
"Ah, segarnya bisa tidur lama. Ternyata, tempat tidur ini memang bikin nyaman hehe..." Kata Chloe sembari merapikan rambutnya.
Setelah berendam dengan air susu di bath up selama setengah jam, Chloe mandi dan tidur hingga malam hari. Baru saja beberapa jam berada di apartemen Ken, ia sudah memanfaatkan waktu untuk memanjakan diri.
Chloe bangkit dari tempat tidur lalu bercermin. Ia menata rambutnya dengan baik, mempoles wajah dengan cream pelembab, lalu juga mengoles tipis bibirnya dengan warna lipstick merah muda, kesukaan nya.
Kemudian ia keluar dari kamar hendak memperhatikan apakah suaminya sudah pulang.
Chloe berjalan menuruni tangga sambil menikmati indahnya istana mewah milik si pria tampan.
"Nyonya, sedang cari apa?" Tanya Lian yang sedang menaiki tangga.
Tampak jelas Lian membawa begitu banyak berkas ditangan.
"Kenan sudah pulang?" Spontan Chloe bertanya.
"Tuan Aldrich sudah dikamarnya Nyonya."
"Kamarnya dimana?" Tanya Chloe sambil menoleh kesana kemari hendak mencari tahu dimana kamar Ken.
"Tepat disebelah kamar Nyonya."
Pernikahan yang lucu, menikah tapi tidur terpisah. Gumam Lian.
Chloe mengabaikan Lian, ia langsung berputar balik dan beranjak menemui Kenan.
"Ken!" Seru Chloe yang langsung masuk tanpa permisi.
Ken yang sedang mengganti bajunya tersentak berteriak dan marah.
"Ahhh!!!... Hei apa yang kamu lakukan disini?!" Teriak Ken.
Chloe spontan menutup mata dengan kedua tangannya. "Maaf Ken aku tidak sengaja."
"Tetap tutup matamu! Jangan buka sedikipun sampai saya pakai celana !" Perintah Ken sambil terburu-buru memakai celana pendeknya.
Chloe mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang boleh buka matamu." Kata Ken.
Chloe menurunkan tangannya dan membuka kedua matanya. Tapi, wajahnya begitu malu dan merah.
"Hei wanita manja! Lain kali jika ingin masuk ke kamar orang lain, ketuk pintu terlebih dahulu !" Omel Ken sambil mendekati Chloe dan menarik hidungnya.
"Iya maaf Ken aku tidak tahu."
"Iya saya maafkan. Ada apa kamu kesini?" Tanya Ken dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.
"Tidak apa-apa. Aku cuma gak ada teman mengobrol." Jawab Chloe murung.
Ken menghela nafasnya. "Baik. Kamu tetap ingin berdiri disana?" Katanya sambil menduduki tempat tidur.
Chloe yang dari tadi berdiri didekat pintu kini, berjalan menyusul Ken. Tanpa sengaja Chloe tersandung dan jatuh dalam pelukan pria berdada bidang tersebut.
Hal itu membuat Ken menatap istrinya itu lebih dalam. Sedangkan Chloe, ia menjadi beku dan kaku seketika.
"Tuan, ini coffee espressonya." Ujar seorang asisten yang tiba-tiba masuk tanpa permisi pula.
Ia membawa secangkir coffee panas dan beberapa cemilan kesukaan Kenan.
"Praaang!!!"
Suara gelas dan piring tanpa sengaja terjatuh dilantai. Asisten itu menjatuhkan coffee dan cemilannya akibat melihat Kenan dan Chloe yang berpelukan diranjang. Ia terburu-buru pergi meninggalkan keduanya.
"Brakkk!!!"
Asisten itu kemudian menabrak Rani yang sedang menuju kamar Chloe sambil membawa segelas susu.
"Intan!!!" Teriak Rani marah.
"Haduh iki piyeh toh, maaf Ran... wes aku ndak sengaja." Ujarnya sambil membereskan gelas yang terpecah dilantai.
"Kamu ini lihat apa sih, setan atau tuyul?!" Omel Rani.
"Nganu, itu loh Tuan dan Nyonya lagi itu..." Jawabnya gugup.
"Lagi apa?! yang jelas!" Bentak Rani.
"Itu loh Ran... aku ndak sengaja masuk kamar Tuan, terus aku lihat Tuan sama Nyonya lagi pelukan mesra gitu loh." Ujar Intan.
Rani tertawa kecil. "Wah kamu ngintip ya?"
"Hus!... Jangan ngawur kamu, wong aku ndak sengaja."
Rani masih terus tertawa geli. "Haha... kamu ada-ada saja. Masuk kamar itu ketuk pintu dulu, sudah tahu Tuan dan Nyonya baru menikah." Ujar Rani.
"Tapi aku bingung toh Ran, kamare kok terpisah gitu yo, padahal kan baru nganten." Celoteh Intan.
"Iya juga ya, terus kalau ingin bermesraan kenapa tidak satu kamar saja." Rani menggigit jari telunjuknya. "Ya sudah biarlah urusan mereka, bukan urusan kita."
