
"Surat apa ini?" Tanya Kenan pada Kiel yang baru saja meletakkan selembar kertas di meja kerja Kenan.
"Aku ingin mengundurkan diri Ken. Aku ingin kembali ke Indonesia dan kembali membangun karir disana." Ucap Kiel dengan wajah sedih.
"Mengapa mendadak sekali?" Kenan mengerutkan kening.
"Ya, setelah aku pikir-pikir tidak baik juga jika aku harus bekerja disini. Aku tidak ingin mengganggu kamu dan Chloe." Kiel menahan air matanya yang hampir terjatuh.
"Baiklah. Maaf jika membuatmu sedih karena sudah menurunkan posisimu disini." Kenan meraih pena dan menandatangani surat itu.
"Tidak, justru aku berterimakasih karena kamu sudah menerimaku disini." Kiel tersenyum dan mengambil kembali surat pengunduran diri yang sudah Kenan tanda tangani.
"Jaga dirimu."
"Ya." Kiel mengangguk dan melangkah keluar.
Hari ini Kenan pulang lebih awal. Setelah segala urusan nya di kantor selesai, ia ingin segera bertemu Chloe, istri tercintanya.
"Sayang kamu sudah pulang?" Chloe menyambut suaminya itu.
"Iya, saya rindu padamu." Kenan mengecup kening Chloe.
"Kamu tahu hari ini semua orang sedang pergi jalan-jalan. Hanya ada aku disini." Ucap Chloe sembali meraih tas Kenan dan meletakkan di atas kasur.
"Dimana Intan, Rani dan yang lain?" Kenan membuka dasinya.
"Semua asisten dirumah ini juga di ajak oleh Ayah." Chloe menyiapkan baju ganti Kenan.
"Apa ?!" Kenan menaikkan nada suaranya.
"Sayang, biarkan saja sesekali mereka ikut jalan-jalan. Lagian, aku bisa masak sendiri," Chloe mendekati suaminya itu, "Sekarang lebih baik kamu mandi dan beristirahat lah."
"Tidak ada orang, bukan?" Kenan menyosor memeluk istrinya itu dan menciumnya.
"Sayang... aku ingin menyiapkan makan malam untuk mereka." Chloe mendorong suaminya pelan.
"Ya baiklah. Kalau begitu saya mandi saja, agar bisa cepat mencicipi masakan wanita manjaku ini." Kenan mencubit pelan dagu Chloe, lalu pergi ke kamar mandi.
Chloe hanya menggeleng kepala melihat tingkah manja suaminya yang semakin hari, semakin menjadi.
Setelah terdengar suara air di kamar mandi, Chloe bergegas turun dan mulai menyiapkan semua bahan yang akan ia masak untuk makan malam.
Sementara Kenan yang sedang memakai baju tak sengaja, menjatuhkan obat yang terselip di bajunya.
"Obat apa ini?" Kenan meraih obat itu.
"Ini seperti obat peredah nyeri. Tapi, buat siapa ? Apa mungkin Chloe?" Kenan bergegas turun kebawah membawa obat itu.
"Sayang, ini milikmu?" Kenan menunjukkan obat itu.
"Bu...kan, aku tidak tahu itu punya siapa..." Jawab Chloe gugup.
Itu obat nyeri untuk rahimku. Setelah pendarahan, ntah mengapa aku sering merasakan nyeri dirahim. Mengapa Kenan bisa menemukan nya.
"Kalau begitu, ini milik siapa ya?" Mata Kenan menatap curiga.
"Aku juga tidak tahu sayang." Chloe memalingkan wajahnya.
Kenan mendekati istrinya itu, "Katakan pada saya, apa yang kamu sembunyikan?
"Sayang, aku tidak menyembunyikan apa-apa." Ucap Chloe berbohong.
Kenan semakin menatap istrinya curiga, "Mengapa kamu menunduk? Saya akan begitu marah padamu, jika kamu benar menyembunyikan sesuatu."
Apa sebaiknya aku katakan saja ya pada Kenan soal ini.
"Maaf aku baru memberitahumu suamiku. Jadi, setelah mengalami pendarahan hebat akhit akhit ini aku sering merasakan nyeri di rahimku. Setelah itu secara diam-diam hari ini aku pergi ke dokter dan untuk saat ini dokter belum mengatakan apapun soal sakit yang aku alami. Ia memberiku obat peredah nyeri ini." Jelas Chloe.
