
Chloe yang tidak tahan dengan rasa kantuk yang membebani berat kelopak matanya akhirnya terlelap di atas sofa di kamar. Tidak lama setelah itu, suami yang baru saja mengantar wanita lain terdengar membuka pintu kamar. Langkah kakinya membangunkan sang istri.
"Kamu baru saja mengantar Kiel?" Chloe berusaha untuk membangkitkan tubuhnya dari tidur.
"Tadi Kiel sakit dan dengan terpaksa saya harus mengantarnya kerumah sakit, maaf." ujar Kenan seraya memeluk istrinya untuk menenangkan.
"Tidak masalah suamiku. Hanya saja---"
"Hanya saja apa?" Kenan menatap penasaran.
"Sepertinya Kiel memang sedang ingin menggodamu dan Bibi terlibat dalam hal itu." Mata Chloe memancarkan rasa takut kehilangan.
"Sayang, sejak awal saya memang tidak menyetujui Kiel bergabung dalam perusahaan. Tapi, itu semua saya lakukan karna kamu yang memintanya." Tangan Kenan merangkul pinggang Chloe.
Chloe menyingkirkan tangan Kenan dari pinggulnya dan memilih duduk di tepi tempat tidur, "Apakah jika Kiel terus bekerja bersamamu, kamu akan tergoda dengannya?"
"Tidak!" jawab Kenan begitu yakin.
"Kamu yakin? Aku ini tidak bisa memberimu keturunan sedangkan kemungkinan Kiel bisa berikan itu."
Kenan mendekati istrinya dan menggenggam tangan Chloe, "Chlo, saya tidak bisa membagi rasa cinta ini pada siapapun. Kamu tidak ingat putri kita? Walaupun dia tidak terlahir dari rahim mu, dia adalah putri kita."
"Maafkan aku," ucap Chloe dengan mata berbinar.
Kenan tersenyum tipis, "Mengapa meminta maaf?"
"Aku selemah ini."
"Kamu wanita terkuat yang aku miliki."
Keduanya saling menatap dalam bisuh. Jelas mereka sedang bersyukur satu sama lain kepada Tuhan atas cinta yang ada didalam jiwa mereka masing-masing.
Baby Rachel mengejutkan lamunan Kenan dan Chloe, tangisannya seakan memberi tahu bahwa ia tengah lapar dan ingin diberi susu.
Kenan dan Chloe bergegas menghampiri putrinya itu, "Biar saya saja yang menggendongnya."
"Baiklah sayang. Aku akan buatkan dia susu dulu." Chloe bergegas meninggalkan kamar.
"Rasanya seperti ini juga punya anak." gumam Kenan sambil terus menenangkan putrinya yang tak henti menangis.
Selang beberapa menit Chloe datang dengan sebotol susu ditangannya. "Anak mama jangan menangis lagi ya. Cup cup pintarnya." Chloe memberikan susu itu pada Rachel yang pelukan Kenan.
"Dia cantik, sama seperti kamu." puji Kenan pada istrinya.
"Tentu saja."
"Besok saya memilih untuk tidak masuk kantor," ucap Kenan lagi.
"Mengapa?"
"Saya ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anakku."
"Kan masih banyak waktu lain suamiku."
"Iya, tapi besok memang saya tidak ingin ke kantor." Kenan tersenyum tipis memandangi Rachel.
"Terserah kamu saja kalau begitu."
"Dia sudah tidur lagi. Kamu pergilah mandi dan beristirahat." kata Chloe pada suaminya yang terlihat sedikit lelah.
Kenan spontan memeluk Chloe, "sayang, apa kamu ingin saya memecat Kiel?"
"Tidak perlu seperti itu Ken. Kita sudah sepakat untuk menerimanya kembali, jika tiba-tiba di pecat maka kemungkinan dia akan membencimu."
"Itu baik jika dia membenci saya, bukan?"
"Tapi Kiel sepertinya bukan orang yang sembarangan. Jika dia tega berbuat yang tidak-tidak padamu, bagaimana?" suara Chloe terdengar khawatir.
"Dia tidak akan melakukan apapun pada saya. Tapi, jika nanti dia menyakitimu maka saya tidak akan sungkan untuk menyingkirkannya." kata Kenan dengan bola mata yang tajam.
"Pergilah mandi." Chloe melepaskan pelukan suaminya yang sedari tadi mendekap begitu erat.
"Iya, iya..." Kenan terdengar jengkel karena Chloe melepaskan pelukannya.
Kenan segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Chloe, ia melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Yaitu, menyiapak baju untuk Kenan.
Drrtt... drrtt...
Ponsel Kenan berbunyi dan segera Chloe meraih lalu membuka isi pesannya.
Kenan, terimakasih untuk malam ini. Aku sekarang sudah lebih baik. Ternyata kamu begitu peduli padaku dan sangat mengkhawatirkan aku. Beruntungnya aku mengenal pria sekaligus memiliki bos sepertimu.
Bibir Chloe mencebik dengan geram ia membalas pesan itu.
Tidak masalah Kiel. Suamiku memang orang yang baik, jadi dia tidak tega jika membiarkan orang lain sedang lemah. Anggap saja, kamu adalah aset perusahaan yang sedikit berguna dan harus dijaga. Ya lain kali aku sarankan, kamu baiknya segera menikah karna kamu terlihat begitu lemah. Aku takut jika suamiku nanti malah memecatmu.
Dengan geram dan senyum sinis di wajah Chloe ia menekan tombol sent pada layar ponsel.
Sementara raut wajah Kiel yang tadi tersenyum berubah menjadi murka. Ia menggenggam ponselnya begitu erat.
"Si*aal! Mengapa malah dia yang membalas pesanku, dan apa maksudnya membalas seperti ini!" tidak lama setelah itu Kiel melemparkan ponselnya ke tempat tidur.
"Sayang, kamu kenapa?" Suara Kenan mengejutkan Chloe. Ternyata Kenan sudah memperhatikan Chloe sejak tadi.
"Kiel mengirim pesan, ya dia seolah berusaha keras untuk menggodamu."
Kenan tertawa kecil, "Lalu mengapa kamu malah tersenyum seperti itu?"
"Aku membalas pesannya, sekaligus memperingatkannya." tegas Chloe.
Kenan tertawa geli melihat raut wajah istrinya yang sedang geram. Ia menghampiri Chloe dan mencubit pipinya.
"Kamu menggemaskan sekali."
"Aw! Suamiku jangan mencubit seperti itu, rasanya sakit." rengek manja Chloe.
"Biar saja! istriku ini seperti hendak menerkam sesuatu." ledek Kenan.
"Jadi maksudnya aku ini menyeramkan seperti singa?" protes Chloe.
"Singa betina, HAHA..."
"Menyebalkan!!!" Chloe mencubit geram perut Kenan yang masih mengenakan handuk.