
"Kenan," Panggil Chloe lembut.
Kenan masih sibuk dengan laptop yang ada didepan nya, "Iya, ada apa?"
"Aku bosan, dari tadi hanya melihat kamu sibuk bekerja saja, huu..." Protes Chloe dengan mimik wajah yang dibuat lucu.
Kenan memandang ke arahnya, "Haha... jadi ingin melakukan sesuatu? Kalau begitu, kemari duduk di hadapan saya.
"Apa? Mau apa aku duduk di depanmu. Memangnya, aku sedang interview kerja." Tolak Chloe, lebih baik aku tidur saja," Chloe berbaring di sofa mengambil posisi tidur.
"Hei ! Saya bilang hari ini kamu harus melakukan apa yang saya mau, bukan? Lalu mengapa berani menolak!" Omel Kenan.
Chloe menutup telinga dengan kedua tangannya, sambil berkata sendiri, "Biarkan saja Chloe, biarkan."
Kenan tampak kesal melihat Chloe yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang ia katakan. Ia mendekati Chloe yang sedang berbaring dan memejamkan matanya itu,
"Bangun dan lakukan apa yang saya suruh!"
"Tidak mau!" Bantah Chloe sambil membuka matanya.
Ia terkejut melihat wajah Kenan yang ada dihadapannya. Ya, kenan berdiri tepat di belakang kepala Chloe, lalu ia membungkuk menghadapkan wajahnya pada Chloe hingga posisi mereka menjadi begitu dekat.
"Heii! Jangan menatapku seperti itu Tuan Aldrich." Kata Chloe sambil berusaha menyingkirkan wajah Kenan dari hadapannya.
Kenan malah memegang tangan Chloe erat dan tetap pada posisinya
"Saya bilang lakukan apa yang saya mau atau," Katanya lagi kini mulai memberikan tatapan genitnya, memandang bibir Chloe.
Chloe terpelotot menatap Kenan.
Apa dia ingin menciumku lagi. Tidak ! Enak saja memang dia pikir dia boleh melakukan apapun yang ia mau padaku.
"Dasar! Mentang-mentang kamu suamiku lalu sesukanya memperlakukan aku, begitu?" Protes Chloe tak mau kalah.
"Ya, sekarang kamu ada dalam kendali saya." Jawab Kenan semakin menakuti Chloe.
Apa?! Kendali? Kenan mengapa jadi seperti ini, atau aku saja yang tidak mengenal siapa dia sebelumnya...
"Tidak mau!"
"Sulit sekali ya membuatmu menjadi wanita yang menurut sedikit saja. Baiklah jika tidak saya akan laporkan pada Ayah," Kenan berdiri dan meraih ponselnya yang terletak di meja kerja.
Chloe tersentak dan langsung berdiri, "Iya aku akan menurut, asal jangan laporkan soal aku kabur dan pergi bersama Kama," Pintanya jengkel.
Sekarang, sedikit-dikit lapor... dasar menyebalkan!
"Baik. Kalau begitu ambil pena dan selembar kertas, lalu catat apa saja yang harus kamu lakukan." Kenan duduk menyilangkan kakinya di sofa.
Akan saya buat kamu tidak berdaya Chloe karena sudah berani melanggar. Tentu saja kamu takut jika Ayahmu tahu, karena Kama adalah pria yang buruk di mata Ayahmu.
Kenan mengingat bahwa Pak Corlenius pernah menceritakan sosok pria yang pernah memaksanya untuk memberikan sebagian saham, tahta dan jabatan secara cuma-cuma sebagai syarat untuk menikahi putrinya. Meskipun, tidak menyebutkan nama tapi firasat Kenan berkata sosok itu adalah Kama.
Teringat dulu Kama pernah memanfaatkan nya juga dibangku kuliah agar dapat meraup keuntungan dari kekayaan orang tua Kenan. Ia berlaku seolah-olah menjadi seorang sahabat baik Kenan dan di luar kendali, Kama pernah menceritakan sosok wanita lugu, polos yang kaya raya pernah menjadi kekasihnya. Hanya karena Ayah dari wanita itu enggan memberikan sebagian sahamnya pada Kama, ia meninggalkan wanita itu.
Kama juga bercerita bahwa ia tidak di percayai sedikitpun oleh orang tuanya untuk meneruskan bisnis mereka. Karena, Kama adalah pria yang serakah dan gila harta. Lalu, ia bertekat untuk melengserkan posisi Ayah nya dan kakak perempuan yang menjadi kepercayaan Ayah Kama dengan melakukan apapun, demi tujuannya.
Setelah tahu kebusukan Kama, Kenan mulai menjauhinya. Tapi sejak itu, mereka menjadi musuh dalam hal apapun hingga sekarang.