"Chloe, mengapa kamu tidak mengatakan nya pada saya?
"Suamiku, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Lagian hanya nyeri biasa kok." Chloe mengusap bahu suaminya.
"Ya maaf, jangan marah seperti itu sayang. Lain kali aku akan ceritakan apapun padamu." Bujuk Chloe.
"Jika nanti kamu merasa sakit lagi, beritahu saya, paham?" Kenan memeluk istrinya, "Aku tidak ingin kamu kenapa-napa."
"Ya suamiku." Chloe membalas pelukan Kenan.
"Uhuk... sore sore begini sudah ada yang mesra-mesraan saja ni hehe..." Suara paman Steve mengejutkan mereka.
Kenan melepaskan pelukan nya, "Paman..." Kenan juga melihat yang lain menyusul pulang, "Wah... semua sudah pulang. Bagaimana jalan-jalan nya?"
"Menyenangkan nak. Tapi, istrimu itu susah sekali di bujuk untuk ikut," Ucap ayah.
"Bukan begitu ayah..." Chloe tidak sempat melanjutkan perkataannya.
"Sudahlah kak, mungkin Chloe ingin berduaan saja jika Kenan pulang." Sambung tante Loli.
"Iya biarkan saja mereka berdua terus, biar kita cepat punya cucu hehe..." Sambung bibi pula.
Suara tawa terpecah di dalam apartemen Kenan. Tapi tidak sampai pada hati Chloe, ia merasa khawatir tentang apa yang sebenarnya dia alami.
Malam itu Chloe sulit tidur. Padahal jam sudah tepat pukul 12.00 tengah malam. Kenan tidur lelap di sampingnya sambil memeluk Chloe yang tidur membelakanginya.
Mengapa sulit sekali untuk memejamkan mata. Padahal, aku tidak seharusnya khawatir begini. Dokter belum mengatakan apapun tentan sakitku.
"Sayang, kamu belum tidur?" Suara lembut Kenan tepat di telinga Chloe.
Chloe mengusap tangan Kenan yang memeluknya, "Aku hanya tidak bisa tidur."
Kenan merubah posisinya, ia mendekatkan wajah pada Chloe, "Apa yang kamu pikirkan sayang?"
"Tidak, aku tidak memikirkan apapun." Chloe tersenyum paksa.
"Kamu mencoba untuk menyembunyikan sesuatu lagi dariku?" Kenan menatap kedua bola mata Chloe.
"Aku hanya khawatir jika aku tidak bisa memberimu anak." Ucap Chloe spontan.
"Apa yang kamu bicarakan ini sayang?"
"Aku hanya takut saja. Apalagi, dokter belum memberi tahu apapun soal sakit yang aku alami." Mata Chloe berbinar.
"Sayang, semua akan baik-baik saja." Kenan membelai rambut Chloe.
"Iya sayang semoga saja." Ucap Chloe sambil melingkarkan tangannya di leher Kenan.
"Besok kita akan ke dokter sama-sama." Kenan mengecup mesra kening Chloe.
"Iya suamiku. Terimakasih ya sudah sangat sayang padaku."
"kamu tidak perlu berterimakasih sayang. Sudah sewajibnya suami istri saling mencintai." Kenan sebelah mengedipkan matanya.
"Kamu menggemaskan sekali." Kata Chloe manja.
"Apa kamu tahu sayang, Kiel sudah tidak bekerja di kantor lagi." Ucap Kenan antusias.
"Kamu memecatnya sayang? Tega sekali... seharusnya jangan lakukan itu."
"Siapa yang memecatnya? Jangan berpikir yang bukan-bukan dulu sayang. Dia sendiri yang mengundurkan diri." Jelas Kenan.
"Tapi mengapa?" Chloe terlihat bingung.
"Saya juga tidak tahu, tapi yang pasti dia ingin memulai hal yang baru di Indonesia dan setidaknya dia tidak akan membuat istriku ini merasa cemburu lagi." Kenan mencubit hidung Chlo, "Boleh saya lakukan sesuatu?" katanya lagi.
"Memangnya mau apa?" Chloe menatap curiga.
Tanpa mengatakan apapun Kenan langsung menciumi sekujur tubuh Chloe dari kening hingga ujung kaki.
Ya, malam itu kembali dihabiskan keduanya dengan memadu kasih hingga rasa kantuk mengalahkan mereka.