
#Coffee shop and steak#
"Oke, jadi Mas, mbak... Konsep kita adalah garden party, dengan nuansa serba putih ya?" Tanya seorang wanita yang menjadi W.O di pernikahan Ken dan Chloe.
"Iya mbak intinya semuanya harus tertatah dengan sempurna, mulai dari altar pemberkatan, white carpet, kursi para undangan, serta bunga mawar putih." Ujar Chlo.
"Baik, kita nanti juga akan siapkan MC terbaik, serta grup band terbaik."
"Okay, terimakasih ya Mbak." Ken menyambung seperti segera ingin mengakhiri diskusi, ia sudah cukup lelah dan bosan karena hampir 2 jam Chloe begitu cerewet dengan segala permintaannya.
Hal yang mengesalkan adalah, wanita yang menjadi WO mereka dari awal begitu memperhatikan pria tampan yang akan menjadi suami Chlo. Ya, memang banyak wanita yang terpesona dengan ketampanan nya. Jadi, sungguh tidak heran jika Ken mampu menarik perhatian banyak wanita dalam sekejap. Sayangnya, ia tidak terlalu memikirkan soal wanita.
Chloe yang mengetahui bahwa calon suaminya tersebut sedang dalam pandangan wanita asing yang ada di depannya. Ia ingin sekali marah namun tersadar bahwa ia tidak berhak. Sekalipun, sudah menjadi istri Ken nanti. Ia menatap wanita itu sinis karena kecemburuannya.
"Okay Mas, sama-sama. Kalau begitu nomor mas saya boleh simpan untuk jaga-jaga jika perlu sesuatu." Kata wanita itu sembari mengeluarkan handphonenya.
Chloe yang melihat itu langsung menawarkan diri. "Ini Mbak nomor saya saja, 08117654321."
Wanita itu mencatat nomor Chloe dengan terpaksa dan Chloe tersenyum padanya menandakan kemenangan.
Dasar tidak professional! Kita ini kan klien nya. Masih saja mau genit huu... Ingin sekali aku ganti WO tapi, sudah tidak ada waktu lagi.
"Oh iya. Mas nya kenal sama mbak Chlo dimana?" Tanya wanita itu lagi.
"Di acara ulang tahun Chloe." Ken menjawab.
"Oh begitu hehe beruntung ya mbaknya dapet mas ganteng."
Chloe memperlihatkan wajah jengkelnya dan Ken mengetahuinya. Ken tidak ingin melihat Chloe merasa kesal.
"Saya yang beruntung kenal wanita semanis dan sebaik Chlo." Ucap Ken sambil memberikan senyum manis pada Chloe dan mengusap kepalanya.
Hal itu ia lakukan karena ia tidak ingin melihat Chloe terus jengkel. Dan itu membuat Chlo sedikit bingung lalu, menyangka bahwa Ken melakukan itu hanya karena ingin terlihat mesra sebagai calon pengantin untuk menutupi keterpaksaannya di hadapan orang lain.
"Baik. Saya rasa sudah beres semua kan ya? Sayang... Kita pulang ya biar kamu bisa istirhat." Kata Ken lagi dengan akting yang lebih baik.
"Eh... i -ya, iya kita pulang sekarang." Chloe lagi-lagi gugup karena Ken. walaupun, ia tahu itu hanya pura-pura.
"Terimakasih ya mbak, mas... semoga pernikahan nya berjalan dengan lancar menjadi keluarga yang harmonis."
"Iya sama sama. Kami pamit pulang, mari mbak." Ken merangkul pinggang Chlo dan mengajaknya pulang.
Di tengah perjalanan pulang Chloe yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba merasakan sakit perut yang luarbiasa.
"Aw... Aduh... Ini perutku kenapa ya sakit banget." Kata Chloe memegangi perutnya.
"Kamu kenapa? Kamu salah makan tadi pas di cafe?"
