
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
White tidak habis pikir dengan Vero. Dia tidak ingin nama baik keluarga Bruddy tercoreng, tapi dia malah menahan White untuk tetap tinggal dirumahnya yang berkemungkinan terendus media dan dijadikan topik baru layaknya artis ternama. Sekarang saja, portal berita di internet sedang ramai akan pemberitaan tentang keluarga Bruddy yang baru saja mendonasikan uang dengan jumlah besar untuk pembangunan sebuah panti jompo. Nama Bruddy memang dikenal dermawan, tapi siapa tau dibelakang itu semua menyimpan sebuah kehidupan kelam yang tidak diketahui siapapun, kecuali White.
“Ck! Sial*an! Bagaimana aku bisa lepas dari lingkaran keluarga Bruddy?!” kesal White, menghentakkan kaki diatas jalur pejalan kaki di pinggir jalan raya setelah ia keluar dari gedung pajak negeri. Kakinya terus berjalan dan berjalan tanpa tujuan. Dan jika dia tersesat, mudah saja, ada map yang akan membantunya nanti.
“SIAL*AAAN!!!” teriaknya lantang ketika ia sudah berada didekat sebuah taman. Lantas ada sebuah kaleng teronggok disisi jalan, White menendang keras kaleng tersebut hingga terbang ke udara dan mendarat tepat di punggung seseorang.
White mengerjap cepat, kemudian buru-buru berlari untuk meminta maaf sebelum orang itu melaporkannya kepada pihak berwajib dengan tuduhan penganiayaan ringan. Oh, White tidak bisa membayangkan tinggal di hotel frodeo itu.
Langkah White terhenti tepat di samping korban, dan dia sebagai tersangka. “Maafkan saya, tuan. Saya tidak bermaksud melempar kaleng itu kepada anda. Jadi mohon maafkan saya.”
Pria itu berbalik. Sebelumnya ia tidak peduli apa yang menimpanya. Ia bahkan pernah di timpuk menggunakan sebuah batu bata oleh seorang anak kecil, tapi dia diam saja seperti patung selamat datang tanpa peduli orang tua sang anak membungkuk-bungkuk meminta maaf. Sesaat kemudian, maniknya melirik pada sosok White yang membungkuk-bungkuk seperti ayam teler. Awalnya dia tidak peduli, tapi sesekali membuat seseorang panik pasti menyenangkan. Ingat, motto hidupnya adalah ‘Semakin tegang, semakin menantang’.
“Oh,” ucap White terkejut ketika mendapati presensi tinggi besar yang familiar. Tapi, dimana dia pernah melihatnya ya?
Pria itu menurunkan tudung kepala, disusul kemudian masker, hingga memperlihatkan wajahnya yang rupawan didepan White. Ini memang bukan pertemuan pertama mereka, bahkan dia masih mengingat jelas bagaimana cara White menunjuk wajahnya dan menyebutnya pecundang.
“Kamu—”
“Tiga puluh juta.” katanya enteng sembari menodongkan telapak tangan dengan gerakan dibuat-buat. Sedangkan White, matanya sudah membola sempurna hingga nyaris lepas dari tempatnya mendengar nominal yang ditodongkan padanya.
“Mana ada aku uang sebanyak itu. Hei, jangan menipuku, atau aku akan melaporkan dirimu ke polisi.”
“Silahkan. Asal kamu tau, papaku polisi.”
”Lucu sekali, ekspresi terkejutnya. Lihat matanya yang sudah seperti burung hantu itu?” gumam Eaden dalam diam, menertawakan White dalam hati. Tapi jujur, dia menyukai ekspresi menggemaskan itu.
“Be-benarkah?” kaget White yang tidak mengira kebohongannya malah berakhir runyam begini. “Aduh bagaimana ini?” dumal White melanjutkan rasa terkejut yang belum reda.
Tapi, telapak tangan laki-laki didepannya itu berubah posisi menjadi menyamping. White yang melihat itu semakin bingung dan menerka-nerka dalam benaknya, ‘kesepakatan apa lagi yang akan dia buat?’. Hingga semua terkaan itu terjawab ketika laki-laki itu menyebutkan namanya. “Eaden.”
White bernafas lega. Ternyata pria itu ingin berkenalan dengannya. White menyambut dengan senang hati telapak tangan besar itu. “E.”
“E? Satu alfabet?” tanya Eaden memastikan jika dia tidak salah dengar. Wajahnya sedikit menelisik, dan jarinya menggambar huruf E diudara.
White mengangguk dengan tatapan lurus dan ekspresi datar. Namun semuanya berubah aneh ketika pria itu tersenyum padanya. “Senang bertemu lagi denganmu, E.”
