
Brakk!!!
Suara pintu yang di dorong keras, mengejutkan Kama yang masih mecekam keras pipi Chloe.
"Haha... ternyata lebih cepat dari waktu yang aku sewah, suamimu sudah menjemput." Kama berbalik menghadap Kenan dengan wajah liciknya.
"Brengs*k!..." Kenan menghantam keras wajah Kama hingga terjatuh di lantai.
Buk... buk!...
Pukulan berkali-kali menghujani wajah juga perut Kama. Tapi Ia tak melawan sekalipun.
"Pukul saja aku. Anggap saja itu adalah bayaran semalam untuk istrimu yang tidak berguna itu haha..." Ucap Kama sambil tersenyum miring.
"Kenan, biarkan saja. Sekarang bawa aku pergi dari sini," Ujar Chloe sambil menangis.
Kenan memandangi istrinya itu dengan mata berbinar. Namun dengan cepat ia menggendong dan membawa Chloe meninggalkan tempat itu.
"Haha!..." Kama terus tertawa penuh kepuasan sambil menyentuh bekas pukulan Kenan yang cukup berbekas.
Chloe menutup wajahnya di dada Kenan yang masih menggendong dan membawanya ke mobil. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Karena sudah tidak mempercayai suaminya itu selama ini.
Hingga tiba di apartemen Kenan tak mengeluarkan sepatah katapun, begitu pula Chloe. Mereka hanya saling diam hingga malam menjelang pagi.
"Di mana Chloe?" Tanya Kenan pada seorang asisten yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Saya tidak tahu Tuan, sepertinya masih di kamarnya." Jawab asisten itu.
Kenan bangkit dari duduknya dan beranjak pergi menuju kamar Chloe. Sampai disana, ia mendapati Chloe yang diam dalam lamunan menatap televisi yang menyala.
Kenan menghampiri Chloe, "Kamu tidak ingin sarapan?"
Chloe hanya menggeleng dan tetap dalam lamunan nya.
"Chloe, apa yang sudah terjadi anggap saja sebuah pelajaran untuk saya." Kenan duduk di samping Chloe dan menggenggam tanganya.
Chloe menatap Kenan sambil mengerutkan keningnya.
"Ya karena saya sudah gagal menjaga kamu. maafkan saya," Lanjut Kenan lagi.
"Semua karena kebodohanku Kenan, kalau aku mendengarkan kamu mungkin semua tidak akan seperti ini." Chloe hendak meneteskan air mata.
"Mulai sekarang saya ingin kita menghapus semua perjanjian yang pernah kita buat. Tentang menemukan cinta masing-masing." Kenan mengusap lembut pipi Chloe.
"Kenapa?" Tanya Chloe bingung.
"Karena saya sudah menemukan orang yang memang saya cintai. Yaitu, kamu. Saya mencintai kamu tapi, saya baru menyadari itu sekarang."
"Kamu mengatakan ini hanya karena ibah dengan kondisiku yang sekarang, kan?" Ujar Chloe.
"Memangnya kenapa dengan kamu? Karena Kama? Haha... Chloe cinta itu tidak memandang apapun. Saya tidak peduli apa yang sudah terjadi padamu."
"Ken, aku juga mencintaimu sejak lama. Mungkin aku duluan yang punya rasa ini..." Chloe menatap mata suaminya yang juga menatapnya.
"Lalu, mengapa kamu malah ingin berkencan dengan Kama dan bukan saya?" Kata Kenan kesal.
Chloe menghela nafasnya, "Karna aku pikir kamu tidak mungkin mencintaiku, aku berusaha melupakanmu tapi ternyata semua yang aku lakukan berdampak buruk."
Kenan menggenggam tangan Chloe, "Mulai sekarang kamu milik saya. Jadi, saya tidak akan izinkan kamu pergi dengan pria lain."
"Ken aku sudah tidak layak lagi untuk kamu," Mata Chloe berbinar.
"Saya bilang kamu adalah milik saya. Jangan katakan apapun lagi saya tidak peduli akan apapun Chloe."
Chloe tersenyum dan memeluk Kenan bahkan ia tak kuasa menahan air matanya.
"Satu hal lagi, saya adalah pria yang posesif. Apapun yang menjadi milik saya adalah milik saya dan saya tidak suka berbagi." Kenan mengusap kepala Chloe yang masih memeluknya erat.