Sementara itu, Kenan dan Chloe masih berada di posisi yang sama. Tiba-tiba Lian datang dan terkejut melihat gelas dan piring yang pecah, serta tumpahan coffee juga makanan yang berceceran di lantai.
Lian tersentak pula melihat Tuan dan Nyonyanya.
Astaga, sebenarnya apa yang terjadi... lantai yang berantakan, lalu Tuan dan Nyonya sedang... ah sudahlah lebih baik aku keluar saja. Mungkin tadi mereka sedang perang, makanya sampai piring dan gelas pecah dan sekarang mereka sudah berdamai. Dasar pengantin baru!. Gumam Lian sambil melangkah keluar perlahan.
"Lian!" Seru Ken yang tersadar bahwa ada Lian di kamarnya.
Mereka segera berdiri dan bertingkah malu di depan Lian.
"Maaf Tuan saya tidak bermaksud mengganggu." Ucap Lian sambil menunduk.
"Tidak apa-apa Lian. Itu... yang tadi bukan apa-apa." Jawab Ken gugup.
"Maksudnya Tuan bukan apa-apa? Tadi saya sudah ketuk pintu tapi tidak ada jawaban, jadi saya masuk saja Tuan, maaf." Katanya lagi.
Mengapa jadi salah tingkah begini akibat Lian mendapati saya dan Chloe tadi. Ucap Ken dalam hati.
Ken terkejut dengan lantai yang berantakan.
"Apa-apaan ini!" Mengapa begitu kotor dan berantakan?!" Bentaknya.
Lian hanya menunduk. "Bukan saya tuan."
ini pasti intan yang tadi mengantar coffee lalu tanpa sengaja melihat Tuan sedang bermesraan dan menjatuhkan semuanya.
"Panggil semua asisten!" Perintah Ken.
Lian segera melaksanakan perintah Kenan.
Chloe kaget dengan kemarahan Kenan yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Yang ia tahu Ken adalah laki-laki yang begitu lembut.
Kenan begitu marah hanya karena kamarnya kotor. Memang benar kata Rani.
"Ken biar aku saja yang bereskan ya." Chloe segera mengambil satu demi satu pecahan beling itu.
Melihat itu Ken begitu marah.
"Nyonya Chloe Aldrich, saya tidak minta kamu untuk membereskannya, jadi tolong berdiri!"
"Ken sudahlah, hanya membereskan ini saja kok. Biar aku saja." Chloe bersikeras tetap ingin membereskannya.
Lian datang membawa para asisten. Mereka semua masuk dengan badan bergetar dan menunduk ketakutan.
"Siapa yang membuat kamar ini kotor?!" Bentak Kenan.
Mereka semua hanya menunduk sambil saling menyenggol satu sama lain.
"Siapa?!" Bentak Kenan lagi.
Dengan ketakukan akhirnya Intan mengancungkan tangan. "Ma... maaf Tuan saya yang bikin semuanya berantakan." Lirih Intan bergetar.
"Baik, sekarang orangnya sudah mengaku. Chloe hentikan pekerjaanmu!" Kata Kenan lagi.
"Ken gak apa-apa lagian ini sudah tanggung, sedikit lagi selesai." Ucap Chloe.
Melihat Chloe yang keras kepala Ken semakin murka dan memandang Intan begitu tajam.
Intan seolah langsung mengerti akan arti tatapan Ken, segera ia mengambil ahli pekerjaan Chloe.
"Nyonya Chloe Aldrich, kamu istri saya bukan asisten saya. Jadi, biarkan Intan sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat." Ujar Ken dengan suara yang lembut.
"Sudah Ken aku bilang tidak masalah, aku hanya ingin membantu Intan saja."
"Nyonya, sudah biar saya saja." Bisik Intan.
"Memangnya kamu saya nikahi untuk jadi asisten dari asisten saya?!" Kata Ken dan langsung menggendong istrinya yang keras kepala itu.
"Ken turunkan aku!" Chloe meronta-rontakan kakinya sambil memukuli dada Ken.
Ken yang hendak membawa Chloe keluar, tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap semua asisten dan Lian yang masih ada di sana.
"Kalian dengar, Chloe adalah orang yang harus kalian patuhi dan hormati dirumah ini sebagai Nyonya Aldrich. Saya tegaskan, jangan pernah biarkan dia melakukan pekerjaan apapun yang seharusnya kalian lakukan. Karena, saya tidak ingin melihat sedikipun kukunya rusak atau kulitnya menjadi kasar. Paham?!" Tegas Kenan.
"Baik Tuan..." Jawab mereka serentak.
Kemudian Ken melanjutkan langkahnya. Para asisten yang melihat perlakuan Kenan terhadap istrinya itu, kagum dan iri.
"Aw... Tuan Aldrich romantis sekali. Walaupun ia sedang marah, tapi Tuan tetap tidak bisa bersikap keras terhadap istrinya."
"Iya, beruntung sekali Nyonya Chloe padahal, dia tidak cantik."
"Hus!... Jangan asal ngomong!"
Ujar mereka semua yang begitu asik membicarakan majikannya. Lian yang menyaksikan itu hanya menggelengkan kepala heran, dan memilih pergi mengabaikan.