Ah, White ingat. Laki-laki ini, laki-laki yang menabraknya pagi itu hingga pinggulnya seperti patah tulang. Ya, tidak salah lagi. White ingat aroma wewangian yang dipakai pria ini.
“Kamu, tinggal di daerah sini?”
Ah, mungkin pria ini lupa denganku.
“Tidak. Aku—” kalimat White terhenti. Ia memikirkan alasan yang tepat agar dia tidak membocorkan informasi bahwa dia tinggal dirumah salah satu pemilik nama Bruddy, White tidak ingin tertimbun masalah semakin dalam. “Aku, sedang menginap dirumah teman.”
White membungkuk lima belas derajat. Ia berniat pamit dan harus segera kembali sebelum Vero sampai dirumah.
“Mau aku antar?” tawar Eaden sambil menunjuk motor sport berwarna merah menyala miliknya yang terparkir tidak jauh dari mereka berada, sedikit mengejutkan lamunan White hingga gadis itu terlonjak kecil.
White yang masih sedikit nge-lag, mengikuti jari telunjuk Eaden ke arah yang sama, lantas menggoyangkan telapak tangan dan menggeleng kepala secara bersamaan ketika otaknya connect dengan maksud Eaden.
“Tidak-tidak. Aku akan pulang sendiri.” tolaknya tidak mau merepotkan. Sejujurnya White ingin, karena bisa mengirit pengeluaran biaya perjalanan, sekaligus menjawab rasa penasarannya menaiki motor harga milyaran seperti milik Eaden itu.
“Baiklah kalau begitu, aku tidak memaksa. Tapi,” Eaden menjeda, ia merogoh sabu celana boogie hitamnya, dan mengeluarkan ponsel mahalnya dari sana. “Boleh aku mengetahui nomor ponselmu?” tanyanya sembari menyodorkan benda pipih berotak cerdas itu kepada White.
Sedangkan si gadis, menggeleng tak percaya, akan tetapi menerima ponsel tersebut dan mengetik nomor palsu disana. “Jangan teror aku ya.” ucap White berkelakar, lalu mengembalikan persegi pintar itu kepada sang pemilik dan diterima Eaden tanpa rasa curiga? Tentu tidak. Eaden tidak bodoh, ia sudah mengerti konsep 'jumpa pertama' seperti ini. Dia tidak akan mendapatkan nomor gadis yang ia ketahui bernama E itu.
“Aku pamit.” lanjut White sambil meraih satu lengan Eaden untuk ditepuk sok akrab di hiasi sebuah senyuman manis yang membingkai wajah ayu dan manis yang terlampau indah untuk di lewatkan.
“Beneran nggak mau di antar?”
White menggeleng, lantas menggoyangkan telapak sebagai salam perpisahan. “Bye.”
White menuju halte bus yang lumayan banyak orang, membaur disana untuk kembali kerumah Vero. Ya, katakan saja dia lemah dan tidak tau malu hingga harus kembali menjilat ludahnya sendiri untuk menuju rumah mewah itu.
Sedangkan dari sudut pandang Eaden yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari White yang tengah menjauh darinya. Hari ini dia tau satu hal. E, adalah gadis yang sedang ramai di internet karena di ketahui berhubungan dengan Verous Bryan Bruddy. Eaden tertawa sarkastik, menatap White dengan sorot berbeda dengan sebelumnya. “Cantik. Tapi sayang,” Eaden menegakkan punggung, memasukkan kedua telapak tangan pada saku boogie pants nya dengan bahu diangkat naik. “Hidupnya akan menderita, ditangan keluarga Bruddy. Dan juga —” sekali lagi Eaden menjeda, memikirkan betapa bencinya dia kepada sosok Vero. “...aku.” lanjutnya dengan tawa kecil yang mengerikan.
Satu helaan nafas besar Eaden menguar dari hidung. Kemudian, dengan nada rendah nyaris bergumam, dia berkata. “Akhirnya. Aku menemukan alat untuk membalas semua rasa benciku padamu, teman.” ucapnya, merujuk pada seseorang, tentu saja kawan lamanya, Vero.
Benar. Dendam itu masih membara dan menjadi borok yang tidak bisa sembuh dengan mudah begitu saja. Eaden benar-benar ingin membalas semua hal buruk dimasa lalu yang menyeretnya terjerumus kedalam kelamnya dunia. Dan yang berhak mendapat bayaran lunas akan hal itu adalah Vero, mantan teman dekatnya.
“I catch you now, Vero. Kamu harus merasakan apa yang sudah kamu lakukan padaku. Ya, kamu akan menerima itu.”[]
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.