Dengan Jengkel Chloe bangkit mengambil kertas serta pena dan kembali duduk di hadapan Kenan.
"Yang pertama harus kamu catat adalah, saya akan berada dikantor bersama Kenan setiap hari selama satu minggu kedepan..." Kata Kenan santai sambil merentangkan kedua tangan, bersandar pada sofa.
"Apa?! Satu minggu?" Chloe tidak terima.
"Masih ingin menolak?" Kenan memandangnya.
"Tidak... tidak..." Chloe mulai mencatat dengan geram.
"Kedua, selama berada bersama Kenan saya harus tetap tersenyum apapun yang terjadi..."
Chloe mencatat dengan semakin geram.
"Selanjutnya, saya akan menjawab setiap perintah dan bertanya dengan di ikuti kata terakhir, suamiku...
"Ken!..." Kata Chloe geram.
Kenan memberi isyarat dengan menggerakan telunjuknya, "Jangan katakan apapun..."
"Baik suamiku," Ujar Chloe geram.
"Yang ke empat, setiap kali ada bersamanya saya akan berlaku baik dan melakukan tugas saya sebagai seorang istri, di apartemen atau di manapun sampai hukuman ini di nyatakan berakhir." Ujar Kenan sambil membersihkan jam tanganya dengan sapu tangan.
"Bukannya hanya satu minggu Ken?" Protes Chloe.
Kenan memberikan isyarat peringatan lagi dengan telunjuknya.
"Bukan nya hanya satu minggu suamiku?" Ulang Chloe.
"Itu hanya menemani saya di kantor selama satu minggu. Untuk hukuman lain, tergantung kamu lolos atau tidak dalam menjalankan nya," Jawab Kenan santai.
"Yang benar saja!!!" Protes Chloe lagi.
"Karena kamu selalu protes hukuman di tambah satu lagi,"
"Apa?!" Wajah Chloe semakin geram.
"Baik sekarang bertambah satu lagi. Jadi ada dua hukuman lagi," Kenan tersenyum tanda kemenangan.
Jangan katakan apapun lagi Chloe, jika tidak ingin di tambah. Gumam Chloe.
"Saya tidak boleh menghubungi siapapun via telepon tanpa izin suami saya, kecuali Ayah dan yang terakhir, jika suami saya mencium saya maka, saya tidak akan menolak atau mendorongnya hehe..."
Setidaknya dengan begitu saya bisa memilikimu Chloe.
Sebenarnya apa ini?! Apa yang dia mau! Mengapa sikapnya membingungkan sekali dan yang terakhir, ciuman sesukanya enak saja! Gerutu Chloe dalam hati.
"Baik sekarang saya tanya, apakah istriku ini paham akan hukuman yang harus ia tanggung?" Tanya Kenan sambil merubah posisi duduknya, sedikit membungkuk dan melipat tangan.
Chloe mengangguk kesal.
"Bagaimana, masih mau melanggar perintah? Jika di langgar lagi, maka hukumannya akan jadi lebih berat," Kata Kenan lagi.
Chloe menggigit ujung pangkal pena dan memandang Kenan dengan kesal, sedangkan Kenan ia malah tersenyum memperhatikan bibir Chloe yang lucu ketika mengigit pena itu.
"Mengapa menatapku seperti itu?" Tanya Chloe.
"Hmm... lupa dengan aturan nya? Setiap tanya dan jawaban harus di akhiri dengan kata,..."
"Mengapa menatapku seperti itu suamiku?" Potong Chloe.
"Haha... Tidak apa-apa. Saya tidak perlu alasan untuk menatap orang, bukan?" Kenan berdiri dan kembali ke meja kerjanya.
Chloe mengikutinya dan duduk di hadapan Kenan, "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu suamiku,"
"Silakan, tanyakan saja." Kenan kembali berpaku pada laptop.
"Mengapa kamu menerima Kiel sebagai sekretarismu?" Chloe kembali mengigit pangkal pena yang masih terus ia pegang, kali ini seperti hendak meneliti sesuatu dari suaminya itu.
Kenan menutup laptopnya, "Itu di luar kendali saya."
"Di luar kendali bagaimana?" Chloe semakin penasaran.
Mengapa Chloe begitu penasaran. Apa dia sedang cemburu. Ucap Kenan dalam hati.
"Waktu itu saya sedang mengkhawatirkan keberadaanmu, dan tanpa sengaja Kiel memang ada di sini dan menabrak saya. Sepertinya ia membawa berkas berisi lamaran kerja dan situasi panik saya dia manfaatkan untuk mengambil posisi itu. Ya, tanpa pikir panjang saya mengiyakan." Jelas Kenan.
Chloe mengangguk paham.
Ternyata aku pikir Kenan dan Kiel memiliki maksud lain, itu salah. Kenan begitu mengkhawatirkan aku saat itu**.