agar cepat di karuniai anak," Kata sang Ayah lagi menggelitik Chloe.


Kenan yang mendengar itu hanya tersenyum menahan tawa. Kemudian, Chloe membalas Kenan dengan raut wajah kesal sekaligus ingin marah.


Tut... tut... Terdengar suara telepon sudah terputus.


"Ayah selalu saja suka mematikan telepon sebelum aku selesai bicara," Gerutu Chloe.


"Haha... Jadi kapan kamu siap hamil?" Canda Kenan.


"Apa yang kamu bicarakan ini hah?!" Mata Chloe membesar memandang geram pada Kenan.


"Jangan marah, saya hanya bercanda." Kenan membersihkan tangannya dengan tisu dan minum, "Mari kita berangkat." Katanya lagi dan bangkit dari duduknya.


Chloe mengikuti suaminya itu sudah berjalan menuju mobil.


"Ken... maksudku suamiku, bagaimana soal tadi?" Ujar Chloe sambil duduk disamping Kenan.


Kenan pura-pura tidak mendengar, "Lian, ayo jalan."


"Baik Tuan," Lian segera menyalakan mobilnya.


"Kamu dengar tidak?!" Seru Chloe tepat di samping telinga Kenan.


Kenan menggosok-gosok telinganya, "Apa tidak bisa bicara lebih pelan?!" Ujarnya kesal.


"Habis, kamu mengabaikanku,"


"Baik, nanti malam akan saya izinkan. Tapi saya tetap ikut." Jawab Kenan.


"Ikut?! Yang benar saja, ya tidak mungkin." Tolak Chloe.


"Mengapa tidak mungkin? Bagaimana jika Kama berlaku kurang ajar padamu?" Celoteh Kenan.


"Tidak akan terjadi, aku hanya ingin mengenal Kama lebih dekat agar aku punya bukti dan penilaian sendiri Kama itu seperti apa. Jadi, kamu tidak boleh ikut." Ujar Chloe.


"Saya akan tetap ikut dan menunggu di mobil. Kalau tidak, saya tidak akan izinkan kamu." Kenan bersikeras tak mau kalah.


"Baik. Tapi, jangan membuntuti aku dan Kama tidak boleh tahu bahwa kamu ikut." Chloe mengancungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Kenan.


Kenan menurunkan tangan Chloe, "Jangan bersikap seperti itu pada suami, tidak sopan!"


Chloe memalingkan wajahnya dan murung.


Banyak aturan. Huu....


Kenan ikut pula memalingkan wajahnya. Sehingga mereka seperti orang yang saling bermusuhan.


Mengapa rasanya jadi kesal ketika harus mengizinkan dia pergi bersama bocah tengik itu.