"Gak tahu Ken, ini sakit banget perutnya gak biasanya begini." Chlo terus memegangi perutnya.
"Haduh bagaimana ini. Coba kamu minum dulu." Ken menghentikan mobilnya sebentar dan memberi Chlo minum.
"Masih sakit?"
"Iya masih Ken... Aw..." Chlo mengerang kesakitan.
"Kamu punya minyak angin atau sejenisnya?" Tanya Ken lagi.
"Gak ada Ken."
"Gimana ya, kita ke dokter saja ya?"
"Iya Ken... Ini sakit banget." Rintih Chlo.
"Okay, kamu tahan ya... Kita ke rumah sakit." Ken segera menyalakan mobilnya dan melaju kencang menuju rumah sakit.
"Aduh... ini perut kenapa ya, aw..." Chloe terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
Spontan Ken mengusap-usap kepala Chlo. dengan tangan kirinya dan tangan kanan terus menyetir.
"Sabar ya Chlo, bentar lagi kita sampai... Kamu tahan dulu, coba bawa tidur."
"Iya Ken, cepetan ya."
Berapa menit setelahnya Chloe merasakan perutnya membaik.
"Ken, ini udah gak sakit lagi. Kita batalin aja ke dokternya." Kata Chlo.
"Hah? Ya kalaupun sudah membaik saya akan tetap bawa kamu ke dokter. Sebentar lagi pernikahan kita, pestanya seharian kalau kamu sakit lagi nanti Om khawatir." Ken masih bersih keras untuk membawa Chlo ke dokter.
"Ya sudah baiklah Ken."
#Medical Hospital#
Mereka telah sampai dirumah sakit, Chlo hendak turun duluan sementara Ken masih mematikan mobilnya. Ketika turun Ken terbelalak kaget melihat begitu banyak bercak darah di dress Chloe.
"Chlo, kamu lihat ke belakang deh di dress kamu ada apa itu?" Kata Ken.
Chloe melihat kebelakang dan seketika wajahnya begitu malu.
"Astaga ya ampun." Chloe kembali duduk dimobil dan menutup pintu.
"Kenapa kamu?" Ken masih saja bingung serta khawatir.
"Dapat apa?" Ken bertambah bingung.
"Ini datang bulan Ken, biasa wanita."
"Hah?! Datang bulan bagaimana maksudnya saya tidak mengerti. Itu kenapa kamu berdarah-darah?" Ken begitu penasaran serta panik.
Chloe menghela napas. "Ken kamu tahu kan wanita setiap bulan nya selalu mengalami proses menstruasi... Nah kayanya aku sakit perut itu karna ini."
"Ohh begitu, jadi bagaimana tidak jadi ke dokter?"
"Gak usah Ken. Tapi kita kan mesti cari catering hari ini. Gimana ya, gak mungkin aku keluar dengan keadaan begini." Kata Chlo sembari menggigit bibirnya pertanda bingung sambil bepikir.
"Kamu pakai jaket saya saja, untuk menutupi darahnya." Ken membuka jaket yang ia kenakan dan memberikan nya pada Chloe.
"Iya boleh Ken. Makasih ya... Tapi bisa mampir sebentar ke swalayan? Aku mau beli pembalut." Kata Chloe sembari menerima jaket Ken.
"Okay itu di ujung sana ada alvemart..." Ken mengarahkan mobilnya ke swalayan yang berada dekat dengan rumah sakit.
#Alvemart#
Chlo, tunggu!" Ken menghentikan Chlo yang hendak turun dari mobil menuju alvemart.
"Iya. Kenapa?"
"Kamu tidak mungkin turun dalam kondisi seperti itu."
"Terus gimana dong? Kan ada jaket kamu."
"Nanti jaketnya dipakai waktu kita memesan catering saja. Takutnya keseringan di pakai darahnya malah tembus ke jaket dan, nanti malah bingung lagi bagaimana memesan catering kalau keadaan kamu begitu."