Chloe melepaskan pelukannya, "Mengapa seperti itu?" Protesnya.
"Haha... Itu tidak boleh dibantah. Mulai sekarang kamu harus selalu izin dengan saya ketika mau pergi dan jika saya tidak izinkan, kamu tidak boleh pergi kemanapun."
"Mengapa seperti itu?" Chloe memainkan bibirnya kesal.
"Karena saya adalah suamimu bahkan mungkin, akan menjadi Ayah dari anak kita nanti," Goda Kenan sambil menarik hidung Chloe.
"Kamu ini jangan berkata seperti itu,"
"Memangnya kenapa? Kamu tidak ingin punya anak?" Kenan mengerutkan keningnya.
"Aku lapar, lebih baik kita sarapan." Chloe bangkit dari duduknya dan melangkah mendahului suaminya.
"Hei!... Kamu belum jawab pertanyaanku Chloe," Teriak Kenan yang di abaikan oleh Chloe.
-------------------------------
Berapa minggu setelah itu Chloe dan Kenan semakin larut dalam cinta. Dan cintanya Kenan berhasil membuat Chloe lupa akan hal terburuk yang terjadi padanya. Ya, walaupun mereka sudah saling menyatakan cinta satu sama lain Chloe tetap saja memberi batas untuk suaminya itu dan itu cukup membuat Kenan geram pada tingkah istrinya yang aneh.
"Sayang... kamu sedang masak apa?" Kenan merangkul pinggang Chloe yang sibuk dengan spatulanya.
"Kamu ini bikin kaget saja... Aku sedang masak jadi jangan peluk aku seperti ini." Chloe berusaha melepaskan tangan Kenan yang semakin erat memeluk pinggangnya.
"Biar saja memangnya tidak boleh memeluk istri sendiri, hah?" Jawab Kenan manja.
"Suamiku, jangan seperti ini."
Kenan tidak memperdulikan istrinya itu ia malah menempelkan dagunya di pundak sang istri.
"Saya memikirkan sesuatu."
"Apa? Masalah pekerjaan?" Kata Chloe sambil terus sibuk dengan masakan nya.
"Tentang keinginan Ayah... Saya juga ingin kamu hamil,"
"Apa? Hamil?" Chloe tersentak dan mematikan kompor lalu berbalik menghadap suaminya.
Kenan mengunci istrinya itu dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang.
"Kamu tidak boleh menolak lagi seperti sebelumnya. Malam ini juga saya tidak ingin pisah kamar. Kita ini kan saling mencintai tapi mengapa masih sama seperti dulu, tidur berbeda kamar," Kenan menggodai istrinya itu dengan tatapan nakalnya.
"Kenan!..." Chloe membelalakkan matanya.
Dengan sigap Kenan malah mengecup bibir istrinya itu, begitu lembut hingga membuat Chloe merasakan kasih sayang yang tulus melalui ciuman yang Kenan beri.
"Ken jangan lalukan ini. Nanti jika yang lain melihat kita bisa malu." Chloe melepaskan ciuman nya dari Kenan.
"Saya tidak peduli. Ini resiko kamu karena selalu menolak..." Kenan berusaha mencium bibir Chloe lagi, namun tangan Chloe dengan pelan mendorongnya.
"Hei!... Kamu ini tidak punya malu ya. Sudah... aku ingin masak," Chloe mencoba untuk menyalakan kompor.
Tanpa memperdulikan Chloe yang ingin memasak lagi, Kenan malah menggendong istrinya itu dan membawanya ke kamar.
"Kenan!... Lepaskan aku!" Chloe meronta-ronta.
"Hari ini hari libur, jadi kamu tidak boleh melakukan apapun. Karena hari ini kamu milik saya." Kenan terus membawa istrinya itu ke atas.
Sampai di kamar, Kenan membaringkan istrinya itu lalu mengunci Chloe dengan kedua tangan nya di kanan kiri. Chloe tidak berani menatap, ia hanya menutup matanya.
"Sayang buka matamu," Pinta Kenan berbisik lembut di telinga Chloe.
Hal itu membuat Chloe merasakan gugup bahkan, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Chloe membuka matanya pelan dan mendapati suaminya yang tersenyum di hadapan nya. Lagi Kenan mengecup mesra bibir Chloe dan mulai menelusuri lehernya. Chloe hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia hanya merasakan nafas Kenan yang begitu hangat dan membuat nafas Chloe menjadi tidak teratur.