"Terus gimana Ken? Aku juga sekalian mau ke toilet."
Ken menelan air ludahnya seperti terpaksa memberikan ide. "Saya yang akan turun untuk beli, apa itu namanya?"
"Pembalut."
"Iya. Saya yang akan turun yang penting kamu beri tahu seperti apa, merknya apa dan warna apa. Ke toiletnya nanti saja waktu sampai di tempat catering."
Chloe terkejut dengan kebaikan Ken dan ia jatuh cinta lagi pada pria itu.
Ah Ken manis sekali.
"Kamu yakin gak malu? Nanti di lihat orang-orang pria kok beli pembalut." Tanya Chloe.
"Tidak masalah. Jika ditanya, saya akan jawab untuk istri saya yang ada dimobil." Jawab Ken .
"Oke, merknya lauria, bungkusnya warna merah mudah."
"Okay, tunggu disini ya." Ken segera turun menuju alvemart.
"Ken, kamu kenapa sih begitu baik, tulus juga sangat manis. Sadar gak, semua sikap kamu bikin aku jatuh hati. Apa bisa lebih dari ini jika sudah menikah... Ah sudahlah Chlo, ingat ia hanya akan jadi teman baikmu." Ujar Chlo pada diri sendiri.
Berapa menit kemudian Ken kembali.
"Yang ini ?" Tanya Ken sambil memberikan plastik belanja pada Chloe.
Chloe membuka plastik itu. "Iya benar... Makasih ya Ken."
"Iya sama-sama." Ken kembali menyalakan mobilnya.
"Memang harus seperti itu ya wanita? Harus sakit ketika menstruasi?" Tanya Ken.
"Iya. Kadang juga sikapnya berubah-ubah jadi sensitif, mudah menangis, marah juga manja."
"Hem... begitu."
Ken dan Chloe tiba di tujuan dimana mereka akan memesan catering untuk resepsi. Mereka disambut baik dengan seorang ibu muda serta suaminya sebagai pemilik catering yang cukup terkenal itu.
Setelah dari toilet Chlo menyusul Ken yang duduk di meja bundar bersama pemilik catering untuk diskusi. Tidak lupa Chlo mengikat jaket Ken pada pinggangnya untuk menutupi darah yang ada dibagian belakang dressnya.
Satu jam sudah mereka membicarakan tentang makanan apa saja yang akan di hidangkan yang pastinya mewah, berkelas juga lezat. Chlo yang sudah tidak nyaman dengan keadaannya mengajak Ken pulang.
"Ken mari kita pulang. Ibu, pak terimakasih sudah mau membantu kami."
"Sama sama, kami juga berterimakasih karna sudah mau mempercayakan catering kami." Ucap ibu itu.
Chloe hendak bediri namun tiba-tiba ikatan jaket Ken hampir terlepas dan hampir jatuh. Ken melihat itu segera memeluk pinggang Chlo dari belakang karna ia tahu di sana cukup ramai orang-orang termasuk para karyawan. Ia takut jika mereka melihat Chlo yang penuh dengan darah.
Chloe tersentak. "Ken kamu apa-apaan sih!"
"Jaket nya mau lepas." Bisik Ken pelan ketelinga Chlo agar tidak dilihat orang.
"Maaf saya lancang, disini banyak orang nanti kamu malu... Jaketnya saya ikat lagi ya." Bisiknya lagi sambil mengikat jaketnya pada pinggang Chlo.
"Aduh kalian belum menikah saja sudah romantis ya." Ledek ibu catering seketika membuat orang-orang sekitar bersorak pada Ken dan Chloe.
"Cie uhukk.. uhuk..." Ledek mereka sambil tersenyum.
Hal itu membuat Ken segera melepaskan pelukannya dan mereka terburu-buru pamit untuk pulang dengan wajah yang sama-sama memerah.